Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Amara suites hotel
"jangan berteriak!" suara serak menghantam telinga Clare, dengan tangan besar membekap mulutnya
Tubuh Clare kaku. Napasnya tercekat
"lepaskan aku!" Clare memberontak. Berbisik marah. Dia sudah tahu itu adalah Jhon
Jhon memutar tubuh Clare. Kasar
dan di sana Jhon berdiri
tanpa baju. Hanya handuk putih yang menggantung rendah di pinggangnya. Tetes air jatuh dari rambutnya, meluncur di dada bidangnya, berhenti di lekuk otot perutnya
Pipi Clare memerah, matanya tidak tahu harus melihat ke arah mana
"lihat kemana?" ujar Jhon pelan. Menggoda. tepat di depan wajah Clare
tangan Clare refleks terangkat menutup matanya, namun Jhon lebih cepat, pergelangan tangan Clare di tangkap, ditahan di atas kepalanya
"tidak usah munafik" Jempol Jhon mengusap pelan di nadinya. Panas. Membuat bulu kuduk Clare berdiri.
"Kalau mau lihat, lihat saja!"
"Siapa yang mau lihat?!" sentak Clare, mencoba melepaskan diri. Namun tenaga Jhon lebih kuat darinya
"Kamar ini punyaku. Pintunya tidak dikunci. Justru kamu yang menyelinap masuk seperti maling."
Clare menggigit bibirnya "itu salahmu! Mengapa kamu tak menjawab panggilanku. Dan kamu juga yang memerintah ku kesini!"
"lepaskan tanganku" ujar Clare
"Jangan perintah aku"
"Lalu mau sampai kapan seperti ini?"
Jarak mereka terlalu dekat. Clare merasakan uap air dari tubuh Jhon, napasnya yang hangat menerpa pelipis Clare, dadanya yang tanpa sehelai benang pun naik turun, tepat di depan mata Clare.
Jantung Clare berdegup terlalu kencang. Terlalu berisik.
"Jhon..."
"Hm?"
"Lepas."
Alih-alih melepas, genggaman Jhon malah mengencang. Dia menunduk. Hidungnya hampir menyentuh pipi Clare.
"Kamu gemetar" godanya
Clare mengalihkan pandangan "Itu karena marah"
"kamu yakin dengan ucapan mu?"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan terdengar dari luar
Tok... Tok... Tok.. "pak Jhon, pesanan anda tiba"
Mata Jhon menyipit. Dia melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Clare dengan senyum miring yang menyebalkan.
"Dengar itu, kalau kamu tidak ingin ketahuan. Dia di sini?"
Jhon akhirnya melepaskan pegangannya. Pelan. Tapi sebelum mundur, dia berbisik satu kalimat terakhir tepat di telinga Clare.
"tunggu"
Lalu dia berbalik. membuka pintu kamar mandi, pelan. lalu mengambil kemeja yang tergeletak di kursi seolah tidak terjadi apa-apa.
Meninggalkan Clare yang masih berdiri mematung, dengan pipi merah dan jantung yang belum juga tenang
Clare keluar dari kamar mandi itu, berjalan menyusuri kamar hingga akhirnya ia memilih untuk membuka jendela. Angin malam yang dingin masuk perlahan menusuk kulit, gorden putih di samping Clare bergerak pelan, berayun melambai
Jhon datang dari belakang, aroma makanan yang khas menusuk hidung Clare, hingga ia berbalik melihat
Jhon membawa peper bag besar
"apa kamu ingin makan" tanyanya sembari meletakan peper bag itu di meja
"anda membeli makanan?" tanya Clare balik
Jhon mengangguk, lalu ia duduk di lantai, membuka seluruh isi peper bag nya
Clare mendekat, ia ikut duduk di samping Jhon
Clare mengambil satu makanan di meja itu "apakah di Restoran Michelin ada makanan seperti ini?" tanyanya
"ini bukan di beli di restoran Michellin!" jawab Jhon, tetap dengan nadanya suaranya yang dingin
"lalu" tanya Clare, bingung
"ini adalah makanan favorit saya yang di beli di pinggir jalan" ujar Jhon, santai
"hah!?" seru Clare
"mengapa?"
"saya pikir orang seperti anda, orang terkaya di ibu kota tidak pernah memakan makanan seperti ini, bahkan mungkin anda tidak pernah tahu ada makanan seperti ini!" ungkap Clare
Jhon tertawa kecil "apa kamu pernah memakan makanan seperti ini?" tanya Jhon balik
"tidak" Clare menyeru
"jika tidak, maka kamu harus mencobanya sekarang. Ini makanan terenak yang selalu saya makan" Jhon mengambil sate satu tusuk, lalu menyuapi Clare
"saya tidak pernah berpikir bahwa di balik wajah anda yang dingin anda bisa juga bersikap seperti ini" Clare membuka mulut, lalu melahap sate yang di suapi Jhon
"emmm! ini namanya apa" tanya Clare
"sate" jawabnya singkat
"saya tau sekarang mengapa ini menjadi makanan favorit anda!" ujar Clare sembari terus mengunyah "saya hampir lupa, saya datang kesini untuk membahas ganti rugi dengan anda
"saya juga hampir melupakannya!" Jhon meletakan makanannya
"anda sebut saja nominalnya!" ujarnya, Clare mengambil lagi satu tusuk sate
"kamu tahu ganti rugi ini bukanlah tentang uang" Jhon mendekat, mendekat kan wajahnya ke wajah Clare
"lalu" jawab Clare, ia terus fokus dengan makanannya
Jhon mengangkat tangannya, mengelus noda sambal kacang di bibir Clare "habiskan dulu makananmu!"
