(Taka season 1)
Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.
Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.
Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.
Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelulusan
Ujian akhir sudah selesai, suara riuh siswa siswi yang merayakan dengan berkumpul bersama dan tertawa, menghabiskan waktu sebelum semuanya benar-benar berakhir. Mereka tak akan bisa mengulang aktivitas setiap hari diruang kelas tercinta.
Semua akan tinggal kenangan.
Selesai mengerjakan soal ujian terakhir, seolah para murid bisa bernafas lega, tidak lagi dihantui dengan soal-soal rumit dan teks yang panjang seperti cerita novel.
Tahap lanjutan masih ada lagi yang mendebarkan, yaitu menunggu hasil akhir. Hasil yang menyatakan kelulusan dan lanjut kejenjang pendidikan lebih tinggi.
Satu geng berjumlah 6orang berjalan menuju belakang gedung sekolah. Disana ada rumah pohon tempat singgahan mereka.
"Satu minggu lagi pengumuman kelulusan. Bismilah, semoga kita semua lulus ya..." kata Taka. Mereka sudah mengambil posisi masing-masing, duduk berurutan.
"Amin... harus Bos, semua pasti lulus. Kita 'kan nggak begitu kesulitan karna Bu Hany kasih kisu-kisu." kata Mujiren.
"Elah Mukidi, kisi-kisi bukan kisu-kisu." sahut Dudung. Keduanya cengengesan.
"Nanti kita siapin berkas-berkas buat daftar ke perguruan tinggi. Daftarnya bareng ya," kata Ali Baba.
"Iya," jawab mereka bersamaan.
"Jangan lupa, besok jadwal berkunjung ke jalan Kremang. Seperti biasa, kita sum-suman buat mereka." Taka memperingati.
"Siap Bos..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini pengumuman hasil akhir, setelah jantung para siswa dibuat berdebar tak karuan karna mengikuti ujian. Kini kedua kalinya jantung mereka dibuat berdebar saat menantikan hasil surat pengumuman.
Di genggaman tangan masing-masing siswa siswi sudah ada selembar kertas yang terbungkus amplop putih. Tangan yang berkeringat dingin dan sedikit bergetar, takut untuk membukanya.
"Bismillahirrahmanirrahim, semuanya ayo kita buka bersama." suara Taka terdengar memberi aba-aba pada teman satu kelas membuka kertas bersama.
Akhirnya mereka semua memberanikan diri untuk membuka.
"Uye... lulus!!!!" Dudung berteriak sangat kencang. Mengalahkan speaker masjid. Dia murid pertama yang membuka hasil pengumuman.
Satu kelas menutup daun telinga, pendengaran mereka terasa berdengung mendengar teriakan Dudung. Mungkin sampai diujung lorong sekolah atau diujung tukang satpam bisa mendengar suaranya yang cempreng seperti kaleng kongkongan.
"Astarman Dung. Itu mulut apa lubang gua Semeru, bisa mangap lebar gitu? Kira-kira juga kalau mau teriak, kuping kita bisa budek berjamaah!" sungut Taka. Ia sendiri belum berhasil membuka lembaran surat pengumuman.
Teman yang lain juga berbisik-bisik kesal pada Dudung. Sedangkan yang menjadi tersangka hanya menyengir kuda.
"Alhamdulillah, lulus." beberapa siswa yang lain menyusul berteriak.
"Kakak, aku lulus...." Nata berteriak kegirangan. Ia langsung memeluk saudara kembarnya.
Senyum lebar langsung menghiasi wajah si kembar. Keduanya seperti anak kecil yang berlonjak-lonjak bahagia.
"Ayah, Bunda pasti senang." ucap Taka.
"Iya Kak, mereka pasti bangga sama kita." sahut Nata.
Pagi menjelang siang itu benar-benar terdengar suara riuh dari siswa-siswi yang lulus. Itu suara riuh mereka yang terakhir.
Selesai urusan disekolah bersama teman-temannya, Taka dan Nata kembali pulang kerumah. Masih dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.
"Assalamu'alaikum,"
"Wala'ikum salam."
"Bunda, kami lulus..." Nata dan Taka menuju Bunda Sensa dan memeluknya.
Badan bunda Sensa hampir terhuyung karna dorongan mereka berdua yang terlalu keras.
"Astagfirullahaladzim, Bunda sampai kaget." Bunda Sensa terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari keduanya.
"Bun, kita berdua lulus." Nata mengulang perkataannya tadi.
"Alhamdulillah, anak-anak Bunda hebat ya," Jawab Bunda Sensa dengan senyuman. Kedua tangannya terulur mendekap keduanya yang ada dipelukan.
