Selamat datang di kisah cinta rakyat jelata. Yang di tulis di pinggir kota. Tidak perlu mengkhayalkan yang serba wah. Karena ini hanya tulisan receh dari seorang rakyat jelata. Silahkan di baca dan nikmati! Barangkali nasib kita sama.
Alya Rahmawati (18 tahun) gadis manis, baik hati, dan rajin menabung. Demi cita-citanya yang mulia, dia bekerja sebagai petugas tiket di bus kota milik pemerintah kota Semarang.
Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Gusti Agung Prasetyo (29 tahun) yaitu laki-laki mapan, salah satu Direktur utama di PT. Asia Maju Abadi membuat gadis itu ragu. Haruskah dia membuka kisah cinta baru atau bertahan terbelenggu dengan kisah masa lalunya bersama Mas Rudi (21 tahun) yang entah tiada ujung dan kejelasannya.
Akan aku buktikan kalau cintaku tidak pernah salah. Aku akan tetap menunggu~Alya Rahmawati
Jika ucapan adalah doa, maka setiap hari aku akan berucap, bahwa kamu adalah jodohku~Gusti Agung Prasetyo
Biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak untuk itu~Rudi Setiawan
Bagaimana kisah mereka bergulir, jatuh bangun Alya mengejar cita-citanya, konflik internal didalam lingkungan kerja, dan perjuangan Gusti mendapatkan cinta Alya.
Mampukah Alya lepas dari belenggu kisah masa lalunya bersama mas Rudi???
.
.
.
.
❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33: Permintaan Terakhir
Tidak usah pakai make-up, tidak usah dandan cantik-cantik, cukup pakai kaos dan celana panjang saja.
"Sebenarnya kita mau kemana Om?"
"Berenang." jawab Gusti santai saat mobilnya memasuki halaman parkir Nine Waterland.
"Apa? Berenang? Apa Om sudah gila berenang malam-malam begini!"
"Heh ... diam lah! Lagi pula ini kan permintaan terakhir 'ku, jadi terserah aku mau mengajak kamu kemana."
"Apa Om mau membunuh 'ku? Berenang malam-malam begini bisa-bisa aku masuk angin."
"Sudah jangan cerewet ayok turun! Kalau kamu masuk angin aku akan tanggung jawab." jawab Gusti enteng.
***
View Kolam renang yang mewah dan luas, di kelilingi lampu-lampu yang indah membuat suasana malam semakin romantis. Apalagi di sebelah kolam renang terdapat bangunan hotel & resto yang menjulang tinggi dan di hiasi cahaya lampu kelap kelip.
"Pakai ini! Gantilah baju 'mu di ruang ganti perempuan."
Gusti menyerahkan sebuah paper bag dan Alya menerima tanpa melihat dulu isinya.
"Ah ... lebih baik aku menunggu om di kursi buaya aja ya?" rengek Alya.
"Tidak bisa, bukannya tadi siang kamu sudah berjanji untuk mengabulkan permintaan terakhir 'ku!"
"Om seperti sudah mau mati saja! dari tadi mengingatkan permintaan terakhir."
"Apa kau sedang mendoakan 'ku agar cepat mati! Baru akan aku tinggal pergi keluar Negeri saja, kamu sudah menangis begitu!"
"Huh...baiklah tunggu aku di sini nanti."
Mereka berpisah untuk mengganti pakaian.
Di dalam ruang ganti Alya terlihat menghentak-hentakan kakinya setelah melihat isi paper bag yang di berikan Gusti.
"Ahh ... Ibu rasanya aku mau mati saja. Malu sekali, bagaimana bisa aku menerima barang seperti ini dari seorang laki-laki. Dasar Om mesum! Om Gila!" dia menggerutu sendiri, untung di dalam ruang ganti sepi.
Paper bag itu ternyata berisi baju renang, handuk dan seperangkat pakaian dalam wanita berwarna peach.
Mau tidak mau Alya mengganti bajunya dengan baju renang pemberian Gusti. Untung saja baju renang yang dia berikan model opelon diving suit, jadi masih terlihat sopan. Jika di beri model bikini tentu saja tidak sudi Alya memakainya.
Setelah selesai berganti baju, Alya duduk di kursi buaya tepat di posisi mereka tadi sebelum berpisah. Terlihat beberapa pasangan kekasih yang juga menikmati suasana malam dengan berenang bersama atau sekedar bersantai di pinggir kolam.
