Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 - epilog terakhir
Sore harinya, setelah seluruh prahara dimensi benar-benar usai dan gerbang ancaman Pangilon musnah tanpa sisa, mereka bertiga kembali ke lembah curug terpencil itu. Suasana lembah telah kembali hangat, tak ada lagi tiang es yang membeku atau pendaran langit merah yang mencekam.
Di luar, suara deburan air terjun yang jatuh membelah batu sungai bergema merdu. Helena tampak sangat gembira, tertawa riang sambil bertelanjang kaki bermain air di kolam alami yang jernih. Piko sang Harimau Putih Raksasa berbaring siaga di atas batu datar yang hangat, sesekali mengibaskan ekornya untuk memercikkan air ke arah Helena, membuat gadis kecil itu memekik gembira.
Sementara itu, beberapa puluh meter di balik tirai air terjun yang tebal, terdapat sebuah mulut gua alami yang tersembunyi. Tempat itu dipenuhi kuarsa kristal alami dan pancaran energi bumi murni yang sangat kuat, lokasi ideal untuk pemulihan raga gaib Damian yang terluka parah.
Di dalam gua yang remang-remang dan berudara sejuk itu, Damian duduk bersandarkan dinding batu yang dilapisi lumut halus. Kemeja linennya dipanggalkan, memperlihatkan dada bidang dan punggungnya yang dipenuhi bekas luka bakar gaib yang mulai memudar perlahan, memancarkan pendaran cahaya biru keperakan setiap kali ia menarik napas dalam-dalam.
Cindy duduk berlutut di samping suaminya. Di pangkuannya, terdapat wadah kecil berisi campuran air rempah dan ekstrak daun pandan hangat yang sengaja ia siapkan untuk menyeka raga Damian. Dengan cermat dan penuh kelembutan, Cindy mengusapkan kain mori basah ke bahu kokoh Damian yang masih meneteskan sisa-sisa cairan hitam tipis.
"Sakit, Damian?" bisik Cindy lembut. Matanya yang cokelat terang menatap cemas guratan luka di dada pria itu.
Damian membuka sepasang mata birunya yang kini sudah kembali jernih dan tenang. Jemari dinginnya terulur, menyentuh dagu Cindy dan menegakkan wajah istrinya agar menatapnya.
"Hanya rasa perih tipis, *mijn liefde*," suara Damian mengalun berat, halus, dan sangat seksi di dalam gua yang bergema itu. "Sentuhan tanganmu jauh lebih efektif menyembuhkan sukma saya daripada energi batu kuarsa ini."
Cindy mendesis pelan, berpura-pura bersungut-sungut meski matanya memancarkan rasa haru yang teramat sangat. Ia menepuk pelan dada Damian dengan kain mori di tangannya.
"Masih sempat-sempatnya gombal dalam keadaan terluka begini," omel Cindy, lalu kembali menyeka lengan tegap suaminya dengan hati-hati. "Luka di punggungmu ini... bekas tebasan pedang lahar Raja Pangilon itu, kan?"
"Ya," sahut Damian jujur, membiarkan istrinya merawat tubuhnya. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding batu, memejamkan mata sambil menikmati kehangatan jemari manusia Cindy yang membelai kulit sedingin es miliknya. "Penguasa Pangilon bertarung seperti binatang buas yang terdesak. Namun, begitu segel leluhurmu di pohon beringin itu kamu bongkar, kekuatannya merosot drastis. Tebasan terakhirnya hanya mampu menggores kulit luar saya."
Cindy terdiam sejenak, membayangkan betapa mengerikannya pertempuran itu jika ia dan Helena tidak membongkar keris pusaka Mbah Broto di pekarangan belakang rumah. Ia menunduk, mengecup pelan bekas luka di bahu Damian.
"Aku takut banget pas kamu menghilang kemarin, Damian," bisik Cindy, suaranya agak serak menahan getaran emosi. "Tujuh tahun kita hidup damai, aku pikir kita gak bakal berurusan lagi sama hal-hal mengerikan kayak gitu."
Damian merengkuh pinggang Cindy dengan lengan kokohnya, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga duduk di pangkuannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cindy, menyandarkan dagunya di bahu mulus istrinya.
"Saya berjanji padamu, Cindy... itu adalah pertempuran terakhir," bisik Damian tepat di samping telinga Cindy, napas dinginnya beraroma mint yang menenangkan. "Pusat Pangilon sudah hancur. Raja dan para panglimanya telah melebur menjadi debu. Tidak ada lagi entitas di jagat mana pun yang berani mengusik ketenangan kita."
Cindy memiringkan kepalanya, menyentuh pipi pucat Damian yang kini sudah terasa hangat karena energi pemulihan yang mengalir di tubuhnya.
"Janji ya? Jangan pernah buat aku dan Helena nunggu tanpa kabar lagi," tekan Cindy, menatap lurus ke dalam manik mata biru malam milik suaminya. "Kalau ada masalah lagi di masa depan... kamu harus cerita. Kita hadapi sama-sama. Darah manusiamu ini mungkin fana, tapi aku dan Helena punya cara untuk bantu kamu."