"Ada apa ini, kok pakai acara peluk-pelukan segala? Ayah mau dong, ikut dipeluk." kata Ayah Arsel. Mereka bertiga langsung beralih melihat titik suara.
Sang pemimpin keluarga sudah berdiri dibelakang mereka bersama Saka.
"Ayah, Aku dan Kak Taka lulus." Nata antusias memberitahu anggota keluarga atas keberhasilannya yang telah lulus.
Si bungsu yang manja.
"Alhamdulillah, kalau kalian lulus." Ayah Arsel melakukan hal yang sama, yaitu menyambut putra putrinya dengan pelukan hangat. Adegan itu berlanjut pada Saka.
"Kalian dapet peringkat nggak?" tanya Saka.
"Hehe... kayaknya enggak Kak. Nilai kami pas-pasan." jawab Nata dengan menyengir kuda dan memperlihatkan deretan gigi.
"Ini aja udah untung-untungan bisa lulus Kak. Jadi bisa lanjut kuliah, meski dengan nilai yang standar." sahut Taka.
Saka menanggapi dengan senyuman, satu tangan menepuk bahu Taka dengan pelan. "Iya, siapa tau kalau nilainya tinggi, kalian bisa dapet beasiswa."
"Ah, tanpa biaya siswa kita bisa kuliah. Jangan remehin keberadaan Ayah, nanti kalau kita dapet beasiswa, uang Ayah malah nggak habis-habis." jawab Taka.
"Elah, ini bocah memang kalau suruh ngabisin uangku cepet banget. Punya anak kayak kamu digenepin 10 aja, pasti predikat kekayaan Ayah turun menjadi nomor 10." kesal Ayah Arsel.
"Ya Ayah cetaknya cuma kembar 2, kenapa nggak sekalian kembar 10 'kan bisa main orkes bareng."
"Punya kalian aja pusing, apalagi punya 10 sekalian aja bangun panti sosial biar ada yang ikut nanggung ngurus."
"Nah, Ayah juga jadi orang tua nggak bener. Mana ada orang tau mau lepas tangan dalam tanggung jawab?"
"Eleh... kumat-kumat. Lama-lama kalian berdua tak titipin dipanti sosial. Kalian ini ya bener-bener, udah nggak ada julukan. Keduanya sama aja!"
"Sabar Bun, sabar... kalau sabar pasti badan Bunda tambah melebar." kata Nata.
"Kamu juga mau ikut-ikutan mereka?" Bunda Sensa menatap Nata.
"Sudah-sudah... Untuk merayakan kelulusan mereka, bagaimana kalau nanti malam makan diluar?" Saka memberi usul.
"Aha... ide Kakak, the best." Taka memuji.
Ayah Arsel mengangguk setuju.
Keduanya segera berlalu kedalam kamar untuk berganti pakaian.
Sampai didalam kamar, tak lantas Taka membersihkan diri. Ia duduk dipinggiran ranjang. Tubuhnya sering terasa lelah, seperti orang yang melakukan olahraga berat.
Jika tubuhnya merasakan itu, darah segar keluar dari salah satu lubang hidungnya. Tangan sebelah segera mengambil tissu dan menghapus cairan darah.
"Apa terjadi sesuatu padaku? apa aku terkena penyakit berbahaya?" kedua bola mata itu terus menatap tissu yang sudah berubah menjadi merah. Akhir-akhir ini ia sering seperti itu.
"Aku harus periksa ke dokter," ucapnya lagi.
"Kakak," suara cempreng Nata memanggil. Dengan cepat ia menyembunyikan tisu noda darah itu dibawah bantal. Wajahnya menoleh sebentar kearah cermin untuk memastikan penampilannya.
"Kak, aku bawa baju 2. Menurut Kakak, untuk acara nanti malam aku cocok pakai baju yang mana?"
"Ya ampun Nata, kamu tuh apa nggak ada kerjaan sampai urusan baju minta pendapat ku?" Taka sedikit kesal, adiknya selalu menggangu diwaktu ia ingin sendiri. Dan parahnya, itu bukanlah hal penting.
"Hih, aku 'kan hanya minta saran dari Kakak, gitu aja kesal. Bunda lagi sibuk ngurus Ayah yang encoknya kambuh, makanya aku kesini." jawab Nata cuek.
"Minta pendapat Kak Seika aja,"
"Kak Seika sibuk ngurus baby Saf-Saf yang lagi dikamar mandi,"
Taka menghirup udara dan membuangnya kasar. Ia benar-benar harus sabar dengan sikap Nata.
Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