Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusui Aretha
“Apa?!”
Tubuh Adira seolah kehilangan tenaga.
“Tidak...”
Ia menggeleng berkali-kali, seakan ingin menolak kenyataan yang baru saja didengarnya.
“Tidak mungkin, Tuan. Saya baru saja berbicara dengannya...Kami baru berbicara tiga hari yang lalu."
Suaranya bergetar. “Bagaimana bisa Aruna meninggal?”
Areksa mendongakkan wajah. Ia berusaha menahan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
Bayangan kecelakaan itu kembali terlintas di kepalanya. Mobil yang ringsek. Tubuh Aruna yang berlumuran darah. Dan suara istrinya yang semakin lemah di dalam pelukannya.
“Aruna kemarin mengalami kecelakaan,” jawabnya dengan suara berat. “Dia pergi dari hidup saya untuk selamanya.”
“Ya Tuhan...” Adira menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya kembali jatuh. “Baru seminggu yang lalu dia menjenguk saya.”
Adira terisak. “Bahkan rasanya saya belum sempat membalas semua kebaikannya.”
Areksa hanya terdiam. Ia tidak tau harus mengatakan apa.
Kehilangan Aruna masih terasa begitu nyata bagi dirinya. Dan kini, melihat Adira menangisi istrinya, ia semakin menyadari bahwa Aruna ternyata meninggalkan begitu banyak orang yang menyayanginya.
Tiba-tiba, ponsel Bayu berdering. Bayu segera mengangkatnya.
“Ada apa, Ma?” Suara Soraya terdengar panik dari seberang.
“Mas, kalian di mana? Aretha dari tadi menangis.”
Tangisan bayi terdengar samar-samar di belakang suara Soraya.
Bayu langsung menegakkan tubuh. “Masih di luar. Kenapa?”
“Dia sudah dicoba digendong, tapi tetap menangis. Susu formula juga nggak mau.”
Bayu menatap Areksa. “Iya, kami segera pulang.”
Panggilan berakhir.
“Ada apa, Pa?” tanya Areksa.
“Aretha menangis.”
Bayu menghela napas. “Dan dia sama sekali nggak mau minum susu formula. Terus bagaimana?”
Areksa terdiam. Pandangannya perlahan beralih kepada Adira yang masih mengusap air mata di pipinya.
Ada keraguan dalam tatapannya. Namun ia teringat kembali pesan terakhir Aruna.
"Kalau anak kita butuh ASI, aku punya sahabat namanya Adira."
Areksa akhirnya memberanikan diri bertanya. “Adira...”
Adira mengangkat wajah. “Ya, Tuan?”
“Kamu bisa membantu saya?”
Adira langsung mengangguk. “Tentu. Apa yang bisa saya bantu?”
“Saya tidak tau bagaimana harus mengatakan ini.”
Areksa menarik napas. “Apa sebelumnya kamu mengASIhi anak kamu?"
"Iya Tuan."
"Apa.... Masih keluar?"
Adira terdiam. “Hah?”
Areksa segera menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. “Jangan salah paham. Putri saya tidak mau minum susu formula. Sepertinya dia membutuhkan ASI.”
Ia menatap Adira dengan serius. “Dan sebelum Aruna meninggal, dia mengatakan bahwa kamu bisa membantu memberikan ASI untuk anak kami.”
Adira terdiam cukup lama. Matanya kembali berkaca-kaca ketika mendengar nama Aruna.
“Aruna mengatakan itu?”
Areksa mengangguk. “Iya.”
Adira mengusap air matanya. “Bisa, Tuan.”
Areksa menatapnya. “Benarkah?”
Adira mengangguk. “Kalau ASI saya masih bisa membantu, saya akan melakukannya.”
Ia menarik napas panjang. “Anggap saja ini cara saya membalas semua kebaikan Bu Aruna. Dan juga kebaikan kalian kepada saya hari ini.”
Bayu yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka tiba-tiba ikut bersuara. “Kalau begitu, sekalian saja kamu tinggal bersama kami untuk sementara.”
Adira tampak terkejut. “Maksud Tuan?”
“Kamu bisa membantu mengurus Aretha. Anggap saja kamu menjadi pengasuhnya.”
Bayu tersenyum tipis. “Daripada kamu bolak-balik, lebih baik tinggal bersama kami. Kami juga bisa memastikan kebutuhanmu selama membantu Aretha terpenuhi.”
