NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA KECIL

"Kenapa?" tanya Aura.

"Ravian bilang polisi lagi dalam perjalanan menuju klub. Mereka mau memeriksa apa ada anak di bawah umur."

"Ngapain panik? Kita kan udah dua puluh satu tahun." Aura masih terlihat santai.

"Itu di kehidupan sebelumnya, Au!" ucap Viana setengah berteriak.

Aleta dan Aura saling menatap.

"Astaga! Sekarang lo berdua masih di bawah umur!"

Aleta dan Aura bersamaan membelalak.

"Hahh?!" teriak keduanya kompak.

Aleta dengan cepat memasukkan undangan ke tempat yang aman, sementara Aura membantu memastikan ruangan kembali rapi. Setelah semuanya beres, keduanya segera keluar dari ruangan lalu menguncinya kembali.

"Keira?" tanya Aleta.

"Dia masih sama Robi. Di kamar nomor empat belas."

"Kamar?" tanya Aura yang menatap Aleta dengan ekspresi bingung.

"Ngapain ke kamar?" tanya Aleta.

Meski dipenuhi pertanyaan, keduanya tetap berlari menuju lokasi yang disebutkan Viana. Suara Viana kembali terdengar dari alat komunikasi.

"Dia bikin Robi mabuk. Jadi mereka pesan kamar."

"Gimana keadaan Keira?" tanya Aleta khawatir, walaupun dia tahu Keira pasti bisa mengatasinya.

"Gue nggak tau."

"Kenapa?" Aleta mengerutkan kening.

"Nggak ada CCTV di kamar."

Deg!

"Aura, lo duluan siapin mobil. Gue mau jemput Keira dulu," titah Aleta, dan Aura hanya bisa mengangguk setuju tanpa berniat protes.

Ketika keduanya akhirnya tiba di depan kamar nomor 14. Aura terus berlari, melewati pintu tersebut. Sementara Aleta mengetuk pintu itu.

Tok! Tok! Tok!

"Kei... Kei! Keira, buka pintunya!" serunya panik dari luar sambil terus mengetuk.

Tak ada jawaban. Aleta mengetuk lagi, kali ini lebih keras.

TOK! TOK! TOK!

"Kei!"

Ceklek.

Pintu akhirnya terbuka. Keira muncul dengan senyum santai, seolah tidak baru saja membuat tiga orang panik setengah mati.

"Panik... panik..." ejeknya sambil terkikik kecil.

"Ck! Buruan!"

"Ishh... Dingin banget..."

Tanpa membuang waktu, keduanya langsung berlari. Mereka melewati deretan pintu kamar yang berjajar di sepanjang koridor, kemudian melewati beberapa pintu ruangan VIP. Semakin jauh mereka berlari, suara musik semakin keras.

Dentuman bass mulai terasa sampai ke lantai. Begitu keluar dari koridor, pemandangan berubah total.

Area utama klub dipenuhi orang-orang yang sedang berjoget. Lampu warna-warni bergerak cepat, musik berdentum keras, dan kerumunan semakin padat karena malam semakin larut.

"Ga mau dugem bentar, Let?" tanya Keira sambil menoleh pada Aleta.

Aleta berhenti sebentar, membuat Keira menyeringai. Aleta lalu menatap balik Keira dengan tatapan yang terasa menusuk. Keira yang awalnya masih menyeringai langsung merubah ekspresinya.

"Bercanda," ucap Keira.

Keduanya lalu melewati kerumunan yang ternyata jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan. Orang-orang berdiri terlalu rapat hingga Aleta dan Keira beberapa kali harus menyelip di antara mereka.

"Permisi."

"Geser dikit."

"Eh, minggir!"

"Burhan! Sebelum lima menit, kalian harus sudah keluar!" Suara Viana kembali terdengar melalui alat komunikasi mereka.

"Iya, iya!" balas Keira.

Setelah berjuang melewati kerumunan, akhirnya mereka berhasil mencapai pintu keluar. Mobil Aura sudah menunggu di depan.

Begitu pintu terbuka, Keira langsung masuk, disusul Aleta. Keduanya duduk sambil mengatur napas yang masih tersengal.

"Udah?" tanya Aura.

"Jalan!" jawab Aleta cepat.

Aura langsung menginjak pedal gas.

Mobil melaju meninggalkan klub tepat ketika suara sirene mulai terdengar dari kejauhan.

"Itu polisinya. Untung kita keluar lebih cepat," gumam Keira.

Aura tidak menjawab, fokusnya tetap pada jalan. Begitu mereka mencapai jalan raya, sebuah mobil polisi melintas dari arah berlawanan.

Aleta spontan menoleh ke luar jendela. Mobil polisi itu melewati mereka begitu saja. Aleta mengembuskan napas lega setelah kendaraan tersebut semakin jauh.

"Kalo kita ketangkap, kira-kira kita bakalan diapain ya?" tanya Keira pada Aleta.

"Gatau. Yang jelas bakalan ribet urusannya kalo udah berurusan sama mereka," jawab Aleta.

"Gue kira polisi ga bakal berani masuk klub yang ada mafianya," ucap Keira.

"Selagi bukan klub yang isinya mafia semua, ngapain mereka takut kan?" timpal Aura.

"Iya juga sih..." jawab Keira.

Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya tiba di apartemen.

Begitu pintu terbuka—

Tup!

Suara letusan kecil terdengar. Setelah itu disusul oleh bunyi nyaring—

Peeeeettt!

"YUHUUU!"

Viana muncul dengan alat tiup pesta di tangannya, sementara Ravian berdiri di sampingnya dengan sisa serpihan kertas warna-warni yang berjatuhan di rambutnya.

"Apa-apaan ini?" tanya Aura.

"Hehee." Viana hanya nyengir.

Ketiganya masuk sambil mengatur napas. Keira langsung menunjuk Ravian.

"Lo juga! Kenapa ikut-ikutan sih?"

"Terpaksa," jawab Ravian singkat.

"Harusnya kalian senang. Pulang dalam keadaan capek, terus langsung dapat sambutan meriah dari gue sama Ravian. Jadi semangat lagi, kan?" ucap Viana dengan wajah bangga.

"Semangatnya nggak dapet." Keira menatapnya datar.

"Yang kita dapet cuma sakit telinga," timpal Aleta.

"Oh..." Viana memasang wajah polos. "Gitu, ya?"

Keira buru-buru mengubah ekspresinya menjadi ceria.

"Enggak, Na. Kita becanda doang kok. Iya kan, Ta?"

"Hmm..." dehem Aleta.

"Nah, gitu dong. Senyum!" seru Viana yang kembali ceria. Ia lalu memasukkan tangannya secara tiba-tiba ke saku jaket Keira.

"Eh! Lo ngapain?" tanya Keira yang terkejut.

"Nah, kan ketahuan." Viana tersenyum puas sambil menarik sesuatu keluar. Beberapa lembar uang merah berada di genggaman tangannya.

"Duit sebanyak itu dapat dari mana, Kak?" tanya Ravian, mewakili Aleta dan Aura yang juga ikut penasaran.

"Ya dikasih Robi, lah," jawab Viana.

Aleta dan Aura sama-sama menyipitkan mata.

"Itu beneran dikasih, kan? Bukan maling?" tanya Aura.

"Iya. Kalau masalah duit, gue nggak berani maling."

"Tapi kalau mobil orang berani, kan?" Viana mengangkat dan menurunkan alisnya bergantian dengan cepat.

Keira menatapnya tak percaya. "Bukan gitu konsepnya, anjir!"

Keira menghela napas sebelum menjelaskan. "Maksud gue, kalau nyuri sesuatu yang bikin orang lain rugi, itu bukan tipe gue."

Keira lalu menunjuk Aleta dan Aura. "Contohnya kayak Aleta sama Aura yang ngambil undangan. Itu namanya nyuri, tapi nggak ngerugiin siapa-siapa."

"Tapi kasihan Robi. Dia harus bikin undangannya lagi," ucap Viana.

"Yaudah, kalau lo ngerasa kasihan, balikin aja tuh satu undangan punya lo. Biar lo nggak bisa ikut." Keira menyilangkan tangan.

"Ga, Kei. Robinya juga gapapa kok," ucap Viana cepat.

Keira hanya mendengus. Ravian yang sejak tadi hanya mendengarkan pun menggeleng kecil.

Entah kenapa, setiap kali empat perempuan itu berkumpul, percakapan sederhana selalu berubah menjadi perdebatan yang sama sekali tidak penting.

...****************...

Keesokan harinya, suasana parkiran sekolah sudah cukup ramai.

Aleta, Aura, Viana, Keira, dan Ravian baru saja hendak menuju kelas ketika mereka melihat beberapa orang sudah menunggu di dekat kendaraan.

Adrian berdiri paling depan. Begitu melihat Aleta, tatapannya langsung tertuju padanya. Adrian berjalan mendekat, lalu tanpa banyak bicara, Adrian meraih tangan Aleta. Namun baru saja jemarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu—

Aleta tiba-tiba meringis kecil. Adrian langsung berhenti.

"Kenapa?" tanyanya?

"Nggak apa-apa," jawab Aleta tenang. Namun ketenangannya, justru membuat Adrian khawatir. Tatapan Adrian berubah serius.

Ia memperhatikan lengan Aleta yang tertutup pakaian berlengan panjang. Tanpa banyak bicara, Adrian menarik sedikit kain yang menutupi pergelangan tangan itu dengan hati-hati.

Matanya langsung menyipit saat melihat ada luka di sana. Tidak besar, namun goresannya terlihat cukup dalam hingga membuat Adrian mengernyit.

"Ini kenapa?"

Aleta hanya menatap lukanya sebentar sebelum menjawab, "Gatau."

"Ke UKS."

"Ga."

"Gue nggak minta persetujuan lo."

Adrian berjalan lebih dulu sambil menarik tangan yang satunya, namun Aleta sama sekali tidak bergerak.

Adrian menghela napas pendek. "Jalan atau gue gendong?"

Mata Aleta seketika melebar mendengar ancaman Adrian. Hingga akhirnya, ia pun terpaksa mengikuti Adrian menuju UKS.

Gavin yang melihat keduanya pergi spontan hendak menyusul. Tetapi Zion langsung menahan bahunya.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Biarin aja mereka berdua."

Gavin mengedip pelan. Ia kemudian mengangguk dengan wajah penuh pengertian.

"Ohhh..."

...****************...

Di dalam UKS, suasananya jauh lebih tenang.

Adrian mengambil kotak obat, lalu duduk di hadapan Aleta. Ia membersihkan luka itu dengan hati-hati sebelum mengoleskan obat.

Aleta hanya diam. Tanpa mengeluh ataupun meringis seperti tadi. Luka sekecil itu tidak akan cukup untuk membuat seorang Queen Moon menunjukkan rasa sakit.

Adrian yang sejak tadi memperhatikannya pun akhirnya bertanya, "Sakit?"

Aleta menggeleng.

"Kena apa? Kok bisa begini?" tanya Adrian lagi.

"Ummm..." Aleta berpikir sejenak. "Gatau."

Adrian terkekeh kecil mendengar jawaban konyol itu.

"Kok gatau..." ucapnya sengaja menirukan gaya bicara Aleta.

"Kena pintu, maybe?" ucap Aleta ngasal. Adrian mengangkat alis mendengar jawaban yang tidak masuk akal baginya.

"Goresannya terlalu dalam buat sebatas kena pintu." Adrian kembali mengoleskan obat. "Pasti kena benda tajam. Kayak pisau atau kaca."

Aleta terdiam beberapa detik.

"Kayaknya kaca, deh," ucapnya memperkirakan.

Adrian menatapnya lagi. "Kok bisa kena kaca?"

"Gue nggak inget," jawab Aleta jujur

Adrian berhenti mengoleskan obat. "Kalau nggak inget, kenapa bisa tahu itu kena kaca?"

Aleta terdiam.

"Ya... mungkin aja emang kena kaca."

Adrian akhirnya tertawa kecil. "Kok gini sih cara seorang Queen Moon ngomong?"

"Gini gimana?" Aleta mengerutkan kening.

"Keliatan bodoh."

"Maksud?!"

"Lo tahu kenapa obrolan kita muter-muter dari tadi?" tanya Adrian yang akhirnya selesai mengobati tangan Aleta. Sementara Aleta menaikkan salah satu alisnya bingung. Adrian lalu menatapnya sejenak.

"Karena lo nggak ngasih tahu jawaban yang sebenarnya." Ia kemudian menunjuk wajah Aleta. "Dan lo juga gugup."

"Gugup? Ngapain gue gugup? Perasaan tadi nggak gugup, deh."

Adrian langsung tersenyum.

"Tuh, kan."

"Tuh kan apanya?"

"Lo jadi lebih banyak ngomong sekarang."

Aleta terdiam. Adrian tertawa kecil melihat ekspresi Aleta.

"Lo juga, kan?"

"Iyaaa..." Adrian menyandarkan tubuhnya sedikit. "Dan gue cuma bisa kayak gini ke orang-orang tertentu."

Aleta menatapnya penasaran.

"Kayak..." Adrian berhenti sebentar, seolah memilah orang-orang yang benar-benar dekat dengannya.

"Daddy. Mommy.".Tatapannya kemudian beralih pada Aleta. "Lo."

"Gue?" Aleta menunjuk dirinya sendiri.

"Iya."

"Kenapa gue? Ariana enggak?"

Adrian menggeleng.

"Terakhir kali gue bertingkah kayak gini mungkin waktu umur gue empat belas tahun." Ia terdiam sebentar. "Setelah itu sampai sekarang, gue selalu bersikap dingin."

Adrian menunduk, memperhatikan luka Aleta yang baru saja selesai ia obati.

"Dulu gue nggak nyaman banget waktu dilarang banyak ngomong."

Aleta mendengarkan tanpa menyela.

"Karena kata Daddy, orang yang banyak omong nggak akan bisa sukses. Apalagi yang hobinya ngomongin kejelekan orang lain." Ia tersenyum tipis.

"Tapi sekarang gue udah mulai terbiasa irit bicara." Adrian kemudian menatap Aleta lagi. "Itu sebabnya gue paling dekat sama Zion. Dia selalu paham bahasa gue. Dia juga nggak banyak bicara kayak yang lainnya."

"Gue cerita panjang lebar begini..." Adrian menarik napas. "Gapapa, Ta?"

"Gapapa," ucap Aleta disertai gelengan. Ia menatap Adrian tenang.

"Jangan karena gue jarang ngomong, lo pikir gue nggak suka dengerin cerita orang," ucap Aleta, lalu diakhiri kekehan kecil yang membuat Adrian terlihat sedikit lega.

"Gue kira lo bakal ngerasa nggak nyaman."

"Gapapa. Lanjutin aja."

"Hmm..." Adrian tersenyum.

"Nanti malam ada waktu nggak?" tanya Adrian pelan.

Aleta berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ada... Maybe."

Adrian langsung mengernyit. "Kok maybe sih?"

"Ya, kan gue belum tau. Emangnya kenapa?"

"Gue mau ngajakin lo dinner," ucap Adrian tanpa ragu.

Deg!

Mata Adrian terus menatap lekat mata indah Aleta. Aleta terdiam sesaat. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.

"Gimana?" tanya Adrian menyadarkan lamunan Aleta.

"Nanti gue jemput pakai mobil. Tinggal lo kasih tahu alamat lo aja," ucap Adrian dan Aleta akhirnya mengangguk kecil.

"Boleh, deh. Tapi kalau gue free, ya. Dan gue ga janji."

"Iya." Adrian kemudian mengulurkan tangannya. "Yaudah, sini nomor DANA lo."

"DANA?" Aleta mengerutkan kening.

"Iya. Kan nomornya sama aja," jawab Adrian santai.

"Buat apa?" tanya Aleta yang masih belum mengerti.

"Gimana caranya lo share lokasi ke gue kalau nomor lo aja gue nggak punya?"

"Oh..." gumam Aleta akhirnya paham. Ia mengeluarkan ponselnya.

"Nih. Scan aja."

Adrian menerima ponsel itu. Saat itu, Aleta benar-benar bisa memperhatikan wajah Adrian dengan baik. Walaupun tidak terlalu dekat, tapi dia akhirnya menyadari jika Adrian memiliki wajah tampan yang nyaris sempurna. Ia juga akhirnya tau...

Ternyata pria yang dikenal sebagai sosok paling dingin dan kejam di antara Black Demon itu, juga bisa cerewet. Hanya saja, tidak kepada semua orang.

1
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
Nongnong 🦩: namanya juga manusia 😔
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
Nongnong 🦩: Adrian mah gercep
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
Nongnong 🦩: Author juga demen 🤑
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
Nongnong 🦩: Author juga sering kaya gtu, padahal ga reinkarnasi 🤧
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
Nongnong 🦩: cari aman dulu wkwkwk
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
Nongnong 🦩: silakan mengeluarkan kata² mutiara mu kak
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
Nongnong 🦩: real .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!