NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Kayla masih terdiam beberapa saat setelah mendengar semua penjelasan Mahesa.

Bayangan hidup mewah setelah menikah perlahan menghilang dari benaknya.

Ia baru sadar, laki-laki yang berdiri di hadapannya bukan lagi Mahesa yang dulu selalu tampak tenang.

Kini Mahesa membawa begitu banyak beban. Utang bank. Cicilan leasing. Usaha bengkel yang mulai menurun. Dan kehilangan keluarga yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Kayla menarik napas panjang. "Kalau masalahnya rumah..."

"...kita tidak perlu tinggal di sana."

Mahesa menatap Kayla tanpa ekspresi.

"Aku masih punya apartemen."

"Kita tinggal di apartemenku saja."

Mahesa tetap diam.

Kayla kembali melanjutkan. "Aku juga bekerja."

"Gajiku cukup untuk kebutuhan sehari-hari."

"Untuk biaya makan, listrik, air, dan kebutuhan rumah, biar aku yang tanggung."

"Aku bisa seperti Aurel."

"Aku bisa membantu keuangan keluarga."

Mahesa tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Justru terasa pahit.

"Kay..." ucap Mahesa

"Masih mau apa lagi yang kupastikan?" tanya Kayla lirih.

"Aku sudah kehilangan Ardi."

"Aku juga siap membantu keuangan."

"Aku bahkan sudah menyiapkan tempat tinggal."

"Kenapa kamu masih ragu menikah denganku?"

Mahesa menatap meja beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat wajah.

"Karena semuanya sudah berbeda."

Kayla mengernyit.

"Dulu..."

"Setiap bertemu denganmu, yang kurasakan hanya senang."

"Sekarang..."

"Setiap bertemu, kita hanya bertengkar."

Kayla langsung menggeleng. "Itu karena kita sedang banyak masalah."

"Tidak." Mahesa menghela napas panjang.

"Aku mulai bertanya pada diriku sendiri."

"Apa yang dulu kita sebut cinta..."

"...benar-benar cinta?"

"Atau hanya pelarian dari kejenuhan?"

Kalimat Mahesa membuat wajah Kayla memucat.

"Mas..."

"Aku serius mencintaimu." kata Kayla.

Mahesa tersenyum hambar. "Dulu aku juga berpikir begitu."

"Tapi sekarang..."

"...yang kurasakan hanya penyesalan."

Ruangan kembali hening. Mahesa melanjutkan dengan suara pelan.

"Setiap hari aku melihat Raka."

"Setiap hari aku mengingat Aurel."

"Aku kehilangan keluargaku."

"Orang tuaku juga tidak mau menerimaku."

"Lalu sekarang kamu memintaku memulai hidup baru."

"Aku belum mampu."

Kayla menahan air matanya. "Jadi..."

"...kamu tidak mau menikah denganku?"

Mahesa memejamkan mata. "Bukan tidak mau."

"Aku belum bisa."

Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan. Karena Kayla tahu, kata belum bisa berubah menjadi tidak akan pernah.

"Kalau aku terus menunggu?" tanya Kayla dengan suara bergetar.

Mahesa terdiam cukup lama. "Aku tidak bisa menjanjikan apa pun."

Jawaban itu membuat air mata Kayla akhirnya jatuh. Selama ini ia rela mengorbankan persahabatan, pertunangan, bahkan nama baiknya.

Semua karena yakin Mahesa akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Namun kini, setelah Aurel benar-benar pergi dari kehidupan Mahesa, laki-laki itu justru tidak lagi menunjukkan keinginan yang sama.

Kayla perlahan berdiri dari kursinya. Matanya masih menatap Mahesa, berharap ada satu kalimat yang mampu mengubah semuanya.

Namun Mahesa hanya menundukkan kepala. Tidak ada usaha menahan Kayla. Tidak ada janji. Tidak ada kepastian.

Saat Kayla melangkah keluar dari ruang kerja itu, ia akhirnya menyadari satu kenyataan yang selama ini tidak pernah ingin ia akui. Ia memang berhasil merebut Mahesa dari Aurel. Tetapi ia gagal mendapatkan hati Mahesa yang kini dipenuhi penyesalan. Dan untuk pertama kalinya, kemenangan yang selama ini ia perjuangkan terasa begitu kosong.

Kayla keluar dari bengkel Mahesa dengan langkah pelan.

Meski matahari masih bersinar terik, tubuhnya terasa dingin.

Ia membuka pintu mobil, lalu duduk di balik kemudi.

Namun mesin mobil tak kunjung dinyalakan. Tangannya masih menggenggam setir, sementara pikirannya dipenuhi percakapan beberapa menit yang lalu.

"Kalau aku masih dalam masa pemulihan setelah perceraian, apa kamu bisa menunggu?"

Kalimat Mahesa itu terus terngiang di kepala Kayla.

Kayla memejamkan mata. Ia tidak pernah membayangkan akan mendengar pertanyaan seperti itu.

Selama ini, Kayla berpikir begitu Aurel resmi bercerai, Mahesa akan langsung datang melamarnya.

Mereka akan segera menikah. Memulai hidup baru. Namun kenyataannya justru sebaliknya.

Mahesa terlihat enggan. Tidak ada lagi semangat yang dulu selalu ia tunjukkan setiap bertemu dengannya. Yang ada hanya wajah lelah dan penuh penyesalan.

Kayla mengembuskan napas panjang.

"Aku harus menunggu sampai kapan, Mas?" gumamnya lirih. Ia benar-benar tidak mendapatkan kepastian.

Hari ini Mahesa mengatakan belum siap.

Besok?

Sebulan lagi?

Setahun lagi?

Atau...

Tidak akan pernah?

Pikiran itu membuat dada Kayla terasa sesak. Selama ini ia rela kehilangan banyak hal. Persahabatannya dengan Aurel. Pertunangannya dengan Ardi. Kepercayaan kedua orang tuanya. Bahkan nama baiknya di mata banyak orang.

Namun setelah semua pengorbanan itu, yang ia dapat justru sebuah penantian tanpa ujung.

Kayla akhirnya menyalakan mesin mobil. Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Apa Mahesa benar-benar masih mencintaiku?"

"Atau..."

"Dia hanya merasa bersalah kepadaku?"

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Ia mulai mengingat bagaimana sikap Mahesa beberapa minggu terakhir.

Setiap kali bertemu, Mahesa selalu membahas Aurel. Tentang penyesalan. Tentang Raka. Tentang rumah. Tentang utang. Tentang usaha bengkelnya.

Hampir tidak pernah lagi membicarakan masa depan mereka.

Kayla menggigit bibir bawahnya.

"Jangan-jangan..."

"...yang dia sesali bukan perselingkuhan itu."

"Tapi kehilangan Aurel."

Kalimat itu membuat air mata Kayla jatuh.

Mobil berhenti di lampu merah. Kayla mengusap pipinya dengan cepat. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Bukan takut hidup sederhana. Bukan takut membantu ekonomi rumah tangga. Melainkan takut menjadi perempuan yang diperjuangkan saat hubungan masih menjadi rahasia, tetapi ditinggalkan ketika semuanya telah terbongkar.

Sesampainya di apartemen, Kayla menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ruangan itu terasa begitu sunyi. Apartemen yang dulu ia bayangkan akan menjadi tempat memulai kehidupan bersama Mahesa kini justru terasa kosong. Ia menatap langit-langit sambil mengingat kembali pertanyaan Mahesa.

"Kalau aku masih dalam masa pemulihan setelah perceraian, apa kamu bisa menunggu?"

Kayla menghela napas panjang. "Aku bisa menunggu..."

"...tapi aku tidak bisa menunggu tanpa kepastian."

Karena bagi Kayla, menunggu bukanlah hal yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah tidak tahu apakah penantian itu akan berakhir di pelaminan...atau justru berakhir dengan penyesalan yang lebih dalam.

1
Yuyu
mamam tuh
Eneng Farida
dasar tidak tahu dri kmu kayla pengen hdup seneng dan bahagia atas jeri payah istri sah makan tuh laki2 kere
Ma Em
Semoga masalah Aurel dgn Mahesa cepat selesai .
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!