NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Ren yang sedari tadi mendengarkan penjelasan puitis ala Bumi langsung mendesis gusar. Rasa keponya yang sudah berada di puncak gunung membuat cowok berambut agak acak-acakan itu tidak bisa terima begitu saja.

"Ah, elah! Pemilihan kata lo kebagusan, Bum!" potong Ren gemas, memajukan badannya ke arah Bumi sampai wajah mereka hampir berhadapan. "Gue sama Jasver tuh udah kayak mau pecah kepalanya gara-gara penasaran! Lo pasti tau sesuatu kan? Cerita dikit napa, jangan main tebak-tebakan puitis gini!"

"Ren, jangan dipaksa kalau Bumi ngga mau–" potong Jasver berusaha menahan, walau dalam hati ia sendiri sangat menantikan kelanjutannya.

"Diem dulu lo, Ver!" sergah Ren cepat, lalu kembali menatap Bumi dengan mata membulat penuh desakan. "Bum, pliss... dikit aja! Demi kedamaian jiwa Trio Curut nih! Kita janji ngga bakal ngomong ke siapa-siapa, apalagi ke Aery atau Farah. Janji suci!"

Ren bahkan sampai mengangkat dua jarinya membentuk simbol peace dengan raut muka memohon yang dibuat-buat, membuat suasana tegang di ruang tengah itu sedikit mencair.

Bumi menghela napas panjang. Ia melirik ke arah tangga lantai dua, memastikan keponakan bayinya masih tertidur pulas dan tidak ada orang rumah yang mendengar obrolan mereka.

"Beneran janji ngga bakal bahas ini ke mereka berdua?" tegas Bumi pelan, menatap Ren dan Jasver bergantian.

"Janji! Sumpah mati!" sahut Ren cepat. Jasver pun ikut mengangguk pelan, mempertegas keseriusannya.

Bumi menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya menerawang menatap cangkir teh di atas meja.

"Setau gue... Aery pas SMP itu pernah pacaran," mulai Bumi dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Jleb.

Dada Jasver mendadak terasa berdesir aneh mendengar kata 'pacaran'.

"Tapi," lanjut Bumi cepat sebelum Ren sempat memotong, "Pacarannya itu bukan murni atas keinginan Aery sendiri. Dia kayak dimanipulasi sama mantan pacarnya dan terjebak di situasi pertemanan yang toxic banget waktu itu. Anak cowok itu manfaatin kepintaran Aery, tapi di belakang... dia malah bikin rumor jelek tentang Aery pas mereka putus."

"Asemm... bangsat tuh cowok," umpat Ren spontan, mengepalkan tangannya di udara. "Terus, terus?"

"Nah, gara-gara rumor palsu yang dibikin mantannya itu, Aery langsung dijauhin dan dihujat sama satu angkatan SMP-nya," kata Bumi pelan, matanya menyiratkan rasa simpati yang mendalam. "Itu alasan kenapa Aery trauma berat dan jadi tertutup banget soal masa SMP-nya."

Jasver terdiam seribu bahasa. Informasi itu menghantam benaknya dengan cukup keras. Ia membayangkan bagaimana Aery yang anggun dan berprestasi seperti sekarang, pernah berada di titik serendah itu karena dimanipulasi oleh seseorang.

"Terus hubungannya sama Farah apa, Bum?" tanyai Jasver penasaran. "Kenapa tadi sore Farah sampai panik dan rasa bersalahnya kelihatan gede banget pas gue tanyain?"

Bumi menggelengkan kepalanya pelan, raut wajahnya kembali bingung.

"Nah, kalau soal itu... gue beneran ngga tau, Ver," jawab Bumi jujur. "Gue tau cerita masa SMP Aery juga dari senior ekskul Musik yang satu SMP sama dia. Tapi peran Farah di sana... gue ngga pernah denger sama sekali."

Ruang tengah rumah Bumi seketika kembali diselimuti hening.

Ren bersandar lesu ke sofa, mengusap dagunya sok berpikir. "Aneh banget ya. Kalo Farah satu SMP sama Aery... apa jangan-jangan Farah dulu temennya si cowok bangsat itu? Atau... Farah ikut-ikutan ngejauhin Aery waktu itu?"

