Hai, ini kisah pertamaku yang berkolaborasi dengan salah satu temanku Amanda. Karya ini murni hasil khayalan kami berdua. Semoga kalian suka ya? Ini cerita Kerajaan di abad 21.
Aithan Regner Cainio, adalah pangeran ketiga yang sebenarnya bukan ahli waris kerajaan. Makanya ia memilih menjauh dari istana dan akhirnya jatuh cinta pada Argani Christabel, seorang Mahasiswi asal Indonesia yang derajat sosialnya sangat berbeda jauh dari Aithan.
Setelah susah payah Aithan mendapatkan cinta Argani, ia justru dipanggil pulang ke istana untuk menjadi raja. Dan sebagai raja, Aithan hanya bisa menikah dengan putri bangsawan. Aithan hanya bisa menjadikan Argani sebagai selirnya. Sementara Argani tidak ingin cintanya dibagi.
Bagaimana Aithan dapat mempertahankan kedudukannya sebagai raja dibalik semua kelicikan di istana yang ingin menjatuhkannya? Apakah ia rela melepaskan cinta sejatinya demi tahta yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua untuk Argani
Hati Aithan sedih ketika hanya bisa melihat hari kelulusan Argani dari video yang Darren kirimkan kepadanya.
Aithan merasa ikut bangga juga. Karena Argani menjadi lulusan terbaik, tercepat diangkatannya dan termuda usianya. Semua dosen dan para petinggi universitas memberikan Argani penghargaan. Bahkan dia langsung mendapatkan beasiswa untuk mengambil spesialisnya.
Sebenarnya, Aithan sudah bersiap untuk pergi ke London. Namun dia dia diharuskan untuk menghadiri ulang tahun salah satu propinsi yang harinya sama dengan hari kelulusan Argani.
"Pangeran, kegiatannya sudah selesai. Kita akan kembali ke istana?" tanya Vio, pengawal Argani yang kini menjadi pengawal Aithan karena Darren ada di London menemani Argani.
"Jam berapa ini, Vio?"
"Jam 3 sore ."
"Tolong siapkan pesawatnya. Aku akan ke London."
"Tapi besok siang, pangeran akan menghadiri pembukaan taman kota di propinsi Nellon."
"Kita akan kembali besok pagi ke kerajaan."
Vio mengangguk patuh. Ia tahu kemana pangeran akan pergi. Ia sudah melihat bagaimana besarnya cinta pangeran untuk Argani.
************
"Mengapa tak ikut dengan mereka ke perayaan kelulusan?" tanya Darren saat Argani memutuskan untuk pulang selesai makan malam bersama. Reza terlihat sedikit kecewa karena Argani menolak untuk ikut.
"Aku nggak suka pub atau diskotik. Lagi pula aku merasa agak capek. Dari pagi sudah mempersiapkan diri untuk acara wisuda dan sekarang sudah jam 7 malam."
Ponsel Darren berbunyi. Dia langsung tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.
"Ada, Darren?"
"Tidak, nona. Sebaiknya memang kita pulang ke apartemen."
Keduanya pun saling diam. Sampai akhirnya di persimpangan lampu merah, ada dua mobil yang dengan sengaja mengurung mobil yang ditempati Argani dan Darren dari sisi kanan dan kiri.
Darren yang sudah merasakan ada bahaya yang mengejar mereka sejak keluar dari restoran, berusaha tenang supaya Argani tak panik.
Kebetulan mobil di depan mereka tiba-tiba saja menerobos lampu merah. Kesempatan itu digunakan oleh Darren untuk menerobos lampu merah juga dan membuat ia hampir menabrak mobil dari arah yang berlawanan.
"Darren, ada apa? Kenapa kita menerobos lampu merah?"tanya Argani sambil memegang sabuk pengamannya dengan kencang.
"Ada mobil yang kurang ajar, nona."
"Mobil yang mana? Di mana?" Tanya Argani panik sambil kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan?"
