Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Bagaimana Bisa?
“Ponselku sudah ada di kamar. Apa Louis datang kemari dan menyimpannya?”
Takut pria itu akan datang lagi ke kamar ini, Karissa segera berlari menuju pintu.
Ia mengunci pintu kamar dengan tangan bergetar.
Setelah itu, ia bersandar di pintu sambil mengeratkan jubah mandi yang dikenakannya.
Baru juga menarik napas, tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berdering. Suara dering yang cukup nyaring membuatnya terkejut.
“Karina!” gumamnya ketika melihat nama sang kakak muncul di layar ponsel.
Tanpa membuang waktu, ia segera menekan tombol hijau.
Terdengar suara panik dari seberang telepon.
“Kariss .... Kau di mana? Cepat kemari! Kondisi Ibu memburuk! Sekarang Ibu ditangani para dokter!”
“Hah, Ibu? Apa yang terjadi pada Ibu? Bukankah kemarin kondisinya sudah mulai membaik?”
“Kata dokter, ada penggumpalan darah di otak! Jadi harus segera dilakukan operasi,” jelas kakaknya dengan panik.
“Apa uang tabungan keluarga kita masih ada?” tanya Karina tiba-tiba. Dari panik, kini suaranya terdengar lebih tenang.
“Kalau masih ada, coba transfer ke rekeningku sekarang! Aku butuh untuk uang muka operasi Ibu!”
“Hah? Transfer ke rekeningmu? Kenapa harus ke rekeningmu?” tanya Karissa, bingung.
"Kenapa tidak langsung ke nomor rekening rumah sakit saja?"
“Aishhh, kau ini! Sama kakak sendiri juga tidak percaya! Cepat transfer dua puluh juta sekarang!” ucap Karina dengan tidak sabar.
“Kalau tidak ... kau yang harus disalahkan kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibu!”
Mendengar ancaman dari kakaknya, Karissa tidak punya pilihan lain. Ia segera membuka Mbanking d HP-nya.
“Baiklah! Sekarang aku transfer ke rekeningmu!”
“Nah, gitu dong! Dua puluh lima juta, ya! Awas, jangan sampai salah!”
“Hah? Bukannya tadi kau bilang dua puluh juta? Kenapa sekarang jadi berubah?” tanya Karissa tidak mengerti.
“Dua puluh lima juta,” tegas Karina. “Aku tunggu sekarang!”
Klik!
Sambungan ditutup dari seberang.
Karissa hanya bisa mengeratkan gigi, menahan kekesalan pada kakaknya sambil menekan beberapa angka di layar ponsel.
Ini bukan kali pertama Karina meminta uang dengan alasan biaya pengobatan Ibu di rumah sakit. Biasanya, setelah menerima uang dari Karissa, kakaknya selalu menghilang entah ke mana. Sementara biaya pengobatan Ibu ... tetap Karissa yang harus membayarnya.
***
Dua jam kemudian, Karissa sudah sampai di rumah sakit. Ia segera berjalan menuju lantai empat—tempat ibunya dirawat.
Di luar kamar, Karina sedang duduk di bangku sambil menunduk. Dari raut wajahnya, terlihat seolah-olah dia sangat sedih dan lelah.
“Karin, bagaimana kondisi Ibu?”
Karissa mempercepat langkahnya menghampiri sang kakak dengan wajah khawatir.
Karina mendongak, menatap adiknya dengan penuh penyesalan.
“Ibu masih kritis. Dokter bilang, Ibu belum sadar, jadi belum bisa dilakukan tindakan operasi!”
“Hah .... Lalu, uang yang tadi aku kirim?” tanya Karissa. “Jangan bilang kau tidak membayar biaya pengobatan Ibu!”
“Kau tenang saja, nanti pasti aku bayarkan!” Karina berdiri dan memegang kedua bahu adiknya.
“Sekarang, kau yang jaga Ibu, ya! Aku pergi dulu sebentar!”
Tanpa menunggu persetujuan dari adiknya, Karina segera pergi.
Karissa hanya berdiri terpaku, menatap punggung kakaknya yang sudah menjauh.
Entah mengapa, kali ini ada perasaan tidak enak yang kembali muncul di dalam hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Karissa mulai bertanya-tanya...
'Sebenarnya, ke mana uang yang selama ini aku berikan pada Karin?'
***
Satu minggu telah berlalu.
Pagi ini, seperti biasa, Louis keluar dari kamarnya hanya mengenakan pakaian santai. Berbeda dengan ayahnya yang setiap hari selalu memakai pakaian rapi dengan sepatu hitam yang mengilap. Keseharian Louis hanya berdiam diri di rumah tanpa mau bekerja.
Untuk apa pergi ke kantor kalau uang dari ayahnya tidak akan pernah habis?
Itulah yang selalu ada di pikirannya.
Di lantai satu, Louis melihat ayahnya sedang duduk di meja makan, menyantap sarapan paginya sendirian. Pria itu menatap kiri dan kanan, seolah sedang mencari seseorang.
Tuan Lee kemudian menyapa,“Louis ... sudah bangun? Ayo makan bersama Ayah.”
Louis segera berjalan menuju meja makan, lalu duduk di hadapan ayahnya.
“Bagaimana pekerjaan Ayah di kantor? Apa semuanya berjalan lancar?” tanyanya sekadar basa-basi.
Matanya menatap piring yang ada di atas meja.
Hanya ada dua piring di sana. Piring milik Tuan Lee dan satu lagi untuk dirinya.
Louis seolah sedang mencari satu piring lagi.
“Baik!” Tuan Lee mengangguk sambil memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut.
Setelah mengunyah, ia bertanya, “Kapan kau akan pergi ke kantor untuk menggantikan Ayah?”
“Oh, itu ....” Louis menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Nanti, kalau Ayah benar-benar sudah tidak mampu pergi kekantor lagi,” jawabnya sambil bercanda.
“Apa kau sedang menyumpahi Ayah?”
“Hehe, tentu saja tidak! Aku ingin Ayah selalu sehat,” jawab Louis jujur.
“Oh, iya, Yah!” Louis tiba-tiba teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, istri baru Ayah itu sekarang pergi ke mana?”
Louis pura-pura tidak mengenal Karissa.
Ayahnya pun tidak tahu kalau wanita itu adalah mantan kekasih putranya.
“Aku lihat, wanita itu hanya datang satu kali saja. Selama satu minggu ini, dia tidak ada lagi. Apa kalian bercerai?”
Semoga saja seperti itu.
“Tidak!” jawab Tuan Lee santai. “Menikah baru satu minggu, masa sudah bercerai lagi? Haha!”
‘Hah, tidak?’Louis sedikit kecewa.
Padahal, ia berharap mereka segera berpisah.
“Lalu, dia pergi ke mana?” tanyanya tidak sabar.
“Selama satu minggu ini, dia berada di rumah sakit!”jawab Tuan Lee.
“Apa ...?”Louis langsung terdiam sambil menatap ayahnya.
“Di rumah sakit? Si-siapa yang sakit?”tanyanya dengan bingung.
‘Karissa sakit?’
‘Tapi, sakit apa?’
Louis bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak mengerti mengapa Karissa tidak pernah kembali ke rumah ini selama satu minggu terakhir.
‘Apa dia sakit karena perbuatanku malam itu?’
‘Dia masih marah atau tidak, ya?’
Jika Karissa marah, itu sangatlah wajar.
Malam itu, pertengkaran mereka telah meninggalkan luka yang tidak mungkin dilupakan begitu saja.
Namun, jawaban Tuan Lee berikutnya justru membuat Louis terkejut.
“Ibunya mengalami kecelakaan tiga bulan yang lalu. Sekarang masih koma dan dirawat di rumah sakit!”
“Apa?”
Louis menatap ayahnya dengan wajah tidak percaya.
“Ibunya kecelakaan?”
“Ya!”
“Koma?”
“Ya!”
“Tiga bulan yang lalu?”
Tuan Lee mengangguk lagi sambil mengunyah makanannya.
“Bagaimana bisa?”
Kata demi kata keluar dari mulut Louis untuk memastikan kebenarannya.
Tiga bulan yang lalu, Louis dan Karissa masih berhubungan. Louis tidak pernah mendengar sedikit pun tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Karissa.
Dan malam itu ... Karissa bilang kalau dia dan Tuan Lee sudah menikah di rumahnya serta disaksikan oleh kedua orang tua.
Tapi mengapa sekarang ibunya justru dirawat di rumah sakit?
‘Apa dia berbohong?’
“Ya, tiga bulan yang lalu kedua orang tuanya mengalami kecelakaan,” lanjut Tuan Lee setelah menelan makanannya.
“Ayahnya meninggal dunia, sedangkan ibunya koma. Rumahnya harus dijual untuk biaya perawatan ibunya. Dan sekarang Kariss tidak punya tempat tinggal!”
Lee menarik napas. Lalu melanjutkan,“Itulah alasan Ayah menikahinya dan meminta Kariss tinggal di rumah ini#”
Mendengar hal itu, Louis terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
Pikirannya sibuk mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut ayahnya.
Untuk pertama kalinya, keraguan mulai muncul dalam dirinya.
'Mungkinkah selama ini Kariss berbohong?'