Jari Jhon berhenti di sudut bibir Clare, hangat. Clare menahan napas, sate di tangannya terjatuh ke lantai
"anda..." bisik Clare
Jarak mereka tinggal sejengkal. Napas Jhon menerpa wajah Clare
Tanpa aba-aba Jhon menunduk. Bibirnya mendarat di bibir Clare. Pelan tapi menuntut
Clare terbelalak, otaknya kosong. Tangannya mengepal di sisi tubuh Jhon, ingin mendorong namun tubuhnya menolak
Jhon merengkuh dagu Clare, jempolnya menahan agar Clare tak menghindar. Ciumannya dalam, sampai tak ada ruang untuk bernapas
Detik terasa lama
Hingga akhirnya Jhon melepaskan
Napas mereka sama-sama berantakan
"apa.... Yang anda lakukan" bisiknya gemetar
Jhon hanya menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, lalu tersenyum miring
"ganti rugi" jawabnya enteng
"ingat gadis kecil, semua ini kamu yang memulai! Jangan menyalakan ku. Dan aku tidak mau tau kamu harus tanggung jawab"
"tapi aku punya suami!" jawab Clare cepat
"kamu tinggalkan suami kamu itu dan menikah denganku!" paksanya
"tidak bisa!"
"yasudah jika begitu, aku akan menunggu sampai kamu menceraikan pria sampah itu!"
Hening
Hanya napas mereka yang terdengar di ruangan itu
Clare menatap Jhon, dadanya naik turun. Jhon mendekat lagi, Clare tak menghindar
Jhon berdiri, ia menatap Clare dari atas. Matanya gelap. Tanpa kata, Jhon mengangkat Clare dengan hati-hati
Satu tangan melingkar di punggung Clare, satu lagi di bawah lututnya
Clare tersentak "J-Jhon.."
"sshh.." Jhon berbisik di telinga Clare
Tubuh Clare terasa ringan di pangkuan Jhon, melangkah ke arah ranjang
Bibir Jhon kembali menemukan bibir Clare. Lebih dalam. Lebih panas. seolah tidak mau membuang sedetik pun
Clare mendes*h pelan, tanpa sadar tangannya meremas kemeja Jhon, menariknya lebih dekat
Setiap langkah Jhon di iringi ciuman yang tidak berhenti hingga punggung Clare menyentuh seprai yang dingin
Jhon melepaskan ciumannya sesaat, hanya untuk menatap Clare
Rambut Clare berantakan di ranjang, pipinya merah. Bibirnya bengkak
"Clare.." panggil Jhon serak
Clare tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangannya, melingkar di leher Jhon
Dan dunia mereka kembali runtuh dalam ciuman berikutnya
________________________________
Di rumah tua keluarga Ayana
Ayana berdiri di gerbang rumah yang besar, melihatnya dengan seksama
*sudah lama aku tak kembali* batinnya
scurity membuka pagar rumah itu, mempersilahkan Ayana tuk masuk
"selamat datang kembali, nona!" sambutnya
Ayana mengangguk
Ia terus berjalan menyusuri halaman yang besar hingga akhirnya sampai di pintu utama
ia memegang gagang pintu itu, ragu untuk membukanya, namu ia tetap membukanya
dua pembantu berdiri di sisi pintu, menyambut Ayana dengan sopan
"nyonya tua berada di mana?" tanyanya
"beliau ada di ruangannya, nona. perlu saya antar?" tanya pembantu itu
Ayana mengangguk "tidak perlu, terimakasih. Saya masih mengingat letak seluruh rumah ini!" ujarnya
Ayana berjalan, menemui neneknya. Pintu ruangan itu sudah ada tepat di hadapannya, namun tak juga Ayana membukanya
tok.. tok.. tok..
"masuk" sahutan dari dalam terdengar, pelan. serak
Ayana membuka pintunya, ia melihat nenek itu sedang duduk di kursi namun memegang bingkai Poto
Ia melihat Ayana masuk, lalu dengan cepat menyembunyikan bingkai itu ke belakangnya
"nenek Ayana pulang!" ujar Ayana sembari menunduk
"mengapa kamu pulang, apa kamu sudah menemukan Thea, kakakmu" ujarnya, dingin
Ayana menghembuskan napas, kecil. Ia sudah mengetahui bahwa yang akan beliau tanyakan pertama adalah dia