WARNING!
Bukan Untuk Anak di bawah umur (21+)
Cinta segitiga dan patah hati yang membuat baper berat.
No Debat dan baca dengan bijak!
Hanya sekedar hiburan bagi yang ingin kisah cinta romantis.
Wilona tidak menyangka jika selepas kepergian sang ayah, ibunya menikah lagi dengan seorang duda kaya raya. Akibat pernikahan itu, Wilona harus bersaudara dengan Wildan, anak cowok menyebalkan yang menjadi saingannya di sekolah.
Wildan yang belum bisa menerima pernikahan papanya, memilih kuliah di luar negri. Setelah perpisahan bertahun-tahun, Wilona bertemu kembali dengan Wildan saat mereka dewasa. Namun sikap Wildan berubah drastis. Dengan pesonanya, ia berusaha mendekati dan menggoda Wilona. Namun benarkah Wildan jatuh cinta pada Wilona? Atau justru Elzen, sang CEO playboy, yang tulus mencintai Wilona?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Sudahi Perih Ini
"Wilona, aku bisa menjelaskan semuanya," kata Wildan memegang tangan Wilona. Wildan merasakan tangan Wilona begitu dingin, sedingin tatapan mata gadis itu kepadanya saat ini.
Wilona tidak merespon ucapan Wildan. Ia masih berdiri mematung bagai sebuah arca yang ada di hadapan pemahatnya. Wilona sendiri tidak tau perasaan macam apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya. Apakah itu marah, terkejut, benci ataukah kecewa.
Sandra maju ke depan dan menarik tangan Wildan agar melepaskan Wilona.
"Wildan, untuk apa kamu menjelaskan padanya? Menurut Tante justru bagus jika Wilona mengetahui kenyataan yang sebenarnya."
"Wilona, kamu sudah dengar semua pembicaraan Tante dan Wildan, kan? Wildan itu tidak pernah mencintaimu. Kamu sama sekali bukan tipe wanita idamannya. Selama ini Wildan hanya pura-pura saja menjadi pacarmu, supaya bisa membalas perbuatan mamamu. Mamamu yang bernama Kalea itu adalah pelakor, perusak rumah tangga orang lain! Gara-gara dia, mamanya Wildan hidup menderita selama pernikahannya. Mamamu telah berselingkuh dengan papanya Wildan. Perbuatan mamamu itu telah menyebabkan mamanya Wildan meninggal dunia."
"I...itu tidak...mungkin," bibir Wilona tampak bergetar menahan rasa sakit di hatinya.
"Tante, tolong jangan dilanjutkan. Wilona baru saja sembuh dari sakit. Jangan memberinya beban mental yang berlebihan seperti ini," cegah Wildan berusaha menghentikan Sandra.
"Tante belum selesai berbicara dengan Wilona."
Sandra semakin maju mendekati Wilona sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wilona, Tante sebenarnya kasihan sekali padamu. Tante harus menyebutmu apa ya? Gadis bodoh, gadis lugu atau malah gadis gampangan? Kamu mudah sekali dirayu dan dibodohi oleh pria. Karena sikapmu yang terkesan murahan itu, bahkan seorang supir pun berani mendekatimu."
Air mata Wilona yang sejak tadi tertahan di sudut matanya, mulai jatuh berderai. Perkataan Sandra bak cakar tajam yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai wanita hingga tak bersisa.
Tapi memang demikianlah kondisinya saat ini. Ia patut dikasihani karena telah terperdaya oleh cinta palsu yang ditawarkan Wildan. Bisa dibilang kebodohannya itu sudah mencapai tingkatan tertinggi.
Selama ini, ia membiarkan dirinya terbuai oleh kata-kata manis dan sentuhan yang diberikan Wildan. Berharap suatu hari nanti ia akan menjadi istri dari seorang Wildan Sanjaya. Bahkan ia rela menyembunyikan hubungan ini dari kedua orangtuanya, demi meraih cinta Wildan. Padahal di belakangnya, Wildan mungkin telah menertawakannya habis-habisan. Menganggapnya sebagai wanita paling menyedihkan di dunia, yang hanya pantas dijadikan sasaran balas dendam.
"Tante benar. Saya memang bodoh dan tidak bisa membedakan mana cinta dan mana tipuan," jawab Wilona terisak.
"Cukup, Tante! Kata-kata Tante sudah keterlaluan pada Wilona. Ayo kita pergi dari sini, Wilo," kata Wildan menarik tangan Wilona.
Wilona mengibaskan tangan Wildan, namun mendadak kedua kakinya terasa lemas. Dunianya terasa runtuh begitu juga dengan tubuhnya. Wilona hampir saja terjatuh jika Wildan tidak segera menangkap tubuhnya.
"Aduh, lagi-lagi kamu mau pingsan tiap menghadapi masalah? Apa cuma itu yang bisa kamu lakukan untuk menarik simpati orang, Wilona?"
"Lebih baik Tante kembali ke kamar sekarang dan jangan ganggu Wilona," tegas Wildan.
"Wildan, kamu berani membentak Tante demi membela gadis ini!" seru Sandra penuh kemarahan.
Wildan tidak menghiraukan ucapan Sandra. Ia mengangkat tubuh Wilona yang lemas dan menggendongnya menuruni tangga lantai dua.
"Turunkan aku, Wil. Kamu tidak perlu bersandiwara lagi seolah-olah kamu peduli padaku."
