Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan
BAB 20
Jemputan
Pagi hari seperti biasa, Daffa dan Dinda bertukar menjalani aktifitas mereka. Masih belum terbiasa meski pun mereka sudah melihatnya setiap hari. Dan setiap kali habis mandi, wajah mereka selalu saja memerah.
"Daffa, muka mu merah lagi. Apa sabunnya tidak cocok di kulitmu? Atau kamu lagi coba pakai pembersih wajah yang lain?" Tanya Mayang ketika mereka berada di meja makan dan melihat wajah anaknya.
"Nggak kok Ma." Jawab Daffa alias Dinda sambil melanjutkan sarapan pagi mereka.
"Nanti malam kita mau berkunjung ke rumah keluarga Om Bagas. Kamu jangan kemana-mana, ikut kami nanti malam." Ujar Mayang sedikit menekankan.
"Loh, rumah Dinda? Ada apa Ma?"
Dinda yang berada di tubuh Daffa begitu merasa penasaran. Apakah mungkin ini adalah kesalahannya kemarin seperti yang di bahas daffa padanya lewat pesan singkat.
"Nanti juga kamu bakal tahu. Pokoknya jangan pulang terlambat!"
"Lagi banyak tugas Ma, jadi mungkin pulangnya sore."
Dinda beralasan. Karena tidak ada seorang pun yang tahu, kalau Daffa sebenarnya sudah mengajukan cuti kuliah selama 6 bulan.
"Yang penting sebelum maghrib kamu harus di rumah. Selepas Isya', kita mau menemui orang tua Dinda. Oh ya, kamu masih mau pakai motor Mama lagi?"
"Iya. Daffa lagi bosen pake moge."
"Haih, ck! Terus Mama pakai apa dong, Daffa?"
"Mama naik taxi online dulu aja deh ya, mau kemana-mana atau ojol aja murah."
"Masa Mama naik ojol? Kamu aja yang naik ojol."
"Iya deh, iya."
Hampir 2 bulan lebih berada di tubuh Daffa, Dinda sudah mulai hafal dengan sikap kedua orang tua Daffa.
Iya tidak banyak membantah karena pada dasarnya apa yang dikatakan Mayang hampir mirip dengan nasehat ibunya sendiri.
Mayang tersenyum, anaknya menuruti apa katanya. Mayang menyukai perubahan sikap anaknya akhir-akhir ini yang lebih menurut dan tidak banyak protes apalagi membantah. Itu karena Mayang tidak tahu saja, kalau di dalam raga anaknya terdapat jiwa yang tertukar.
"Daffa berangkat Ma, Pa." Pamit Dinda.
Dinda tidak menyalami kedua orang tua Daffa karena ia menyesuaikan sikap Daffa selama ini kepada orang tuanya. Hal itu juga telah di tekankan oleh Daffa sebelumnya, agar tidak terlihat perubahan besar terhadap diri mereka. Begitu lah cara mereka menyembunyikan situasi yang sedang mereka hadapi. Mau di ungkapkan fakta yang sebenarnya pun, tidak mungkin ada yang percaya kepada mereka. Begitu pemikiran Daffa dan Dinda.
Dinda memesan ojol untuk pergi ke kampus Daffa. Meski tidak mengikuti perkuliahan, dirinya hanya bersantai di bawah pohon rindang sambil menunggu jam sekolahnya usai.
Satu persatu mahasiswa yang kenal dengan Daffa tidak henti menyapanya. Bahkan ada beberapa yang tersenyum malu-malu dan histeris kala ia membalas sapa dan tersenyum kepada mereka.
Di kejauhan Tiwi melihat adegan itu. Ia cemberut, merasa tidak suka Daffa berubah ramah kepada semuanya. Tiwi lebih menyukai Daffa yang cool dan lebih banyak diam, dan hanya kepadanya dan Evan saja Daffa mau berbicara.
"Daff, lu banyak berubah ya." Kata Tiwi, begitu menghampiri.
Dinda yang berada dalam tubuh Daffa hanya melirik sekilas pada Tiwi tanpa ingin membahas apa yang baru saja gadis itu ucapkan.
"Lu beneran nih, nggak main bola lagi?" Tanya Evan yang juga datang bersamaan dengan Tiwi.
"Iya, sementara. Gue lagi sibuk banget soalnya. Terus gue juga lagi punya olah raga baru yang lebih seru." Jawab Dinda yang berada di tubuh Daffa.
"Olah raga apa?"
"Olah raga apaan?"
Tiwi dan Evan nyaris serempak bertanya.
"Kompak ya kalian, kenapa nggak jadian aja." Pancing Daffa alias Dinda.
Wajah Evan memerah oleh ucapan Dinda. Sedangkan Tiwi tampak tidak senang dan terlihat biasa saja.
"Gue mau olahraga lari seputaran komplek aja." Kata Dinda lagi.
Evan nyengir.
"Apa asiknya, lari keliling komplek doang?" Tanya Tiwi.
"Asin dong, kalau larinya bareng gebetan."
Celetuk Dinda yang berhasil membuat Tiwi cemberut dan Evan sumringah.
"Wahh, akhirnya sahabat gue. Ada juga yang lu taksir. Siapa?" Tanya Evan penasaran.
"Ada deh."
Tiwi menatap sinis pada Daffa yang sebenarnya adalah Dinda.
