Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : Kebab Pinggir Jalan
Tagihan 120 juta itu sudah dibayar lunas dengan gesekan kartu hitam legam milik Rendy.
Wajah Kevin Mahardika masih pucat pasi seperti mayat. Ia duduk terpaku di kursinya, menatap piring Blue Lobster yang bahkan belum ia sentuh. Ia kalah. Telak. Bukan hanya kalah uang, tapi kalah wibawa di depan wanita yang selama tujuh tahun ia coba lupakan.
Rendy berdiri dengan tenang. Ia tidak menatap Kevin lagi. Bagi Rendy, Kevin sudah selesai.
Ia mengulurkan tangannya pada Clarissa. "Sudah kenyang, sayang?"
Clarissa yang dari tadi menahan air mata haru karena kalimat Rendy yang Istri saya alergi makan malam dengan pria yang bukan suaminya, langsung mengangguk cepat. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Rendy yang hangat dan besar itu.
"Ayo pulang, Mas."
Mereka meninggalkan Sky Lounge. Meninggalkan Kevin sendirian dengan dua piring lobster yang mendingin dan rasa malu yang membakar harga dirinya.
Di dalam lift, hanya ada mereka berdua. Clarissa masih menggenggam tangan Rendy erat-erat. Tidak ada kata-kata. Hanya suara detak jantung mereka yang berpacu.
Begitu pintu lift terbuka di basement, Clarissa pikir Rendy akan membawanya ke mobil Alphard hitam yang sudah menunggu. Tapi ternyata tidak.
Rendy malah menariknya ke arah motor NMax tua yang terparkir di pojokan basement. Motor yang sudah tiga tahun mereka pakai saat masih tinggal di gudang.
"Mas... kita naik ini?" tanya Clarissa terkejut.
Rendy tersenyum. Senyum tulus pertamanya malam ini. Bukan senyum Presdir yang dingin, tapi senyum Rendy yang dulu, menantu miskin yang selalu menambal ban motornya sendiri.
"Aku janji sama diriku sendiri, kalau malam ini kamu tetap pilih aku daripada proyek 50 miliar itu, aku akan bawa kamu ke tempat pertama kali kita kencan. Kamu masih ingat?"
Clarissa terdiam. Matanya langsung berkaca-kaca.
Tentu saja ia ingat.
Tiga tahun lalu. Saat mereka baru menikah dan tidak punya uang untuk makan di restoran. Rendy membawa Clarissa ke sebuah gerobak kebab pinggir jalan di dekat kampus mereka dulu. Kebab 15 ribu yang dibagi dua.
"Tukang kebab Pak Haji Madiun masih ada gak ya, Mas?" bisik Clarissa pelan.
"Masih. Aku sudah cek tadi siang," jawab Rendy sambil menyodorkan helm butut yang sudah ia lap bersih.
Tanpa ragu, Clarissa yang masih memakai gaun hitam mahal seharga jutaan rupiah itu, langsung memakai helm ojek itu dan naik ke atas motor tua Rendy. Gaun mahalnya terangkat sedikit, tapi ia tidak peduli.
Motor itu melaju membelah kemacetan Jakarta malam itu. Melewati gedung-gedung tinggi tempat Sky Lounge berada, menuju ke sebuah jalan kecil di daerah Blok M yang penuh dengan lampu kaki lima.
Gerobak Kebab Pak Haji Madiun masih ada. Masih sama seperti tiga tahun lalu. Lampunya remang-remang, asap dagingnya mengepul, dan bau bawang bombaynya yang khas.
Pak Haji yang sudah tua itu terkejut melihat mereka. "Loh... Rendy? Clarissa? Ya Allah... kalian... kalian sudah lama tidak ke sini. Kukira sudah pindah ke luar negeri!"
Rendy turun dan membantu Clarissa turun. "Pak Haji, dua kebab ayam seperti biasa ya. Yang sausnya banyak."
Mereka duduk di dua kursi plastik pendek yang sudah reot, di pinggir got. Tidak ada AC. Tidak ada pelayan. Hanya suara motor yang lewat dan tawa para mahasiswa yang sedang nongkrong.
Clarissa menatap kebab 15 ribu yang mengepul panas di tangannya. Lalu ia teringat steak 2 juta milik Kevin dan lobster 120 juta milik Rendy di restoran tadi.
Tadi di Sky Lounge, dengan makanan termahal di dunia, perutnya terasa mual karena tegang dan takut.
Tapi di sini, dengan kebab 15 ribu ini, air liurnya mengalir deras dan hatinya terasa begitu hangat.
"Mas... aku baru sadar," kata Clarissa pelan sambil menggigit kebab itu. Sausnya belepotan di sudut bibirnya.
Rendy menatapnya lembut dan mengulurkan tisu untuk mengelap bibir istrinya. "Sadar apa?"