"Nona tenang saja. Mobil ini anti peluru."
Argani memejamkan matanya, berdoa dalam hati. Saat ia melihat 2 mobil hitam dengan sengaja menabrak mobil yang mereka tumpangi.
Ponsel Darren kembali berbunyi. Pria itu mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak Argani mengerti.
Akhirnya, mobil mereka bisa lolos dan tiba di parkiran apartemen dengan selamat. Nampak Aithan yang sudah berdiri di lobby apartemen dengan beberapa pengawalnya. Ia langsung melingkarkan tangannya di bahu Argani dan membawa istrinya itu ke dalam gedung.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Aithan saat keduanya sudah berada dalam lift.
"Ya. Aku hanya sedikit panik saja. Mengapa dua mobil itu ingin mencelakakan kami, ya?"
Aithan tak menjawab. Ia hanya memeluk dan mencium puncak kepala istrinya.
Saat keduanya sudah berada dalam apartemen, Aithan langsung memberikan segelas air putih pada Argani.
Untunglah sebagai seorang calon dokter, Argani sudah dilatih untuk mampu menguasai dirinya dengan cepat.
"Jangan pikirkan kejadian tadi, ya? Aku datang ke sini karena ingin memberikan selamat padamu secara langsung. Aku sangat bangga padamu, sayang. Kau pasti akan menjadi dokter yang hebat." Kata Aithan. Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Argani sebenarnya masih penasaran. Namun ia juga tak ingin menganggu momen berdua mereka yang sangat berharga ini.
"Terima kasih, Ai. Kau sangat sibuk namun masih memberikan waktu untuk bersamaku."
Aithan membelai wajah istrinya. "Kau segalanya untukku, sayang. Aku tak bisa membiarkan hari ini berlalu tanpa datang menemuimu."
Keduanya pun berciuman dengan sangat mesra.
"Baju wisudamu, mana?" tanya Aithan saat ciuman panjang itu berakhir.
"Ada di tasku. Masih di mobil."
Aithan menelepon Darren dan memintanya untuk membawakan tas Argani.
Aithan kemudian meminta Argani untuk memakainya lagi dan keduanya mengambil gambar bersama. Darren yang menjadi juru fotonya.
Selesai acara foto bersama, Argani pun menemani Aithan makan malam karena pria itu mengeluh sangat lapar.
Ketika makan malam selesai, Argani segera ke kamar. Ia ingin mandi dengan berendam di bak mandi. Kakinya terasa agak kaku karena seharian memakai sepatu hak tinggi. Aithan nampak sedang bercerita dengan Darren dan Vio. Argani tahu itu tentang insiden tadi. Namun ia memilih tak banyak bertanya. Ia hanya ingin merilekskan seluruh otot-ototnya yang kaku.
Berendam di air hangat dengan sabun aroma terapi memang sangat menyenangkan. Argani hampir saja tertidur saat ia dikejutkan dengan sepasang tangan yang kekar, memijat punggungnya.
Argani membuka matanya. Ia mendongak dan menemukan Aithan ada dibelakangnya dan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.
"Sayang, ayo masuk, aku akan memijat mu juga."
Aithan tersenyum. Ia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya lalu segera masuk ke dalam bak mandi. Ia duduk membelakangi Argani dan memejamkan matanya saat tangan Argani mulai memijat punggungnya. Aithan juga merasa lelah hari ini. Namun kebersamaan mereka akan membuat rasa lelahnya hilang.
Ketika Aithan sudah merasa cukup dengan pijatan Argani, ia langsung membalikan badannya dan menatap istrinya dengan senyum menggoda. Argani tahu apa arti tatapan itu. Ia juga merasakan hal yang sama. Makanya ia tak menolak saat Aithan menciumnya dengan penuh gairah dan membawa keduanya pada puncak kepuasan raga bersama.
*********
Di istana, Permaisuri Viola langsung meradang saat tahu kalau Aithan tak pulang dan langsung ke London.