"Jangan bilang ABG kecentilan itu?!" Kata Tiwi.
Darah Dinda naik ke ubun-ubun. ABG kecentilan yang dimaksud Tiwi tentulah dirinya saat mereka berdebat di ruang tamu rumah Daffa waktu itu.
Kan.., gara-gara Abang nih, gue jadi di hujat begini!
Dinda menganggapi Tiwi dengan senyuman getir.
"Wahh, dapat daun muda lu Daff?!" Seru Evan.
"Dih, lu kira gue kakek-kakek?!"
"Kenalin dong..." Pinta Evan.
"Ogah! Ntar lu naksir lagi."
Padahal, Dinda mengatakan hal itu hanya untuk memancing dan memanasi Tiwi. Namun, sepertinya kedua sahabat Daffa justru menanggapi ucapannya dengan serius.
Bagaimana tidak? Selama berteman dengan Daffa, mereka tidak pernah sekalipun melihat sahabatnya itu benar-benar terlibat dengan seorang perempuan. Daffa memang sering didekati banyak cewek, tetapi tidak pernah ada satu pun yang berhasil membuatnya tertarik. Karena itu, ketika mendengar Daffa sudah memiliki seseorang, keduanya tentu saja langsung menganggapnya serius.
Wajah Tiwi semakin muram. Ia pun beranjak berdiri dan meninggalkan dua lelaki sahabatnya itu.
Dinda melirik Tiwi yang menjauh dan tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak peduli jika Tiwi marah kepada Daffa, itu lebih baik menurutnya.
"Kapan lu mau nembak dia?" Tanya Dinda yang berada di tubuh Daffa kepada Evan.
"Beneran lu udah punya gebetan?" Evan balik bertanya.
"Anggap aja iya."
"Kalau gitu, nunggu lu bawa cewek lu kemari dan kenalin ke kita-kita." Ujar Evan.
"Dah ah. Gue mau pulang."
"Nggak nongkrong dulu?" Tanya Evan.
"Gue ada janji."
"Cie... ma gebetan nih?"
"Sok tahu!"
Evan hanya bisa manyun karena sahabatnya masih saja merahasiakan siapa sebenarnya gebetannya. Rasa penasaran yang semakin besar membuatnya ingin terus bertanya, tetapi ia tahu percuma memaksa jika Daffa belum mau bercerita.
Akhirnya, mereka pun berpisah di sana. Evan kemudian melangkah pergi untuk menyusul mencari keberadaan Tiwi, sementara Daffa memilih melanjutkan kegiatannya sendiri.
***
Sementara itu, di tempat berbeda, Daffa sedang bersiap menunggu kedatangan Dinda yang saat ini berada di dalam tubuhnya. Kali ini, ia sudah tidak sabar ingin membungkam mulut ciwi-ciwi yang selama ini sering mengusik Dinda. Bukan dengan perdebatan atau keributan, melainkan dengan satu hal yang tidak mungkin mereka abaikan, penampilannya.
Daffa menyadari dirinya merupakan salah satu makhluk bumi lainnya yang berwajah tampan. Untuk itu demi Dinda ia pun rela kali ini harus sedikit pamer dan menyombongkan diri atas rupawan yang ia miliki.
“Beneran nih nggak mau gue anter?” tanya Kania sambil menghentikan sepeda motornya tepat di depan Daffa.
“Jemputan gue bentar lagi datang. Katanya udah otw.”
Kania mengangkat alis. “Serius lu dijemput tetangga lu itu?”
Daffa hanya mengangguk santai.
“Lu jangan naksir, pokoknya.”
Ancaman itu keluar begitu saja dari mulut Daffa dengan wajah datar. Setelah itu, ia langsung berbalik, meninggalkan Kania yang masih mematung di atas motornya.
Kania mendengkus kesal.
“Dih, siapa juga yang mau naksir gebetan teman sendiri!” protesnya sebelum akhirnya hendak melajukan sepeda motornya pergi.
Tidak jauh dari tempat Daffa berdiri, Leon baru saja memasuki area parkiran. Pemuda itu berjalan santai, sementara beberapa siswi yang selama ini sering mengusik Dinda juga masih berada di sekitar sana.
Daffa tetap cuek ketika Leon sempat melirik ke arahnya. Di mata Leon, sosok yang berdiri di sana tentu saja adalah Dinda.
Hal itu rupanya langsung membuat para gadis tersebut tidak senang. Namun kebencian mereka bukan ditujukan kepada Leon. Mereka justru kesal kepada Dinda karena gadis itu kembali berhasil mencuri perhatian Leon.
Daffa yang menyadari hal tersebut hanya diam. Sudut bibirnya perlahan terangkat ketika dari kejauhan ia sudah melihat sosok yang sangat ia kenal, yaitu tubuh aslinya sendiri.
Tubuhnya yang kini ditempati jiwa Dinda sedang berjalan mendekat ke arah parkiran.
Daffa sengaja berdiri di tempat yang mudah terlihat. Dan begitu Dinda berhenti tidak jauh darinya, persis seperti yang ia harapkan, beberapa pasang mata langsung tertuju kepada sosok Dinda yang kini berada di dalam tubuhnya.
Senyum Daffa pun semakin lebar.
Akhirnya, waktunya pamer tiba.
Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi membuat para gadis itu tahu, bahwa Dinda tidak serendah yang selama ini mereka kira.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu