Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*1
"Sha. Papa tunggu di taman belakang. Ada yang ingin papa bicarakan."
Si gadis yang baru saja pulang dari kuliahnya itupun langsung mengerutkan dahi karena ucapan papanya barusan. Hatinya bertanya ada apa. Tapi ucapan itu tidak lolos dari bibirnya karena sang papa yang baru saja selesai bicara, tanpa menunggu jawaban darinya lagi malah sudah beranjak meninggalkan dirinya di depan pintu utama rumah tersebut.
"Tumben. Ada urusan apa papa mau bicara sama aku?"
Asha masuk ke kamar hanya untuk meletakkan tas punggung miliknya. Setelah itu, gadis tersebut segera menuju taman belakang seperti permintaan dari papanya barusan.
Saat ingin ke taman, Asha berpas-pasan dengan mamanya yang juga ingin pergi ke tempat yang sama.
"Mah, ada apa sih? Apa yang ingin papa bicarakan sama aku sampai kelihatannya gak bisa nunggu lagi."
"Temui saja papamu, Sha. Kamu juga akan tahu apa yang papa mu ingin bicarakan."
Asha hanya bisa melepas napas berat.
"Heh ... baiklah."
Di taman belakang rumah, papa Asha sedang duduk bersandarkan punggung di kursi taman. Jarang sekali pria paruh baya itu meminta anaknya untuk bicara. Biasanya, mereka hanya akan bicara dengan santai di ruang keluarga. Kali ini, seolah ada hal yang sangat serius untuk dibicarakan. Makanya papanya minta ia datang ke taman belakang agar lebih segar.
"Pah."
"Duduk dulu, Sha."
"Hm." Gadis itu menurut.
Setelah duduk, rasa penasaran tidak bisa menahan bibir agar tidak melontarkan pertanyaan. "Pa. Mau bicara apa sih sebenarnya. Kelihatannya sangat serius."
Rahman, papa Asha langsung melepas napas berat sebelum berucap. "Heh .... Iya, Sha. Ada hal yang sangat-sangat penting yang ingin papa bicarakan sama kamu. Dengarkan baik-baik apa yang papa katakan. Dan, papa mohon dengan sangat, tolong jangan tolak permintaan papa."
Deg. Jantung Asha mendadak terasa tidak nyaman. Dari raut wajah dan nada bicara yang papanya lontar kan barusan, ada hawa yang langsung membuat hati Asha terasa tak nyaman.
Hatinya seolah merasakan sebuah firasat yang tidak baik. Hal buruk akan menimpa dirinya sekarang juga. Dengan enggan, Asha bertanya.
"Ada apa sih, pa?"
"Ingat keluarga Rahardi, Sha?"
Sontak, pertanyaan itu semakin membuat hati Asha tidak nyaman. "Keluarga ... Rahardi?
Si-- siapa?"
"Jangan pura-pura lupa, Ashanti. Papa yakin kamu ingat dengan keluarga ini. Karena papa sering bicara soal keluarga ini sama kamu sebelumnya."
"Iy-- iya ... iya aku lupa aja, Pah. Banyak hal yang harus aku ingat soalnya. Jadi, nama sebuah keluarga ini wajar dong kalo aku lupa."
"Baiklah. Papa anggap kamu beneran lupa, Sha. Sekarang, dengarkan papa baik-baik. Keluarga Rahardi mengutus pengurus rumahnya untuk bertemu papa tadi siang. Mereka ingin melamar kamu untuk menjadi istri dari anak mereka."
Duarrrr .... Wajah Asha langsung pucat seketika. Lidahnya terasa kelu, dan bibirnya terasa berat. Napasnya seolah terhenti akibat terkejut akan kata-kata yang baru saja papanya ucap.
"Apa ... barusan, papa bilang apa? Mereka ... ingin melamar aku? Kok bisa? Aku kenal saja tidak dengan anak mereka. Bagaimana bisa tiba-tiba mereka mau melamar aku? Jangan bercanda, pah. Ini gak lucu. Sama sekali enggak."
"Sha. Lihat wajah papa! Apakah ada tanda-tanda bahwa sekarang, papa sedang bercanda?"
'Ayolah, Asha. Jangan mikir yang enggak-enggak. Percayalah, keluarga Rahardi tidak hanya ada satu di kota ini, bukan?' Asha bicara dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Pah ... bagaimana ini bisa terjadi? Mana mungkin bisa menikah saat seseorang tidak saling kenal."