Adira terdiam. Ia memikirkan semuanya.
Rumahnya. Hidupnya yang kini seolah tidak memiliki arah. Dan pesan terakhir Aruna yang meminta dirinya menjaga putrinya.
Akhirnya, Adira mengangguk. “Saya mau, Tuan.”
Areksa menatapnya. “Baik.”
Ia berdiri. “Kalau begitu, kita pulang.”
Adira ikut berdiri. Namun sebelum melangkah, ia menatap kosong ke arah lantai. Aruna... Setidaknya, aku masih bisa melakukan satu hal untukmu. Menjaga anakmu.
***
Begitu tiba di rumah megah milik Areksa, Adira sempat terpaku.
Bangunan besar di hadapannya tampak begitu mewah dan jauh berbeda dari rumah sederhana yang selama ini ia tempati.
Adira menelan ludah. Ia bahkan merasa tidak pantas menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
“Ayo, Adira.” Suara Areksa membuatnya tersadar.
Adira mengangguk pelan. “Iya, Tuan.”
Ia kemudian melangkah mengikuti Areksa dan Bayu.
Namun semakin masuk ke dalam rumah, suara tangisan bayi terdengar semakin jelas.
“Oweee...”
Tangisan itu begitu nyaring hingga membuat Adira refleks mempercepat langkah.
Di ruang keluarga, Soraya sedang menggendong seorang bayi perempuan yang terus menangis. Di sampingnya berdiri Felicia yang sejak tadi berusaha membantu menenangkan bayi tersebut.
Begitu melihat Areksa dan Bayu, Soraya langsung menghampiri.
“Aretha tidak mau diam dari tadi, Reksa.”
Areksa menatap putrinya dengan wajah khawatir.
“Mama benar-benar kasihan melihatnya. Kamu sudah membawa pendonor ASI itu?”
“Sudah.” Areksa menoleh ke belakang.
Adira masih berdiri gugup di ambang pintu.
Ia kemudian menunjuk wanita tersebut. “Itu Adira.”
Soraya langsung tersenyum lega.
“Adira, tolong bantu Aretha, ya.”
“Iya, Tuan.”
Adira melangkah mendekat.
Sementara itu, Felicia yang melihat Adira untuk pertama kalinya langsung merasa tidak nyaman.
Matanya memperhatikan wanita itu dari atas hingga bawah. Penampilannya memang sederhana. Tidak mengenakan pakaian mahal atau perhiasan berlebihan.
Namun Felicia tidak bisa menyangkal satu hal. Adira sangat cantik.
Bahkan menurutnya, kecantikan wanita itu mampu menyaingi bahkan melebihi Aruna, kakak tirinya sendiri.
Entah mengapa, hal tersebut membuat Felicia semakin tidak menyukainya.
Adira tidak memperhatikan tatapan Felicia. Perhatiannya hanya tertuju pada bayi yang berada dalam gendongan Soraya.
“Sini, Cantik.” Dengan hati-hati, Adira mengulurkan kedua tangannya.
Soraya menyerahkan Aretha kepadanya.
Begitu tubuh mungil itu berpindah ke dalam pelukan Adira, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Tangisan Aretha perlahan berhenti seketika.
Semua orang terdiam. Soraya menatap cucunya dengan mata membulat.
Bayu bahkan sampai menghela napas lega. “Dia diam...”
Areksa tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap putrinya.
Bayi yang sejak tadi menangis sejadi-jadinya kini berada dalam pelukan Adira dengan tenang.
Aretha bahkan bergerak kecil, seolah mencari sesuatu.
Adira menyadari hal tersebut. “Sepertinya dia lapar.”
Soraya mengangguk cepat. “Iya. Dari tadi dia menolak susu formula.”
Adira menatap bayi itu dengan lembut. “Mungkin dia memang membutuhkan ASI.”
Soraya tersenyum lega. “Ayo, Adira. Kita ke kamar sebelah. Kamu bisa memberikan ASI di sana.”
Adira mengangguk. “Iya, Nyonya.”
Soraya kemudian membawa Adira menuju kamar tamu.
Bayu mengembuskan napas panjang. “Syukurlah.”
Ia menatap ke arah cucunya yang kini sudah tidak menangis “Akhirnya Aretha mendapatkan makanan.”
Sementara itu, Felicia berdiri diam. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Sekali lagi ia gagal. Bahkan bayi itu langsung tenang ketika berada dalam gendongan Adira.
