Wanita ingin dicintai dan memiliki mimpi seperti wanita umumnya, memiliki keluarga kecil yang harmonis. Setelah Dia begitu percaya dengan kekasihnya menyerahkan kehormatan, cinta sepenuhnya namun harus kandas. Wanita ini mengalami kehancuran yang sangat mendalam. Kekasihnya menghianati cinta suci, menghancurkan impian yang sudah dibangun, menghancurkan kepercayaannya. Pilihan hati bertahan mencintai kekasihnya atau Berubah mencintai Allah. Hanya ingin Berubah....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
Adzan magrib berkemumandang Rara melaksanakan kewajiban seorang muslim. Sholat magrib kemudian berganti pakaian untuk berjalan-jalan ke kota tua.
"jalan kaki atau naik Taksi aja?" tanya Ici.
"Naik taksi aja... lumayan kalau jalan kaki, nyampe sana baju basah semua" jawan Rara.
Setelah bersiap Rara dan Ici keluar kamar hotel. Mereka terkejut melihat beberapa pasangan memasuki kamar hotel tidak satu atau dua melainkan lumayan banyak. Mereka turun dengan rasa takut.
"Hotel apa ini ciiiii..."Tanya Rara takut.
"Ga tau... tadi siang sepi ga ada yang nginap, kok malam rame keluar masuk hotel" jawab ici.
Mereka saling berpandangan memikirkan hal yang sama.
"Hotel cuma buat awewekkk" Ucap Rara memandang Ici.
Mereka cepat memanggil taksi dan segera menuju kota tua. Sambil melanjutkan cerita yang baru saja terjadi.
"Gimana kita nanti tidur ci?" tanya Rara takut.
"Kan ada kunci double didalam, jangan pulang tengah malam aja kita. Pagi juga sudah check out"Ucap Ici.
Mereka keluar dalam taksi dan menikmati hari libur pertama. Kota tua sangàt ramai dikarenakan tanggal merah hari libur.
Ponsel Rara kembali berdering dengan nomor yang sama. Rara tidak ingin mengangkatnya membiarkan telpon itu berdering. Ponsel Rara kembali berdering ada pesan masuk.
📩 sudah di kota tua
Bergidik merinding Rara membaca, nomor tidak dikenal bisa tahu keberadaan Rara.
"Kok tau Aku di kota Tua" ucap Rara.
"Siapa?" tanya Ici ikut cemas.
"itu nomor tidak dikenal" ucap Rara masih merasa takut.
" Mungkin Tirta kali... Dia kan tahu kamu hari ini ke kota tua. Apa lagi Dia kan sempat bilang suka sama kamu" ucap Ici menenangkan.
"Bisa jadi... tapi kok nomor baru?" ucap Rara masih penasaran.
"Ahhh mungkin sengaja pake nomor baru. Sudah Ra... kita mau liburan" ucap Ici.
Dengan rasa masih penasaran Rara segera mengikuti Ici berjalan di sampingnya. Rara melihat disekitar merasa ada yang memperhatikannya.
Rara mencoba tenang membuang pikiran rasa takut dan menikmati hari liburan.
Mereka menikmati hari libur dengan ceria, berfoto dan jajan makanan berjejer di lapangan kota tua.
"Duduk sini yuk Ra..." Ajak Ici duduk diatas tikar depan jualan kerang hijau.
"Mba 1 porsi ya..." Ici memesan 1 piring kerang hijau.
Rara duduk disamping ici mencoba membuka ponsel yang dari tadi sudah ada pesan yang masuk.
📩 jangan makan kerang hijau, kamu sendiri kan bilang ada timbalnya...
Rara memutar kembali memori, siapa saja yang pernah ia ucapkan seperti itu. Hanya ada 3 orang yang pernah Rara ucapkan seperti itu Tirta, Ari dan Dana.
Apa mungkin Tirta?
Rara mencoba membalas pesan.
Rara : 📩 ehhh jangan bercanda
📩 Aku ga bercanda, Aku selalu ingat ucapan mu
Balasan pesan membuat Rara semakin merinding. Membuat Rara semakin takut dengan pengirim pesan.
"Ra.. ga usah diladeni... makan kerang ijaunya" Ici menyodorkan kerang hijau didepan Rara.
Rara hanya melihat ici yang tengah lahap memakan kerang Hijau.
"Ra... benar Rara kan?" Tegur seorang Laki tinggi bertubuh kekar dan kulit gelap.
"Abang..." Rara terkejut melihat Galih bersama temannya menghampiri Rara.
"Makan kerang hijau"Tegur Galih menatap tajam kearah Rara.
Rara menggelengkan kepala, Ia tahu betul Galih pasti marah kalau Rara memakan kerang hijau.
"Ra kok bisa kesini?" Tanya Galih.
"Liburan bang. Lahhhh abang juga ngapain kesini?" tanya Rara.
"Liburan juga" ucap Galih tersenyum.
Galih duduk disamping Rara, teman Galih berpamitan ingin keliling.
"Abang yang neror Rara? " tuduh Rara langsung.
"Neror apa?" ucap Galih heran.
"Bilang suka lahhh, terus bilang bersama, ahhh macam-macam" ucap Rara kesal.
"Kalau suka... emang dari dulu Abang suka sama Rara. Malah Cinta sama Rara..."ucap Galih menatap Rara disampingnya.
"Berarti benar... Abang yaa..."Tuduh Rara kembali.
"Apa sihhh Ra... siapa yang neror Rara? Mana nomornya?" ucap Galih mengadah tangan.
Ragu-ragu Rara mengambil ponsel dan memberikan nomor tidak dikenal.
Galih menekan nomor tersebut dan menelpon didepan Rara. Telpon masuk namun tidak diangkat. Galih mengulang kembali menelpon kemudian telponya tidak tersambung.
"Ga aktif Ra..." ucap Galih menekan ulang dilayar ponselnya.
"Siapa yang berani menganggu adek ku" ucap Galih terlihat marah.
Rara semakin penasaran dengan nomor tidak dikenal tersebut.
"Banyak banget sihhh fans adek Aku ini. Ga ditempat praktek... ga di tempat kampus... selalu banyak fans" ucap Galih meledek.
Rara hanya manyun mendengar ledekan Galih.
"Pulang dek... sudah malam banget niii... Abang antar yaa..." Ajak Galih
Ici memberi kode ke Rara agar menerima tawaran Galih. Rara mengangguk setuju ajakan Galih. Mereka pulang mengunakan mobil yang di bawa Galih.
"Nginap dimana Ra?" Tanya Galih.
"Dari lampu merah lurus sebelah kiri bang Hotelnya" Ucap Rara memberi petunjuk arah.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Galih.
"Pagi bang jam 5 subuh" jawab Rara.
"Oohhh... pulang langsung tidur yaaa, kunci pintu ga usah kemana-mana" ucap Galih khawatir.
"Siappp bos" jawab Rara sambil menggerakan tangan hormat.
Mereka keluar dari mobil langsung masuk ke dalam Hotel.
Hotel terlihat begitu ramai, banyak berpasang-pasangan memasuki hotel. Beberapa pria melihat Rara dan Ici dengan tatapan yang menyeramkan. Seperti kucing melihat ikan segar. Rara dan Ici segera berjalan lebih cepat memasuki kamar.
Sesampai didalam kamar langsung mereka kunci double dan pintu dihadang kembali menggunakan kursi didalam kamar hotel.
"Alhamdulillah sudah dikamar"ucap Rara.
"Ici kalau mau buka baju dikamar mandi aja, takut-takutnya dikamar ini ada cctv lagi" ucap Rara sambil melihat sekitar ruangan.
"Iya... "jawab ici yang juga merasa takut.
Mereka berganti pakaian kemudian langsung beristirahat di atas kasur.
Mereka tidur ketika sudah merasa aman
°°°
04.30 wib
Tidur mereka tidak merasa nyaman, karena penuh dengan rasa takut. Bangun masih merasa ngantuk.
