Albirri, seorang laki laki yang ta'at akan agama dan merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun Na'asnya Ia harus menghadapi fitnah yang di tujukan oleh bos nya sendiri.
Kehidupannya berubah drastis semenjak kejadian itu.ia harus menikahi gadis bernama Ansha, rekan sekantornya dan memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Akankah Albirri mampu mengatasi romantika cinta yang tidak pernah Ia sangka sebelumnya?
Akankah Ia mampu bertahan dengan gadis yang resmi menjadi istrinya secara tiba tiba?
Bagaimana kisah mereka berdua selama menjalani kehidupan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DwiRahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dengan Arsyaka...
Tidak ada yang tahu akan rahasia Allah, Apapun itu jalani hidupmu dengan sebaik baiknya karena itu yang memang harus kamu lakukan sebagai bentuk rasa syukur.
***
Setelah selesai mengurus semuanya, Birri dan Ansha pun pamit pulang terlebih dahulu. Mereka pun malajukan motornya perlahan menyusuri jalan yang padat akan orang berlalu lalang.
“Rasanya lega ya mas... masalahnya sudah selesai” kata Ansha.
“Iya... tinggal masalah ibunya Umai..!” kata Birri.
“Huum... semoga bu Fatimah segera sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan Umai..” kata Ansha.
“Aaamiin ...” jawab Birri.
Albirri pun bersenandung kecil di atas motornya, merasakan kelegaan hati yang terjerat dari masalah.
Menatap indahnya senyuman diwajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya cinta terindah
Bila kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata yang tak mampu
Kuungkapkan kepada dirimu...
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang menyakiniku
Kau tercipta untukku
Meski waktu akan mampu
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tahu ku selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku..
Mereka pun sama sama melantunkan lagu tersebut sambil menikmati perjalanan mereka.
Tiba tiba di tengah perjalanan Birri melihat banyak orang berkerumun.
“Sepertinya ada kecelakan Sha..” kata Birri.
“Masak sih mas... berhenti sebentar mas..!” kata Ansha.
Birri menepikan motornya dan mereka pun berdesak maju untuk melihat kejadian itu. Ternyata benar dugaan Birri, telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan itu. Dan salah satu korban yang selamat adalah seorang Anak kecil berumur sekitar 9 bulan.
“Innalillalh... semuanya tewas mas... !” kata Ansha.
Ansha dan Birri merasa terusik hatinya ketika ada seorang anak kecil yang menangis histeris dengan luka luka di tubuhnya.
“Kasihan anak itu ya Mas..” ucap Ansha.
Birri melihat ke arah bayi tersebut terus menerus kemudian ia meraih tangan Ansha mengajaknya untuk mendekat ke anak kecil yang sedang di gendong oleh salah satu warga sekitar.
“Permisi pak... biar saya bantu gendong... siapa tahu bisa diem...” kata Birri menawarkan diri.
“Oh iya mas... kasihan dari tadi nangis terus...” kata bapak bapak tersebut.
Birri mengangkat anak tersebut ke dalam gendongannya dan menepuk pelan punggung anak kecil tersebut sambil di bacakannya sholawat.
“Kelihatannya, anaknya sudah mulai tenang mas... makasih ya... “
“Mungkin saja anak kecil ini kaget dan merasa kehilangan karena kedua orang tuanya meninggal di tempat...” lanjut bapak bapak tersebut.
“Ayah dan ibunya meninggal semua pak?” tanya Ansha.
“Iya neng... mereka di tabrak oleh mobil warna merah itu, yang melihat kejadian si,mobil merah tersebut sepertinya tidak bisa menguasai kemudinya karena jalan licin...” jelas Bapak tersebut.
“ Ya Allah....kasihan banget..!” Ucap Ansha.
“Ini masih menunggu dari pihak kepolisisan dan rumah sakit...” tambah bapak bapak tersebut.
Ketika anak kecil itu sudah tenang, anak itupun tertawa dan mengoceh seakan mengajak berbinteraksi dengan Birri dan NAsha.
“Ciluk..... ba.... cilukk.... ba...!” goda Ansha pada anak laki laki tersebut.
“Lihatlah... bukankah dia anak yang kuat ya mas... walaupun tubuhnya penuh luka luka kayak gini masih saja dia bisa tertawa bahagia seperti itu...!” ucap Ansha yang tiba tiba sedih.
“Anak hebat kok ya... Ganteng lagi...” kata Birri sambil mencubit pelan hidung Anak tersebut.
“Ayo ikut Tante Ansha...”tawar Ansha merentangkan tangannya ke anak tersebut.
Melihat reaksi anak tersebut yang berceloteh dan mengangkat kedua tangannya, Akhirnya Birri pun memberikan anak tersebut kepada Ansha.
Setelah di ajak berinteraksi, Ansha agak menjauh dari area kecelakaan itu. Takut anak kecil tersebut mendengar suara suara bising dan akhirnya histeris lagi. Setelah agak jauh, ia bercanda dan tertawa dengan anak tersebut.
Dan Ansha pun melihat kalung yang ada di leher anak itu.
“Jadi namamu Arsyaka...”
“Nama yang bagus...!” gumam Ansha.
“Halo Arsya... jadi anak yang sholeh ya nak...!” kata Ansha.
Polisi dan pihak ambulan pun datang. Mengevakuasi korban dan memberikan garis tanda di wilayah kecelakaan tersebut.
“Maaf Mbak... ini anaknya harus kami bawa... siapa tahu masih ada keluarganya yang nyari..” kata pak polisi tersebut.