"Dasar anak bayi sialan! Beraninya kamu nggak mau sama aku."
Tatapan Felicia mengikuti langkah Adira hingga wanita itu menghilang bersama Soraya.
Di sisi lain, Areksa masih berdiri di tempatnya. Tatapannya kosong.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan dari kejadian barusan.
Aretha tidak pernah tenang ketika digendong orang lain. Namun ketika berada di pelukan Adira, putrinya seolah langsung merasa nyaman.
Areksa menatap ke arah kamar tempat Adira dibawa. Entah mengapa, perasaan aneh kembali muncul di dalam dirinya.
Seolah-olah ada alasan tertentu mengapa Aruna meminta Adira berada di sisi putri mereka. Dan Areksa semakin yakin bahwa pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
***
Di dalam kamar tamu, Soraya membantu Adira menenangkan Aretha.
Setelah semuanya siap, Adira mulai memberikan ASI kepada bayi yang bahkan belum genap berusia satu minggu itu.
Begitu mulut mungil Aretha menemukan sumber makanannya, bayi itu langsung menyusu dengan kuat.
Sepertinya ia benar-benar kelaparan. Suara kecap-kecap kecil terdengar dari bibir mungilnya. Tangannya yang kecil bahkan bergerak-gerak seolah tidak ingin melepaskan sumber makanan tersebut.
Adira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Pelan-pelan, Sayang...”
Soraya yang berdiri di samping mereka ikut terharu melihatnya. “Masya Allah...”
Akhirnya, setelah sejak tadi terus menangis, Aretha bisa tenang. Namun justru ketenangan itu membuat dada Adira terasa sesak.
Air mata perlahan menitik dari sudut matanya. Ia teringat pada putranya.
Anak yang seharusnya masih berada dalam pelukannya. Seharusnya sekarang ia masih menyusui buah hatinya sendiri. Seharusnya ia masih bisa mendengar tangisan kecil itu setiap kali lapar. Namun semua itu telah berakhir.
ASI yang seharusnya diberikan kepada putranya kini mengalir untuk bayi sahabatnya.
Adira menundukkan wajah. Tangannya mengusap lembut kepala Aretha.
“Seharusnya...” bisiknya lirih.
Soraya menatapnya. “Terima kasih, Nak.”
Adira segera mengangkat wajah. “Saya yang berterima kasih, Nyonya.”
Suaranya bergetar. “Saya diberi kesempatan untuk mengasihi bayi ini.”
Adira kembali menatap Aretha. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi senyum itu terlihat begitu getir.
“Rasanya... saya sangat merindukan bayi saya.”
Soraya terdiam. “Memangnya bayi kamu ke mana, Nak?”
Gerakan Adira terhenti. Ia menundukkan kepala dan menatap Aretha yang masih menyusu dengan tenang.
Untuk beberapa detik, ia tidak mampu menjawab. Kemudian bibirnya membentuk senyum kecil yang dipenuhi kesedihan.
“Bayi saya...” Suara Adira hampir tidak terdengar. “Bayi saya meninggal dua hari yang lalu, Nyonya.”
Soraya membeku. Tangannya refleks menutup mulut. “Ya Allah...”
Adira berusaha tersenyum meskipun air matanya kembali jatuh. “Seharusnya sekarang saya masih menyusui dia.”
Ia mengusap kepala Aretha dengan sangat lembut. “Tapi ternyata... ASI ini masih bisa menjadi rezeki untuk bayi lain.”
Tatapan Adira jatuh pada wajah mungil Aretha. “Jadi, tidak apa-apa.”
Namun dari cara matanya berkaca-kaca, jelas bahwa hatinya belum benar-benar menerima kehilangan itu.
Soraya mendekat dan mengusap bahu Adira. “Menangislah kalau kamu ingin menangis, Nak.”
Adira akhirnya menundukkan wajah. Air matanya jatuh satu per satu, sementara Aretha tetap menyusu dengan tenang dalam pelukannya.
Untuk sesaat, Adira memejamkan mata. Ia membayangkan seandainya putranya masih ada.
Seandainya ia masih bisa memeluknya seperti ini.
Seandainya takdir memberinya sedikit lebih banyak waktu.
Namun kenyataan tidak pernah bisa diubah. Kini, yang tersisa hanyalah rasa kehilangan.
Dan seorang bayi kecil yang tanpa sengaja membuatnya kembali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu.
Setelah beberapa saat, Aretha akhirnya merasa kenyang.
