Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Di Sabtu Pagi
" Ya Allah, apa yang terjadi padaku, apa yang dikatakan Dinda itu semua benar, aku gak ada harga diri, aku bermain api, tapi kanapa semua Engkau permudah Ya Allah, kenapa malam itu aku tidak bisa menahan diri untuk tidak keluar ?"
Winta menutup wajahnya dengan bantal kemudian menangis.
Seharian Winta tidak keluar dari kamar sehingga memancing tanya cucu dan menantunya.
Dinda menelpon kakaknya Widi untuk datang kerumah.
Tangisan Winta di balik bantal berlanjut hingga sore. Di luar, suara tawa kecil cucunya dan denting piring dari area dapur terus terdengar, tetapi Winta sama sekali tak berani melangkah keluar. Rasa malu, bersalah, dan tertekan bertumpuk menjadi satu, hingga kepalanya terasa pening luar biasa.
Pukul empat sore, ketukan pelan di pintu kamar terdengar. Suara Widi, anak sulungnya, menyapa dari luar.
"Mama ? Ini Widi. buka pintunya?"
Pintu terdorong pelan. Widi masuk dengan wajah cemas, menatap mama nya yang terbaring lemah dengan mata sembap dan wajah pucat pasi.
Di belakang Widi, Dinda berdiri tegak dengan menyilangkan tangan, menatap sang mama tanpa ekspresi.
" Mama kenapa? Kata Dinda dari pagi mama nggak keluar kamar, nggak makan sama sekali," ujar Widi panik sambil duduk di tepi ranjang dan memegang dahi mamanya.
"Dinda, mama sakit apa?"
"Nggak sakit apa-apa kok, kak "
sahut Dinda datar.
"Mama cuma lagi mikirin perbuatannya sendiri."
Winta bertumpu pada kedua tangannya, mencoba duduk meski kepalanya terasa berputar.
"Dinda... tolong, jangan gitu..."
"Kenapa, Ma? Kenapa harus disembunyiin dari kak Widi?"
Dinda maju satu langkah, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang kembali naik.
"Biar Kakak tahu sekalian, gimana kelakuan mama di belakang kita semua!"
"Dinda! Jaga bicaramu!"
potong Widi kaget.
"Ada apa sebenarnya ini?"
"Mama masih berhubungan sama Pak Rangga, !"
seru Dinda, kali ini napasnya memburu.
"Pak Rangga! Pria yang sudah beristri! Mama panggil dia 'Abi', dia panggil Mama 'Umi'. Lucu kan, kak ? Di umur Mama yang sekarang, Mama malah sibuk merusak rumah tangga orang lain!"
"Dinda, cukup..."
bisik Winta lirih, air matanya kembali menetes deras.
"Mama ngaku salah, Dinda... Mama khilaf..."
"Khilaf itu sekali, Ma! Kalau berbulan-bulan chatting-an, janjian keluar , itu bukan khilaf, tapi sengaja!"
Dinda menunjuk ponsel Winta yang tergeletak di meja.
"Mama selalu minta Dinda jadi anak yang solehah, menjaga kehormatan keluarga. Tapi Mama sendiri yang lempar kehormatan itu ke tempat sampah!"
"Kamu nggak pernah tahu rasanya jadi Mama, Dinda!"
jerit Winta akhirnya pecah, mencoba membela diri di antara isaknya.
"Mama kesepian setengah mati sejak ayahmu meninggal! Mama cuma ingin ada yang nanya kabar Mama, ada yang merhatiin Mama!"
"Tapi bukan sama suami orang, Ma!"
balas Dinda tak kalah keras.
"Ada Dinda! Ada cucu Mama! Apa kehadiran kami kurang buat Mama?! Apa kami nggak ada artinya sampai Mama harus nyari perhatian dari pria beristri?!"
"Dinda, bersikaplah lebih tenang sedikit!"
sela Widi menengahi, memegang lengan adiknya.
"Biarkan mama menjelaskan dulu."
"Penjelasan apa lagi, kak?!"
Dinda memotong cepat, matanya memerah menahan tangis kekecewaan.
"Semua bukti udah jelas! Dinda cuma mau Mama sadar dan putusin hubungan haram itu sekarang juga! Sebelum istri Pak Rangga datang melabrak ke rumah ini dan bikin malu kita sekeluarga!"
Winta mencoba berdiri dari tempat tidur untuk meraih tangan putrinya.
"Dinda... maafin Mama, Nak... Mama mohon..."
Namun baru dua langkah melangkah, pandangan Winta mendadak gelap. Dadanya terasa sangat sesak seolah kehabisan udara, dan keseimbangannya hilang seketika.
"Mama!"
jerit Widi.
Tubuh Winta ambruk ke lantai sebelum sempat menyentuh jemari Dinda. Suara benturan tubuhnya dengan lantai kamar membuat Dinda berteriak histeris, kepanikan seketika meruntuhkan seluruh amarahnya.
Bersambung.