Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Karena Kamu
Lagi-lagi Emma terperangkap di ruang penuh meja bertumpukan buku itu. Dia berusaha membunuh rasa sepinya dengan mendengarkan musik dengan headsetnya tapi tak berhasil. Musik yang didengarkan justru membuatnya menguap seperti dinina bobokan. Ruang Guru itu sangat sepi tak berpenghuni karena semua rekannya sedang asyik mengajar sedari pagi.
"Huft... Enak banget ya yang punya jam mengajar banyak. Sedangkan aku? Haish!! Dasar Levi, dia ngasih pelet apa sih ke Aren Gentong?!"
Ini tidak bisa dibiarkan, Levi sudah menjadi penghalang utama bagi penyelidikannya. Mulai dari wajah gantengnya yang membuat Emma terlena, hingga kemampuannya memenjarakan Emma di ruang Guru terkutuk ini. Bahkan hanya dengan kehadirannya saja, sudah menjadi ancaman. Ingat betapa Emma tidak bisa berbohong tentang gudang terbengkalai?
Dan anehnya sampai sekarang Levi tidak menanyakan tentang adegan di gudang itu ke Emma. Itu membuat Emma menjadi was-was.
"Aku harus menyingkirkan Levi dari semua ini. Tapi bagaimana caranya? Sekali senyum aja bisa membuatku tak berkutik. Haisshhhh!!!!"
Emma mengumpat berulang kali, menendang lantai yang tak bersalah, dan kembali merebahkan kepalanya diatas laptopnya yang tidak menyala karena tidak ada kerjaan itu.
"Hai!"
Seseorang menepuk pundak Emma yang menundukkan kepala itu.
"Eh kucing kucing!" Emma terkejut dengan kedatangan seseorang yang ternyata adalah Pak Martin si guru Matematika.
"Sendirian aja nih Bu?"
"Kelihatannya?" Emma mendengus, merasa Martin telah mengoloknya.
"Weits... Santai dong! Seenggaknya anda tidak dirumahkan kan? Aneh juga sih, dipekerjakan tapi nggak dikasih kerjaan. Anda punya ordal ya?" Celetuk Martin yang berhasil menambah alasan Emma untuk tidak menyukai Martin.
"Nggak lucu!" Emma kembali menanamkan kepala ke meja.
"Btw, gimana dengan gudang itu?"
Pertanyaan mendadak itu membuat Emma langsung mengangkat kepalanya.
"Gudang? Gudang apa?" Jawab Emma dengan mata jelalatan.
"Ck, anda ini memang nggak bisa bohong ya. Setidaknya sembunyiin salah tingkahmu itu Bu." Martin menyilangkan tangannya dan duduk di kursi sebelah meja Emma.
"Ha-hahaha."
Semua kata Martin memang tepat sasaran, padahal Emma bukan polisi kemarin sore, dia seorang senior. Tapi bagaimana mungkin dia sangat bodoh dalam berakting.
"Gimana Bu? Udah menangkap hantunya? Aku lihat kemarin-kemarin anda masuk gudang sama Pak Levi." Tanya Martin, membulatkan matanya dan sedikit berbisik.
"Hahaha...hantu apaan? Nggak ada tuh! Rugi banget aku percaya omongan anda," Emma berusaha menjadikan aktivitas berburu hantu sebagai alasan.
"Ah masa nggak ada, padahal sebulan yang lalu aku pernah dengar suara dari gudang itu," Martin menyipitkan matanya lagi masih berbisik-bisik.
"Hah? Suara? Suara apa?"
Martin menggeser kursinya untuk mendekat ke Emma. Martin memiringkan kepalanya agar Emma bisa mendengar suara pelanya dengan jelas.
"Tolong...tolong...buka....kumohon buka..."
Emma terkejut, apakah itu suara Dion? Apakah Dion benar-benar disekap disana?
"Eyy mana mungkin ada hantu," Emma kembali dengan akting jeleknya itu.
"Beneran bu, waktu itu aku dengar pas malam sekitar jam sembilan. Kebetulan waktu itu aku sedang lembur membantu Pak Levi mengerjakan laporan BOS karena sebentar lagi ada monev."
"Pak Levi? Pak Levi juga berada di Sekolah waktu itu?" Tanya Emma.
"Tentu saja, tidak hanya Pak Levi, Pak Surya juga ada di sekolahan tapi di Kantornya beliau sendiri. Ya namanya juga kepala sekolah, mau nemenin bawahannya lembur aja udah bagus banget."
