Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Georgina terus kepikiran pada cara Leon setiap kali menatap Reka. Ya, Georgina memang tidak pernah sekalipun melihat Reka menatap Leon seperti cara pria itu menatapnya, tetapi malam ini ada sesuatu yang berhasil membuat Georgina berkesimpulan bahwa wanita itu pun masih mencintai mantan suaminya.
*
Di mall.
"Sebaiknya kita pulang saja, mas! Aku khawatir baby Richard akan kelelahan nantinya." Beberapa saat sepeninggal Georgina, Reka berinisiatif mengajak Leon untuk segera pulang.
"Kamu khawatir baby Richard kelelahan atau kamu tidak ingin berlama-lama bersama Daddy-nya?."
Reka menelan ludah mendengar kalimat Leon. Ia yakin Leon sengaja menyindirnya.
"Bukan begitu, mas. Aku hanya _."
"Aku perhatikan, setelah mengungkapkan semuanya di depan Geo, kamu sengaja menghindariku, Reka." Leon memotong dengan nada rendah.
"Asal kamu tahu, rencana pernikahanku dengan Georgina murni perjodohan orang tua kami. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya." Pengakuan Leon sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan harga diri Georgina sebagai seorang wanita, pria itu hanya ingin mengungkapkan kenyataan tentang perasaannya.
"Semua itu tidak ada hubungannya denganku, mas. Jadi, tidak ada untungnya juga mas sampaikan padaku." Setelah mengatakan kalimat itu, Reka berjalan menuju ke arah lift dengan mendorong stroller baby Richard. Leon lantas menyusul langkahnya dan mereka kembali bertemu di dalam lift.
"Sekalipun mas mengaku tidak mencintai Georgina dan bahkan berniat membatalkan pernikahan kalian, aku tidak akan mungkin kembali bersamamu, mas. Karena aku tidak ingin sampai Georgina berpikir aku merebutmu darinya." Batin Reka.
*
Sejak acara jalan-jalan ke mall seminggu lalu, Leon dan Reka hampir tak pernah lagi bertemu selain di kantor, sebagai bos dan pegawai. Kalau untuk bertemu dengan baby Richard, Leon perlu bantuan Georgina untuk menjemput putranya tersebut di apartemen. Semua itu merupakan keinginan Reka yang tidak ingin merusak hubungan baiknya dengan Georgina. Karena menurutnya, setiap kali bertemu dengan Leon, pria itu selalu saja hampir berhasil meruntuhkan pertahanannya. Hatinya hampir tak kuasa menahan perasaan terhadap pria itu, terlebih Leon masih saja menyindir tentang hubungan masa lalu mereka.
Seperti biasa, Reka harus sudah berada di apartemen sebelum jam enam sore karena art dan juga baby sitter yang membantunya mengasuh baby Richard akan meninggalkan apartemen pada jam segitu. Sebenarnya Leon sudah menyarankan agar art dan baby sitter menginap saja, namun Reka menolak dengan alasan ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama sang putra pada malam harinya.
Sepulang kerja Reka menyuapi baby Richard kemudian menemani bocah itu bermain beberapa waktu sembari menunggu waktunya bocah itu untuk tidur.
Melihat jarum jam telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Reka pun mengajak baby Richard ke kamar untuk beristirahat. "Ayo sayang..... waktunya bobo..."
Bocah itu hanya merespon ajakan ibunya dengan suara ocehannya. Baby Richard memang sudah mulai belajar berjalan selangkah dua langkah, namun untuk berbicara belum terlalu jelas. Hanya kosa kata mommy yang terucap jelas dari mulut bocah itu.
Reka jadi bingung sendiri saat baby Richard tiba-tiba rewel dan menolak botol susunya. Ia lantas meletakkan punggung tangan ke dahi bocah itu.
"Astaga....badan kamu panas, sayang." Kata Reka dengan wajah berubah cemas. Ia lantas menoleh ke arah jam yang menggantung pada dinding kamar. Sudah pukul sebelas malam.
Di saat genting seperti ini Reka langsung teringat pada Georgina yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak.
"Sebaiknya aku menghubungi Geo."
Reka meraih ponselnya dari atas nakas kemudian melakukan panggilan telepon pada nomor kontak Georgina. Kalau memang nantinya menurut hasil pemeriksaan Georgina, baby Richard perlu di bawah ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut, maka ia akan membawanya ke rumah sakit, begitu pikir Reka.
Setelah mendapat telepon, Georgina langsung bergerak bersama mobilnya menuju apartemen Reka. Wanita itu tak lupa membawa tas perlengkapan medisnya serta beberapa obat-obatan.
"Ting... Tong... Ting....Tong....."Mendengar suara bel apartemen berbunyi, Reka gegas beranjak untuk membukakan pintu. Ia yakin pasti Georgina yang datang.
"Badan baby Richard panas banget, Geo." Kata Reka hampir menangis.
"Jangan panik!."