Jasver tidak menjawab. Ucapan Ren melayang di pikirannya, tapi Jasver menggeleng pelan di dalam hati. Farah yang ia kenal, cewek galak tapi sangat peduli pada teman-temannya. Rasanya tidak mungkin setega itu. Tapi rasa panik dan getaran di suara Farah tadi sore jelas membuktikan satu hal: ada bagian dari rahasia kelam Aery dimana Farah berdiri tepat di dalamnya.

"Yaudah," bisik Jasver pelan, memutus keheningan. "Sesuai janji kita tadi... jangan ada yang singgung masalah ini lagi. Biar Aery sama Farah yang nyelesaiin urusan masa lalu mereka sendiri."

Ren dan Bumi mengangguk setuju. Malam itu, di bawah cahaya lampu remang ruang tengah Bumi, Trio Curut menyadari bahwa di balik keceriaan yang mereka bagikan sehari-hari, ada luka-luka tak terlihat yang sedang diperjuangkan oleh orang-orang terdekat mereka.

♧♧♧

Senin pagi di SMA Astra Nova masih diselimuti udara sejuk setelah hujan yang mengguyur semalam. Lorong-lorong lantai satu yang menghubungkan area kelas dengan gedung seni pun masih relatif sepi, jauh dari hiruk-pikuk para siswa yang biasanya memenuhi sekolah menjelang jam pelajaran.

Aery berjalan pelan menyusuri lorong tersebut. Matanya masih terasa berat akibat begadang semalam untuk merapikan catatan pelajaran. Karena itu, pagi ini ia berniat membeli canned coffee dari vending machine. Mesin minuman otomatis bergaya Jepang yang baru saja dipasang pihak sekolah di dekat belokan tangga menuju lantai bawah.

Sesampainya di depan mesin berwarna merah mencolok itu, Aery berhenti.

Ia membuka dompet kecilnya, mengeluarkan beberapa keping koin, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam lubang mesin.

Ting... ting... ting

Bunyi koin yang jatuh terdengar pelan di tengah lorong yang masih sunyi. Aery kemudian menekan tombol bergambar kopi.

Sebuah kaleng minuman dingin jatuh ke tempat pengambilan di bagian bawah mesin. Aery tersenyum tipis. Ia membungkuk, meraih kaleng yang permukaannya dipenuhi embun, lalu berbalik tanpa terlalu memperhatikan langkahnya.

Brukk!

Tubuhnya menabrak dada bidang seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik dinding pembatas di samping mesin.

"Eh–maaf!"

Aery terkejut. Tubuhnya sempat kehilangan keseimbangan hingga kaleng kopi di tangannya hampir terlepas.

Namun, sebelum ia benar-benar terjatuh, sepasang tangan dengan sigap menahan kedua bahunya. Pegangannya pas, cukup kuat untuk menahan tubuh Aery.

"Hati-hati, Ry."

Suara tenang dan familiar itu terdengar tepat di atas kepalanya. Aery mendongak. Bumi berdiri di hadapannya, menatap dengan raut khawatir yang hangat. Seragamnya tampak rapi, sementara tas gitar tersampir di bahu kirinya. Aroma segar khas sabun yang bercampur dengan wangi kain mantel tebal yang dibawanya samar-samar memenuhi udara di antara mereka.

Aery buru-buru mundur satu langkah. Tangannya refleks membenahi ikatan rambutnya yang sedikit berantakan. Pipinya memerah tipis, entah karena kaget atau karena menyadari betapa dekat jarak mereka barusan.

"Bumi? Kamu ngapain disini pagi-pagi?" tanyanya, berusaha menyembunyikan debar jantung yang tiba-tiba terasa lebih cepat. "Kaget aku. Kirain siapa tadi."

Bumi terkekeh pelan. Tawa kecil yang jarang terdengar itu selalu memiliki sesuatu yang menenangkan. Ia perlahan melepaskan kedua tangannya dari bahu Aery.

"Mau ambil kunci studio seni di ruang piket," jawabnya.

