NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 REKENING YANG TIDAK PERNAH KUBUKA

Kaluna masih memikirkan dokumen yang diajukan oleh kuasa hukum Veyra. Kesepakatan mereka belum genap sehari, tetapi permintaan agar pertemuan mereka diawasi tenaga profesional sudah masuk ke pengadilan. Ia tidak tahu apakah Veyra sengaja berubah pikiran atau pengacaranya bergerak tanpa menunggu keputusan terakhir. Apa pun alasannya, akibatnya tetap sama. Pertemuan berikutnya dengan Elara bisa kembali dibatasi.

Telepon Kaluna bergetar saat ia baru turun dari mobil.

Pesan dari Elara muncul di layar.

Besok jadi datang, kan?

Kaluna berdiri di depan gedung kantor Salindri sambil membaca pesan itu.

Jadi.

Balasan Elara datang cepat.

Tidak pakai orang yang lihat terus?

Dada Kaluna mengencang. Anak itu seharusnya memikirkan permainan apa yang ingin dimainkan, bukan siapa yang akan duduk mengawasi.

Aku sedang mengaturnya. Tapi aku tetap datang.

Janji?

Janji.

Sesaat kemudian, Elara mengirim gambar dua jari kelingking yang saling terkait.

Kaluna memasukkan telepon ke dalam tas.

Janji kepada anak jauh lebih berat daripada janji kepada pengadilan. Setidaknya pengadilan masih bisa memahami penundaan, perubahan jadwal, atau dokumen tambahan.

Elara hanya tahu seseorang datang atau tidak.

Kaluna masuk ke gedung.

Naren dan Salindri sudah menunggu di ruang rapat kecil. Di atas meja terdapat beberapa lembar catatan bank, cetakan surel, dan daftar waktu yang diberi tanda. Naren mendorong satu cangkir kopi ke arahnya.

“Kamu kurang tidur?”

“Aku tidur.”

“Berapa jam?”

“Cukup buat datang ke sini.”

Naren tidak melanjutkan. Ia hanya menggeser cangkir sedikit lebih dekat.

Kaluna duduk.

“Apa yang kalian dapat?”

Salindri membuka map.

“Sebagian catatan akses rekening Singapura.”

“Sebagian?”

“Bank tidak menyerahkan seluruh data tanpa permintaan resmi dari pihak berwenang. Yang kita punya sekarang cuma ringkasan dari pihak yang membantu pemeriksaan.”

“Cukup buat apa?”

“Cukup buat nunjukkin ada masalah,” jawab Naren. “Belum cukup buat membantah tuduhan.”

Kaluna mengambil lembar pertama.

Nama itu ada di sana.

Kaluna Adiswara. Nomor paspor. Alamat apartemen. Tanda tangan. Salinan dokumen perusahaan.

Semua benar.

“Orang yang membuat rekening ini tahu seluruh hidupku,” katanya.

“Setidaknya tahu seluruh dokumenmu,” jawab Salindri.

“Bukan cuma dokumen. Dia tahu alamat yang masih aktif, jabatan, riwayat perusahaan, bahkan bentuk tanda tanganku yang sekarang.”

Naren membuka laptop.

“Rekening pertama kali diakses melalui jalur layanan Asteria Corporate Services.”

“Dari komputer mereka?”

“Kita belum tahu perangkat pastinya. Catatan cuma menunjukkan bahwa jaringan itu terhubung dengan layanan administrasi Asteria.”

“Setelah itu?”

“Akses berikutnya berasal dari jalur yang sama selama beberapa hari.”

Kaluna memeriksa daftar waktu.

“Tidak ada dari teleponku?”

“Tidak.”

“Laptop utama?”

“Tidak.”

“KA-OFFICE-02?”

“Tidak.”

“Laptop perjalanan yang digunakan mengirim pesan palsu bahkan tidak pernah dipakai membuka rekening?”

“Sejauh data yang kita punya, tidak.”

“Rumah Mahardika?”

“Tidak.”

“Apartemenku?”

“Tidak.”

“Hotel?”

“Tidak.”

“Gudang, kantor cabang, atau tempat lain yang pernah kukunjungi?”

Naren menggeleng.

“Tidak ada yang cocok.”

Kaluna bersandar.

