Kisah ini menceritakan sekumpulan lima bocah yang bersahabat dari kecil yang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Kelima bocah itu selalu bertingkah somplak dan menggemaskan. Dengan tingkah somplak itulah, mereka selalu saja di jitak oleh orang tua mereka. Jitakan itu terdengar bunyi "Pppplleettaakkk.." yang akhirnya mereka berkumpul dan menjadi sebuah geng yang bernama GENG PLETAK.
Kelima bocah itu tumbuh bersama walaupun usia mereka tak sama. Namun dengan perbedaan usia yang tak jauh itu, membuat mereka menjadi sahabat yang begitu akrab satu sama lainnya hingga mereka dewasa.
Suatu hari GENG PLETAK bosan dengan kiruk pikuk kehidupan yang ada di kota. Mereka pun memutuskan untuk pergi berlibur mencari suasana baru di sebuah pedesaan yang memiliki rumor bahwa ada sebuah Goa yang di dalamnya terdapat harta karun yang terkubur disana. Sontak saja membuat GENG PLETAK itu penasaran untuk mencarinya.
Akankah GENG PLETAK dapat menemukan harta karun tersebut dan menjadi kaya raya??????????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat, bang!!!
Giselle melangkah dengan cepat menghampiri Lilis dengan rasa geram yang begitu memuncak. Tangannya mengepal erat dan siap untuk menghantap Lilis kapan saja.
Bbuukk...
"Aduh!!!" pekik Lilis memukul wajahnya hingga memar dalam sekali pukulan.
Ari dan Jalu terperangah melihat keberanian Giselle yang memukul wajah Lilis, sedangkan Mak peyot sibuk mengejar-ngejar Kuntiwati yang sedang terbang kesana-kemari sambil cekikikan.
"Lo rasain tuh pukulan gue!" ujar Giselle tak tahan lagi melihat tingkah Lilis yang memiliki niat jahat kepada mereka.
"Dasar kurang ajar!!!" pekik Lilis lagi ingin membalas dan menyerang Giselle, namun dengan cepat Giselle menghindar sehingga membuat Lilis terperosok jatuh ke tanah yang sedikit lebih rendah dari permukaan.
Lilis semakin kesal lantaran tak bisa membalas Giselle. Lalu ia melirik Jalu yang terpaku sambil menatap keberanian Giselle.
"Jalu!!! Apa lagi yang lo tunggu??? Cepat tangkap gadis kota itu!!!" seru Lilis memerintahkan anak buahnya tersebut.
Dengan cepat Jalu melangkah mendekati Giselle, namun Ari tak kalah cepatnya untuk menghadang dirinya.
"Kalau lo berani lawan gue!" ucap Ari menatap tajam pada Jalu.
Di dalam gua itu Ari dan Jalu adu jotos satu lawan satu, sementara Giselle menyemangati Ari agar mampu memenangkan adu jotos tersebut.
"Semangat bang!!!" seru Giselle bersorak layaknya cheerleader atau pemandu sorak yang sedang menyemangati pemain basket lagi bertanding.
Merasa disemangati oleh gadis incarannya, Ari sempat menoleh pada Giselle dan tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya. Tak hanya itu saja, Ari juga memberikan kecupan di telapak tangannya lalu meniupnya untuk Giselle.
"Mmuuaacchh...ffiiuuhh..."
"Iihh, bang Ari genit banget!" ucap Giselle malu-malu.
"Ditangkap dong, sayang! Ciuman abang tulus buat kamu. Hehehe." ucap Ari masih sempat-sempatnya obral gombal kepada Giselle saat sedang adu jotos dengan Jalu.
"Haaappp!!! Sudah di tangkap bang. Giselle masukin ke hati deh! hehehe." sahut Giselle.
Jalu auto dongkol melihat Ari dan Giselle bermesraan dari jarak yang lumayan jauh. (Heh, emang lo kata social distancing).
"Woi, anak kota! Lo mau duel apa gak sih??? Sempet-sempetnya mesra-mesraan di depan gue!" teriak Jalu sewot pada Ari.
"Emang ngapa lo? Dongkol lo, hah?" sahut Ari.
"Iyalah! Asal lo tau gue udah jomblo sekian tahun lamanya dan sekarang sebenarnya gue lagi jatuh cinta sama gadis di desa ini, tapi gue gak berani ngungkapinnya. Sedih banget gue. Gue gak tahan dengan semua penderitaan ini. Hiks...hiks...hiks..." ucap Jalu nangis bombai.
"Lah ngapa lo jadi curhat?" ucap Giselle bingung sembari menatap Jalu.
Ari mendekat pada Jalu kemudian menepuk-nepuk pundaknya.
"Sabar, bang! Hidup memang begitu, pasti ada aja ujiannya." ucap Ari berupaya untuk menenangkan Jalu.
"Hiks...hiks...hiks..., ajarin gue dong gimana caranya ngungkapin perasaan gue sama gadis idaman gue." pinta Jalu.
"Bang sebenarnya nasib kita sama! Gue juga kagak ngerti hal begituan, makanya dari orok sampai sekarang gue belum pernah pacaran. Sekalinya jatuh cinta eeehh..malah sama bocah SMA! Tuh si Giselle, adeknya sahabat gue." sahut Ari.
"Lo juga jomblo dari orok?" tanya Jalu pada Ari.
"Lah iya, bang! Tapi entar habis pulang dari pertualangan yang entah sampai kapan habisnya nih cerita gara-gara Authornya lama banget updatenya gue punya niatan buat ngawinin tuh bocah bakal jadi binik gue." sahut Ari.