Pandangan Bumi kemudian turun ke kaleng kopi dingin yang masih berada di tangan Aery. "Pagi-pagi udah minum kopi dingin?" tegurnya lembut. "Nanti perut kamu sakit loh."

Aery mengangkat kaleng itu sedikit. "Lagi ngantuk banget, Bum." Ia tersenyum kecil. "Tadi malam latihan soal sampai agak pusing."

Bumi hanya menggeleng pelan. Ada sedikit ekspresi gemas yang terselip di wajahnya. Tanpa banyak bicara, ia memasukkan tangan ke dalam saku seragam, mengeluarkan beberapa keping koin, lalu memasukkannya ke dalam vending machine.

Beberapa detik kemudian, Bumi menekan tombol minuman cokelat hangat. Satu kaleng cokelat hangat jatuh ke tempat pengambilan. Bumi membungkuk mengambilnya.

Lalu, dengan gerakan yang begitu alami, ia menukarkan kaleng cokelat hangat di tangannya dengan kaleng kopi dingin milik Aery. "Nih. Tukar."

Aery menatap kaleng cokelat hangat yang kini berada di tangannya.

"Cokelat hangat lebih aman buat perut kamu pagi-pagi," lanjut Bumi. Ia mengangkat kaleng kopi dingin milik Aery sedikit. "Kopi dinginnya biar aku yang minum."

Aery terdiam sejenak. Hangat dari kaleng cokelat perlahan merambat ke jemarinya yang masih dingin.

"Bum, tapi kan–"

"Engga ada tapi-tapi."

Bumi memotongnya dengan lembut. Senyum khasnya kembali muncul. Senyum sederhana yang selalu berhasil membuat suasana di sekitar mereka terasa sedikit lebih tenang.

"Anggap saja ini sanksi karena kamu nabrak aku tadi."

Aery akhirnya terkekeh kecil. "Ya ampun, sanksinya malah enak."

Bumi ikut tersenyum. "Makanya jangan protes."

Aery menunduk, memandangi kaleng cokelat hangat di tangannya sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Makasih ya, Bum..."

"Hmm."

Bumi berdiri di sampingnya, bersandar ringan pada dinding dekat vending machine sambil memegang kaleng kopi milik Aery.

Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan berarti. Hanya suara langkah beberapa siswa yang mulai terdengar dari kejauhan, hembusan udara pagi yang masih menyisakan aroma hujan, dan bunyi samar mesin otomatis yang kembali bekerja.

Di bawah cahaya lampu koridor yang hangat, mereka berdiri berdampingan sambil mengobrol pelan sebelum bel masuk berbunyi.

♧♧♧

Bel masuk berbunyi nyaring dari pengeras suara sekolah. Koridor yang tadinya ramai mendadak lenggang saat anak-anak berlarian masuk ke kelas masing-masing.

Suasana di dalam kelas X-A terasa bising, khas jam pertama yang kebetulan kosong karena guru Biologi mereka, Pak Bambang, sedang menghadiri rapat mendadak.

Di bagian depan, rombongan Clara sibuk bergosip sambil sesekali tertawa. Di pojok lain, beberapa anak laki-laki asyik bermain game di ponsel sampai suara teriakan mereka terdengar ke seluruh kelas. Sementara itu, sekelompok siswi lainnya bergerombol di depan kaca kecil, sibuk merapikan rambut dan penampilan masing-masing.

Di tengah riuhnya kelas X-A, Aery justru duduk tenang di bangkunya yang berada di sudut paling belakang, tepat di samping jendela.

Aery memang selalu terlihat seperti seseorang yang memiliki dunianya sendiri. Ia sengaja memilih tempat duduk paling belakang bukan karena malas mengikuti pelajaran, melainkan karena menyukai ketenangan. Dari sana, ia bisa mengamati keadaan kelas tanpa harus menjadi bagian dari keramaian di dalamnya.

Mejanya pun selalu tertata rapi. Tidak ada bungkus jajanan yang berserakan atau barang-barang yang menumpuk tanpa aturan. Hanya ada buku catatan ber-cover cokelat, kotak pensil sederhana, dan kaleng cokelat hangat pemberian Bumi pagi tadi yang masih menyisakan kehangatan diantara jemarinya.

