Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Naura membalas email Bima keesokan paginya.
Ia tidak menulis dengan emosi.
Ia menulis seperti dulu menyusun memo risiko: rapi, dingin, dan sulit dibantah.
Pertama, ia menyatakan semua dokumen fisik dan digital sudah diserahterimakan pada tanggal tertentu, kepada orang tertentu, dengan daftar lampiran.
Kedua, ia mencantumkan email serah terima yang pernah dikirim ke Bima, Pak Surya, HR, dan tim.
Ketiga, ia meminta Mahardika menyebutkan secara spesifik dokumen apa yang dituduhkan dibawa.
Keempat, ia menegaskan bahwa tuduhan tanpa dasar dapat dianggap pencemaran nama baik dan intimidasi terhadap mantan karyawan.
Terakhir, ia menulis:
`Seluruh komunikasi selanjutnya harap dilakukan melalui email resmi. Saya tidak bersedia melakukan pertemuan informal tanpa agenda tertulis.`
Sebelum mengirim, ia membaca ulang tiga kali.
Arkan duduk di seberang meja makan rumahnya, memegang kopi, tidak mengganggu. Ia hanya ada di sana karena Naura memintanya membaca dari sisi risiko, bukan menuliskan untuknya.
"Bagaimana?" tanya Naura.
Arkan meletakkan cangkir.
"Kirim."
"Tidak terlalu keras?"
"Tidak."
"Tidak terlalu lemah?"
"Tidak."
"Pak Arkan menjawab seperti stempel."
"Karena sudah tepat."
Naura mengirim email itu.
Begitu tombol terkirim ditekan, ia merasa sesuatu lepas dari bahunya.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Arkan mendorong piring kecil berisi roti panggang ke arahnya.
"Makan."
"Saya sudah sarapan."
"Dua gigitan bukan sarapan."
Naura menatap roti itu.
"Pak Arkan sekarang menghitung gigitan saya?"
"Kamu menghitung jam makan saya."
"Itu pekerjaan."
"Ini balas budi."
Naura ingin membantah, tetapi perutnya memang kosong. Ia mengambil roti dan menggigit.
Arkan terlihat puas.
Setengah jam kemudian, Bima membalas.
Nada emailnya berubah.
Tidak lagi mengancam langsung. Ia menulis bahwa Mahardika hanya ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman. Ia menyebut keluarga Naura datang ke kantor dan menciptakan persepsi negatif. Ia berharap Naura membantu menjaga hubungan baik.
Naura membacanya tanpa ekspresi.
Arkan bertanya, "Dia mundur?"
"Setengah."
"Cukup untuk sekarang."
"Belum tentu."
"Tapi dia tahu kamu tidak bisa ditekan dengan mudah."
Naura menutup laptop.
Hari itu ia kembali bekerja seperti biasa. Sarapan Arkan. Rumah Bu Marini. Jadwal obat. Taman. Makan siang. Catatan stok. Sore kembali ke rumah Arkan.
Rutinitas itu menjadi jangkar.
Di sela-sela pekerjaan, ia mulai menyusun sistem kecil untuk dirinya sendiri:
Folder bukti keluarga.
Folder serah terima Mahardika.
Folder rencana usaha.
Folder keuangan pribadi.
Hidupnya, yang dulu seperti meja kerja penuh kertas orang lain, perlahan punya laci masing-masing.
Malamnya, Arkan pulang terlambat. Tapi ia mengirim pesan pukul lima.
`Rapat mundur. Saya pulang sekitar 19.30. Kalau terlalu malam, tidak perlu tunggu.`
Naura membaca pesan itu sambil menata bahan makan malam.
Ia membalas:
`Saya tunggu sampai 19.45. Lewat dari itu makanan saya simpan di kulkas.`
Balasan:
`Baik.`
Tiga menit kemudian:
`Jangan marah.`
Naura menatap layar.
Lalu tertawa pelan.
Ia mengetik:
`Saya belum marah.`
Arkan:
`Untuk pencegahan.`
Naura menggeleng.
Laki-laki itu benar-benar belajar dari konsep manajemen risiko.
Arkan tiba pukul tujuh tiga puluh delapan.
Masih dalam batas.
Ia masuk dengan langkah lebih cepat dari biasa, seperti seseorang yang berusaha membuktikan kepatuhan terhadap tenggat.
Naura berdiri di ruang makan.
"Tepat waktu, Pak."
"Masih ada tujuh menit."
"Saya lihat."
"Makanan belum masuk kulkas?"
"Belum."
Arkan duduk. "Bagus."
Naura menyajikan makan malam: nasi hangat, ayam kecap jahe, capcay, dan sup bening. Arkan makan dengan tenang. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tidak sekosong saat pertama kali Naura datang.
Setelah makan, ia membawa piring ke dapur.
Tidak pecah.
Naura berkata, "Kemajuan stabil."
Arkan menaruh piring di wastafel.
"Saya sudah menonton video cara membawa piring."
Naura menatapnya.
"Ada video begitu?"
"Ada."
"Bapak mencarinya?"
"YouTube punya semuanya."
Naura menunduk, tertawa.
Arkan menatapnya dengan mata tenang.
"Kamu lebih sering tertawa sekarang."
Tawa Naura berhenti perlahan.
"Benarkah?"
"Iya."
"Mungkin karena hidup saya agak tidak masuk akal belakangan ini."
"Tidak masuk akal buruk atau baik?"
Naura berpikir.
"Dua-duanya."
Arkan mengangguk, seolah jawaban itu bisa diterima.