"Yakin Ra... kita naik kereta ekonomi?" ucap Ici.
"Yakin dong... seru tauuu" jawab Rara sambil membereskan pakaian.
"Sudah pesan taksi?" lanjut Rara.
"sudah... ehhh panjang umur ini sudah datang" jawab Ici.
Mereka segera keluar dalam kamar untuk check out hotel. Hotel terlihat sangat sepi tidak seperti malam hari penuh dengan berpasangan.
"Salah masuk hotel kita Ci..." Ucap Rara berbisik.
Ici mengangguk mengiyakan ucapan Rara. Ici ke resepsionis untuk check out kamar. Hotel tempat mereka menginap di buka 24 jam. hotelnya didepan terlihat seperti Hotel umumnya. Hotelnya memanjang tembus ke jalan raya di sebelahnya. Namun papan hotel di belakang terlihat seperti losmen untuk menginap dengan waktu jam.
Rara dan Ici baru sadar telah memasuki hotel yang salah. Di pagi hari hingga sore hari terlihat seperti biasa saja. Namun jika sudah jam 9 malam hotel terlihat seperti penginapan para wanita bayaran.
Mereka berulang mengucapkan syukur, tidak mengalami kejadian yang tidak diinginkan walau sempat takut bertemu pria hidung belang.
Sesampai stasiun kerata api, Rara dan Ici segera menuju ke loket untuk melakukan boarding tiket.
Sambil menunggu kereta datang, Rara mengecek ponsel yang dari tadi disimpan dalam tas kecil.
Beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan yang belum Rara baca.
Panggilan tidak terjawab dari Bang Galih dan nomor tidak dikenal. 2 pesan dari nomor tidak dikenal, segera Rara membacanya.
📩 Sudah dapet cowok baru ya...
📩 apa sudah jadi ******* tidur dihotel sembarangan
Geram membaca pesan nomor tidak dikenal, Rara langsung menelpon nomor tersebut.
Hingga ke tiga kali Rara menelpon dan baru diangkat.
"Heiiii kamu... kamu pikir kamu siapa? ngomong seenaknya aja. Berani cuma neror orang doang... lu banci yaa? jangan pernah hubungi ku lagi" ucap Rara mengakhiri telpon setelah berucap.
Ici hanya memperhatikan Rara yang terlihat sangat emosi.
"Sialan tu orang seenak jidatnya ngomongi orang" kesal Rara.
Ici tidak berkomentar hanya tersenyum melihat temannya yang tengah meluapkan emosi.
"Ra... kereta kita sudah datang" ucap Ici.
Mereka naik kedalam kereta ekonomi, suasana tidak terlalu rame tidak seperti dulu yang berdesakkan. Sekarang kereta ekonomi terlihat lebih rapi, Ac jalan, duduk sesuai dengan tiket namun kursinya saja yang masih berdiri tegak.
"Yaakkk ampuuunnn gimana mau tidur kalau kursi begini Ra" keluh Ici melihat kursi penyandarnya yang lurus.
Rara tertawa melihat temannya mengalami kesusahan.
"Ihhh senang banget sihhh..." kesal Ici.
"Sekali-kali juga merasakan kelas ekonomi..." ledek Rara.
"Ga ada selimut? mana Ac nya dingin banget lagi" keluh ici kembali.
Lagi-lagi Rara hanya tertawa melihat temanya kesusahan.
🌸🌸🌸
jangan lupa like, vote, rate 5, komen dan favorite yaaaa....
Happy Reading 💃💃
🌸🌸🌸
lebay. pliis la karakter cewe terobsesi model Sarah gini dikasi panggung banget m penulis.
hrsnya dia dpt pelajaran la. bukan dgn org baik yg hrs berkorban buat dia.
capedee. part yg bikin males dibaca
padahal kan Dia sudah menyerahkannya pada Danil
mungkin ini maksudnya Tanya Danil bukan Cleo
yang terpenting disini adalah mau berubah dan memperbaiki diri dan Istiqomah