Damian tersenyum tipis, sebuah senyuman aristokrat yang sangat tampan dan menawan. Ia mengecup bibir Cindy dengan lumatan lembut dan dalam, menyalurkan rasa terima kasih, kepemilikan, dan cinta abadi yang tak terbatas.
"Janji, *mijn liefde*," sahut Damian parau saat melepaskan tautan bibir mereka. "Seluruh eksistensi saya adalah milikmu dan Helena."
Dari luar mulut gua, terdengar gelak tawa renyah Helena yang sedang menyipratkan air ke arah Piko, disusul raungan halus sang harimau putih yang menikmati permainan itu.
Cindy dan Damian saling menatap, lalu terkekeh pelan bersama. Di dalam temaramnya gua tempat pemulihan itu, diiringi melodi air terjun dan tawa putri mereka, rasa cemas yang menghantui selama bertahun-tahun akhirnya menguap sepenuhnya. Pengorbanan, darah, dan air mata mereka telah terbayar lunas oleh kedamaian sejati yang kini mendekap keluarga kecil mereka selamanya.
Satu tahun berlalu dalam kedamaian yang sempurna. Tidak ada lagi teror gaib, tidak ada lagi kilatan langit merah, dan tidak ada lagi hawa kematian yang mengancam.
Siang itu, rumah kolonial tua di Yogyakarta terasa sangat hangat. Udara sore bertiup lembut menerobos jendela-jendela kayu besar yang terbuka lebar. Di halaman belakang yang asri, pohon beringin tua berdiri kokoh dan rindang, tidak lagi memancarkan kesan angker melainkan keteduhan yang menenangkan.
Di teras samping yang dilapisi ubin tegel tua, Cindy sedang duduk santai menikmati teh melati hangat sambil membaca majalah. Di dekatnya, Damian yang mengenakan kemeja linen putih santai dengan lengan digulung hingga siku, sedang duduk di sofa rotan sambil memangku laptop mengurus beberapa dokumen bisnis fana yang masih ia kelola dari jauh. Wajah porselennya yang tampan tampak begitu tenang, sepasang mata birunya sesekali melirik lembut ke arah istrinya.
Sementara di dekat rumput pekarangan, Helena yang kini sudah genap berusia 8 tahun sedang duduk bersimpuh di samping Piko, sang Harimau Putih Raksasa yang merebahkan tubuh besarnya laksana kucing raksasa yang malas. Helena tumbuh semakin manis; rambut hitamnya yang makin panjang dikepang rapi oleh Cindy, dan mata birunya selalu berbinar cerdas.
Gadis kecil itu mendadak menghentikan jemarinya yang sedang mengelus bulu leher Piko. Wajah cantiknya tampak berpikir keras, sebelum akhirnya ia bangkit berdiri dan melangkah mendekati kedua orang tuanya di teras.
*Puk... puk... puk...*
Langkah kaki telanjang Helena yang mungil menapak di tegel teras. Ia berdiri tepat di antara sofa yang diduduki Damian dan kursi Cindy, menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan sepasang mata bulatnya yang jernih.
"Bunda... Papa..." panggil Helena dengan suara cemprengnya yang manis.
Cindy menurunkan majalahnya, menyunggingkan senyuman hangat. "Iya, sayang? Ada apa? Mau minum susu atau mau minta buah?"
Helena menggeleng pelan. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, memiringkan kepalanya dengan raut wajah yang teramat serius untuk ukuran anak delapan tahun.
"Bunda, teman sekolah Helena di SD kemarin bawa adiknya yang masih bayi ke sekolah," kata Helena memulai. "Adiknya lucu banget, pipinya gembil, tangannya mungil, terus suka ketawa kalau Helena godain."
Damian menghentikan ketukan jarinya di atas *keyboard* laptop. Sepasang mata birunya bergulir menatap putri tunggalnya itu dengan sebelah alis terangkat. "Lalu, *mijn liefde* kecil?"
Helena maju satu langkah, menatap Damian dan Cindy secara bergantian dengan binar mata yang memancarkan permohonan mutlak.
"Helena mau punya adik!" ceplos gadis kecil itu tanpa ragu. "Helena mau adik bayi! Helena bosan cuma main sama Piko terus. Piko kan gak bisa diajak main boneka, Piko cuma bisa diajak terbang."
*ROARRR...*
Piko yang berbaring di rumput menggeram halus, seolah-olah tersindir dengan ucapan tuannya, membuat suasana teras makin hidup.
*Uhuk!*
Cindy yang baru saja hendak menyeruput teh hangatnya seketika tersedak pelan. Wajah cantiknya langsung memerah padam sampai ke ujung telinga. Ia menaruh cangkir tehnya dengan agak terburu-buru hingga berdentang pelan di atas meja kayu.
"H-Helena..." kata Cindy gagap, mengusap bibirnya dengan tisu, matanya membelalak menatap putrinya. "K-kamu bicara apa, sayang? Adik bayi?"