Selama ini orang-orang menunjukkan rekening tersebut seolah itu bukti paling sederhana. Namanya ada. Uang masuk. Dana bergerak.

Maka ia dianggap bersalah.

Padahal dirinya tidak pernah menyentuh rekening itu, bahkan satu kali.

“Kalau ini dibawa ke pengadilan, apa cukup?” tanyanya.

Salindri menjawab hati-hati.

“Pihak Mahardika bisa mengatakan kamu menggunakan perantara.”

“Tentu.”

“Mereka juga bisa mengatakan kamu sengaja tidak memakai perangkat pribadi.”

“Jadi apa pun yang ditemukan selalu bisa dibalik.”

“Karena kita belum memiliki bukti siapa yang benar-benar mengendalikan rekening.”

Kaluna kembali ke nama dan tanda tangannya sendiri.

“Aneh. Mereka memakai identitasku selengkap mungkin, tapi memastikan tidak ada satu pun jejakku di dalamnya.”

“Itu justru menunjukkan perencanaan,” kata Naren.

“Orang yang mengenalku merencanakan semua ini.”

“Belum tentu dia kenal kamu secara pribadi.”

“Dia tahu jadwalku. Tahu laptop mana yang bisa dipakai. Tahu Veyra akan percaya pesan itu. Tahu Arsen akan melihat tiket sebagai bukti pelarian.”

Salindri melipat kedua tangan.

“Kita jangan mencampur kesimpulan sebelum semua hubungan dibuktikan.”

“Semua bukti itu dibuat untuk menceritakan hal yang sama.”

“Benar. Tapi di pengadilan, hubungan antar bukti harus jelas.”

Kaluna kembali memeriksa daftar akses.

“Surel palsunya?”

Naren membuka halaman berikutnya.

Alamat surel itu dibuat beberapa hari sebelum pembukaan rekening. Nomor pemulihannya terhubung ke kartu prabayar yang menggunakan identitas orang yang sudah meninggal.

“Orang yang sama?” tanya Kaluna.

“Belum bisa dipastikan. Tapi surel dan nomor telepon yang dipakai untuk rekening itu sama-sama didaftarkan lewat jalur administrasi tersebut.”

“Asteria?”

Naren mengangguk pelan.

“Asteria mengendalikan keduanya?”

“Lebih tepatnya, keduanya pernah dipakai melalui layanan yang terhubung ke Asteria.”

“Dan Dian Paramitha?”

“Namanya masih muncul sebagai petugas dokumen.”

Kaluna mengambil cetakan profil Dian.

“Berarti dia tahu.”

“Dia tahu ada permohonan rekening atas namamu,” kata Salindri. “Belum tentu tahu bahwa dokumennya palsu atau bahwa kamu tidak pernah memberi persetujuan.”

“Dia pernah bekerja di Mahardika. Dia pasti tahu wajahku.”

“Bisa saja proses dilakukan tanpa tatap muka.”

“Semua orang ada saja alasannya.”

Salindri mengembuskan napas pendek.

“Ya. Kemungkinannya memang banyak.”

Kaluna meletakkan profil Dian lebih keras dari yang diperlukan.

“Aku tidak ingin alasan. Aku ingin bukti bahwa aku tidak pernah membuka rekening itu.”

Naren menatapnya.

“Kita mulai dari waktu aktivasi pertama.”

“Kapan?”

Ia menunjukkan tanggal dan jam.

Kaluna membacanya perlahan.

Tanggal itu terasa familiar, tetapi tidak langsung memunculkan ingatan.

“Aku sedang di mana?”

“Itu yang sedang kita periksa.”

“Agenda perusahaan?”

“Tidak lengkap. Ada beberapa jadwal yang hilang setelah akunmu dinonaktifkan.”

Kaluna mengambil telepon.

“Hubungi Arsen.”

Naren tidak mencegah.

Arsen menjawab setelah panggilan kedua.

“Ada apa?”

“Aku butuh catatan keberadaanku pada tanggal ini.”

Kaluna menyebutkan tanggal serta waktu aktivasi rekening.

Arsen terdiam cukup lama.

“Aku akan periksa.”

“Sekarang, ya.”

“Aku sedang di kantor.”

“Bagus. Berarti kamu lebih dekat ke arsip daripada aku.”

Nada Arsen berubah sedikit.

“Aku sudah bilang akan membantu.”

“Kalau begitu bantu.”

Kaluna menutup panggilan sebelum percakapan berubah menjadi pertengkaran lain.

Naren kembali ke layar laptop.

“Kamu bukan cuma marah soal rekening.”

Kaluna mengangkat wajah.

“Aku tidak perlu dianalisis.”

“Aku juga tidak sedang menganalisis.”

“Lalu?”

“Kamu terus lihat telepon sejak masuk.”

Kaluna tidak menjawab.

Salindri memahami lebih dulu.

“Soal Elara?”

“Pertemuan berikutnya mungkin diawasi.”

“Belum ada keputusan.”

“Bagi Elara, kemungkinan saja sudah cukup membuatnya takut aku tidak datang.”

Naren bersandar.

“Kalau kamu memang perlu pergi dulu, kita lanjut nanti.”

“Nggak.”

“Kita lanjut nanti juga bisa.”

“Nggak. Bukan itu.”

“Apa?”

“Semua orang membuatku memilih. Perusahaan atau Elara. Bukti atau Elara. Pengadilan atau Elara.”

Salindri tetap diam sejenak.

“Tidak ada yang meminta kamu memilih.”

“Keadaan meminta.”

Ia menggeser beberapa dokumen di meja.

“Kalau aku berhenti menyelidiki, nama ini tetap dianggap pencuri. Kalau aku terus menyelidiki, mereka bilang Elara berada dalam bahaya karena aku.”

Tak seorang pun segera menjawab.

Naren kemudian berkata,

“Dia memang mau kamu ada di posisi begini.”

Kaluna tetap diam.

“Kalau kamu urus Elara terus, bukti bisa keburu hilang. Kalau kamu kejar bukti terus, mereka tinggal bilang kamu ngabaikan anak.”

Kaluna merasakan marah yang selama ini tidak memiliki bentuk.

Bukan hanya karena identitasnya dicuri. Bukan hanya karena hidupnya digantikan.

Ada orang yang sengaja membuat semua jalan di depannya terasa salah.

Teleponnya bergetar.

Pesan dari Arsen masuk.

Tanggal itu kamu berada di cabang Cikarang untuk pemeriksaan gudang dan laporan distribusi. Ada daftar peserta rapat, catatan masuk gedung, dan transaksi kartu akses. Aku sedang kirim.

Beberapa dokumen masuk satu per satu.

Kaluna membuka daftar peserta. Namanya tercantum bersama tujuh pegawai cabang.

Rapat dimulai pukul sembilan pagi dan selesai lewat tengah hari.

Rekening Singapura diaktifkan pada pukul sepuluh lewat dua belas menit.

Catatan pintu menunjukkan kartu akses Kaluna digunakan untuk masuk ruang rapat pukul sembilan lewat tiga menit. Kemudian keluar pukul dua belas lewat dua puluh enam menit.

“Aku ada di ruang rapat saat rekening diaktifkan,” katanya.

Naren mengambil telepon dan memeriksa dokumen.

“Ada kamera?”

“Arsen sedang mencari.”

“Saksi ada. Catatan akses juga ada. Ini sudah lumayan kuat,” kata Salindri.

“Tetap belum cukup,” jawab Kaluna. “Kalian akan bilang aku bisa memakai perantara.”

Salindri tidak menyangkal.

Naren memperbesar catatan waktu.

“Rapatnya berlangsung tanpa jeda?”

“Ada catatan presentasi, pembahasan, dan persetujuan.”

“Tujuh orang bisa memastikan kamu ada di sana. Cuma...” Salindri berhenti sebentar. “Pihak lawan tetap bisa bilang aktivasi dilakukan orang suruhanmu.”

“Setidaknya mereka jadi susah bilang kamu sendiri yang buka rekening.”

Kaluna membaca daftar nama pegawai.

Beberapa mungkin masih bekerja. Beberapa mungkin sudah pindah.

Panggilan Arsen masuk.

Kaluna menerimanya.

“Aku menemukan rekaman lobi,” katanya.

“Masih ada setelah tiga tahun?”

“Bukan rekaman keamanan penuh. Potongan video untuk laporan kunjungan direksi.”

