Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Perjalanan dan Kebenaran yang Terurai
Dua bulan berlalu cepat. Aira resmi memulai perjalanan barunya sebagai mahasiswi. Pekan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus dijalaninya bersama Pandu dan Tia. Meski mereka menempa ilmu di fakultas yang berbeda, letak gedung yang berdekatan membuat ketiganya tetap bisa saling memantau dan menghabiskan waktu bersama.
Di kota asal mereka, Zara menjalani kehidupan perkuliahannya dengan senyum terkembang usai meraih beasiswa penuh di jurusan kedokteran impiannya. Sementara itu, Panji dan Bayu berkuliah di universitas milik keluarga Bayu sendiri. Bayu menyalurkan passion-nya di jurusan Fotografi, sedangkan Panji mengambil jurusan Hukum. Masing-masing melangkah mantap meniti impian yang telah lama diidamkan.
Bagi Arkan, ketiadaan Aira di sisinya menyisakan ruang hampa yang dalam. Demi mengalihkan fokus dan menata luka, ia memilih menyibukkan diri dengan melanjutkan pendidikan spesialis Kedokteran Obstetri dan Ginekologi. Jadwal rumah sakit dan jadwal kuliah pakar yang padat dijadikan benteng untuk menepis rasa sepi. Kendati di tempatnya menimba ilmu ada beberapa rekan medis yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan, hati Arkan telah mengunci pintu rapat-rapat. Hanya ada satu nama yang tetap bersemayam utuh di sana yaitu Aira.
"Kak, Zara berangkat kuliah dulu ya," pamit Zara yang sudah rapi memanggul tasnya.
Arkan yang tengah menyimpul dasi menoleh. "Kakak antar, ya?"
"Tidak usah, Kak. Zara naik sepeda saja, lagipula jaraknya dekat," tolak Zara terkekeh. "Kakak juga harus bersiap ke kampus, kan?"
Arkan tersenyum tipis lalu mengangguk. "Ya sudah, hati-hati di jalan."
"Assalamu’alaikum, Kak Dirga!" pamit Zara melambaikan tangan di pintu depan.
"Wa’alaikumsalam."
Suasana rumah megah itu kembali hening begitu Zara berlalu. Sang Papa sudah berangkat lebih awal karena ada rapat penting bersama para kepala departemen di rumah sakit.
Arkan meraih ponsel di atas meja. Layar utamanya masih memajang foto Aira sebuah potret tersembunyi yang ia ambil saat gadis itu tertidur lelap di kursi bioskop beberapa bulan lalu. Sudah lebih dari dua bulan Aira tak pernah sekalipun menyapa atau mengirimkan pesan. Meski begitu, Arkan tak pernah benar-benar kehilangan kabar. Setiap ada waktu luang, ia menyempatkan diri makan siang bersama Dinda sahabatnya yang juga kakak ipar Aira yang selalu membagikan kabar perkembangan Aira di Surabaya.
Menyadari jam dinding terus bergulir, Arkan menyambar kunci mobil dan jas dokternya. Hari ini ada jadwal kuliah pakar yang wajib ia hadiri.
☙──────────❦──────────❧
Sementara itu di Surabaya, malam mengalir syahdu. Di dalam kamarnya yang bernuansa hangat, Aira sedang memandangi layar ponsel, sibuk berdiskusi di grup percakapan mengenai tugas kelompok Ospek.
"Aira, yuk makan malam dulu! Kakak sudah memasak," panggil Nadia dari balik pintu.
"Iya, Kak!" sahut Aira. Ia bergegas merapikan buku-buku di meja belajarnya lalu melangkah menuju meja makan.
Aroma gurih oseng bakso jamur menyeruak begitu ia sampai di ruang makan. Di atas meja sudah tersaji nasi putih hangat, teh manis panas, tak ketinggalan sekeranjang kerupuk renyah.
"Galang mana, Kak?" tanya Aira sembari mengambil tempat duduk.
"Galang sudah tidur duluan. Tadi habis makan nasi sama sosis dia langsung mengantuk," terang Nadia seraya menyendokkan nasi ke piring sang adik. "Oh ya, nanti usai makan, tolong antarkan kotak bekal ini ke indekos Pandu, ya? Kakak sudah memberi tahu dia via pesan."
Aira mengembuskan napas panjang, bibirnya memanyun seketika. "Pandu itu kenapa sih harus pilih menginap di indekos? Padahal kan enak tinggal di sini ramai-ramai."