Byuuurrrrr .....!!!!
Suara air terdengar memecah keheningan malam, saat seorang laki-laki menceburkan dirinya ke dalam air. Laki-laki itu terlihat berenang ke tepi ke arah dimana Alya duduk.
Alya membulatkan matanya lebar-lebar. Ingin melihat takut dosa, tidak dilihat kog mubadzir. Akhirnya Alya memutuskan untuk melihat tanpa berkedip.
Gusti keluar dari permukaan air, berjalan menghampiri Alya dengan bertelanjang dada. Memamerkan perutnya yang kotak-kotak bak roti sobek. Dia hanya memakai celana opelon pria yang ketat membungkus daerah teritorial nya. Rambut basahnya ia kibas-kibas kan bak iklan sampo anti ketombe. Bagaimana kaum hawa tidak tergoda dengan bodynya yang paripurna itu.
Dasar otak durhaka. Berani-beraninya kau berfikir mesum begini! Alya menggerutu di dalam hati.
"Ayo kita berenang! Kenapa kamu hanya duduk-duduk saja!"
Hanya duduk-duduk saja kepala 'mu! Aku hampir mati deg-degan karena 'mu!
"Alya!!!"
Gusti menepuk lengan Alya yang dari tadi terlihat melamun.
"Ha-h apa?"
"Ayo berenang! Apa kamu kesini hanya untuk melihat tubuh 'ku yang menggoda."
"Apa Om bilang! Enak saja kalau ngomong. Bukankah Om yang memaksa 'ku kesini. Kalau tidak terpaksa mana mau aku kesini malam-malam, cari penyakit saja."
Alya melipat kedua tangannya, dia sangat sebal mendengar ocehan Gusti, walaupun tidak semua ucapan Gusti salah. Memang dia sempat menikmati pemandangan yang menurutnya mubadzir jika tidak di lihat itu.
"Hehe...kamu semakin manis kalau sedang marah." Goda Gusti
Wajah Alya langsung memerah. "Ah sudahlah ayo kita mulai saja." Alya berjalan mendahului Gusti beberapa langkah, tapi kemudian dia berhenti.
"Kenapa berhenti?"
Alya mendekat dan berbisik di telinga Gusti.
"Om tahu kenapa dari tadi aku menolak? Itu karena aku tidak bisa berenang. Hehe..." Alya tersenyum bangga bukannya malu.
Gusti juga membalas dengan berbisik.
"Tidak masalah kalau tidak bisa. Aku akan mengajari 'mu sampai bisa." Tersenyum smirk.
***
"Om tidak perlu pegang-pegang, aku bisa sendiri!"
"Heh, jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya mengajari 'mu cara yang benar. Rileks saja. Kalau masih kaku seperti itu jangan mengeluh kalau nanti kaki 'mu kram!"
"Iya iya aku sudah paham. Aku kan masih belajar wajar saja kalau kaku. Kalau aku tenggelam siapa yang mau tanggung jawab."
"Tenang saja kalau kamu tenggelam, aku sendiri yang akan menolong 'mu dan memberikan nafas buatan."
"Hah itu sih akal-akalan Om saja yang mesum!"
Mereka terus berdebat di dalam kolam renang. Sudah setengah jam lebih Gusti mengajari Alya berenang. Bukannya menyerap apa yang diajarkan Gusti. Alya malah terlihat sebal dan terus saja mendebat Gusti. Menyentuh tangannya saja tidak boleh.
"Makanya kamu latihan yang benar! Cepat mulai lagi. Pokoknya jangan harap kamu bisa pulang kalau belum bisa berenang. Walaupun hanya gaya bebas setidaknya kamu harus kuasai."
"Iya ini aku coba lagi. Bawel!"
"Luruskan tanganmu! Aku pandu dari depan. Kalau sudah tidak kuat bernafas, langsung ambil nafas saja!"
Alya meluruskan tangannya, dan mulai melakukan tolakan dia pun meluncur berenang dengan teknik dasar.
"Ayo terus! Terus! Lurus saja!" Gusti yang memandu terus memberikan Alya aba-aba, sudah seperti kenek bis saja.
Huh hah hiyuhhh haaaah....
