NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Tuntutan 29.

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Suara nyaring itu menandakan dimulainya Ujian Tengah Semester (UTS) hari pertama.

Koridor SMA Pancasila yang biasanya bising oleh gelak tawa, mendadak senyap.

Semua murid berjalan terburu-buru dengan buku catatan terlipat di tangan masing-masing.

Di ujung koridor dekat ruang kepala sekolah, Affan berdiri dengan wajah datar. Di hadapannya, Pak Surya, kepala sekolah SMA Pancasila, melipat tangan di dada dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.

"Affan, saya panggil kamu ke sini sebelum ujian dimulai hanya mengingatkan kamu akan satu hal," ucap Pak Surya, suaranya berat dan penuh penekanan. "Rahasia pernikahan muda kamu dan Mona sudah telanjur bocor ke telinga beberapa pihak sekolah. Kamu tahu sendiri, posisi kalian berdua sangat rentan."

Affan mengepalkan tangannya di dalam saku celana abu-abunya. "Saya tahu, Pak."

"Bagus kalau kamu paham. Kesepakatan antara orang tua kalian dan pihak ketua yayasan sudah bulat. Kamu adalah juara tiga bertahan paralel. Nilaimu sama sekali tidak boleh turun satu poin pun. Dan untuk Mona..." Pak Surya menghela napas panjang, "dia harus masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya. Jika target itu meleset, pihak yayasan tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan kalian berdua demi menjaga nama baik sekolah. Paham?"

Lingga mendadak syok dengan mata membola sekaligus. Kemarin-kemarin kesepakatan itu dua puluh besar, sekarang targetnya malah naik jadi seluluh besar. "Paham, Pak. Kami akan buktikan," jawab Affan tegas, meski di dalam dadanya ada gemuruh kecemasan yang luar biasa.

Begitu lembar soal matematika dibagikan di kelas, suasana berubah mencekam. Affan melirik ke barisan bangku di sebelah kanan belakang. Di sana, Mona sedang menggigit bibir bawahnya, menatap lembar soal kalkulus seolah-olah itu adalah surat ancaman. Wajah gadis itu pucat pasi.

Affan tahu betul kemampuan Mona. Mona bukan gadis bodoh, dia hanya terlalu malas untuk urusan angka. Namun kali ini, kemalasan yang bersarang dari diri Mona bisa menghancurkan masa depan mereka berdua.

Setelah tiga jam penuh siksaan mental berlalu, bel pulang berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar dengan keluhan yang saling bersahutan. Affan langsung menghampiri meja Mona, menarik kursi di hadapannya, lalu menatap gadis itu lekat-lekat.

"Gimana tadi?" tanya Affan langsung.

Mona meletakkan kepalanya di atas meja, mengeluh pelan. "Kepala saya mau pecah mas. Rumus yang semalam dipelajari mendadak hilang semua dari otak saya."

"Pak Surya nagih janji yayasan tadi pagi," kata Affan pelan, membuat Mona langsung menegakkan tubuhnya dengan mata membelalak. "Terus?"

"Kita enggak punya pilihan. Pulang sekolah, langsung ke rumah. Kita belajar sampai subuh kalau perlu."

"Sampai subuh? Mas... Jangan becanda, saya—"

"Libur dulu stalking Carmen nya, libur dulu main mobile legends nya. Sampai kita lulus, okey! Gak lama, tinggal empat bulan lagi" Potong Lingga cepat.

'Gak lama matamu!' Batin Mona menjerit. Akibat menikah muda terasa nya baru sekarang, sebuah kebebasan sebagai anak muda mulai terampas satu persatu. Hanya karena bayang-bayang tuntutan yang mencekik.

Mona pulang ke rumah, Satu hal yang Mona perhatikan hingga sekarang— Mulut-mulut pedas di sekolah itu satu persatu hilang, grup chat angkatan yang tadinya menghakimi, kini berubah jadi pembahasan jadwal ujian dan soal kisi-kisi UTS. Rendy yang tadinya menggila berubah jadi cuek dan tak mau kenal Mona. Selly yang gila mengejar Affan, fokusnya berubah biar nilai ujian nya tetap berada di jejeran Affan yang berada di peringkat tiga paralel. Selly sendiri berada di peringkat dua.

Malam harinya, meja makan di rumah minimalis mereka berubah fungsi menjadi meja belajar darurat. Buku-buku tebal, tumpukan kertas cakar-cakaran, laptop, dan dua cangkir kopi hitam instan berserakan di mana-mana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

"Bukan kayak gitu caranya, Mona," Affan mengoreksi, menggeser kertas milik Mona ke arahnya. Tangan Affan dengan tangkas menuliskan jalan penyelesaian yang lebih singkat. "Lihat ini. Kalau kamu pakai rumus turunan yang ini, kamu enggak perlu muter-muter sampai dua halaman."

Mona memperhatikan jemari Affan yang bergerak lincah. Rasa kantuk yang luar biasa mulai menyerangnya. Matanya terasa berat, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut karena dipaksa menghafal rumus Fisika dan Kimia sekaligus.

"Mas... ngantuk banget. Istirahat lima menit ya?" rengek Mona, menyandarkan dagunya di atas tumpukan buku sosiologi.

"Enggak ada lima menit, Mona. Besok itu ujian Fisika sama Sejarah. Kamu tahu sendiri nilai Fisika kamu di kuis kemarin cuma dapet lima puluh," tegas Affan tanpa pengampunan. Ia mencolek sedikit sisa kopi dingin dan mengoleskannya ke kelopak mata Mona.

"Maaaaas! Affan, perih anjir!" jerit Mona kesal, langsung terduduk tegak sambil mengucek matanya yang mendadak segar karena terkejut.

"Biar kamu bangun. Dengar, Mona," Affan mengubah nadanya menjadi lebih lembut, menatap tepat ke dalam manik mata Mona. "Saya enggak mau kita dikeluarkan dari sekolah ini. Saya enggak mau pernikahan kita dianggap sebagai alasan kita berdua hancur. Kita harus tunjukin ke kepala yayasan, kalau kita bisa tanggung jawab sama keputusan ini."

Mendengar ucapan Affan, ego Mona yang semula meronta ingin tidur langsung menciut. Ada rasa hangat sekaligus bersalah yang menjalar di dadanya. Affan yang biasanya cuek dan dingin, ternyata berjuang sekeras ini demi mempertahankan status mereka di sekolah.

Mona mengembuskan napas panjang, lalu menarik kembali kertas cakarnya. "Oke. Kasih tahu saya lagi soal hukum Newton yang ketiga tadi. Aku bakal dengerin sampai paham."

Affan tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang membuat jantung Mona berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

Jarum jam terus berputar, melewati angka dua malam. Di bawah pendar lampu meja yang remang, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas dan bisikan-bisikan penjelasan Affan yang sabar, memecah keheningan malam yang dingin. Mereka tahu, taruhan UTS kali ini bukan sekadar nilai di atas kertas, melainkan masa depan pernikahan rahasia yang harus mereka pertahankan.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!