"Kamu mungkin kenal dia, Sha. Lagian, kita ini hidup mewah juga dari investasi yang keluarga Rahardi berikan. Karena selama ini, merekalah sumber dana terbesar perusahaan kita, Asha."
Asha terdiam. Hatinya semakin tak karuan saja sekarang. Perlahan tapi pasti, bibirnya melontarkan satu pertanyaan yang sejujurnya sangat takut untuk ia dengar jawabannya.
"Kalo aku kenal, siapa nama anak mereka, Pa?"
"Irza."
Duarrrr! Lagi, guncangan besar langsung menghantam telat benak Asha. Bagai di sambar petir di siang bolong saja gadis itu sekarang. Kaget dan panik menyerang dengan sangat besar luar biasa.
"Apa! Irza!"
Menggelegar suara Asha saat menyebut nama pria yang sedang ingin dijodohkan dengannya. Bagaimana tidak? Irza Rahardi ini adalah bintang di kampus Asha. Eitc, bukan bintang yang di puja layaknya pangeran kampus seperti yang orang-irang bayangkan ya. Melainkan, bintang karena menjadi bahan olok-olokan penghuni kampus tersebut.
Bukan karena ia buruk rupa. Tidak. Sebaliknya, pria yang bernama Irza Rahardi ini tampan. Sangat tampan malahan. Rambutnya lurus jatuh di dahi. Kulitnya putih bersih. Matanya indah dengan bulu mata yang cantik. Tak lupa dengan tambahan dua lesung pipi di wajah. Ia adalah ciptaan Tuhan yang sangat indah.
Jika dia hanya berdiri tanpa bergerak, mungkin dia adalah anime hidup yang paling sempurna. Gak akan ada yang tahu apa kekurangan yang ia miliki. Keindahan dari ciptaan Tuhan yang sesungguhnya ada pada dirinya. Singkatnya, dia bisa dibandingkan dengan artis negara nun jauh di sana. Artis-artis populer yang bisa menggetarkan jiwa kaum hawa sebagai pecinta drama.
Namun sayangnya, dibalik kesempurnaan itu, ada kekurangan yang sangat nyata. Irza adalah pria kemayu, jika bicara akan sangat lembut. Jika bergerak, gerakannya mungkin akan mengganggu pemandangan. Pria yang kelaki-lakiannya di ragukan oleh hampir semua orang.
Singkatnya, dia adalah pria yang kerap di sebut sebagai pria bertulang lunak. Pria kemayu yang gayanya lemah lembut. Atau ... ah, ada banyak lagi sebutan untuk menggambarkan pria seperti dia. Pria yang sering diremehkan karena tampilannya yang berbeda.
Begitulah adanya Irza ini. Walau tampan, tapi penampilannya sangat jauh berbeda dari laki-laki pada umumnya. Laki-laki dengan tubuh kekar dengan otot perut yang menggoda. Laki-laki dengan dada bidang yang sangat macho. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Asha saat nama Irza menyentuh daun telinganya.
Asha tertawa sambil menatap papanya.
"Papa bercandanya keterlaluan. Sangat-sangat keterlaluan. Irza ... bagaimana mungkin."
"Sha. Jaga adab mu. Jaga hormat mu itu. Mana mungkin papa mu bercanda." Sang mama terlihat agak kesal karena ulah anaknya saat ini. "Keluarga Rahardi bersungguh-sungguh ingin melamar kamu. Minggu depan, mereka akan datang ke rumah kita."
"Ap-- apa? Kenapa begitu. Aku gak mau bertunangan dengan Irza. Jangankan menikah, ketemu saja aku gak mau."
"Asha. Jangan gitu."
"Pah. Apa kalian gak tahu seperti apa Irza? Dia itu-- "
"Kami sudah tahu." Potong papanya dengan cepat agar anaknya tidak terlalu banyak bicara meremehkan pria tersebut. "Kami tahu siapa dia, Sha. Kamu tidak perlu menjelaskan lagi. Karena di kota ini, tidak ada nama Irza Rahardi yang lainnya selain keluarga Rahardi yang paling terpandang di kota ini. Hanya ada satu, tentu saja kami tahu siapa dia."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi