NovelToon NovelToon
My Ice CEO Is A Tante

My Ice CEO Is A Tante

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miko J

Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kontrak Maut Sang Tante

Aroma kuah kaldu yang gurih dan potongan daging sapi premium yang meleleh di mulut seketika membuat Gavin Wijaya ingin menangis bahagia. Setelah menandatangani kontrak kemarin siang, hal pertama yang dilakukan Gavin secara logis bukanlah mencari tempat tinggal, melainkan mendatangi restoran hotpot paling mewah di kawasan Xinyi, Taipei.

Dompetnya kini tidak lagi berisi koin recehan yang memualkan, melainkan sebuah kartu kredit hitam berkilau tanpa limit pemberian Tiffany Chen.

"Ah... ini baru hidup!" gumam Gavin, menyuap daging sapi wagyu ke mulutnya dengan raut wajah yang luar biasa puas.

Setelah perutnya yang sempat keroncongan selama berminggu-minggu terisi penuh, Gavin melangkah masuk ke mal. Karena selama beberapa hari terakhir dia luntang-lantung tidur di stasiun setelah dipecat dari pabrik dan diusir dari asrama pekerja, malam ini Gavin bertekad ingin membalas dendam. Dia berencana menyewa kamar VVIP di hotel bintang lima terkondang, lalu memesan layanan wanita penghibur kelas atas untuk menemaninya minum-minum, sama persis seperti kehidupan sultannya di Jakarta dulu.

Sebelum ke hotel, Gavin berbelanja dulu. Dia membuang ponsel lamanya yang retak seribu ke tempat sampah, lalu membeli ponsel pintar seri terbaru seharga 60.000 NTD dan beberapa potong jas desainer mahal demi menunjang penyamaran. Namun, dasar jiwa foya-foya, dia juga menggesek kartu itu untuk membeli sepasang sepatu sneaker limited edition hasil kolaborasi desainer dunia seharga 50.000 NTD, serta sebuah jam tangan mewah berlapis emas seharga 150.000 NTD.

Mampus kau, Tante Judes, aku habiskan saja semua uangmu! batin Gavin, tertawa licik.

Bip. Bip. Bip. Bip.

Di lantai empat puluh lima gedung Chen Corp, ponsel Tiffany terus bergetar menampilkan rentetan notifikasi transaksi kartu kredit lengkap dengan nama toko di mal Xinyi. Ketika melihat pengeluaran untuk sepatu karet mahal dan jam tangan emas yang murni untuk foya-foya pribadi, pena di tangan Tiffany patah menjadi dua. Sifat perfeksionisnya tidak bisa membiarkan kebocoran dana yang tidak efisien ini.

Tiffany langsung menghubungi Pak Wang, mandor pabrik Taoyuan, untuk meminta nomor telepon Gavin. Begitu mendapatkannya, Tiffany langsung menekan tombol panggil dengan wajah sedingin es.

Di seberang sana, ponsel baru Gavin berdering. Gavin mengangkatnya dengan gaya angkuh.

"Halo? Siapa ya?"

"Gavin Wijaya," suara dingin Tiffany langsung menembus speaker. "Berhenti menggesek kartuku di mal Xinyi sekarang juga."

Gavin terkejut karena Tante Judes itu bisa tahu lokasinya, namun otak kepedeannya langsung bekerja sesat. Gavin menyeringai nakal.

"Wah, Tante? Baru berpisah beberapa jam sudah rindu, ya? Sampai bisa tahu nomor teleponku. Ada apa, Tante?"

Di ujung telepon, Tiffany hampir saja muntah mendengar tingkat kepedean pria bodoh ini.

"Beri tahu sekarang posisimu di mana. Supirku akan menjemputmu. Malam ini juga, kamu akan pindah ke apartemenku. Bersiaplah."

Mendengar kata "pindah ke apartemenku malam ini juga", mata Gavin langsung berbinar nakal dengan tingkat percaya diri yang melonjak ke langit.

"Oh... jadi begitu?" Gavin dengan nada suara yang sengaja dibuat sok seksi dan menggoda. "Tante ternyata sudah tidak sabar, ya, untuk tidur denganku malam ini? Tenang saja, Tante, fisikku malam ini sedang prima kok untuk melayani Tante."

"Bodoh! Jangan bermimpi!" potong Tiffany setengah berteriak, wajahnya memerah padam karena benar-benar marah menahan emosi di ruang kerjanya. "Jangan pernah berharap kamu bisa menyentuh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kakiku sedikit pun! Kamu di sini hanya akan menjadi suami bayaran saja! Cepat kirim lokasimu sekarang!"

Klik.

Sambungan telepon diputus sepihak dengan kasar oleh Tiffany sebelum Gavin sempat membalas. Gavin hanya bisa mengerjapkan mata, menatap layar ponsel barunya yang sudah menggelap. Sambil terkekeh geli karena berhasil membuat si Tante Judes mengamuk, Gavin membuka aplikasi pesan lalu mengirimkan titik lokasinya di mal Xinyi.

Malam harinya, Gavin diturunkan di sebuah penthouse mewah dua lantai di kawasan elite Taipei. Namun, bayangan Gavin tentang kebebasan langsung hancur berantakan. Begitu melangkah masuk membawa koper usang dan belanjaan barunya, dia disambut oleh Tiffany yang berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada.

"Wah, sambutan yang romantis sekali, Tante," goda Gavin jahil, memamerkan jam tangan emas barunya. "Fasilitas dari Tante memang top!"

Tiffany memejamkan mata sejenak, menahan diri agar tidak melempar vas bunga ke wajah tampan Gavin.

"Kartu itu untuk penyamaran, bukan untuk membiayai selera foya-foya pribadimu!"

"Bukankah Tante sudah bilang kalau Tante memberikan kartu kredit ini untukku dan bebas aku pakai?"

Tiffany tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat bulu kuduk Gavin merinding.

"Oh ya? Apa kamu tidak membaca semua pasal dalam kontrak yang sudah kamu tandatangani? Sepertinya kamu melewatkan bagian yang menjelaskan bahwa kartu kredit yang kuberikan hanya boleh digunakan untuk kebutuhan penyamaranmu sebagai suamiku."

Tiffany kemudian menyodorkan lembar kontrak.

"Nah, coba baca lagi pasalnya."

Gavin mengambil kertas itu dan membacanya keras-keras.

"... Semua pengeluaran pribadi di luar kebutuhan penyamaran akan dicatat sebagai utang pribadi yang wajib dicicil setelah kontrak selesai dengan bunga berjalan?!"

Gavin mendongak, matanya membelalak horor.

"Tante bercanda... Wah, ini namanya penjebakan?!"

"Aku tidak menjebakmu. Itu kesalahanmu sendiri karena tidak membaca isi kontrak," sahut Tiffany datar, membetulkan letak kacamatanya dengan anggun. "Ponsel dan jas desainer itu investasi penyamaran, jadi aku yang bayar. Tapi sepatu limited dan jam tangan emasmu hari ini resmi masuk ke dalam buku utang pribadimu kepada Chen Corp. Totalnya 200.000 NTD."

Gavin seketika mati kutu. Tangannya lemas seketika. Siasat liciknya untuk menguras uang sang Tante Judes sebagai bentuk pembalasan dendam langsung membentur isi perjanjian kontrak.

"Aneh... Bukannya di cerita-cerita CEO yang pernah aku tonton, pasangan kontrak biasanya dikasih kartu kredit tanpa batas? Mau belanja tas, jam, atau mobil pun tinggal gesek."

Gavin menghela napas panjang.

"Kenapa versiku malah dapat laporan Utang ?"

Gavin hanya bisa menatap langit-langit sambil menghela napas.

"Apa aku salah masuk genre?"

Sialan! ratap Gavin dalam hati dengan air mata imajiner. Rencana balas dendamku gagal total! Kalau begini caranya, belum sempat aku kembali jadi sultan di Jakarta, aku malah sudah jadi budak utang seumur hidup di Taiwan oleh Tante gila ini!

Dengan hati remuk, Gavin hanya bisa meratapi nasib sialnya. Ternyata semua tindakannya sudah diantisipasi oleh Tiffany sejak awal. Kini dia tidak punya pilihan selain pasrah menerima kenyataan.

Dengan hati remuk, Gavin hanya bisa meratapi nasib sialnya. Ternyata semua tindakannya sudah diantisipasi oleh Tiffany sejak awal. Kini dia tidak punya pilihan selain pasrah menerima kenyataan.

1
helena
ada batas teritorial nya🤣
helena
tante🤣
helena
kursi panas/Doge/
helena
jari jemari tim kevin /Proud/
Zed Analytical Number Nine
ngga bener nih, si Gavin
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Lasa Hardianti
WKWKWK Gavin langsung semangat banget pas dengar kartu kredit tanpa limit🤣 Lanjut baca dulu ah, penasaran rumah tangga kontraknya bakal seseru apa🤣😍
white star ⭐: "Terima kasih kak, dah mampir 😆"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Premisnya unik Kak. dari awal udah bikin penasaran gimana Gavin bisa berubah jadi TKI di Taiwan. Semangat update😁
Cilia
Lanjutin terus kak! Kepo sama kelanjutan cerita Gavinnn
white star ⭐: trimakasih kak, jadi semakin semangat buat nulis kelanjutan cerita ini
total 1 replies
helena
lanjut thorr💪
helena
😇
yugi chan 👧
lanjuuttt ....
white star ⭐: siap kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!