"Kamu harus istirahat sekarang. Besok kita akan bicara setelah kamu tenang," jawab Wildan menurunkan Wilona di atas tempat tidur.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita," kata Wilona menatap mata Wildan dengan sendu.
"Sayang, aku minta maaf karena perbuatanku telah menyakitimu. Aku bersalah padamu."
"Tolong jangan memanggilku dengan sebutan 'Sayang' lagi. Aku muak mendengarnya, Wil. Apa kamu tetap akan melanjutkan kepura-puraan ini setelah aku mengetahui yang sebenarnya? Aku memang bodoh, tapi aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya."
"Wilo, aku mohon berikan kesempatan padaku untuk memberikan penjelasan. Awalnya aku memang ingin mempermainkanmu, tapi seiring dengan kebersamaan kita aku baru sadar...kalau aku benar-benar mencintaimu." Suara Wildan terdengar berat karena diliputi rasa penyesalan.
Wilona tertawa pahit mendengar penjelasan Wildan.
"Cinta? Apa kamu paham apa arti cinta, Wil? Cinta itu adalah perasaan yang tulus dan suci. Tapi kamu sudah memanfaatkan cinta untuk membalas dendam padaku. Kamu mengawali hubungan kita di atas dasar penipuan dan kebohongan. Hubungan yang hanya berisi kepalsuan tidak akan bertahan lama. Jadi jangan pernah mengaku cinta di hadapanku, karena itu cuma membuatku bertambah benci padamu."
"Aku terpaksa melakukan ini, Wilo. Saat aku kembali dari Australia, aku menemukan buku harian mamaku. Dan disitu mamaku mencurahkan isi hatinya. Dia menjalani pernikahan yang tidak bahagia bersama papa karena kehadiran mamamu."
"Aku tidak tau apa ucapanmu itu jujur atau bohong. Aku juga tidak tau apa benar mamaku yang menjadi penyebab penderitaan mamamu. Yang jelas hubungan kita sudah berakhir, Wil. Aku sadar, kamu tidak pernah menganggapku berharga atau layak untuk dicintai. Cintaku cuma bertepuk sebelah tangan. Bagimu aku ini cuma boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hati. Lalu setelah kamu bosan, kamu akan membuangku."
Wildan merengkuh Wilona ke dalam pelukannya, seolah tidak ingin membiarkan gadis itu pergi darinya.
"Wilo, jangan berkata seperti itu. Aku memang melakukan kesalahan yang besar. Tapi aku tidak pernah menganggapmu tidak berharga. Kamu adalah wanita yang aku cintai. Aku suka padamu sejak remaja, hanya aku berusaha menepisnya."
"Sekarang aku sudah tidak peduli dengan masalah dendam masa lalu. Yang aku mau, kita berdua selalu bersama selamanya."
Wilona membeku di dalam pelukan Wildan. Jika dulu pengakuan cinta ini didengarnya dari bibir Wildan, mungkin ia akan berbahagia hingga melayang ke langit tujuh. Namun entah mengapa sekarang ia tidak dapat merasakan apapun. Mungkinkah hatinya telah mati rasa akibat luka dalam yang ditorehkan Wildan. Atau karena ia sudah kehilangan kepercayaan terhadap makna cinta yang diucapkan laki-laki itu.
Tak terasa butiran air mata membasahi pipi Wilona. Dengan tenaganya yang masih tersisa, Wilona mendorong tubuh Wildan agar menjauh darinya.
"Wil, kalau kamu masih punya sedikit rasa kasihan, tolong jangan dekati aku lagi. Sampai kapan pun kamu dan aku tidak akan bisa bersatu. Ada ikatan dendam di antara orangtua kita yang akan selalu menjadi beban bagi hubungan kita. Kamu dan aku tidak akan mampu melepaskan diri dari bayangan dendam itu. Lepaskan aku, dan anggap saja aku tidak pernah ada dalam hidupmu."
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkan cinta kita lagi, Wilo? Apa kamu lupa impian kita untuk membangun keluarga kecil bersama?"
"Aku tidak tau bagaimana perasaanku saat ini padamu, Wil. Aku cuma ingin kamu menjauh dariku. Jika memungkinkan, kita tidak perlu bertemu lagi. Lebih baik kita menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal, daripada kita saling menyakiti."
Wildan merasakan sayatan perih di dalam hatinya setelah mendengar permintaan Wilona. Rasa perih ini sama seperti kesedihan yang terpancar dari mata Wilona.
"Sebesar itukah rasa bencimu padaku?"
Pertanyaan Wildan membuat Wilona terdiam. Meski ia tau Wildan telah menipunya mentah-mentah, namun tetap saja rasa cintanya pada pria itu belum hilang. Tapi Wilona sudah membulatkan tekadnya untuk tidak menunjukkan kerapuhannya di hadapan Wildan.
Sambil menarik nafas beberapa kali, Wildan menatap langsung ke dalam mata Wilona.
"Kalau memang itu yang kamu inginkan, aku akan menjauh darimu. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku bukan pria yang egois. Kamu tidak perlu khawatir, mulai besok aku tidak akan tinggal di rumah ini lagi. Aku akan bersabar menunggumu sampai kamu bersedia memaafkan aku."
Wildan membalikkan punggungnya dan melangkah keluar dari kamar Wilona. Melihat kepergian Wildan, menimbulkan pertentangan dalam diri Wilona. Setengah dirinya menginginkan Wildan tetap berada di sisinya, namun setengahnya lagi memaksanya untuk berjuang melupakan pria yang telah menyakitinya itu.
sukses
semangat
mksh