Seorang gadis yang di khianati oleh sahabat juga kekasihnya harus rela meregang nyawa dan berpindah ke tubuh seorang wanita yang sama sekali tidak di hiraukan oleh suaminya
Bagaimana cerita selanjutnya? cus baca yuk zheyeng 🏃♀️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secangkir Kopi Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tampan Tapi Kok?
Sebelumnya...
"Maaf kalau Aku sampai lengah menjaga Abian" ucap William.
Misha mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" tanya gadis tomboy itu.
"Sebenarnya, Aku tahu bahwa Abian mengincar Alya. Makanya Aku mengutus beberapa anak buah ku untuk menjaga Abian jangan sampai menyentuh Alya. Tapi hari ini entah mengapa mereka lalai?" ucap William dengan memandang sendu ke arah Misha.
Sedang gadis tomboy itu tersenyum dan...
*****
POV Farzana
Gadis itu di ajak masuk ke sebuah resort oleh Alden.
Jujur saja, Alden sangat bahagia bisa bersama dengan sang pujaan hati.
"Kita duduk disini" ucap Alden.
Farzana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
(Maafkan ay kagak bisa terlalu detail ngejelasin ntu resort karena kagak pernah kesono🤭)
Rencana awal yang ingin ke mall harus batal karena Aidan memberikan kode bahwa mereka di ikuti oleh suami dari Farzana.
Ya, di dalam mobil Alden membatalkan rencana ke mall karena alasan yang masuk akal oleh Farzana dan sebagai gantinya pria itu mengajak perempuan di sebelahnya itu ke sebuah resort yang tak lain punya dirinya sendiri.
Hanya saja Alden tidak memberitahukan bahwa resort itu miliknya.
"Tempatnya indah" ucap Farzana memandang ke sekeliling.
Alden tersenyum bahagia "Indah seperti dirimu" sahutnya tanpa sadar.
Farzana menoleh "Hah, apa?" tanyanya.
"Eh, ng-nggak. Kamu mau sesuatu gak? Biar Aku pesankan" ucap Alden mengalihkan pembicaraan.
"Apa aja, Aku pemakan segalanya" sahut Farzana sembari terkekeh.
Alden pun ikut tertawa menimpalinya.
"Tunggu sebentar ya biar Aku pesankan dulu" ucap Alden beranjak pergi setelah di angguki oleh Farzana.
*
*
*.
*
*
POV Arzan.
Arzan memukul setir mobilnya.
Lelaki itu kesal sendiri karena kehilangan jejak dari mobil yang membawa istrinya itu.
"Sial... Kenapa Aku harus kehilangan jejaknya" ucap pria itu sembari menyugar rambutnya ke arah belakang.
Drtt
Ponsel Arzan bergetar, sebuah panggilan masuk dan itu dari kekasihnya Davina.
Klik
"Ya halo sayang" sapa Arzan.
"Kamu kemana? Kok pas Aku bangun kamu udah gak ada."
"Ah maaf sayang, Aku ada urusan di luar. Sekarang udah beres kok ini Aku otw pulang ke RS" sahut Arzan.
"Ok, hati-hati di jalan ya, Aku nunggu kamu. Love you"
"Love you too".
Arzan mematikan sambungan telepon.
Pria itu mengacak rambutnya merasa frustasi.
"Sebenarnya kamu di bawa pergi ke mana sih sayang" keluh Arzan entah sadar atau tidak dirinya kembali menyebut Farzana dengan kata sayang.
Mau tak mau akhirnya Arzan pun putar balik menuju RS tempat Davina menginap.
*
*
*
*
*
POV Misha.
Setelah acara berpelukan macam Teletubbies antara dirinya dan William.
Anak buah dari William membawa Abian ke rumah sakit tempat di mana William bertugas.
Sedangkan Alya. Gadis itu tetap terlelap dikarenakan efek pukulan dari Abian.
Misha cukup khawatir tapi William memastikan bahwa asistennya itu dalam keadaan baik-baik saja.
William dan Misha duduk di ruang tamu masih di unit Abian.
"Ceritakan padaku, mengapa kau dulu menghilang?" tanya Misha memandang lekat ke arah pria didepannya ini.
William pun tersenyum dan membelai lembut pipi Misha.
"Aku dan papa di buru oleh om Toni dan sekutunya. Jadi terpaksa kami melarikan diri ke Rusia" ucap William sembari menghela nafas berat.
Sekarang Misha yang mengusap punggung lelaki yang dicintainya itu.
"Kalau semua ceritanya berat, maka kau tak perlu menceritakannya" ucap lembut gadis tomboy itu.
William menoleh memandang singa betina manis yang duduk di sampingnya itu.
