IG suliani_cucu
Bijak dalam membaca ya, ini area ibu-ibu rumah tangga.
Hamil karena diperkosa menjadi beban yang berat untuk Elsa Anindita, dia harus menulikan telingnya kala banyak orang yang menggunjingnya.
Apa lagi setelah melahirkan, bebannya makin berat saja. Karena selain mendapatkan gunjingan, Elsa pun harus ekstra bekerja keras untuk menghidupi kedua putrinya.
Beruntung kedua putrinya tumbuh menjadi anak yang sangat pandai dan mempunyai kemampuan di atas rata-rata.
Hingga akhirnya Elsa dipertemukan kembali dengan peria yang memperkosanya, akan seperti apa hubungan mereka pada akhirnya?
Yuk kita kepoin kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil 'Sayang'
Elsa, melihat jam yang bertengger cantik di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi, Gia tidak juga mau pulang. Elsa begitu kesal, Elsa pun segera menghampiri Gia yang sedang duduk manis di ruang keluarga.
"Hey... Kamu, kapan pulang?" tanya Elsa.
Elsa berdiri di depan Gia, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku, males pulang." Jawab Gia acuh.
Gia seakan tak perduli, dia malah mengambil remot tv dan mencari chanel yang menurutnya enak untuk di tonton.
"Jangan begitu, kita belum menikah. Tidak enak, kalau tinggal satu atap, tapi belum terikat." Elsa berusaha untuk menjelaskan.
Elsa, tidak mau jika nantinya ada yang mengira-ngira hal yang tidak baik tentang mereka.
"Tapi, kalau aku pulang. Aku tidak bisa melihat wajah Cantik' mu, Sayang." Kata Gia.
Gia masih saja berusaha untuk menggoda Elsa, dia suka akan hal itu.
"Jangan gombal, kamu. Pulang sana!" ucap Elsa.
Gia tertunduk lesu, dia masih ingin berlama-lama menikmati kebersamaannya bersama Elsa.
Tapi, Elsa seakan tak mau. Atau mungkin, hanya pura-pura tak mau.
"Baiklah, aku akan pulang. Tapi, ada syaratnya." Kata Gia.
"Apa?" Elsa bertanya dengan nada menantang, Gia makin suka di buatnya.
Elsa berkacak pinggang, seolah siap untuk beradu otot dengan Gia.
"Panggil aku, Sayang. " Kata Gia.
Gia mengerling nakal, sambil menatap Elsa. Hal itu membuat Elsa kesal dan ingin mencongkel kedua bola mata Gia.
"Ngimpi kamu!" ketus Elsa.
"Cium dulu deh kalau gitu, baru aku pergi." Gia berusaha untuk bernegosiasi.
"Ck!"
Elsa langsung duduk di samping Gia, tanpa Gia duga, Elsa langsung menangkupkan kedua tangannya di kedua pipinya Gia.
Wajah Elsa begitu dekat dengan Gia, hingga Gia, bisa dengan jelas merasakan hangatnya nafas Elsa, yang menyapu wajahnya.
Gia pikir, Elsa akan menciumnya. Gia langsung memejamkan matanya, dan memonyongkan bibirnya.
Elsa langsung tersenyum, lalu, Elsa pun berkata.
"Pulanglah, Sayang. Ini sudah larut malam, aku tak mau sampai di sebut menyandra anak orang." Kata Elsa
Gia langsung membuka matanya, dia mengerjap tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Elsa.
"Oh, tuhan. Kamu panggil Aku sayang?" tanya Gia.
Mata Gia, terlihat berbinar. Senyum pun langsung mengembang, dia suka Elsa memanggilnya sayang.
"Yes, Mas Gia, Sayang. " Kata Elsa.
Senyum di wajah Gia makin mengembang, Gia langsung memeluk Elsa lalu mengecup keningnya dengan mesra.
"I love you, Elsa. Mas mau pulang dulu, besok Mas, Ngga ke sini." Gia berpamitan pada Elsa, dia terlihat sangat senang karena keinginannya sudah terpenuhi.
Sedangkan Elsa, dia seakan tak perduli. Dia hanya memutar bola matanya, dia jengah dengan kelakuan Gia yang sekarang.
Padahal, dulu, Gia terkenal arogan dan sombong. Lalu, kenapa sekarang jadi terlihat lemah seperti ini?
"Hem," jawab Elsa kemudian.
"Yang manis dong jawabnya," pinta Gia.
Gia masih saja ingin menggoda Elsa, karena dengan itu, Gia bisa mengulur waktu, untuk terus bisa berada dengan Elsa.
"Kaya gimana?" Elsa berusaha menahan emosinya yang sudah siap meledak kapan saja.