Ia mengambil gelas dari kabinet. Kali ini hati-hati. Mengisi air sendiri. Minum. Tidak menumpahkan.
Naura memperhatikan tanpa sadar.
Arkan menurunkan gelas.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu terlihat seperti guru yang menilai murid."
"Nilainya membaik."
"Berapa?"
"Tujuh."
"Hanya tujuh?"
"Pak Arkan masih mencuci satu pakaian dengan mode empat puluh menit."
Telinga Arkan langsung merah.
"Kamu tahu?"
Naura menyesal terlalu cepat bicara.
"Saya mendengar mesin."
"Kamu tidak bilang."
"Menjaga martabat klien."
Arkan menatapnya lama.
Lalu ia tertawa.
Kali ini jelas.
Tidak panjang, tetapi nyata.
Naura membeku.
Tawa Arkan lebih rendah dari yang ia kira. Sedikit serak. Membuat wajah dinginnya berubah menjadi lebih muda, lebih manusiawi.
Saat tawa itu berhenti, keduanya sama-sama sadar suasana berubah.
Arkan mengalihkan pandangan lebih dulu.
Telinganya masih merah.
"Saya naik dulu."
"Baik, Pak."
Ia pergi ke lantai dua.
Naura berdiri di dapur dengan tangan masih memegang lap.
Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Ia meletakkan lap, lalu mengambil ponsel untuk mengecek pesan, hanya agar tangannya punya pekerjaan.
Ada pesan dari Rani.
`Besok ketemu. Aku mau dengar semuanya soal CEO kentang itu.`
Naura hampir tertawa lagi.
Ia membalas:
`Jangan sebut begitu.`
Rani:
`Berarti benar ada sesuatu.`
Naura:
`Tidak ada.`
Rani:
`Kalimat nasional orang yang sudah ada sesuatu.`
Naura mengunci ponsel.
Ia tidak ingin membahas itu.
Belum.
Karena apa pun yang sedang tumbuh, posisinya terlalu rumit. Ia bekerja untuk keluarga Arkan. Ia juga masih membangun ulang hidupnya. Ia belum selesai dengan keluarga lama, belum selesai dengan kantor lama, belum tahu arah usaha barunya.
Ia tidak boleh kehilangan fokus.
Namun malam itu, sebelum pulang, Arkan turun kembali.
Ia sudah berganti pakaian rumah. Kaos hitam sederhana, celana santai. Rambutnya tidak serapi tadi. Wajahnya tidak sedingin biasanya.
Di tangannya ada buku yang pernah ia berikan kepada Naura.
"Bagian bab tiga," katanya, menyerahkan buku itu. "Tentang standardisasi caregiver. Kamu harus baca."
Naura menerima buku.
"Pak Arkan menandai?"
"Ada beberapa poin."
Ia membuka halaman. Ada sticky note kecil berwarna biru. Tulisan Arkan rapi dan tegas.
`Ini bisa jadi dasar SOP.`
`Bagian biaya perlu disesuaikan dengan pasar Indonesia.`
`Trust mechanism penting.`
Naura menatap catatan-catatan itu.
"Pak Arkan membaca semua?"
"Belum semua."
"Ini bukan pekerjaan Bapak."
"Aku tahu."
Kata `aku` muncul lagi.
Naura mengangkat mata.
Arkan seolah baru menyadari, tetapi kali ini ia tidak memperbaiki.
"Idemu bagus," katanya. "Sayang kalau hanya jadi catatan."
Naura menggenggam buku itu.
"Saya belum punya modal cukup."
"Kamu belum butuh modal besar. Kamu butuh model kecil yang bisa diuji."
"Pak Arkan terdengar seperti investor."
"Memang."
"Tapi saya belum pitching."
"Saya sedang mendengar sebelum kamu pitching."
Naura tidak bisa menahan senyum.
"Itu tidak adil."
"Kenapa?"
"Karena Bapak membuat saya ingin serius lebih cepat."
Arkan menatapnya. "Bagus."
Satu kata.
Sederhana.
Tapi seperti dorongan di punggung.
Naura memasukkan buku ke tasnya.
"Saya pulang dulu, Pak."
"Saya antar."
"Tidak perlu. Saya sudah pesan mobil."
"Batalkan."
"Pak Arkan..."
"Sudah malam."
"Ini masih jam sembilan."
"Tetap malam."
Naura menatapnya.
Arkan menambahkan, lebih pelan, "Saya tidak tenang kalau kamu pulang sendiri setelah semua yang terjadi."
Kalimat itu membuat penolakan Naura berhenti di tenggorokan.
Ia bisa saja tetap menolak.
Tapi malam itu ia lelah menjadi orang yang selalu membuktikan dirinya tidak butuh siapa pun.
"Baik," katanya.
Di mobil, mereka tidak banyak bicara.
Ketika sampai di rumah Bu Marini, Arkan menunggu sampai Naura masuk gerbang.
Sebelum menutup pintu, Naura menoleh.
"Pak Arkan."
"Ya?"
"Terima kasih. Untuk buku, catatan, dan... semuanya."
Arkan memegang setir.
"Sama-sama."
Naura masuk.
Mobil Arkan baru pergi setelah pintu rumah tertutup.
Dari jendela ruang keluarga, Bu Marini menurunkan tirai perlahan.
Pak Aditya di belakangnya berkata, "Mengintip?"
"Mengawasi perkembangan cucu."
"Itu namanya mengintip."
Bu Marini tersenyum puas.
"Kalau begini, aku harus sehat lebih lama. Dramanya baru mulai."
jgn setengah 2 ya