Tidak semua cinta berakhir dengan kalimat "saling memiliki". Aku menyukainya sudah sangat lama dan tidak ku sangka dia juga menyukai ku. Namun dia menyatakan perasaannya di saat takdir berkehendak lain. Aku telah bersama orang lain...
Ku pikir, semuanya akan baik-baik saja. Ternyata aku baru menyadarinya. Aku menaruh rasa yang terlalu dalam..
Season 1 sudah tamat.
Season 2 cooming soon, akan di up tgl 1 september 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nh Hasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~33~
"Tapi aku gak yakin dia beneran pergi, aku rasa dia masih ada di sini" ucap ku menghapus air mata ku dan berlari turun ke halaman rumah ku.
Aku berjalan mencari-cari dan berharap aku bertemu dia di sekitar halaman rumah ku, aku sangat berharap bisa melihatnya. Aku merasa dia ada di sini, dia masih di sini.
"Reza, kamu masih di sini kan? kenapa gak keluar" ucap ku dengan menangis lagi
"Aku tahu kamu ada di sekitar sini za" ucap ku lagi dengan kesal karena orang yang ku harapkan tidak menjawab dan keluar dari ku.
"Za kamu denger gak sih! kamu mau buat aku jadi gila kaya gini ya" aku semakin kesal
Aku memang tidak melihat siapa pun di sini, tapi ketika ku di kamar aku sempat melihat ada Reza di sini, jika aku berhalusinasi kenapa feeling ku juga mengatakan hal yang sama, Reza ada di sini.
Aku terus melihat ke kiri-kanan ku berharap aku bisa melihat dia yang ku cari tapi, aku tetap tidak menemukannya.
Mungkin memang dia tidak kembali datang ke sini, kali ini feeling aku salah ke dia..
Akhirnya aku pun menyerah dan berbalik badan untuk kembali ke rumah dengan menghapus air mata ku yang terus saja keluar meskipun sudah ku hapus berkali-kali pun tetap saja air mata ini mengalir terus.
Aku terus melangkah menuju kamar dengan menahan sakit di kaki.
"Sakit banget sih, kayanya harus di ganti beneran deh perbannya" ucap ku menghapus air mata dan mengambil kotak medis dan mengganti perban yang tadi hanya di balut dengan kainnya Reza.
"Maaf ya perbannya aku ganti, tadi kamu juga yang suruh" ucap ku tersenyum mengingat dia yang tadi mengobati luka ku dan menggendong ku sampai ke rumah.
Aku membaringkan tubuh ku ke kasur.
"Lelah, cape tapi gak bisa kalau harus pergi" ucap ku yang tanpa sadar aku menangis lagi
"Nangis lagi" tangan ku menghapus air mata ku sendiri
"Emang bener yang dia bilang, aku cengeng banget apalagi kalau itu tentang dia" aku menghembuskan nafas ku berharap bisa mengurangi rasa sakit di hati ini.
Jarum jam terus saja berputar, hari sudah semakin larut malam tetapi mata ku masih saja belum bisa terpejam. Pikiran ku terus saja memikirkannya. Aku tidak bisa tidur bahkan sampai matahari terbit pun aku masih memikirkan Reza.
Teng Tong (bel rumah berbunyi)
Siapa yang mengetuk pintunya sepagi ini.
Aku ingin sekali melangkah turun ke bawah membuka pintu, tapi rasanya tidak sanggup untuk bangun. Tubuh ku terasa lemah sekali. dan juga merasa sangat dingin.
"Intan" suara yang familiar memanggil ku, tetapi aku tidak begitu jelas melihatnya kepala ku terasa sangat pusing, aku merasa sangat kedinginan.
"Badan mu panas banget sayang, aku gak bawa mobil lagi bentar aku telfon orang rumah ya" ucapnya panik, aku sempat melihat Riki yang begitu terlihat takut.
"Kamu kalau gak enak badan kenapa gak ngehubungin aku sih? kamu sendirian di rumah" kesalnya yang kemudian menggendong ku turun ke bawah.
"Sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit" ucap Riki menggenggam lembut tangan ku dan memeluk ku dengan sangat hangat hingga membuat ku merasa sedikit lebih baik.
"Dok selamatkan dia dok" ucap Riki dengan panik saat aku di bawa ke dalam UGD. Aku tidak tahu apa yang di lakukan dokter pada ku, yang aku rasakan sekarang hanya perasaan dingin dan perasaan takut kehilangan Reza. Aku melihat mereka semua terlihat buram, hanya satu senyuman yang terlihat jelas, senyuman Reza.
Aku tak ingin tangan Riki melepaskan ku, aku terus saja menggenggamnya sampai akhirnya mata ku benar-benar tertutup dan aku tidak tahu apa yang yang terjadi selanjutnya.
*******
Seseorang memeluk ku dari belakang dan aku melihatnya..
"Rezaa" ucap ku tersenyum namun dia tidak mengatakan apapun saat ku melihat ke arah nya. Dia memeluk ku dengan sangat lembut, namun tak lama setelah itu dia melepaskan pelukanya dan berlalu pergi.
"Kamu mau kemana za?" tanya ku berusaha mengejar, rasanya aku sudah sangat kuat berlari tetapi tetap saja kenapa aku tidak bisa menggapainya.
********
"Rezaa" ucap ku saat pertama kali membuka mata ku, aku melihat di sekeliling ku, ternyata aku di rumah sakit.
"Tadi cuma mimpi" ucap ku lega dan melihat seseorang yang sedang tertidur di samping ku dan tangannya menggenggam erat tangan ku.
Terimakasih sudah menjaga ku, biarlah dia pergi setidaknya jika ada kamu di sini aku bisa sedikit kuat.
Riki pun terbangun, mungkin karena merasa tangan ku menyentuh rambutnya.
"Kamu sudah sadar?" ucapnya dengan senang dan langsung memeluk ku.
"Aku dah sadar daritadi, aku kok di sini sih" tanya ku yang masih di peluk olehnya.
"Aku panggil dokter bentar ya buat ngecek" ucapnya sambil menyalakan bel.
Tidak lama kemudian dokter pun datang. Setelah di periksa dokter langsung berbicara dengan Riki, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku masih merasakan tubuh ku masih sangat lemah. Aku hanya ingin berbaring terus.
Riki memeluk ku yang baru saja ingin berbaring lagi di kasur rumah sakit ini, ketika dokter sudah pergi dan hanya ada aku berdua dia di sini.
"Aku senang banget kamu akhirnya sadar" ucapnya "Jangan gerak dulu, biarin aku meluk kamu, kamu tau gak gimana khawatirnya aku pas kamu gak sadar-sadar" katanya lagi memeluk ku sangat erat.
"Memangnya aku udah berapa hari di sini?" tanya ku
"Dua hari" jawabnya
"Dua hari aku gak sadar-sadar?" tanya ku sedikit kaget, padahal aku merasa seperti tidur sebentar.
"Iya sayang, demam mu itu kemarin tinggi banget sampe 40 derajat lebih" ucapnya memegang dahi ku.
"Maafin aku ya" ucap ku merasa bersalah.
"Kamu tu gak seharusnya minta maaf, harusnya aku aku gakbisa jagain kamu" ucapnya kemudian melanjutkan "maafin aku ya" sambil mencium dahi ku.
Di perlakukan seperti itu oleh Riki, aku merasa sedikit malu jadinya.
baru nemu akuu
BODO AMAD SAD ENDING YG PENTING INTAN UDD GAK NGERASAIN SAKIT LAHIR BATIN MENTAL DLL.......CUKUP thorr udd BAnyak AiR mata w Nangisn NoveL lu nyesek Hati w Panas pass EPS INI .....YA ALLAH COBAAN BGT SIIII😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
gak ikhlas w anjirrr SAKIT batt intan puKuLan dihati MentaL skrng Ud punya Suami Pun Makin SaKit Lahir BaTin asli W ReLa InTan Mati .....😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