"Sebut aku, Sayang. Kaya tadi," pinta Gia, lagi.
"Baiklah, Sayang. Kamu pulang ya, Sayang. Langsung bobo ya, Sayang. Mimpi indah, Sayang. Kali bisa, mimpin aku yang sedang menurutmu, Sayang." Elsa berucap sangat pelan, tapi penuh dengan penekanan.
Gia langsung tersenyum, dia senang, sangat sangat sangat senang.
"Oke, aku pulang." Akhirnya, dengan senyum yang merekah, Gia pun pulang menuju kediamannya. Elsa pun bisa bernafas dengan lega, tentunya tidur pun bisa nyenyak.
*/*
Pagi ini, Gia, terlihat sibuk mempersiapkan acara pernikahan' nya. Dia, ingin membuat pernikahan megah dan tentunya berkesan.
Gia, hanya ingin menikah satu kali dalam hidupnya. Sebisa mungkin, dia akan membuat pernikahan yang tak akan terlupakan seumur hidup'nya.
Lain Gia, lain pula Elsa. Jika Gia, terlihat sangat bahagia. Elsa, malah terlihat gundah. Dia, takut jika keputusan yang dia ambil adalah keputusan yang salah.
Elsa berjalan mondar-mandir tak karuan, sesekali dia menggigit kuku tangannya. Gugup, takut, rasa tak percaya diri, bercampur aduk menjadi satu.
Seperti permen nano-nano, yang ramai rasanya.
Bu Anira, yang melihat putrinya begitu gundah. Langsung duduk di tepi ranjang, dia juga sebenarnya sangat resah. Tapi, jika melihat keseriusan di mata Gia, Bu Anira seakan percaya, jika Gia, adalah pilihan yang tepat.
"Elsa," panggil Bu Anira.
Elsa yang sedang mondar-mandir pun langsung berhenti, dia menghampiri Ibunya yang tengah duduk di binir ranjang.
"Ya, Bu." Jawab Elsa.
Elsa terlihat sangat gugup, dia seperti anak Abege yang sedang labil.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Anira.
Bu Anira mengelus lembut puncak kepala putrinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya saja, Elsa.. Gugup." Elsa menunduk lesu.
Bu Anira langsung tersenyum, dia tahu, jika pernikahan adalah hal yang sakral. Kita tak boleh gegabah dengan pilihan kita, tapi, Bu Anira yakin, jika Gia memang lelaki yang tepat untuk Elsa.
"Yakinkan diri kamu, Gia, adalah Ayah dari kedua anak kamu. Dia sudah pasti sayang pada kedua putrinya, jangan ada pikiran buruk tentangnya." Kata Bu Anira menasehati putrinya.
Dia khawatir, Elsa akan sakit jika terlalu lelah berpikir.
"Iya, Bu. Elsa akan berusaha untuk mempercayai Mas Gia, Elsa akan berusaha menjadi istri yang baik untuk nya." Kata Elsa sambil memeluk Bu Anira.
"Ibu setuju, Sayang. Ibu, juga dapat melihat perubahan pada Gia. Dia, terlihat tulus menyayangi kalian." Bu Anira berusaha, memberitahukan hal positif yang ada pada Gia.
"Ibu benar, tatapan Mas Gia, juga lain. Penuh cinta, penyesalan dan juga tulus." Ucap Elsa.
"Ya, ibu tahu. Sekarang, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, jangan mondar-mandir tak jelas seperti tadi." Bu Anira berbicara setengah meledek pada putrinya.
Elsa pun paham, Elsa langsung mengangguk sambil tersenyum.
Setelah mengutarakan isi hatinya, Elsa, merasa jauh lebih tenang. Elsa, pun langsung bersiap untuk merapikan semua keperluan untuk konser yang akan dilaksanakan besok malam.
Sedangkan Aurora dan Aurelia, sedang berlatih. Walaupun Aurora sudah sangat hapal dengan semua not music yang harus dia mainkan, walaupun Aurelia sudah sangat hapal dengan lagu yang akan dia nyanyikan, tapi, dia mereka tetap berlatih untuk menyempurnakan penampilan mereka.
Bahkan, tanpa sepengetahuan Elsa, twins A menciptakan lagu yang indah khusus buat Elsa. Mereka, akan menyanyikan lagu itu saat penutupan malam konser besok.
Aurora dan Aurelia juga terlihat sedikit tegang, karena menurut mereka, konser di negeri sendiri lebih menantang dari pada di luar negeri.
Mereka takut akan nyinyiran negara +62, yang memiliki netizen maha benar dengan segala bahasa yang selalu julid nyelekit.