“Tapi pak...”Ansha tidak melanjutkan perkataanya.
“Kasihkan Sha... siapa tahu ada keluarganya yang menjemput..!” kata Albirri.
Ansha pun menyerahkan anak tersebut ke pak polisi itu. Namun ternyata Arsya malah melekat erat ke tubuh Ansha dan menangis histeris lagi ketika mau di ambil oleh Bapak polisi tersebut. Ansha pun tidak tega melihatnya.
“Biar kami saja yang membawanya ke Rumah sakit pak...anak itu baru saja berhenti menangis... kasihan kalau menangis lagi..!” kata Birri.
“Baiklah kalau begitu... sebaiknya kalian ke Rumah Sakit Karya Adiguna segera...” kata pak polisi tersebut.
Dijawab dengan anggukan oleh Albirri dan Ansha. kemudian Albirri melepas Jaketnya dan menutupkannya ke tubuh anak kecil itu. Dilihatnya sekilas anak itu, ada gurat kesedihan setelah tadi mau di bawa paksa. Birri pun membuang nafasnya kasar.
“Tutup yang bener ya Sha...kaishan kalau kena angin..Tubuhnya masih banyak luka lecet..!” kata Albirir.
“Iya mas.. Ini aku tutup kayak gini..” jawab Ansha.
Mereka bertiga pun mengendarai motor tersebut menuju ke rumah sakit Karya Adiguna.
“Aku kok kasihan sama anak ini... masih kecil sudah ditinggal orang tuanya..” kata Ansha.
“Maut itu tidak ada yang tahu Sha...kita manusia hanya bisa mengusahakan yang terbaik dalam hidup kita agar ketika nantinya ketika kita di jemput kita sudah siap..” kata Birri di tengah tengah perjalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya didepan rumah sakit, mereka pun mengikuti instruksi dari para pihak rumah sakit.
Pemeriksaan untuk anak tersebut sudah selesai. Anak itu begitu menempel kepada Ansha dan Birri. Bahkan ketika para suster mau mendekat memeriksa kondisinya pun, anak itu menangis histeris.
“Ini apa ada keluarganya malam ini yang akan datang pak..? “ Tanya Albirri kepada Pak polisi yang sedang melakukan kunjungan untuk melihat korban kecelakaan.
“Sepertinya belum ada mas... kami juga kesulitan mencari data anak tersebut karena kedua orang tuanya tidak membawa identitas diri... kemungkinan kedua orang tua anak ini tinggal di daerah dekat dengan lokasi kejadian...!” kata Pak polisis menjelaskan.
“Kalau begitu apa boleh kami bawa pulang... kami tinggalkan KTP kami sebagai jaminan... kalau ada keluarganya yang menanyakan bisa segera menghubungi kami..” kata Albirri.
“Kasihan Kalau ditinggal disini...” kata ALnirri setengah memohon.
“Sebentar mas... saya tanyakan dulu sama pimpinan..” kata polisi tersebut.
Setelahnya datang lagi dua orang polisi yang salah satunya Birri kenal.
“Pak Dhe.. “ kata Birri terkejut.
“Lho kamu kenapa bisa ada sini Al..” kata Pak Dhe Albirri yang ternyata bertugas menangani kecelakaan tersebut.
“Nggak sengaja lewat tadi di sekitar lokasi kejadian... lihat anak ini menangis akhirnya birri ikut nganterin anak ini ke Rumah Sakit...!” kata Albbirri kepada pak Dhenya.
“O iya pak dhe... Al minta tolong... anak ini boleh ya Al bawa pulang... soalnya kasihan kalau ditinggal disini sendirian...” kata Albirri memohon kepada pak dhenya.
“Lha nanti yang ngurus siapa Al..?” tanya pak dhenya.
“Ada Ansha sama AL pak dhe...” sahut ALbirri.
“Ini istri AL pak Dhe...namanya Ansha..!”kata Birri memperkenalkan Ansha.
“Istri? Kok nggak ngundang ngundang Al...” tanya pak dhe Albirri.
“Itu... emmm... kita nikahnya di kota Pak Dhe... jadi takut merepotkan keluarga disini kalau harus ke kota, makanya Al nggak ngundang keluarga yang di kampung Pak Dhe......” jawab Birri.
“Giman Pak Dhe boleh ya... saya tinggalkan KTP dan no. ponsel saya ... kalau ada pihak keluarganya yang ingin datang menjemput..” kata Albirri.
“Kamu yakin?” kata Pak Dhe AIbirri
“Iya pak dhe... kasihan... dari tadi menangis terus kalau di pegang orang lain..!” kata Albirri.
“Baiklah kalau begitu... nanti pak dhe sampaikan ke yang lain...!” kata pak Dhe Albirri.
Karena anak itu tidak terluka parah, akhirnya bisa langsung di bawa pulang oleh Albirri dan Ansha.
“mas.. sepertinya peduli banget ya sama anak ini...” tanya Ansha ketika mereka sudah meninggalkan rumah sakit.
“Mas jadi inget kejadian waktu mas ditinggal sama Abi dan Umma... mas juga sendiri waktu itu...tapi untungnya waktu itu Mas sudah besar dan bisa memahami kondisnya... sedang anak ini masih kecil belum tahu apa apa...” kata Albirri sedih.
cara nya hanya wajib follow akun saya sebagai pemilik Gc Bcm. Maka saya akan undang Kakak untuk bergabung bersama kami. Terima kasih.
smngat trus thor💪