Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Ratna datang malam itu.
Tanpa pemberitahuan.
Tanpa senyum hangat.
Ia datang dengan dua mobil, satu asisten, dan wajah seorang perempuan yang sudah memutuskan untuk berhenti bermain terlalu lembut.
Marni hampir berlari ke ruang kerja.
"Nyonya Alya, Nyonya Ratna datang."
Alya sedang memutar rekaman pertemuan dengan Daren bersama Arga. Ia menghentikan audio tepat saat suara Daren berkata, `Dokter Hamzah bisa dikorbankan.`
Arga menatap pintu.
"Tentu saja dia datang."
"Kamu mau naik?"
"Tidak."
"Kondisimu?"
"Marah. Itu cukup."
Alya tidak membantah.
Mereka turun bersama.
Ratna berdiri di ruang tamu, masih memakai pakaian resmi. Mungkin ia baru pulang dari acara. Mungkin sengaja berpakaian seperti itu agar setiap orang di rumah ini ingat siapa dirinya.
"Arga," katanya. "Alya."
Alya duduk. "Bu Ratna datang malam-malam."
"Karena siang hari kamu sibuk menemui Daren."
"Mas Daren yang mengundang."
"Dan kamu merekamnya."
Arga tersenyum tipis. "Dia belajar dari keluarga ini. Jangan percaya percakapan tanpa bukti."
Ratna menatapnya. "Kamu semakin pandai menyindir."
"Aku semakin sadar."
Ratna menarik napas. "Baik. Kita bicara terbuka. Alya, apa yang kamu inginkan agar berhenti?"
Marni yang berdiri di belakang hampir mengangkat kepala.
Alya menyilangkan kaki. "Berhenti dari apa?"
"Menggali. Menghasut Arga. Menghubungi Karina, Satria, Rafi. Membuat semua hal internal menjadi senjata."
"Saya ingin kebenaran."
Ratna tertawa pendek.
"Jangan pakai kata suci di depanku. Kamu ingin posisi. Semua orang ingin posisi. Kamu hanya lebih pintar membungkusnya."
"Kalau Bu Ratna lebih nyaman dengan jawaban itu, silakan."
"Aku bisa memberimu posisi."
Arga menatap ibunya tiri. "Daren sudah mencoba."
"Daren masih muda. Dia menawarkan dengan cara yang salah."
"Dan Mama Ratna punya cara yang benar?"
Ratna mengabaikan nada itu dan menatap Alya.
"Aku bisa membuatmu diterima. Bukan sebagai menantu yang ditakuti, tapi sebagai bagian dari pusat keluarga. Yayasan bisa kamu pegang sebagian. Program kesehatan bisa memakai namamu. Aku bisa meminta Sinta berhenti merasa terancam, meminta Nabila tidak mengganggumu, bahkan memastikan Arga mendapat tempat di struktur tanpa perlu perang."
Alya mendengarkan sampai selesai.
Tawaran Ratna lebih halus daripada Daren.
Lebih luas.
Lebih beracun.
"Sebagai gantinya?" tanya Alya.
"Serahkan semua bukti kepadaku. Biarkan masalah obat berhenti di Dokter Hamzah. Biarkan kasus Raka diselesaikan keluarga Wibisana dan Hartono. Biarkan vendor yayasan diperbaiki diam-diam. Tidak ada audit forensik. Tidak ada lagi rapat komisaris yang mempermalukan keluarga."
Arga tertawa.
Ratna menoleh tajam. "Apa yang lucu?"
"Kamu menawarkan istriku sebagian kecil rumah yang hampir kamu bakar."
Wajah Ratna mengeras.
Alya berkata, "Saya menolak."
"Jangan terlalu cepat."
"Saya menolak."
"Kamu pikir Karina akan selamanya di sisimu? Satria? Rafi? Mereka semua punya kepentingan. Saat kepentingan berubah, kamu akan berdiri sendiri."
"Saya sudah pernah berdiri sendiri."
"Dengan nama Wiratama, pendidikan mahal, dan sekarang nama Pradipta."
"Dan Bu Ratna dengan nama Pradipta, uang Bima, jaringan yayasan, dokter pribadi, staf rumah, tetap harus datang malam-malam meminta saya berhenti."
Marni menahan napas.
Ratna menatap Alya seolah ingin merobek wajahnya.
"Kamu sangat sombong."
"Tidak. Saya hanya sedang menang di percakapan ini."
Arga menutup mulut.
Ratna berdiri.
"Kamu belum menang apa pun."
"Kalau begitu kenapa Bu Ratna menawarkan damai?"
Ratna tidak menjawab.
Ponsel Alya bergetar.
Rafi.
Ia mengangkat alis.
Ratna melihat layar itu.
Untuk sepersekian detik, wajahnya berubah.
Alya mengangkat telepon dengan speaker.
"Rafi."
Suara Rafi terdengar tegang. Ada suara angin dan kendaraan.
"Alya, Yoga tahu aku menyimpan dokumen. Dia menyuruhku datang ke gudang vendor malam ini. Katanya kalau aku tidak datang, aku dianggap mencuri dokumen internal."
Ratna membeku.
Arga langsung menegakkan tubuh.
Alya bertanya, "Kamu di mana?"
"Parkiran apartemen. Nabila menangis, minta aku menuruti mereka agar masalah selesai."
Di ujung telepon, suara Nabila samar terdengar, "Mas, jangan libatkan Mbak Alya lagi!"
Rafi berkata, "Aku tidak tahu harus percaya siapa."
Alya menatap Ratna.
Ratna menatap balik, wajahnya kembali tenang, tetapi matanya tidak.
"Jangan pergi ke gudang," kata Alya. "Kirim lokasimu. Tetap di tempat ramai."
"Kalau mereka lapor aku mencuri?"