"Iya, Bunda!" Helena mengangguk mantap, lalu melompat kecil dan naik ke atas pangkuan Damian. Ia melingkarkan tangan mungilnya di leher ayahnya. "Papa kan kuat! Papa bisa terbang, Papa bisa buat es, Papa juga bisa lawan iblis! Masa buatkan Helena adik bayi aja Papa gak bisa?"
*Bffft...*
Damian yang biasanya selalu bersikap dingin, angkuh, dan penuh kendali, seketika membeku. Seringai tipis yang sangat jarang terlihat mendadak terukir lebar di bibirnya. Tatapan mata birunya yang seksi dan jahil langsung bergeser menatap Cindy yang makin salah tingkah di depannya.
"Dengar itu, *mijn liefde*?" bisik Damian dengan suara beratnya yang dalam dan parau, menahan tawa jantan di tenggorokannya. "Putri kita meragukan kemampuan Papanya."
"Damian! Jangan dilayani!" omel Cindy setengah berbisik, memelototi suaminya dengan pipi yang kian merona merah.
Damian justru makin menikmati kepanikan istrinya. Ia mengusap rambut hitam Helena dengan penuh kasih sayang, menundukkan kepala untuk menyejajarkan wajahnya dengan putri kecilnya.
"Helena mau adik laki-laki atau adik perempuan?" tanya Damian santai, memprovokasi suasana.
"Emm..." Helena mengetuk jarinya di dagu, berpura-pura berpikir keras. "Perempuan deh, Pa! Supaya bisa Helena kuncir rambutnya dan diajak main masak-masakan. Tapi kalau laki-laki juga gak apa-apa, nanti bisa diajarin naik punggung Piko sama Papa!"
"Damian Van De Berg, stop!" potong Cindy cepat, berdiri dari kursinya sambil membetulkan letak daster bahagian bawahnya. Wajahnya benar-benar sudah membara karena malu. "Helena, adik bayi itu gak bisa langsung ada begitu saja, sayang. Ada... er... prosesnya. Dan Helena kan masih kecil, harus fokus sekolah dulu."
Helena miringkan kepalanya, menatap ibunya polos. "Tapi kata Tante di sekolah, kalau minta adik bayi tinggal minta sama Papa dan Bunda, terus nanti Bunda berdoa, nanti adiknya tumbuh di dalam perut Bunda seperti Helena dulu. Iya kan, Pa?"
Damian kekeh rendah, suara tawa seksi yang membuat dada Cindy makin berdebar tak karuan. Pria itu menurunkan Helena dari pangkuannya dengan lembut, lalu mengusap kepala putrinya.
"Tante di sekolahmu benar, sayang," kata Damian dengan nada bicara yang teramat manis namun sarat akan maksud terselubung. "Tapi Bunda butuh diyakinkan dulu."
Damian bangkit berdiri dari sofanya. Tubuh jangkungnya yang tegap dan berwibawa melangkah mendekati Cindy. Tanpa ragu, di hadapan Helena, Damian melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Cindy dari belakang, menarik tubuh hangat istrinya menyatu dengan dadanya yang dingin. Ia menunduk, menyandarkan dagunya di bahu Cindy dan berbisik tepat di telinganya.
"Bagaimana, Nyonya Van De Berg? Putri kita sudah memberikan perintah mutlak. Dan kau tahu... saya tidak pernah menolak keinginan Helena," bisik Damian parau, aura dinginnya yang menenangkan mengelus kulit leher Cindy.
Cindy menyiku perut tegap Damian pelan, meski ia tidak benar-benar menolak dekapan suaminya. "Kamu ini ya... sengaja banget manfaatkan situasi."
"Saya hanya menjadi suami dan ayah yang patuh," sahut Damian dengan seringai tampannya, lalu mengecup pipi Cindy yang hangat dan merona.
Helena yang melihat kedua orang tuanya berpelukan langsung bertepuk tangan gembira. "Hore! Berarti Helena sebentar lagi punya adik bayi, kan?"
Cindy akhirnya tidak bisa menahan senyumannya lagi. Rasa malu di wajahnya perlahan berganti menjadi kehangatan yang memenuhi seluruh dadanya. Ia menoleh, menatap mata biru Damian yang memancarkan rasa cinta dan kepemilikan abadi yang tak pernah luntur seiring berjalannya waktu.
Setelah melewati neraka, darah, dan ancaman dimensi di masa lalu, permintaan sederhana dari putri mereka hari ini adalah bukti nyata bahwa kehidupan mereka kini benar-benar telah dipenuhi oleh kedamaian dan kebahagiaan yang sempurna.
"Nanti kita bicarakan lagi ya, anak pintar," ucap Cindy lembut sambil mengacak gemas rambut Helena.
"Asyik! Helena mau kasih tahu Piko dulu!" seru Helena riang, lalu berlari melompat ke arah pekarangan untuk memeluk leher Harimau Putihnya.
Damian makin mempererat pelukannya di pinggang Cindy, mengecup pelipis istrinya dengan lumatan yang dalam dan hangat. "Jadi... kapan kita mulai prosesnya, *mijn liefde*?"
Cindy terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Damian, membiarkan kehangatan dan keabadian cinta mereka membungkus sore yang indah itu di rumah kolonial mereka.
TAMAT