Bayi kecil itu perlahan melepaskan sendiri sumber makanannya.
Adira tersenyum melihat wajah mungil di hadapannya. “Sudah kenyang, ya, Cantik?”
Aretha hanya menggeliat kecil.
Adira kemudian menggendongnya lebih tegak dan menepuk-nepuk punggung mungil itu dengan lembut.
“Ayo, sendawa dulu.”
Beberapa saat kemudian— “Ekh.”
Aretha akhirnya bersendawa.
Adira tersenyum lega. “Nah, sudah.”
Bayi itu terlihat begitu tenang. Tidak lama kemudian, matanya kembali terpejam dan ia tertidur dalam pelukan Adira.
“Dia sudah tidur, Nyonya.”
“Kalau begitu, letakkan saja di kasur, Nak.”
“Iya.”
Adira berjalan perlahan menuju tempat tidur bayi. Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Aretha.
Ia memastikan posisi bayi itu nyaman sebelum menarik selimut tipis hingga sebatas dadanya.
Setelah itu, Adira dan Soraya keluar dari kamar.
Begitu mereka sampai di ruang keluarga, Areksa yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.
“Aretha mana, Ma?”
Soraya tersenyum lebar. “Sudah tidur.”
Areksa mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah.”
“Putrimu itu ternyata sangat lapar,” lanjut Soraya dengan wajah bahagia. “Ternyata benar, dia maunya ASI. Persis seperti kamu dulu, Reksa. Setelah kenyang, dia langsung tidur.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Adira. “Terima kasih, Adira.”
Adira mengangguk sopan. “Sama-sama, Tuan.”
“Oh iya, Reksa.” Soraya tiba-tiba teringat sesuatu. “Bagaimana kalau Adira bekerja di sini saja? Dia bisa menjadi pengasuh sekaligus pendonor ASI untuk Aretha. Bagaimana menurutmu?”
“Memang iya, Ma. Aku sudah mengatakannya kepada Adira tadi.”
Areksa melirik Adira. “Dan dia sudah setuju.”
“Wah...” Soraya langsung tersenyum lega. “Berarti cucu Mama nggak akan menangis kelaparan lagi.”
Adira ikut tersenyum kecil. “Semoga saya bisa membantu merawat Aretha dengan baik, Nyonya.”
“Pasti bisa, Nak,” jawab Soraya hangat.
“Tapi sepertinya Adira juga harus memompa ASI.”
Soraya berpikir sejenak. “Supaya kalau malam hari Aretha tidur bersama kamu, kamu bisa memberikan ASI yang sudah dipompa melalui botol.”
Areksa mengangguk. “Ah iya. Benar juga, Ma.”
“Mama nanti akan meminta Bibi menyiapkan makanan yang bergizi untuk Adira.”
Soraya menatap Adira. “Biar kamu tetap sehat, ASI-mu lancar, dan kebutuhan Aretha juga terpenuhi.”
“Betul itu, Ma.” Bayu yang sejak tadi mendengarkan ikut menyetujui. “Yang penting cucu kita sehat.”
Adira hanya tersenyum kecil. “Terima kasih banyak.”
Namun tidak semua orang di ruangan itu ikut bahagia.
Felicia sejak tadi hanya diam. Tatapannya mengikuti Adira yang baru saja keluar dari kamar.
Beberapa menit lalu wanita itu datang sebagai orang asing. Sekarang, Soraya sudah memperlakukannya dengan begitu hangat. Bayu bahkan tampak lega karena kehadirannya membuat Aretha berhenti menangis.
Dan Areksa... Felicia melirik kakak tirinya itu.
Tatapan Areksa masih tertuju ke arah kamar tempat Adira berada. Jari-jari Felicia perlahan mengepal. Ia tidak menyukai pemandangan itu.
Sama sekali tidak. Apalagi ketika teringat bagaimana Aretha langsung tenang begitu berada dalam pelukan Adira.
Felicia mengalihkan pandangan kepada bayi yang kini tertidur pulas.
“Aretha...” gumamnya nyaris tanpa suara.
Ada senyum tipis yang kembali menghiasi bibirnya. Namun kali ini, senyum itu tidak lagi terlihat ramah.
Felicia kemudian menatap Adira. Lama.
Sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang keluarga.
Tidak ada seorang pun yang menyadari perubahan kecil pada sorot matanya.Dan mungkin, memang belum seharusnya ada yang menyadarinya.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