Nadia terkekeh melihat wajah bersungut-sungut adiknya. "Dia ingin belajar mandiri, Ra. Lagipula dia merasa sungkan kalau harus menumpang terus. Tapi dia sudah janji bakal sering mampir. Lagipula indekosnya kan masih satu kompleks dengan rumah kita."
"Iya sih... Tapi kan menyebalkan, ada saudaranya di sini malah memilih tidur di indekos," gerutu Aira sembari menyuap nasi.
"Sudah, makan dulu. Yang penting indekosnya masih dalam jangkauan pantauan kita," lerai Nadia lembut.
Usai makan dan merapikan piring, Aira mengayuh sepeda ontelnya membelah angin malam kompleks kediaman Nadia. Wilayah tersebut memang dikelilingi banyak rumah sewa mahasiswa karena letaknya yang terbilang dekat dengan area kampus.
☙──────────❦──────────❧
Setibanya di depan kamar indekos Pandu, Aira mengetuk pintu kayu itu dengan agak kencang.
"Pandu! Woy, Pandu!" panggil Aira.
Tak ada sahutan. Aira berjinjit, mengintip lewat celah ventilasi jendela yang remang-remang. "Kemana anak ini?" gumamnya.
Karena lorong indekos terasa sepi, Aira memilih duduk bersandar di bangku kayu panjang yang disediakan di teras.
"Tahu begini mending kutelepon dulu sebelum berangkat," omelnya pelan sembari merogoh ponsel dari saku jaket.
Ia membuka aplikasi pesan. Grup Trio Serangkai dipenuhi puluhan obrolan baru Bayu, Panji serta Zara tak henti-hentinya menanyakan kabar, memamerkan foto kegiatan kampus, hingga mendesaknya untuk pulang berkunjung. Padahal ia baru dua bulan menetap di Surabaya.
Jemarinya terus menggeser layar hingga matanya tertambat pada satu nama di daftar kontak Dokter Arkan.
Pikiran Aira mendadak terlempar pada percakapan telepon beberapa pekan lalu saat Zara membeberkan sebuah rahasia besar yang sempat membuat dunianya jungkir balik.
☙──────────❦──────────❧
🖤🄵🄻🄰🅂🄷🄱🄰🄲🄺 🄾🄽🖤
Siang itu, Aira sedang menemani Galang mewarnai gambar di ruang keluarga. Usai melewati badai perceraian, Nadia sudah mulai bangkit dan kembali sibuk beraktivitas sebagai Executive Assistant di sebuah perusahaan Wedding Organizer.
Dering ponsel di meja membuyarkan konsentrasi Aira.
"Galang, Tante Aira angkat telepon sebentar, ya," pamit Aira yang dibalas anggukan polos sang keponakan.
Aira menggeser tombol hijau. "Halo, Zara?"
"Assalamu’alaikum, Aira! Ya ampun, akhirnya diangkat juga!" suara Zara terdengar riang di seberang sana.
"Wa’alaikumsalam. Maaf ya, Zara sayang... Akhir-akhir ini aku agak sibuk mengurus Galang karena Kak Nadia sudah mulai padat jadwal kerjanya."
"Iya, aku paham kok, tidak apa-apa. Oh ya, aku mau kasih tahu kabar gembira! Aku lulus seleksi beasiswa penuh kedokteran!"
Aira membelalak gembira. "Wah, benarkah?! Selamat, Zara! Akhirnya sebentar lagi kamu bakal mewujudkan cita-citamu jadi dokter!"
"Hehehe, terima kasih, Aira... Bagaimana perkuliahanmu di sana? Semuanya lancar?"
"Aman dan terkendali. Bang Reyhan mengizinkan aku tetap tinggal di sini asal rajin memberi kabar ke rumah. Lagipula proses sidang perceraian Kak Nadia sudah selesai, jadi sekarang kami tinggal fokus menata hidup baru."
"Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya... Oh ya, Ra, ada satu hal lagi yang mau kusampaikan. Sekarang aku sudah tinggal bersama keluarga kandungku."
Aira tersenyum tulus. "Beneran? Akhirnya kamu bisa kumpul lagi sama keluarga aslimu! Lalu bagaimana dengan Papa dan Mama angkatmu?"
"Walau sempat berat dan sedih, mereka mengizinkan aku ikut orang tua kandungku. Aku juga masih sering main ke rumah lama. Apalagi Kak Bimo sering menanyakan kabarku. Kalau Papa atau Kak Dirga sedang dinas malam, kadang aku menginap di sana."
Dahi Aira berkerut halus. "Tunggu... Kak Arkan? Kamu... satu rumah sama Dokter Arkan?"
