NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:36.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Malam harinya, mereka sudah kembali berkumpul di rumah Bu Marni. Suasana di meja makan kayu terasa begitu hening, berbeda dari malam-malam biasanya yang riuh oleh canda tawa.

Di atas meja, tersaji mangkuk sup ayam hangat dan lauk pauk buatan Bu Marni, namun tak ada satu pun yang berniat memulai percakapan.

Aqil duduk terkulai lemas di pangkuan Abi. Perban putih masih menempel rapi di keningnya. Bocah mungil yang biasanya aktif dan cadel itu kini hanya diam saja, menatap kosong ke arah piring di meja. Wajahnya pucat dan matanya yang sayu sesekali memejam rapat.

"Sakit, Yah... Kening Akil cenut-cenut..." keluh Aqil pelan sekali dengan suara parau, menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke dada bidang sang ayah.

"Iya, Sayang... Tahan sebentar ya, Nanti diminumkan obat pereda nyerinya sama Ayah," bisik Abi penuh kelembutan, mengusap-usap punggung bungsunya.

Abi mengambil sendok, mencoba menyuapkan sedikit bubur halus dan kuah sup hangat ke bibir Aqil. "Ayo, buka mulutnya sedikit ya. Dikit aja biar perutnya ndak kosong."

Namun, Aqil langsung memalingkan wajahnya dan menggelengkan kepala pelan. "Ndak mau, Yah... Pahit, ndak mau makan."

Abi menghembuskan napas pelan, mengerti betul tubuh anak bungsunya masih trauma dan lemas akibat rasa sakit dari luka jahitan itu. Ia tidak memaksakan, melainkan hanya merengkuh tubuh mungil Aqil lebih erat agar merasa nyaman.

Sementara itu, di sisi lain meja, Akbar duduk menunduk diam di samping Bu Marni. Mangkuk nasinya masih utuh, jemari kecilnya meremas ujung bajunya erat-erat.

"Mas Akbar..." panggil Abi lembut. "Makan dulu sana sama Nenek. Tadi Nenek sudah masakin sup kesukaan Mas Akbar."

Akbar mendongak pelan, matanya yang sembap melirik takut-takut ke arah Abi dan Aqil.

"Ayah ndak makan? Akil kok ndak mau makan, Yah?" tanyanya pelan sekali, hampir tak terdengar.

"Adik masih lemas dan pusing, nanti Ayah coba suapi lagi pelan-pelan kalau obatnya sudah masuk," sahut Abi mengulas senyum tulus.

"Mas Akbar makan duluan ya sama Nenek. Makanan Mas harus dihabiskan biar ada tenaga."

Bu Marni merangkul pundak Akbar penuh kasih sayang, mengusap kepalanya pelan. "Ayo, Mas Akbar...sama nenek dulu makannya ya."

Keesokan harinya, matahari pagi baru saja terbit memancarkan sinar hangatnya. Kondisi Aqil sudah jauh lebih membaik, demamnya mereda meski perban putih masih menempel rapi di keningnya. Bocah itu masih beristirahat tenang di dalam kamar bersama Bu Marni dan Akbar.

Abi memutuskan untuk pulang sebentar ke rumahnya. Ia perlu mengambil beberapa pasang pakaian ganti untuk Akbar dan Aqil, sekaligus membersihkan diri.

Abi melangkah masuk ke rumahnya sendiri yang terasa hening. Ia berjalan menuju kamar utama, menyiapkan beberapa potong baju anak-anaknya ke dalam tas kain kecil, lalu menyempatkan diri mandi sebentar.

Usai mandi dan mengenakan kaos polos yang bersih, Abi baru saja mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika ponsel di atas meja nakas mendadak berdering nyaring.

Layar ponsel menayangkan nama ibunya.

Abi buru-buru mengangkat panggilan tersebut. "Iya, Bu? Ini Abi baru selesai mandi, sebentar lagi...."

"Bi! Cepat kamu balik ke rumah sekarang!"

Abi mengerutkan keningnya, firasatnya mendadak tidak enak. "Ada apa, Bu? Aqil kenapa-napa?"

"Bukan Aqil, Bi! Ini... ada tamu tak diundang datang ke rumah!" bisik Bu Marni gusar. "Cepat kamu ke sini sekarang sebelum Ibu ngamuk!"

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Bu Marni. Abi mematung sejenak di tempatnya, dadanya mendadak berdegup kencang oleh tanda tanya besar. Tanpa membuang waktu lagi, ia melempar handuknya ke atas kasur, menyambar tas kain berisi baju anak-anak, dan bergegas melangkah lebar keluar dari rumahnya menuju rumah Bu Marni.

