Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Markas Besar Vane
Bayangan Kelam dan Sumpah Sang Ratu
Deru mesin helikopter siluman (stealth) milik Julian Vane menyapu keheningan malam saat mengudara menembus kegelapan. Di dalam kabin medis berteknologi mutakhir, tim dokter pribadi Julian bergerak cepat memasang peralatan penunjang hidup pada tubuh Dominic yang tak sadarkan diri.
Clarissa berdiri bersedekap di sudut kabin, menatap tubuh suaminya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Tidak ada lagi sisa kepanikan atau air mata. Di sampingnya, Julian berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, menjaga jarak aman namun siap menerima perintah kapan saja.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Clarissa datar, tanpa menoleh.
"Stabilizer bertekanan tinggi berhasil menahan perdarahan dalamnya, Nyonya," jawab Julian mantap.
"Fasilitas medis bawah tanah di markas saya memiliki teknologi penanganan trauma terbaik. Tuan Dominic akan mendapatkan perawatan paling intensif dan benar-benar terisolasi dari dunia luar."
"Bagus," sahut Clarissa pelan. Jemarinya meraba kalung onyx di lehernya. "Pastikan tidak ada satu pun personel medis yang keluar dari fasilitas itu sampai perintah
selanjutnya."
"Perintah Anda adalah hukum bagi saya, Nyonya."
Penthouse Benteng Vane — Pukul 04.30 WIB.
Helikopter mendarat di atas landasan pribadi sebuah benteng pencakar langit di pinggiran kota. Lokasi ini merupakan markas komando tersembunyi milik Julian Vane yang terlindungi oleh sistem enkripsi militer tingkat tinggi.
Tim medis langsung memindahkan Dominic melalui lift rahasia menuju unit perawatan intensif bawah tanah. Sementara itu, Julian membimbing Clarissa menuju ruang kerja utamanya yang bernuansa hitam elegan dan dilapisi kaca antipeluru.
"Air bersih dan pakaian baru sudah disiapkan di ruang pribadi Anda, Nyonya," ujar Julian seraya menyodorkan sebuah dokumen tebal dan iPad berenkripsi khusus di atas meja kaca.
"Ini adalah siaran pers berantai yang baru saja dirilis oleh Paman Felix ke seluruh media internasional."
Clarissa melangkah mendekati meja, mengambil iPad tersebut. Pendar cahaya layar memantul di matanya yang tajam.
Di layar, terpampang siaran langsung konferensi pers darurat dari depan Mansion Utama Klan Pratama. Paman Felix berdiri di hadapan puluhan kamera wartawan.
Wajahnya tampak pucat, layu, dan penuh lingkaran hitam seolah-olah baru saja melewati malam penuh trauma. Lengan kirinya terbalut perban bersimbah noda darah yang telah mengering, memberi kesan dramatis bahwa ia baru saja meloloskan diri dari pertempuran sengit demi menyelamatkan keluarga.
"Ini adalah duka terdalam bagi kita semua..." suara Paman Felix terdengar bergetar hebat di siaran tersebut, matanya berkaca-kaca menatap kamera. "Serangan teroris misterius secara serentak menghantam pelabuhan dan mansion kami. Saya sudah berusaha bertarung mati-matian... saya mencoba menyelamatkan Kakak Silas dan membimbing Clarissa serta Dominic... tapi saya gagal."
Paman Felix menarik napas panjang yang terasa sangat berat, mengusap setetes air mata palsu di pipinya sebelum melanjutkan dengan nada pasrah yang penuh sandiwara.
"Kakek Silas, Dominic, dan keponakanku Clarissa... telah dipastikan gugur dalam tragedi berdarah ini. Maka, demi menjaga stabilitas perusahaan serta keselamatan seluruh keluarga yang tersisa... dengan sangat terpaksa, kepemimpinan Klan Pratama akan saya ambil alih sepenuhnya mulai pagi ini."
Melihat dan mendengar suara Felix, tiba-tiba kepala Clarissa terasa mencengkeram hebat.
Nutt... nutt...
Rasa sakit yang teramat sangat menusuk hingga ke dasar tempurung kepalanya. Penglihatannya mengabur seketika, bergetar diiringi pendaran bayangan masa lalu yang kelam dan memuakkan. Kilatan ingatan terlarang itu menyeruak gila di dalam pikirannya—saat-saat tergelap ketika Felix dengan bejatnya melepaskan topeng manusianya dan memperkosa Clarissa tanpa ampun, merengut kehormatan serta menghancurkan jiwanya.
Rasa marah, dendam, dan rasa jijik yang luar biasa mendadak memuncak berkali-kali lipat dalam dada Clarissa. Napasnya memburu, jemarinya cengkeram iPad itu hingga berderit hebat.
“Bajingan kau, Felix...” desis suara batin Clarissa, menggigil dalam kemurkaan yang membakar seluruh saraf tubuhnya. "Tenang, Clarissa... semua dendam burukmu akan aku
tuntaskan. Tanpa sisa."
Clarissa memejamkan mata sejenak, menekan rasa sakit di kepalanya, lalu membukanya kembali. Rasa lemah dan trauma masa lalu itu seketika sirnah, tergantikan oleh kegelapan murni yang tak tersentuh.
Brak.
Clarissa meletakkan iPad itu kembali ke meja dengan kekuatan yang mantap. Ia berpaling, menatap pemandangan kota di balik jendela kaca tebal.
"Aktingnya berhasil membodohi bursa saham dan seluruh dewan direksi, Nyonya," timpal Julian yang menyadari perubahan aura membunuh dari tubuh Clarissa. "Paman Felix kini memegang kendali penuh atas kekayaan klan Pratama atas nama 'penyelamatan'."
"Clarissa Pratama yang penuh trauma dan kelemahan telah mati malam ini bersama sandiwara busuknya, Julian," ucap Clarissa dengan suara dingin dan serak yang mampu membekukan udara di sekitarnya. "Mulai detik ini... panggil aku Victoria."
Julian segera berlutut satu kaki, meletakkan tangan kanannya di dada dengan penghormatan tertinggi. "Dipahami, Nyonya Victoria."
"Biarkan Felix menikmati takhta palsunya sebentar lagi," lanjut Victoria dengan senyuman yang teramat mematikan. "Siapkan seluruh jaringan keuangan rahasiamu. Kita akan hancurkan kekuasaannya, potong satu per satu pasokan dana Konsorsium Hitam, dan buat dia memohon kematian di hadapanku."
sangat menarik sekali