"Tentu saja. Kami saudara kandung, jadi wajar kan kalau tinggal seatap?" Zara terkekeh pelan.
Aira mematung di tempatnya. "Bagaimana bisa?! Bukannya... adik Dokter Arkan yang hilang diculik belasan tahun lalu itu..."
"Adik yang diculik itu adalah aku, Aira," potong Zara lembut. "Mama angkatku menemukanku dalam keadaan luka parah dan hilang ingatan akibat kecelakaan di masa kecil. Sekarang, aku dan Kakakku sudah saling menemukan kembali."
Dada Aira berdesir hebat. "Jadi... waktu di rumah sakit hari itu... kalian berpelukan karena..."
"Karena kami baru saja mengetahui kebenaran bahwa kami adalah kakak beradik," jelas Zara. "Maaf ya, waktu itu kami belum sempat menjelaskan semuanya padamu karena kamu keburu berpamitan pindah."
"Ya ampun... Zara, maafkan aku... Aku malah berpikir yang tidak-tidak waktu melihat kalian berdua," bisik Aira penuh penyesalan.
Zara tertawa kecil di seberang telepon. "Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah tahu. Tapi Ra... apa kamu tahu? Kak Dirga benar-benar merasa kehilangan sejak kamu pergi. Dia sering melamun. Apa kalian sama sekali tidak pernah berkomunikasi sejak kamu pindah?"
Aira menunduk, jemarinya meremas tepi bajunya. "Tidak, Zar. Saat ini aku hanya ingin fokus kuliah. Aku tidak ingin memikirkan hal lain dulu. Biarkan Kak Arkan juga fokus menjalani profesi dokternya."
"Apa kamu tidak ada niat untuk kembali ke sini?" tanya Zara pelan.
"Entahlah... Mungkin aku akan kembali kalau semua urusanku di sini sudah selesai. Tapi kalau belum, aku harus tetap di Surabaya."
"Aku, Bayu, dan Panji sangat merindukan masa-masa kita berkumpul. Apalagi Kak Dirga... dia pasti sangat menunggumu pulang, Ra."
"Aku berharap begitu... Sudah dulu ya, Zar, Galang sudah minta makan siang. Aku harus ke dapur dulu."
"Oke, cepat kembali ya, Ra!"
🖤🄵🄻🄰🅂🄷🄱🄰🄲🄺 🄾🄵🄵🖤
☙──────────❦──────────❧
Aira menghela napas panjang. Angin malam Surabaya menerpa wajahnya pelan.
Mungkin Arkan kini perlahan telah sembuh dari luka masa lalunya berkat kepulangan sosok adik yang selama ini dicarinya. Aira tidak ingin hadir sebagai pengganggu di tengah momen kehangatan keluarga mereka yang baru saja kembali utuh. Ia merasa, mungkin akan jauh lebih baik jika mereka dipertemukan kembali kelak saat keduanya telah sama-sama dewasa, memiliki pemikiran yang lebih matang, serta kedewasaan karakter yang telah teruji oleh waktu dan jarak.
"DURR!!!"
"ASTAGA!" Aira melonjak kaget dari duduknya, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai.
Suara gelak tawa nyaring membahana di lorong indekos. Pandu berdiri di hadapannya dengan wajah tanpa dosa, memegangi perutnya yang terkocok akibat berhasil mengejutkan Aira.
"Kau ini ya! Dasar monyet kau kira tidak kaget!" omel Aira mengelus dadanya yang berdebar kencang.
"Habisnya kamu melamun seperti patung di depan kamarku malam-malam begini," ujar Pandu terkekeh. Ia mengangkat kantong plastik mini di tangannya. "Aku habis beli sampo sama sabun mandi di warung depan. Eh, itu bungkusan dari Kak Nadia?"
"Iya, Kak Nadia menyuruhku mengantarkan oseng bakso jamur ini untukmu," sahut Aira menyodorkan kotak bekal tersebut.
"Nah, kebetulan sekali! Ayo masuk, kenapa malah duduk di luar?" Pandu memutar kunci dan membuka pintu kamarnya.
"Gara-gara kau tidak ada di kamar, makanya aku menunggu di luar!" sungut Aira memutar bola matanya.
Meski masih merasa agak kesal akibat dikagetkan, Aira melangkah masuk ke kamar indekos Pandu. Sambil memperhatikan Pandu melahap bekal makan malamnya, mereka saling bertukar cerita ringan untuk mencairkan suasana menepis sejenak rasa rindu pada kota asal yang perlahan-lahan makin menghimpit dada.
Bersambung__
_____