"Emang emak bapak lo udah ngerestuin lo ngawinin tuh bocah?" tanya Jalu sembari mengelap air matanya yang telah membasahi wajahnya yang rupawan ala-ala K-pop Idol.
"Pastinya dong! Lah si bocah anaknya sahabat bapak gue, udah pasti direstuin dong!" seru Ari.
"Asal abang tau aja nih ya, dari awal cerita LOVE IN MINE, ISABEL, MENIKAHI CEO SOMPLAK, WANITA CEO TAMPAN sampai yang sekarang nih GENG PLETAK, jodoh pemeran tokohnya itu ya muter-muter disitu doang, bang!" seru Ari lagi.
"Masa sih? Kagak pernah baca gue." sahut Jalu mendengarkan dengan seksama.
"Baca dong, biar Author yang bikin nih cerita tambah kaya! Sekalian kasih tips tuh buat Author biar dia bisa beli cemilan samyang, jadi sambil ngetik nih cerita dia ngunyah samyang buldak yang 2x lebih peddaaasss!!!" seru Ari.
"Oh, gitu ya? Oke...oke..." sahut Jalu sambil manggut-manggut.
"Oh iya, baca cerita emak bapak gue juga, judulnya MENIKAHI CEO SOMPLAK, dijamin sakit ginjal eeehh, maksudnya dijamin sakit perut alias ngakak. Hehehe." kata Ari.
"Bang Jalu, baca cerita emak bapak gue sekalian, judulnya WANITA CEO TAMPAN!" seru Giselle.
"Oke, mbak!" seru Jalu sembari mengcungkan kedua jari jempolnya.
"Eh, ngomong-ngomong kita kagak adu jotos lagi nih?" tanya Ari.
"Kagak sempat! Gue mau pulang." sahut Jalu.
"Lah, ngapain pulang?" tanya Ari.
"Kan mau baca cerita emak bapak kalian berdua di noveltoon!" sahut Jalu.
"Wah, kalau gitu hati-hati dijalan ya bang! Kalau jatuh bangun sendiri deh! hahahaha." ucap Ari tertawa sembari melambaikan tangannya pada Jalu yang melangkah pergi keluar dari gua tersebut.
"Jaalluuu!!!" teriak Lilis begitu emosi.
"Berani lo keluar dari goa ini, bakalan gue cincang burung lo hidup-hidup!!!" pekik Lilis lagi.
"Aawww..., si Jalu yang diancam ngapa gue yang ngilu sih!" gumam Ari seraya merapatkan kedua kakinya.
"Cepat lo rampas peta harta karun itu dari mereka!" seru Lilis pada Jalu.
Jalu lantas kembali menghampiri Ari dan hendak merampas peta harta karun yang disimpan Ari di dalam saku jaketnya. Jalu sibuk memeriksa tubuh Ari dan menarik-narik tas punggung yang dibawanya.
"Eh, bang kagak jadi pulang nih?" tanya Ari.
"Entar deh, gue kelarin dulu kerjaan gue." sahut Jalu.
Saat tangan Jalu masuk ke dalam jaket yang di kenakan Ari, Ari langsung kesal lantaran tak suka ada seorang pria yang menyentuh tubuhnya. Dengan tatapan membunuh Ari lantas memelintir tangan Jalu hingga patah.
"Aaarrgghhh, sakit!!!" pekik Jalu kesakitan.
"Lo pikir gue cowok gampangan, hah? Beraninya lo nyentuh tubuh gue!" gerutu Ari lalu menghempaskan tubuh Jalu begitu saja hingga jatuh ke tanah.
Jalu terus menjerit kesakitan sambil berguling-guling di tanah lantaran pergelangan tangannya patah akibat di pelintir Ari. Giselle menatap Ari seolah membuatnya terpesona.
"Wah, calon suamiku hebat banget!" seru Giselle menatap Ari.
Mengetahui bahwa Giselle sedang terpesona kepada Ari, membuat hal tersebut menjadi kesempata bagi dirinya untuk membekap Giselle dari belakang.
"Giselle, awas!!!" seru Ari melihat Lilis menyergap Giselle dari belakang.
Giselle pun masuk ke dalam dekapan Lilis yang tiba-tiba saja menyergapnya dari belakang.
"Hahaha, sekarang lo bakalan jadi tawanan gue!" ucap Lilis pada Giselle.
"Heh, yakin lo!" ucap Giselle sembari menyunggingkan senyuman licik di sudut bibirnya.
Giselle mengunci kaki Lilis dengan kakinya, lalu ia meraih kerah jaket yang dikenakan Lilis dan langsung mengangkat tubuh Lilis serta membantingnya ke tanah.
Bbrrruukkk...
"Aduh, pinggang gue!" pekik Lilis kesakitan ketika tubuhnya jatuh menghantam permukaan tanah.
"K.O!!!" seru Ari menyemangati Giselle.
Giselle tersenyum sambil berlari menghampiri Ari yang sudah membentangkan kedua lengan kekarnya yang siap mendekap erat tubuhnya.
"Bang..."
"Giselle..."
Ari dan Giselle saling mendekatkan wajah mereka untuk segera berciuman, namun saat sedikit lagi bibir Ari menyentuh bibir Giselle, tiba-tiba saja keduanya dikagetkan dengan pekikan Kuntiwati yang dongkol melihat keromantisan tersebut.
"Woi, bantuin gue!!!" pekik Kuntiwati yang sedari tadi diuber-uber sama Mak peyot.