Dengan langkah cepat dan terburu-buru, Abi menyeberang menuju halaman rumah ibunya. Begitu sampai di sana, pandangannya langsung tertumpu pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir di depan teras.

Tanpa membuang waktu, Abi melangkah lebar menerobos pintu depan dan masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, suasana terasa sangat tegang. Bu Marni duduk di salah satu kursi kayu dengan wajah tegang dan napas menahan gusar. Sementara di kursi sebelahnya, tampak sosok wanita berpenampilan modis khas orang kota dengan pakaian bermerek dan tas mahal di pangkuannya.

Dinda. Mantan istrinya.

Dada Abi bergemuruh, matanya menajam menatap wanita yang dulu tega meninggalkannya dan kedua putra mereka demi pria kaya raya.

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Abi langsung.

Dinda yang mendengar suara itu langsung menoleh. Ia mengulas senyum tipis tanpa rasa canggung, lalu berdiri dari duduknya.

"Mas Abi... Akhirnya kamu datang juga," ujar Dinda dengan nada santai.

"Aku ke sini cuma mau ketemu sama anak-anak, Mas. Tapi ibu kamu dari tadi malah nahan-nahan dan ngga bolehin aku lihat mereka."

"Wong stres!" potong Bu Marni.

"Mulutmu itu ya dari dulu selalu mau memfitnah orang! Ndak ada yang nahan-nahan kamu! Akbar itu tadi begitu lihat kamu turun dari mobil, dia sendiri yang ketakutan terus lari masuk ke kamar!" cerca Bu Marni dengan suara bergetar menahan geram.

"Anak-anak itu tahu mana ibu yang beneran sayang, mana wanita asing yang tiba-tiba datang!"

Dinda sempat tertegun, raut wajah cantiknya berubah agak masam mendengar semprotan tajam mantan ibu mertuanya. Namun, ia buru-buru menetralisir raut wajahnya dan menatap Abi dengan pandangan meminta simpati.

"Mas... Tolong dong, bilangin ke Ibu jangan begitu," ucap Dinda halus, berpura-pura menjadi pihak yang terzalimi.

"Bagaimanapun juga aku ini ibu kandung mereka. Aku cuma rindu sama Akbar dan Aqil, Mas. Aku punya hak buat ketemu anak-anakku sendiri."

"Hak?" ulang Abi.

"Hak mana yang kamu maksud, Din? Hak yang dulu kamu lempar begitu saja waktu kamu pergi ninggalin mereka yang masih bayi demi laki-laki kaya itu?"

Dinda tersentak. Bibirnya sedikit terkatup mendengar ucapan menohok dari Abi.

"Anak-anak sudah tenang hidup sama saya dan Ibu di sini," lanjut Abi.

"Mas, kenapa kamu masih berdendam seperti ini?" ujar Dinda dengan nada memelas yang dibuat-buat.

"Dulu aku memang salah, aku mengakuinya. Tapi sekarang aku sudah sadar, Mas. Aku ini ibu yang melahirkan mereka. Berbulan-bulan aku nggak bisa tidur tenang karena selalu memikirkan Akbar dan Aqil."

"Halah! Ndak usah drama di sini, Dinda!" potong Bu Marni.

"tiga tahun kamu ke mana saja? Waktu anak-anak butuh ASI, waktu mereka sakit, waktu Abi banting tulang siang malam... Kamu ke mana?!

Dinda mengabaikan Bu Marni, ia justru melangkah mendekati Abi dan mencoba menyentuh lengan mantan suaminya itu, namun Abi dengan cepat menarik tangannya menjauh.

"Mas Abi, dengarkan aku dulu," desak Dinda.

"Waktu itu aku pergi memang karena menikah sama pria asing dan ikut dia, tapi sekarang aku juga sudah punya karir yang sangat bagus di kota! Aku kerja keras dan sukses, Mas! Ndak seperti kamu yang cuma pasrah jadi petani saja di desa ini. Sekarang aku punya segalanya. Aku ke sini mau bawa Akbar sama Aqil ke kota. Aku bisa kasih mereka kehidupan yang jauh lebih layak, sekolah internasional, baju bagus. Kamu ndak kasihan sama mereka kalau terus-terusan tinggal di desa sama petani seperti kamu?"

Mendengar penuturan yang merendahkan itu, Abi justru terkekeh pelan. Sebuah kekehan dingin yang sarat akan rasa muak.

