Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
Suasana di kediaman orang tua Ibnu mendadak tegang, setelah mendengar pria itu mengaku dihadapan kedua orang tuanya bahwa dirinya telah menghamili anak gadis orang.
"Plak....." Hingga usianya genap dua puluh delapan tahun, ini kali pertama Ibnu merasakan tamparan ayahnya. Demi mengikuti alur Georgina, Ibnu sampai rela ditampar oleh sang ayah.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Ibnu." Ayahnya Ibnu sangat murka mendengar putra kebanggaannya mengaku telah menghamili anak gadis orang. "Apa ini yang kamu maksud menggapai kesuksesan di atas kaki sendiri, dengan menghamili anak gadis orang?" Pertanyaan menyindir terlontar dari mulut sang ayah. Ayah kecewa bukan karena memikirkan nama baiknya, namun pria paruh baya tersebut kecewa karena merasa telah gagal mendidik putranya menjadi pribadi yang baik.
"Maafkan Ibnu, pah." Ucap Ibnu yang masih berlutut dihadapan kedua orang tuanya.
"Apa gadis itu Georgina?." Ibu ikut bertanya.
Dengan pandangan tertunduk, Ibnu mengangguk pelan.
"Pantas saja pagi tadi jeng Tika sampai menampar kamu, rupanya kamu telah menghamili putrinya. Kalau mamah jadi jeng Tika, mungkin mamah bukan hanya menampar kamu, tapi mamah pasti sudah menghajar kamu sampai babak belur. Biar kapok sekalian."
Daddy menoleh pada sang istri.
"Mamah kenal dengan gadis itu?."
"Hm....." Mommy bergumam. "Namanya Georgina, putri dari salah seorang teman arisan sosialita mamah. Gadis itu berprofesi sebagai dokter spesialis anak, pah."
"Dokter spesialis anak?." Ulang ayah.
"Papah jadi penasaran dengan sosok dokter spesialis yang mau sama seorang pegawai kantoran biasa." Lanjut ayah sambil melirik pada putranya.
"Papah...." Ibnu sadar betul bahwa kalimat tersebut ditujukan sang ayah untuk menyindir dirinya yang selama ini lebih memilih menjadi pegawai biasa di tempat orang lain ketimbang mengurus bisnis keluarga.
"Kenapa, kamu tersinggung dengan kata-kata papah? Bukannya benar kalau kamu itu hanya pegawai biasa, iya kan?."
Ibnu terdiam, tak bisa menepis.
"Sekarang jangan keras kepala lagi! Kembalilah ke rumah dan urus bisnis keluarga!." Perintah ayah tegas tak ingin terbantahkan. "Dari profesi gadis itu sudah membuktikan bahwa ia berasal dari kalangan berada, maka jadikan dirimu sepadan dengannya! Lagipula membahagiakan anak orang tak cukup hanya dengan cinta, materi juga sangat penting."
"Baik, pah." Setelah sekian lama terus menolak, akhirnya hari ini Ibnu bersedia mengurus bisnis keluarga.
Ayah kembali memandang pada sang istri.
"Besok kita pergi menemui orang tua dari gadis itu!." Setelahnya, ayah pun bangkit dari duduknya.
"Bersikaplah lebih dewasa, karena sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang ayah!." Setelah berpesan dengan nada lembut, ibu pun menyusul ayah ke kamar.
"Seorang ayah?." Ulang Ibnu. Tanpa sadar pria itu menarik sudut bibirnya ke samping.
*
Di sebuah kafe yang jaraknya sekitar dua kilometer dari kediaman orang tuanya, di sinilah Ibnu berada sekarang, setelah mendapat telepon dari Georgina.
"Bibir kamu kenapa?." Georgina menyentuh sudut bibir Ibnu yang nampak memar. "Kamu habis dihajar ya sama papa kamu?." Ada perasaan bersalah dihati Georgina terhadap pria itu. Ibnu terpaksa mengikuti alur kegilaan yang telah ia ciptakan demi kebersamaan Leon dan Reka.
"Cuma tamparan kecil saja dari papah."
"Tamparan kecil gimana, orang sudut bibir kamu sampai memar begitu." Kata Georgina, tak terima saat Ibnu mengatakan kata 'hanya'. Wanita itu nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak p3k berukuran kecil yang selalu dibawanya kemana-mana. Maklum seorang dokter.
"Jangan terlalu perhatian, takutnya nanti kamu malah jatuh cinta beneran sama aku!."Kata Ibnu pada Georgina yang tengah sibuk mengobati memar di sudut bibirnya.
"Apaan sih?." Georgina langsung memalingkan wajahnya, sadar akan tatapan Ibnu.