"Aku lebih bahagia makan kebab 15 ribu dibagi dua sama Mas di pinggir got bau ini, daripada makan steak 2 juta sama Kevin di lantai 55 tadi," bisik Clarissa, air matanya akhirnya jatuh juga. Bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia yang tertahan selama tiga tahun.
Rendy terdiam. Kata-kata itu... adalah kata-kata yang selama tiga tahun ia tunggu dari mulut Clarissa.
Selama tiga tahun ia pura-pura miskin untuk menguji, apakah Clarissa mencintainya karena hati atau karena harta. Dan malam ini, di pinggir jalan dengan kebab 15 ribu, Clarissa memberikan jawabannya.
Rendy tidak bisa menahan diri lagi.
Ia menggeser kursi plastiknya merapat ke kursi Clarissa. Kursi plastik itu berderit.
Lalu, momen sensual aman yang kamu minta itu terjadi.
Clarissa yang sedang tertawa sambil menangis karena kebahagiaan, perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Rendy yang bidang. Bahu yang dulu sering ia sandari saat mereka kehujanan naik motor.
Kepala Clarissa di bahu Rendy. Tawa renyahnya pecah di tengah kebisingan jalanan.
"Aku kangen masa-masa ini, Mas. Masa di mana cuma ada aku dan kamu, tanpa 50 miliar, tanpa Presdir, tanpa semua beban ini," bisik Clarissa di bahu Rendy.
Rendy merangkul punggung kursi plastik Clarissa, sama seperti ia merangkul sandaran kursi di Sky Lounge tadi, tapi kali ini jauh lebih tulus dan hangat. Ia mengecup pelan puncak kepala istrinya.
"Setelah semua ini selesai, kita akan sering-sering ke sini lagi, ya. Cuma kita berdua," janji Rendy.
Mereka tertawa bersama. Clarissa tertawa lepas, tawa yang sudah lama tidak Rendy dengar. Tawa gadis kampus yang dulu jatuh cinta pada kuli bangunan miskin.
Mereka tidak sadar...
Dari seberang jalan, di dalam sebuah mobil Avanza hitam yang kacanya gelap, ada kilatan cahaya kamera.
CEKREK. CEKREK. CEKREK.
Seorang pria dengan topi dan masker sedang memotret mereka dengan lensa telefoto yang sangat panjang. Bukan satu atau dua foto, tapi puluhan foto beruntun.
Foto Clarissa yang memakai gaun mahal tapi duduk di kursi plastik reot.
Foto Presdir Pradipta Group yang baru dilantik, makan kebab pinggir jalan.
Foto Clarissa yang menyandarkan kepala di bahu Rendy sambil tertawa bahagia.
Pria itu tersenyum sinis, lalu membuka laptopnya dan langsung mengirim foto-foto itu ke sebuah grup wartawan infotainment dengan judul:
[BREAKING] PRESIDIR PRADIPTA GROUP MISKIN? BARU JADI PRESIDIR, MAKAN KEBAB 15 RIBU DI GOT BERSAMA ISTRINYA!
Tidak sampai sepuluh menit...
Foto itu viral.
Di TikTok, di Instagram, di X.
Judul-judul berita mulai bermunculan:
"Pencitraan? Presdir Baru Makan Kebab Pinggir Jalan!"
"Dari Sky Lounge 120 Juta ke Kebab 15 Ribu, Ada Apa Dengan Rendy Pradipta?"
Clarissa yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Rendy, tidak tahu bahwa kebahagiaan sederhana mereka malam ini...
...baru saja akan menjadi skandal nasional yang akan menghancurkan reputasi Rendy sebagai Presdir di hari pertamanya menjabat.
Ponsel Rendy bergetar hebat. Nama Bagas muncul dengan puluhan panggilan tak terjawab.
Rendy mengangkatnya.
"Pak! Bapak di mana?! Bapak viral! Foto Bapak sama Bu Clarissa makan kebab di pinggir jalan viral di semua media! Saham kita... saham Pradipta Group turun 2% dalam 10 menit karena investor kira Bapak sedang bangkrut!"
DEG!
Clarissa langsung mengangkat kepalanya dari bahu Rendy. Wajahnya yang tadi bahagia, kini berubah pucat pasi lagi.
Apa yang akan Rendy lakukan?
[TERIMA KASIH 15,0K POPULARITAS]
Makasih 217 komen, 1249 Like, 24 Fans & 20 bintang 5 yang udah baca dari pagi-sore ini! 😭 Popularitas naik 700 sehari karena #KalenderKebab viral! Menurut kalian janin Clarissa kuat nggak setelah baca surat Valerie? Komen "KUAT" biar aku semangat nulis Bab 55! Aku balas malam ini! - Dian Mita