"Ku kira, kau tak bisa berbicara seperti wanita Ra" ucap William sembari terkekeh.
Misha membulatkan matanya.
"Apa kau bilang?" tanya Misha tetapi dengan nada masih rendah.
"Ah maafkan Aku Ra" sahut William sembari merengkuh tubuh Misha untuk di peluknya dan Misha membalasnya.
"Om Toni ingin mengambil alih seluruh aset keluarga dengan cara membunuh papa dan juga Aku. Papa ataupun Aku tidak bisa melawan karena Om Toni mempunyai sekutu yang kuat. Akhirnya kami berangkat ke Rusia dengan bantuan sahabat papa yaitu Om John" cerita William dengan tetap keadaan masih memeluk Misha.
"Andai saja jikalau Mama masih ada, Om Toni tidak mungkin melakukan hal itu. Karena Om Toni mencintai mama" sambung William sembari beberapa kali menghela nafas berat.
Misha mengusap lembut punggung William karena dia juga seperti ikut merasakan beban yang begitu berat ditanggung oleh pria yang dicintainya ini.
"Aku ingin kembali ke sini hanya saja keadaan masih tidak memungkinkan diriku untuk kembali. Jujur Aku sangat merindukanmu, tapi saat Aku kembali ke Indonesia. Aku mendengar bahwa dirimu dan kedua orang tuamu pindah ke negara Prancis. sambung William lagi.
Setelah itu William melepaskan pelukannya dari tubuh Misha.
Gadis itu tersenyum dan membelai rahang dari William.
"Ya, setelah dirimu menghilang tanpa kabar Aku mengiyakan ajakan papa untuk pindah ke Paris. Aku harus rela berpisah dengan Zana karena orang yang membuat aku bertahan sudah pergi tanpa jejak" sahut Misha sembari memandang ke arah William.
"Maafkan Aku" ajak William sembari menunduk.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau pun pergi karena keadaan yang memaksa, Aku bisa apa? ucap Misha sembari beranjak berdiri.
William memandang Misha yang berdiri dari tempat duduknya "Ara" panggilnya.
Misha menoleh dan tersenyum.
"Boleh aku bertanya?" ucap Misha.
William menganggukan kepalanya "Apa?" tanyanya.
"Bagaimana kau tahu bahwa Aku adalah Ara?" Misha memandang lekat ke arah pria yang dicintainya itu.
"Owh itu..."
*
*
*
*
*
POV Julio.
Saat ini pria gemulai itu sedang duduk di atas brangkar rumah sakit.
Ceklek
pintu ruang nginapnya terbuka dan muncullah salah orang suster.
"Maaf Pak Julio saya izin memeriksa keadaan Anda saat ini" ucap suster bername tag Ayu itu sembari tersenyum manis kearahnya.
Julio mengangkat sebelah alisnya.
"Heh, yeyy jengong panggil eyke Pak yess. Emang eyke kapan nikah sama ibu yeyy" ucap Julio membuat suster Ayu membulatkan matanya.
"Oh astaga, apakah dia..."
"Malah melamun, panggil eyke Miss. Paham yeyy" ucap Julio sembari mengibaskan rambutnya yang panjang tetapi ghoib.
"A-ah maaf Miss. Saya izin memeriksa keadaannya ya" izin suster Ayu dan di angguki oleh Julio.
Setelah beberapa saat selesai memeriksa keadaan Julio dan memastikan keadaannya sudah baik-baik saja suster Ayu pun izin pamit undur diri.
setelah keluar dari ruangan Julio, sepanjang koridor rumah sakit menuju posnya. Suster Ayu mengusap dadanya "Oh Tuhan dia tampan hanya saja mengapa dia cara bicaranya seperti itu? Apa dia belok?" hanya itu yang digumamkan oleh hatinya.
Sedangkan di dalam ruang inapnya Julio meraih ponselnya yang ada di atas nakas mencoba untuk menghubungi sahabat tomboy nya itu.
Tut... Tut...
Klik
"Halo nekk" sapa Julio.
"Halo"
Julio mengkerutkan dahinya dan melihat kembali layar ponselnya.
"Benar, tapi kenapose suaranya jadi lekong bingitz yess" bingung Julio karena yang menyahut panggilannya bukan suara dari Misha tapi suara seorang lelaki.
"Yess helo..."
Continue...
...🍂🍂🍂...
Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya mau itu like komen gift mawar sekebon nya atau vote juga kopinya ay ucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya.
Hanya doa tulus yang bisa ay balas semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu mengiringi kehidupan kakak semua aamiin.
...Salam hangat dari Aya ❤️...