NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Wajah Baru

Ratna berdiri di depan salon hampir lima menit.

Pintu kaca itu memantulkan bayangannya. Kerudung sederhana, tas lama, sepatu hitam yang solnya mulai tipis. Di dalam, perempuan-perempuan duduk dengan rambut dibungkus handuk, kuku dicat, wajah diberi krim.

Ratna hampir berbalik.

Ia merasa tempat itu bukan untuknya.

Lalu ia mengingat suara Raka.

"Umur Mama sudah lima puluh."

Ia mengingat suara Mama Sulastri.

"Perempuan tua kalau mulai berdandan biasanya pikirannya tidak benar."

Ia mengingat Hendra.

"Tidak ada laki-laki waras yang mau menanggung perempuan tua penuh drama."

Ratna mendorong pintu salon.

Seorang pegawai menyambutnya dengan ramah.

"Selamat siang, Bu. Mau perawatan apa?"

Ratna gugup.

"Saya... mau potong rambut. Dan mungkin facial ringan. Saya tidak tahu cocoknya apa."

Pegawai itu tersenyum.

"Tidak apa-apa, Bu. Kita lihat dulu, ya."

Ratna duduk di kursi besar menghadap cermin. Ketika kerudungnya dilepas di ruang khusus perempuan, rambutnya yang mulai beruban terlihat. Ia refleks hendak menutupinya.

Pegawai salon itu tidak mengejek. Ia malah berkata, "Rambut Ibu tebal. Kalau dirapikan sedikit, wajah Ibu akan kelihatan lebih segar."

"Uban saya banyak."

"Banyak perempuan muda sengaja mewarnai rambut abu-abu sekarang, Bu."

Ratna tertawa kecil.

"Jangan menghibur saya."

"Saya serius."

Gunting mulai bekerja.

Setiap helai rambut yang jatuh membuat Ratna merasa ada beban kecil ikut terlepas. Ia tidak mengubah diri menjadi orang lain. Ia hanya membersihkan sesuatu yang selama ini dibiarkan karena terlalu sibuk merawat semua orang.

Setelah selesai, ia menatap cermin.

Wajahnya tetap wajah Ratna. Keriput halus di ujung mata masih ada. Garis lelah di sekitar mulut belum hilang. Tapi matanya tampak lebih terang.

Pegawai itu memasangkan kerudung dengan gaya sederhana.

"Cantik, Bu."

Ratna tidak langsung percaya.

Tapi ia tidak lagi membantah.

Keluar dari salon, ia mampir ke toko sepatu dan membeli sepasang sepatu nyaman untuk bekerja. Bukan yang mahal sekali. Bukan juga yang paling murah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memilih berdasarkan apa yang ia butuhkan, bukan apa yang tersisa dari kebutuhan orang lain.

Sore harinya ia bertemu Maya dan Bima di kafe dekat rumah sakit.

Bima langsung berlari memeluknya.

"Nenek!"

Ratna memejamkan mata saat tubuh kecil itu menabrak pinggangnya.

"Bima sudah makan?"

"Sudah. Mama yang beli."

Maya tersenyum canggung.

"Aku belajar, Ma."

Ratna menatap menantunya. Wajah Maya tampak lelah. Tidak ada riasan tebal. Rambutnya diikat asal. Di bawah matanya ada lingkar gelap.

"Duduk."

Maya duduk di hadapan Ratna, sementara Bima sibuk membuka buku gambarnya.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Akhirnya Maya berkata, "Ma, aku minta maaf."

Ratna tidak langsung menjawab.

Maya menelan ludah.

"Aku tahu permintaan maafku telat. Selama ini aku terlalu enak. Aku pikir wajar Mama bantu jaga Bima, bantu ambil paket, bantu ini itu. Aku tidak pernah tanya Mama capek atau tidak."

Ratna melihat mata Maya mulai berkaca-kaca.

"Kemarin satu hari saja aku urus semuanya, aku hampir gila. Bukan karena Bima. Tapi karena semua orang di rumah merasa berhak memerintah."

Ratna mengaduk teh.

"Kamu baru sadar karena sekarang kamu ikut kena."

Maya menunduk.

"Iya."

Jawaban jujur itu membuat Ratna sedikit melunak.

"Setidaknya kamu sadar."

"Ma, aku tidak akan meminta Mama pulang. Aku cuma... Bima kangen."

Bima mengangkat gambar.

"Nenek, lihat. Ini Nenek pakai baju merah."

Ratna menatap gambar itu.

Ada perempuan dengan kerudung merah berdiri di samping anak kecil. Di atasnya tertulis dengan huruf miring: Nenek Cantik.

Tenggorokan Ratna tercekat.

"Bagus sekali."

"Nenek jangan hilang, ya."

Ratna mengusap pipi Bima.

"Nenek tidak hilang. Tapi Nenek tidak tinggal di rumah dulu."

"Kenapa?"

Maya langsung ingin mengalihkan, tapi Ratna menggeleng.

"Karena orang dewasa sedang punya masalah. Bima tidak salah."

Bima mengangguk pelan, walau belum benar-benar mengerti.

Maya menatap Ratna.

"Ma, Mas Raka marah. Papa juga. Mama Sulastri setiap hari menyebut Mama durhaka."

"Aku sudah biasa."

"Jangan biasa lagi, Ma."

Kalimat itu membuat Ratna terdiam.

Maya menggenggam gelasnya.

"Aku tidak tahu apa aku bisa langsung berubah. Tapi kalau Mama butuh saksi soal rumah, soal siapa yang bayar kebutuhan, aku bisa bilang. Aku tahu banyak hal."

Ratna menatapnya.

"Kamu siap melawan Raka?"

Maya memucat.

Jelas belum sepenuhnya siap.

Tapi ia tidak mundur.

"Aku siap belajar."

Ratna tersenyum tipis.

"Itu awal yang cukup."

Malamnya, Ratna kembali ke kamar Bu Laras. Perempuan tua itu memeriksa penampilannya dari kepala sampai kaki seperti juri lomba.

"Nah, begini. Segar. Arga harus lihat."

"Bu..."

"Apa? Dia yang menawarkan kerja. Masa calon karyawannya tidak boleh dilihat?"

Seolah dipanggil, pintu terbuka. Arga masuk dengan Hanif di belakangnya.

Ratna berdiri.

"Pak Arga."

Tatapan Arga berhenti padanya sepersekian detik lebih lama dari biasa.

"Bu Ratna."

Bu Laras menyipit.

"Cuma begitu komentarnya?"

Arga melirik ibunya.

"Mama ingin saya komentar apa?"

"Bilang cantik."

Ratna langsung menunduk.

"Bu Laras..."

Arga terdiam sejenak. Lalu dengan suara datar, ia berkata, "Ibu terlihat lebih sehat."

Bu Laras menepuk dahi.

"Ya Allah. Anakku benar-benar harus sekolah ulang soal perempuan."

Hanif pura-pura melihat lantai.

Ratna menahan senyum, tapi pipinya terasa hangat.

Arga menyerahkan satu map padanya.

"Kalau Ibu masih berminat, ini detail posisi kerja. Tidak perlu jawab malam ini."

Ratna menerima map itu.

"Saya mau mencoba."

Arga menatapnya.

"Yakin?"

"Tidak."

Arga tampak sedikit terkejut.

Ratna melanjutkan, "Tapi saya sudah terlalu lama menunggu sampai yakin. Kali ini saya mau mulai meski takut."

Arga mengangguk pelan.

"Kalau begitu, Senin depan Ibu masuk."

Bu Laras tersenyum lebar.

"Bagus. Satu pintu lagi terbuka."

Ratna memegang map itu erat.

Di luar sana, Hendra mungkin masih mengira ia hanya sedang marah.

Ia tidak tahu, Ratna sedang belajar hidup tanpa menunggu izinnya.

Sebelum tidur, Ratna menggantung blus navy itu di pintu lemari kecil. Ia menyentuh kainnya pelan. Bukan kain mahal, tapi untuknya terasa seperti seragam perang.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Hendra.

"Kudengar kamu potong rambut dan beli baju lagi. Jangan membuat orang tertawa. Ingat umur."

Ratna membaca pesan itu tanpa rasa panas seperti dulu. Ia membuka kamera depan. Wajahnya muncul di layar, rambut tertutup kerudung, mata lelah tapi lebih hidup.

Ia tidak membalas Hendra.

Ia mengirim foto dirinya pada Maya.

"Menurutmu pantas untuk hari pertama kerja?"

Maya membalas cepat.

"Pantas banget, Ma. Bima bilang Nenek seperti bos."

Ratna tertawa pelan.

Setelah itu ia menghapus pesan Hendra dari notifikasi.

Umurnya lima puluh.

Justru karena itu, ia tidak punya waktu lagi untuk hidup menurut selera laki-laki yang mengkhianatinya.

Pagi Senin, sebelum berangkat, Ratna berdiri di depan cermin lebih lama dari biasa. Ia tidak berdandan tebal. Hanya bedak tipis, lipstik warna lembut, dan bros kecil di kerudung.

Ia mengangkat tas kerja yang baru dibelinya dari toko diskon. Harganya tidak mahal, tapi cukup untuk memuat map, botol minum, dan buku catatan barunya.

Di depan pintu, ia berhenti.

Dulu setiap keluar rumah, ia selalu membawa daftar titipan orang lain. Obat. Paket. Belanja. Pembayaran. Pesanan makanan.

Hari ini ia membawa daftar tugasnya sendiri.

Sebelum masuk mobil online, Ratna mengirim pesan pada Bu Laras.

"Saya berangkat kerja."

Balasan datang cepat.

"Pergi dan bikin mereka menyesal pernah meremehkanmu."

Ratna tertawa.

Doa Bu Laras memang terdengar seperti ancaman.

Tapi pagi itu, Ratna membutuhkannya.

Di dalam mobil, Ratna membuka ponsel dan melihat pesan Raka yang masuk subuh.

"Ma, hari ini mulai kerja?"

Ratna membalas, "Iya."

Lama tidak ada jawaban. Lalu Raka menulis, "Semoga lancar."

Hanya dua kata.

Ratna menatapnya sampai mobil berhenti di lampu merah. Ia tidak tahu apakah Raka benar-benar tulus atau hanya canggung. Namun ia memilih menerima doa itu apa adanya.

"Terima kasih," balasnya.

Ia tidak menambahkan nasihat. Tidak bertanya soal sarapan. Tidak bertanya apakah Hendra marah.

Hari ini ia harus hadir untuk dirinya sendiri dulu.

Ketika gedung Wijaya Group terlihat dari kaca depan, Ratna merapikan duduknya. Ia masih takut. Tapi ketakutan pagi itu tidak membuatnya ingin pulang.

Ia justru ingin membuktikan bahwa ia bisa masuk lewat pintu utama.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!