Sesaat kemudian, Georgina baru teringat pada tujuannya mengajak Ibnu bertemu.
"Ohiya, orangtuaku meminta kamu beserta orang tuamu datang menemui mereka!."
"Tanpa diminta sekalipun, kami pasti akan datang untuk menemui orang tuamu." Balas Ibnu.
"Btw, kamu mau mahar apa dariku?." Sepengetahuan orang tua mereka, Georgina telah mengandung, jadi mana mungkin lamarannya akan ditolak. Itulah mengapa Ibnu berani membahas tentang mahar.
"Apa saja asal tidak sampai merendahkan aku. Sebenarnya, Harta berlimpah pun rasanya tidak akan rugi digelontorkan demi seorang gadis perawan." Kalimat kedua Georgina mengandung candaan.
"Gadis perawan?." Ulang Ibnu sambil menatap intens wajah Georgina. "Bukannya saat ini diperut kamu ada anakku ya?."
"Apaan sih...."
"Selain suka bertindak diluar nalar, aslinya kamu pemalu juga ternyata." Balas Ibnu sambil mengulas senyum kecil.
"Ck......" Georgina hanya berdecak lidah.
Melihat waktu sudah hampir pukul sembilan malam, Ibnu lantas mengajak Georgina meninggalkan cafe.
"Sudah hampir pukul sembilan, aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah. Lagian kan aku bawa mobil sendiri."
"Aku akan mengikuti mobilmu sampai tiba di rumah." Ibnu bicara dengan nada rendah namun kesannya tak ingin dibantah.
"Baiklah."
*
Di lampu merah, saat mobil Leon berhenti sejenak, Reka melihat keberadaan ayahnya di dalam sebuah mobil yang kebetulan berhenti tepat di samping mobil Leon.
Reka spontan memalingkan wajahnya ke samping. Ia tak ingin sampai ayah angkatnya melihat keberadaannya, terutama di mobil Leon.
"Ada apa?." Leon melirik Reka yang kini memalingkan wajah ke arahnya. Belum sempat Reka menjawab, Leon sudah mengarahkan pandangan ke mobil yang berhenti tepat di samping mobilnya.
"Tuan Hafidz...."
Kini Leon paham alasan mengapa Reka sampai memalingkan wajahnya ke samping. Sebenarnya, sekalipun Reka tidak memalingkan wajahnya, keberadaannya tetap tidak akan terlihat dari luar sana karena kaca mobil tertutup rapat dan juga tidak tembus pandang.
"Tidak perlu takut lagi! Mas ada di sini bersamamu, dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, termasuk dia." Diakhir kalimat, Leon melirik ke arah tuan Hafidz.
"Aku hanya tidak ingin sampai papah kembali memanfaatkan mas, bila sampai tahu tentang kebersamaan kita." Balas Reka.
"Kamu tidak perlu memikirkannya, biar itu menjadi urusan mas! Meskipun mereka mengemis sekalipun, mas tidak akan memberi lagi." Dahulu, alasan Leon terus memberi berapapun uang yang diminta oleh tuan Hafidz dan istrinya adalah karena Leon merasa mereka bagian dari keluarga Reka. Tetapi setelah tahu keduanya mengusir Reka pasca bercerai darinya, Leon tak akan pernah lagi memberi uang walau sepersen pun.
Lampu lalu lintas berubah hijau dan semua kendaraan perlahan melaju kembali untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.
"Anak mommy kebangun rupanya." Reka menyadari pergerakan baby Richard di pangkuannya.
"Mom....my....." Baby Richard bergumam layaknya anak seusianya.
"Iya sayang...." Reka merubah posisi baby Richard, yang tadinya berbaring kini telah duduk dipangkuan mommy-nya.
Tidak disangka-sangka, tiba-tiba baby Richard kembali bergumam saat menoleh pada Leon. "Dad....dy...."
Leon yang tengah fokus mengemudi sampai menoleh pada putranya. "Anak Daddy bilang apa tadi?." Tanya Leon dengan wajah berbinar, saking senangnya.
Walaupun tak ada siaran ulang dari mulut putranya, tapi Leon yakin ia tidak salah dengar tadi.
"Terima kasih, sayang..." Leon mengelus pipi putranya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih stay pada setir mobil.
Rasa senang dihati Leon malam ini bahkan mengalahkan rasa senangnya ketika berhasil memenangkan tender besar.
"Hari ini usia baby Richard genap setahun empat bulan." Sekedar informasi dari Reka.
trimakasih Thor sudah menghibur dengan karyamu..sehat selalu.. semangat untuk berkarya 👍