Rupanya ini alasan sebenarnya. Bukan karena penyesalan tulus, melainkan kesombongan yang ingin ia pamerkan usai merasa berhasil di atas penderitaan orang lain.

"Jadi itu alasanmu datang ke sini? Cuma mau memamerkan karir bagus dan kehidupanmu sama suami asingmu itu, sambil merendahkan hidup saya?" suara Abi terdengar begitu rendah, namun sanggup membungkam ruangan itu seketika.

"Petani yang kamu hina ini, Dinda... adalah orang yang memberi makan anak-anakmu dari rezeki yang halal. Petani ini yang mengusap air mata mereka setiap malam waktu mereka menangis mencari ibunya yang tega pergi," tegas Abi dingin.

"Karir bagus dan kemewahanmu ndak akan pernah bisa membeli air mata serta masa kecil mereka yang sudah kamu tinggalkan."

Belum sempat Dinda membalas ucapan tajam Abi, suara ketukan pintu depan kembali memecah ketegangan di ruang tamu.

Tok... tok... tok...

"Permisi... Mas Abi, Bu Marni..."

Sesosok wanita paruh baya berpenampilan bersahaja melangkah masuk bersama putrinya. Bu Sulastri dan Kayla.

Langkah Bu Sulastri terhenti sejenak begitu matanya menangkap keberadaan Dinda yang berdiri anggun dengan pakaian mewahnya, serta atmosfer tegang yang sangat terasa di ruangan itu.

"Eh... Ada tamu ya, Mas Abi, Bu Marni?" ucap Bu Sulastri ramah namun agak sungkan, melirik sekilas ke arah Dinda.

Bu Marni yang tadinya memerah menahan amarah seketika menghembuskan napas panjang, mencoba mengubah raut wajahnya. Ia menyambut kehadiran Bu Sulastri dan Kayla dengan senyuman.

"Eh, Bu Sulastri sama Nak Kayla... Ayo masuk, masuk, ndak apa-apa," panggil Bu Marni ramah, sengaja mengabaikan keberadaan Dinda. "Tumben mampir ke sini pagi-pagi, Bu?"

Bu Sulastri tersenyum dan melangkah mendekat. "Iya ini, Bu Marni... Semalam kan saya dengar kabar kalau Aqil ketimpa musibah sampai dibawa ke Puskesmas. Aduh, khawatir banget aku sama cucuku itu, Bu. Makanya pagi ini langsung ke sini sama Kayla mau jenguk, sekalian bawain sup ini"

1
dyah EkaPratiwi
selamat berbahagia
D_wiwied
koq udah end aja sih, blm rela pisah sama mas Abi dan keluarga kecilnya..
btw thanks thor buat ceritanya, ditunggu karya2 selanjutnya ya 👍
Lisa
Wah udh ending nih..terimakasih y Kak author utk ceritanya..kita tunggu cerita² selanjutnya y Kak 👍
D_wiwied
waah mas Abi langsung gaspoll 😆🤭
D_wiwied
kode itu Kay, kode keras pake banget.. masmu udah lama hiatus soalnya 🤣🤣
D_wiwied
mas eling mas, masih pagii ini awas nanti nda kebablasan 🤭😆😆
Elly Maryani
g boleh mas,😅🤣
D_wiwied
alhamdulillah akhirnya sah juga ya mas Abi-Kayla.. semoga samawa selalu ya, ga nyangka lho ternyata mas Abi bisa salting jg ky baru pertama kali aja pdhl lak yo wes tau to mas 🤭
Lisa: Happy wedding Abi & Kayla..bahagia & rukun selalu y bersama anak²
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah
Lisa
Puji Tuhan Abi sudah punya mobil utk keluarga kecilnya..
Fitri Yah
nah gtu donk .... mobil sudah ada sekarang hp jadul nya weis ganti yg baru thor hahaha jgn pelit sama diri sendiri 😄😄
D_wiwied
alhamdulillah akhirnya mobil baru buat calon keluarga baru
D_wiwied
seneng dan ayem kalo punya suami spek ky gini, mau dan berani membela pasangannya.. salut sm ketegasan mas Abi
Sun Rise
good abi💪
Lisa
👍 good job Abi..ibu² yg suka gosip itu harus diperingatkan.
Lisa
Rukun selalu y Kayla & Abi
Lisa
Selamat y buat Abi & Kayla..lancar y semua persiapannya utk hari H nanti 😊👍
vita
suka ceritanya
D_wiwied
wahhh mas Abi, si bontot keceplosan terus itu 😆😆
D_wiwied
alhamdulillah one step closer ya mas Abi, smg dilancarkan sampai hari H nanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!