"Kamu punya foto dokumen bertanggal kosong. Kamu punya pesan dari Yoga?"
"Ada."
"Bagus. Kirim semuanya ke aku, Karina, dan email cadanganmu. Sekarang."
Ratna berkata pelan, "Kamu membuatnya semakin takut."
Rafi terdiam di telepon. "Itu suara Bu Ratna?"
Alya menjawab, "Iya. Dia sedang duduk di depanku."
Hening.
Lalu Rafi tertawa pelan. Tidak lucu. Pahit.
"Berarti ini memang perangkap."
Nabila menangis lebih keras di belakangnya.
Alya berkata, "Rafi, dengarkan. Kalau kamu ingin keluar dari permainan mereka, berhenti mencari restu dari orang yang memasang jerat. Kirim dokumen. Setelah itu datang ke kantor pengacara Karina. Aku kirim alamat."
"Baik."
Telepon ditutup.
Ratna berdiri diam.
Alya meletakkan ponsel di meja.
"Bu Ratna masih ingin membicarakan damai?"
"Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan."
"Kalimat itu mulai membosankan."
"Rafi bisa menghancurkan Nabila."
"Yang menghancurkan Nabila adalah kebohongannya sendiri."
"Dia adikmu."
"Dan Arga anak tiri Bu Ratna. Kita lihat siapa yang lebih dulu mengingat arti keluarga."
Ratna melangkah maju. "Jangan bermain-main denganku, Alya."
Arga berdiri.
Gerakannya tidak cepat, tetapi cukup membuat semua orang menoleh.
"Jangan mengancam istriku di rumahku."
Ratna menatapnya.
"Rumahmu?"
"Ya." Arga menggenggam tongkatnya. "Rumahku. Tubuhku. Dokumenku. Istriku. Mulai biasakan diri dengan kata milikku."
Wajah Ratna pucat karena marah.
Alya menatap Arga.
Ia berdiri terlalu lama. Napasnya mulai berat. Namun matanya tidak mundur.
Ratna mengambil tasnya.
"Kalian akan menyesal."
Alya berkata, "Mungkin. Tapi bukan malam ini."
Ratna pergi.
Begitu pintu tertutup, Arga duduk kembali, wajahnya kehilangan warna.
Alya segera memberinya air.
"Kamu bodoh."
"Aku tahu."
"Berdiri seperti itu dalam kondisi begini?"
"Dia mengancammu."
"Aku bisa menjawab."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Arga menatapnya, lelah tetapi keras kepala.
"Aku hanya ingin dia tahu aku juga bisa."
Alya tidak langsung bicara.
Di ponselnya, pesan Rafi masuk bertubi-tubi: foto dokumen, tangkapan layar Yoga, lokasi apartemen, email cadangan. Bukti mulai datang seperti keran yang akhirnya dibuka.
Di luar, mobil Ratna meninggalkan halaman.
Di dalam, Arga memegang gelas dengan tangan gemetar.
Babak baru dimulai bukan dengan rapat atau pesta, tetapi dengan satu kalimat sederhana dari lelaki yang dulu tidak punya kuasa atas tubuhnya sendiri.
Rumahku.
Tubuhku.
Istriku.
Alya menatapnya dan untuk pertama kalinya tidak mengoreksi kata itu.
Namun tubuh Arga tidak sekuat kalimatnya.
Beberapa detik setelah suara mobil Ratna menghilang, lututnya melemas. Alya langsung menahan pinggangnya, sementara Lilis berlari mengambil kursi.
"Jangan panggil dokter," kata Arga cepat.
"Aku belum bicara."
"Wajahmu sudah bicara."
Alya membantunya duduk. "Kalau kamu pingsan setelah mengusir ibumu sendiri, itu bukan akhir yang elegan."
"Aku tidak mengusir."
"Kamu mengunci pintu dari dalam. Itu lebih mahal."
Arga tertawa pendek, lalu menutup dada. Napasnya tersendat. Alya menghitung diam-diam seperti yang diajarkan dokter: satu, dua, tiga, jangan panik sebelum angka ketujuh.
Di angka keenam, napas Arga kembali.
Ia membuka mata. "Jangan hapus momen tadi."
"Aku bukan editor video."
"Maksudku dari ingatanmu."
Alya menatapnya. "Aku tidak akan menghapusnya. Tapi kamu harus hidup cukup lama untuk memakai kalimat itu lagi tanpa hampir jatuh."
Arga mengangguk, terlalu lelah untuk membantah.
Ponsel Alya berbunyi. Pesan Karina masuk.
`Pengacara sudah siap. Rafi dalam perjalanan ke kantor kami. Aku suruh dia tidak melewati gudang. Yoga panik. Daren menelepon tiga kali.`
Alya menunjukkan pesan itu pada Arga.
Ia membaca pelan, lalu tersenyum tipis. "Jadi mereka kehilangan satu bidak."
"Bukan kehilangan. Bidaknya akhirnya sadar dia dipakai."
"Apakah itu membuat permainan selesai?"
Alya menggeleng. "Baru mulai."
Arga menatap pintu depan yang tadi dilalui Ratna. Suaranya kecil, tetapi jelas.
"Kalau baru mulai, kali ini aku duduk di meja."
Alya menyimpan ponselnya.
"Kalau begitu besok kita buat kursimu lebih kuat."
Lilis kembali dengan obat malam. Biasanya Arga langsung menerimanya.
Kali ini ia melihat labelnya dulu.
Alya tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunggu.
Arga membaca pelan, mengeja nama yang selama ini selalu disiapkan orang lain.
"Mulai sekarang," katanya, "aku mau tahu apa yang masuk ke tubuhku."
Alya mengambil buku catatan kosong dari laci.
"Baik. Kita tulis semuanya."