“Terlihat jelas?”

“Kelihatan. Kamu masuk, kasih pengarahan, terus ikut rapat.”

“Kirim.”

“Sudah.”

Sebuah video pendek masuk.

Kaluna melihat dirinya sendiri tiga tahun lalu. Rambutnya diikat rendah, wajahnya lebih tegas daripada yang kini ia lihat di cermin. Ia berjalan di depan beberapa pegawai sambil membawa map merah tipis, lalu masuk ke ruang rapat.

Rekaman itu hanya berlangsung beberapa menit, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa saat rekening diaktifkan, Kaluna sedang berada di cabang Cikarang bersama orang-orang yang bisa menguatkan keberadaannya.

“Arsen,” kata Kaluna sebelum menutup telepon, “siapa yang tahu jadwalku saat itu?”

“Sekretariat direksi, sopir, kepala cabang, dan beberapa orang dari tim audit.”

“Dian?”

“Mungkin kalau perjalananmu diurus melalui administrasi.”

“Revan?”

“Mungkin.”

“Ketua dewan?”

Arsen diam sejenak.

“Kantor dewan mungkin juga bisa lihat jadwal direksi,” jawabnya akhirnya.

Kaluna tidak melanjutkan.

Belum ada bukti siapa yang mengakses jadwal itu.

Orang itu memilih waktu ketika Kaluna sedang berada di rapat bersama banyak saksi. Ia tahu kapan keberadaan Kaluna sedang disaksikan dan bisa dibuktikan orang lain.

Naren membuka satu catatan lain.

“Ada sesuatu sebelum aktivasi.”

“Apa?”

“Delapan menit sebelumnya, kode verifikasi dikirim ke surel palsu.”

“Lalu?”

“Surel itu menerima kode, kemudian meneruskannya ke alamat lain.”

“Alamat siapa?”

Naren memutar layar.

Sebuah alamat surel perusahaan muncul.

Akun itu bukan milik Dian, Revan, ataupun Kaluna.

Namanya sangat umum, nyaris tidak memberi petunjuk tentang siapa yang biasa menggunakannya:

executivetravel@mahardikamedika.co.id

“Ini akun apa?” tanya Salindri.

Kaluna mengenal formatnya.

“Akun administrasi perjalanan direksi.”

“Siapa yang punya akses?”

“Biasanya sekretariat,” jawab Kaluna.

Naren membuka catatan berikutnya.

“Akun ini menerima konfirmasi aktivasi rekening.”

Kaluna membaca waktu dan alamat tujuan.

“Ada yang lain?”

Naren diam sebentar, lalu membuka surel lain dari pemeriksaan awal.

Judulnya pendek:

Booking Confirmation—Singapore.

Alamat penerimanya sama.

Rekening Singapura, tiket satu arah, surel palsu, dan akun perjalanan direksi.

Kali ini semuanya muncul dalam satu jalur.

“Jadi dua-duanya masuk ke akun ini?” tanya Kaluna.

“Iya. Itu yang kelihatan dari surelnya.”

Kaluna kembali ke video dirinya yang sedang berada dalam rapat cabang.

Pada saat yang sama, seseorang membuka rekening atas namanya.

Beberapa hari kemudian, tiket satu arah disiapkan.

Pesan perpisahan dikirim kepada Veyra.

Foto hotel dipotong dan disebarkan.

Semua itu sudah disiapkan sebelum Kaluna sempat menyadarinya.

Rekening itu memberi satu cerita. Tiketnya melanjutkan cerita yang sama.

Saat Kaluna nanti menghilang, semuanya akan terlihat seperti keputusan yang sudah ia buat sendiri.

1
Adinda
Arsen dan Elara didukung juga keluarganya yang melakukan itu, mungkin Arsen selingkuh sama Elara dan mencoba menyingkirkan kaluna demi simpanannya
A.A.Pusung: makasih kk cantik sudah mampir lagi ^_^
total 1 replies
Adinda
Arsen sendiri dalangnya mungkin dengan membunuh kaluna dia bisa menikah dengan simpanannya sendiri
Adinda
biarin aja dulu kaluna nanti kalau dia udah besar nanti dia bakalan menyesal
A.A.Pusung: ^_^ Makasih Sudah mampir
total 1 replies
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!