Reka mengajak Georgina menuju kamar untuk memeriksa kondisi putranya.
Georgina membuka tas perlengkapan medisnya lalu mengeluarkan stetoskop dari dalam sana, kemudian mulai menempelkan alat tersebut ke beberapa bagian tubuh baby Richard.
"Apa baby Richard habis imunisasi?." Tanya Georgina setelah selesai memeriksa kondisi baby Richard.
Reka mengangguk. "Pagi tadi aku sempat membawanya untuk imunisasi sebelum berangkat kerja." Jawab Reka.
Georgina mengangguk paham. Kini ia sudah mulai mengetahui penyebab demamnya bocah itu.
"Sepertinya ini efek dari imunisasi makanya badannya panas, tapi kamu tidak perlu terlalu cemas karena itu biasa terjadi pada baby yang habis imunisasi. Kebetulan saya membawa obat penurun demam." Georgina mengeluarkan sebotol obat penurun demam anak lalu memberikannya pada Reka. "Minumkan pada baby Richard! Dosisnya sudah tertera pada label kemasan. Biasanya setelah mengkonsumsi obat penurun demam serta mengompres nya dengan air hangat, suhu tubuh akan berangsur-angsur pulih dan kembali pada suhu normal!." Terang Georgina.
"Terima kasih banyak, Geo. Kalau tidak ada kamu, entah pada siapa aku harus meminta bantuan." Reka tertunduk sungkan. Dari sikapnya, Georgina yakin Reka tidak memberitahukan pada Leon tentang kondisi baby Richard saat ini.
"Tidak perlu sungkan, terlebih lagi jika berurusan dengan baby Richard!."kata Georgina dengan lembut.
"Sekali lagi terima kasih, Geo."
"Sama-sama....kalau begitu aku balik dulu, soalnya masih ada urusan lain."
"Iya."
Reka mengantarkan Georgina sampai ke depan dan kembali setelah melihat Georgina masuk ke dalam lift.
*
Sekembalinya di mobil, Georgina menghubungi Leon.
"Ada apa menelepon malam-malam begini?." begitu panggilannya tersambung, Georgina langsung di sambut oleh kalimat dingin Leon.
Georgina tersenyum kecut mendengarnya.
"Bisa juga kamu beristirahat dengan nyaman di saat putramu sedang demam."
"Baby Richard demam?." Ulang Leon.
" Hmm.....Tadi aku sudah memberinya obat penurun demam, semoga saja demamnya segera turun."
"Aku akan ke apartemen sekarang." Setelah berkata demikian, Leon langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja hingga Georgina kembali tersenyum dibuatnya. Bukan senyuman bahagia, melainkan sebuah senyum yang tersirat akan makna.
*
Leon menyambar kunci mobilnya dan gegas berlalu menuju garasi mobil. Dengan mengendarai mobil sedan berwarna hitam miliknya, Leon melaju menuju apartemen.
Baru saja mendudukkan tubuhnya dengan sedikit lega di tepi tempat tidur usai memastikan suhu tubuh baby Richard mulai berangsur-angsur pulih, Reka mendengar seseorang memencet bel apartemen. Berpikir mungkin saja Georgina kembali lagi, Reka lantas beranjak untuk membukakan pintu.
Deg
Saat pintu terbuka, Reka melihat tubuh tegap Leon berdiri di depan pintu apartemen.
"Kenapa tidak memberitahu aku kalau baby Richard demam?." Tak ada nada marah dari kalimat Leon, yang ada hanya kekhawatiran. Leon melangkah begitu saja melewati tubuh Reka. Ia masuk ke kamar untuk memastikan kondisi sang putra dan Reka pun segera menyusul.
"Demamnya sudah mulai turun."kata Reka.
"Aku akan menginap di sini malam ini."
Reka ingin protes, tapi tidak berani karena faktanya Leon adalah ayah kandung baby Richard dan pastinya berhak atas putranya, terlebih di saat kondisinya sedang demam seperti ini.
"Terserah mas saja."
Baik Leon maupun Reka sama-sama duduk ditepi tempat tidur, namun di sisi yang berlawanan. Keduanya terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi sang buah hati.
"Maafkan Daddy, nak.... Daddy tidak tahu kalau kamu sedang demam...." Gumam Leon seraya mengusap lembut pipi putranya.
Leon menatap Reka.
"Sebaiknya kamu istirahat, biar baby Richard aku yang menjaganya."
"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau kondisi putraku demam seperti ini, mas." Reka hampir tak kuasa menahan air mata, tak tega melihat sang putra sakit seperti sekarang ini.
"Demamnya sudah mulai turun. Sebaiknya kamu istirahat. Kalau kamu sampai ikutan sakit, lalu siapa yang akan merawat anak kita nanti?."
Reka mengangguk. wanita itu lantas duduk bersandar pada headboard ranjang dan lama-kelamaan tertidur.
Ibnu lebih gila lagi...