Terlihat ia sedang berbicara dengan seorang pria. "Gadis itu akan menjadi penghalang bagi anakku. Ia sudah menguasai hati Aithan dengan begitu kuat."
"Tenanglah. Kita akan mencari jalan untuk membunuhnya."
"Aku takut Aithan akan tahu kalau kita terlibat. Ia bahkan menempatkan Darren untuk menjaga Argani. Kamu kan tahu kalau Darren salah satu prajurit terbaik."
Pria itu membalikan badannya. Ternyata ia adalah pangeran Nikolas, paman Aithan.
"Panggil Darren kembali ke istana."
"Aithan tak akan mengijinkannya." Viola duduk dengan wajah sedih.
"Tenanglah. Aithan pasti akan menjadi raja." Nikolas ikut duduk di samping Viola.
"Aku sangat takut kalau Aithan menolak. Anak Anaya bisa menjadi raja. Anaya berasal dari kalangan bangsawan. Walaupun ia hanya selir, namun jika tak ada yang siap menggantikan raja maka anak itu akan diangkat menjadi anak sah atas nama aku dan raja."
"Anak itu pun tak akan bisa menggantikan kedudukan Aithan. Aku pastikan!"' Nikolas memegang kedua tangan Viola. Ia kemudian mencium tangan Viola dengan sangat lembut. Viola tersenyum. Lalu keduanya berciuman dengan sangat mesra.
********
Argani membantu Aithan memasang dasinya. Hari masih terlalu pagi. Keduanya bahkan enggan untuk saling melepaskan pelukan satu dengan yang lain namun karena Darren sudah mengetuk pintu kamar dan mengingatkan Aithan akan jadwalnya yang padat, sang pangeran pun harus melepaskan tangannya yang memeluk Argani sejak semalam.
"Aku kesal harus meninggalkanmu, sayang." ujar Aithan dengan wajah cemberut.
"Jangan seperti itu! Kau punya tanggungjawab yang besar untuk kerajaanmu." Argani sudah selesai memasang dasi.
Aithan memeluk istrinya itu. Pertemuan semalam belum dapat menghapus rasa rindunya pada Argani.
"Ai, kau harus taat pada semua yang Darren katakan ya? Aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpah mu. Aku akan gila jika kau terluka sedikit saja." kata Aithan.
"Baik, Ai."
Pelukan keduanya terlepas dan mereka kembali berciuman. Ciuman yang awalnya begitu lembut dan manis namun akhirnya berubah menjadi ciuman yang mulai panas.
Argani melepaskan diri dari ciuman itu sebelum Aithan akan mendorongnya kembali ke tempat tidur.
Wajah Aithan nampak tak rela saat Argani menjauh.
"Kau akan terlambat, sayang." ujar Argani membuat Aithan mendesah kesal.
Argani tersenyum. Ia langsung mengajak Aithan keluar kamar. Nampak Vio sudah menunggu dengan wajah khawatir mengingat tugas Aithan hari ini yang cukup banyak.
Saat Argani melihat mobil Aithan menjauh, ia pun melangkah meninggalkan jendela apartemen. Di pandanginya Darren yang sedang sarapan.
"Darren, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang menyerang kita semalam?"
Darren menarik napas panjang. "Mereka adalah orang-orang yang ingin memisahkan nona dengan pangeran."
"Siapa?"
"Pihak kerajaan atau juga pihak lain yang ingin agar pangeran cepat naik tahta."
Argani menunduk diam. Ia tahu hidupnya sekarang dalam ancaman.
"Nona, sarapan lah. Setelah itu aku akan mengajar nona menembak dan menggunakan pistol dan senjata lainnya."
"Untuk apa?"
"Melindungi diri nona sendiri."
"Apakah Aithan yang memintanya?"
"Ya"
***********
Ancaman apa.lagi yang akan Argani terima?
dukung emak dan Amanda terus ya guys