Aery menopang dagunya dengan tangan kiri. Tatapannya tertuju pada rintik gerimis yang perlahan membasahi kaca jendela. Sesekali tetesan air meluncur turun, meninggalkan jejak samar di permukaan kaca.

Ia memasang salah satu earphone-nya ke telinganya. Alunan instrumental bernuansa melankolis terdengar pelan, cukup untuk meredam suara riuh dari dalam kelas tanpa benar-benar menghilangkan kesadarannya terhadap keadaan sekitar.

"Aery! Lo ngga mau ikut ngumpul di depan?" panggil Clara dari meja barisan tengah, melambaikan tangan heboh. "Kita lagi bahas acara class meeting minggu depan nih!"

Aery melepas satu sisi earphone-nya, lalu menyunggingkan senyum tipisnya yang sopan. Senyum formal yang selalu menjadi tameng andalannya. "Kalian bahas dulu aja, Ra," sahut Aery halus, suaranya terdengar lembut tapi punya batas yang sangat jelas. "Nanti gue ikut keputusan kalian aja."

"Yaudah deh! Nanti gue kasih tau hasilnya ya!" balas Clara sebelum kembali berisik bersama rombongannya.

Aery kembali memasang earphone-nya. Dari sudut belakang itu, Aery bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Ia memperlihatkan bagaimana orang-orang berinteraksi, tapi ia memilih untuk tidak benar-benar masuk ke dalamnya. Bukan karena ia sombong, tapi batas aman itu adalah hal yang mati-matian ia bangun sejak SMP. Ia merasa jauh lebih aman menjadi seorang pengamat daripada harus kembali terlibat dalam riuhnya hubungan antarmanusia yang berisiko melukainya lagi.

Tiba-tiba, pintu kelas X-A terbuka agak kasar.

"Permisi! Paket dari luar kelas!"

Suara nyaring Ren menggema di ambang pintu, membuat seisi kelas X-A menoleh. Di samping Ren, Jasver berdiri sambil membawa dua lembar kertas tugas Biologi yang ketinggalan. Jasver memakai jaket varsity-nya yang agak kebesaran, rambutnya sedikit berantakan kena angin luar.

"Nih tugas Biologi kelas kalian, disuruh Pak Bambang dikumpulin sebelum istirahat kedua," kata Jasver menyerahkan kertas itu ke ketua kelas.

Mata Jasver refleks mengedar mengelilingi ruang kelas X-A. Dan secara alami, pandangannya langsung tertahan di sudut paling belakang, pada sosok Aery yang duduk menyendiri di dekat jendela. Gadis itu terlihat begitu tenang di tengah riuhnya kelas.

Jasver tertegun sejenak. Ada rasa melankolis yang aneh saat melihat Aery duduk terpisah seperti itu. Aery terlihat begitu cantik, anggun, tapi di saat yang sama... ia kelihatan begitu sepi dan tak terjangkau.

Aery yang sadar ada yang memperhatikan, menoleh ke arah pintu. Matanya berpapasan langsung dengan mata Jasver.

Jasver yang ketahuan memperhatikan cepat-cepat mengangkat tangannya dan memamerkan cengiran konyolnya yang paling ampuh. Tanpa mengeluarkan suara, ia membentuk kata-kata dengan gerakan bibir. "Semangat belajar, anak pintar!" lengkap dengan acungan dua jempolnya.

Melihat tingkah konyol Jasver di ambang pintu, benteng pertahanan Aery runtuh seketika. Sebuah senyuman tulus yang teramat manis lolos dari bibir Aery, bukan senyum formal seperti ke Clara tadi, melainkan senyum tipis yang jujur dan hangat.

Dari sudut kelasnya yang sepi, Aery perlahan menyadari... meski ia selalu memilih untuk mengisolasi diri di sudut belakang, ada orang-orang konyol seperti Jasver yang selalu punya cara sederhana untuk sekedar menyapa dan mewarnai dunianya yang sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!