Alya mengambil nafas saat ternyata dirinya sudah berada di tepi ujung.
"Hebat! Sekarang bocil sudah bisa berenang!" Prok! Prok! prok!
"Huh siapa dulu, makannya jangan meremehkan 'ku! Otak 'ku cukup cerdas jika harus berlatih begini saja!'
"Sombongnya bocil!" Ledek Gusti.
Mereka pun terlihat berenang bersama. Sesekali mereka tertawa puas menikmati dinginnya air. Menyelam, saling beradu pandang di dalam air yang semakin dingin.
Tiba-tiba kaki Alya terasa kram. Dia mengaduh kesakitan tepat posisi mereka berada di tengah kolam. Sontak Alya hanya bisa memegang lengan Gusti. Karena panik dan merasakan sakit di paha kanannya, Alya sontak mengalungkan tangannya di leher Gusti.
"Om kaki 'ku sakit sekali, agghhh...!"
"Sebentar tenang! aku memegang 'mu, kita ke tepi ya! Tapi lepasin dulu tangan 'mu. Jangan begini. Tadi saja tidak mau di sentuh. Sekarang malah kamu yang meluk-meluk!"
"Hah!" Sontak Alya melepas tangannya, membuat dia kesusahan dan hampir tenggelam. Untung Gusti langsung memegang tangannya.
"Uhuk...uhuk...! Apa Om ingin aku cepat mati? Bisa-bisanya menggoda 'ku begini!
"Mana mungkin aku membiarkan 'mu mati!"
Gusti tertawa dan membopong Alya keluar dari air. Dia turunkan tubuh Alya di kursi buaya. Dan menyelimuti tubuh Alya dengan handuk. Setelah itu dia membantu meluruskan kaki Alya yang kram.
"Biar aku bantu pijit kaki 'mu!"
"Tidak usah aku bisa sendiri." Alya menolak bantuan Gusti, dia tidak mau kakinya di jamah dengan sukarela.
"Dasar keras kepala!"
Gusti duduk di depan Alya dan hanya berani melihat Alya yang mengurut-ngurut sendiri kakinya yang kram. Walau pun terlihat kesusahan saat mengurut. Setelah lima belas menit, kram di kakinya pun hilang.
"Bukankah lebih baik malam perpisahan itu kita dinner romantis? Setidaknya ada hal yang manis yang bisa kita kenang. Bukan berenang di tengah malam begini." Gerutu Alya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Apa kamu pikir dari tadi kita tidak romantis? Lihatlah mereka semua sepertinya iri melihat kemesraan kita." Gusti menunjuk pasangan kekasih yang dari tadi memerhatikan perdebatan mereka.
"Hah...Dimana letak mesranya? Dari tadi Om hanya membuatku sebal dan bahkan aku hampir mati tenggelam!" Elak Alya.
"Hahaha...Oke maaf kalau kamu kurang nyaman. Kalau kaki 'mu sudah baikan. Cepat ganti baju, habis ini kita cari makan. Aku juga sudah lapar."
Alya tidak menjawab, dia terlihat masih memanyunkan bibirnya yang manis. Gusti sangat senang karena bisa melewati malam ini, berdua dengan Alya. Sebelum besok dia benar-benar pergi untuk mengurus perusahaan barunya di Thailand.
_
_
_
_
_
❤️❤️❤️❤️
Like dan komen yang banyak!
suwun🙏
Otore kayak e tetangga satu kecamatan..
Krn di bab atas Ada tempat namanya Tlogosari...
Nuruti ego mulu tuch bocah..
Gedeg juga
OH Tuhan, otak itu apkh fungsinya?????
Tolol
Jangan Berlindung Dari kata anak berbakti klo km sendiri g mo Berjuang... Lemah
Gusti jg msh mau2nya di gituin
Kyk ga Ada cewex lain saja, Berjuang sudah tp klo sepihak yo bego namanya
Berjuang itu mesti 2 belah pihak klo Cmn sepihak yo ajur jum..
Bkn tdk mgk Dia akan gitu kelak..
Ya meski sdh ketebak klo gusti yg Sama alya, Cmn klo head to head rudi VS alya, kmd alya milih rudi ya jatuhnya oon...
Beberapa tahun g ngasih kbr, trs di mna letak tanggung jawabnya? Cowox kyk gini Pantesnya buang ke laut...