Emma tidak menyangka akan mendengar informasi yang sangat penting ini. Dengan keterangan ini, setidaknya dia tahu kalau ada tiga orang yang berada di TKP sebelum tragedi itu terjadi. Tinggal memastikan apakah Dion benar-benar berada di gudang malam itu.
Andai saja dia juga mengantongi bukti seperti CCTV pasti usahanya itu tidak terlalu sulit.
Namun, dari semua informasi yang diberikan oleh Martin, justru yang paling mencurigakan adalah Martin itu sendiri. Ada maksud apa Martin malam itu melewati area gudang padahal gudang ini terpisah dengan gedung lain, walaupun masih dekat dengan area Aula. Alasan apa dia berada disana malam itu? Lalu, mengapa dia tidak memeriksa keadaan di dalamnya setelah mendengar suara meminta tolong itu.
"Lalu, apakah anda memeriksa kedalam gudang?" Tanya Emma memastikan.
"Ya nggak lah, orang pintunya kekunci. Mana bisa aku masuk." Alasannya masuk akal.
"Terus ..."
"Miss Emina," belum juga Emma melontarkan pertanyaan lebih lanjut, suara levi yang menggema di ruang yang sepi itu memecah fokusnya.
"Yuk kita ke Kantin!" Ajak Levi di ambang pintu dengan tatapan tajam ke arah Martin. Sedangkan Martin malah tersenyum usil dan mengangkat satu alisnya.
Mau tidak mau, Emma mengikuti ajakannya. Bukan karena tidak ada pilihan lain sih, Emma bisa saja menolak. Tapi lagi-lagi dia seperti tersihir dan terhipnotis.
"Bye bye, Miss," Martin menekan kata Miss seperti meledek Levi.
.
.
.
Levi yang berjalan di depan Emma, mempercepat langkahnya membuat Emma susah untuk mengejarnya. Apakah dia marah?
"Vi, tunggu..." Emma keceplosan memanggil hanya nama ke Levi padahal mereka berada di area sekolah.
Kalau saja tubuh Emma masih prima seperti beberapa bulan yang lalu, mengejar langkah cepat Levi bukanlah suatu yang menyulitkan. Akan tetapi sekarang Emma harus bergelut dengan tubuhnya yang tidak menurut padanya.
"Kamu ini ya, nggak bisa ditinggal sebentar saja."
Levi mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang membuat Emma harus mengerem mendadak tubuhnya yang awalnya melaju sekuat tenaga.
"Maaf.." ucap Emma ketika tubuhnya tidak sengaja menabrak dada Levi.
"Fyuh...." Levi memegang keningnya seperti tengah banyak pikiran.
"Nggak bisa ya kamu nggak deket-deket sama cowok lain? Kemarin mas mas Jawa sekarang Martin. Besok siapa lagi?" Celotehnya membuat Emma terkejut dengan suara nada tinggi dari Levi.
"Sstttt... Jangan keras-keras! Nanti ganggu kelas lain." Protes Emma yang kemudian menarik tangan Levi untuk segera pergi dari lorong gedung kelas 12.
'Aneh! Apa aku salah dengar ya? Maksudnya apa coba?' batinnya ketika menarik tangan Levi yang tidak melawan sama sekali.
Ketika mereka sampai ke kantin, barulah Emma sadar bahwa dia telah memegang tangan Levi cukup lama. Entah ada berapa orang yang menyaksikan pemandangan itu selama perjalanan ke kantin, mungkin dua, atau tiga?
"Ehem, maaf." Ucap singkat Emma melanjutkan memilih bangku kantin yang kosong.
"Oke kali ini aku maafkan," bisik Levi ketika Emma meninggalkannya untuk duduk di meja paling depan. Suaranya pelan sampai tidak ada orang yang mendengarnya.
Kemudian Levi memesan minuman dan jajanan kesukaannya, lalu duduk di depan Emma dengan senyum mengembang, jauh berbeda dari yang beberapa menit lalu.
"Cepet banget kamu ganti ekspresi? Awas nanti dikira kepribadian ganda! Wkwkwk"
"Kayaknya aku memang kena sindrom itu dh, akhir-akhir ini moodku berubah-ubah."
"Kok bisa?" tanya Emma.
"Nggak tahu, kayaknya setelah ketemu kamu deh mi," jawab Levi sambil meminum es teh pesanannya.
"Aku? Kenapa aku? Aku salah apa?" wajah kebingungan itu membuat Levi gemas da tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.
"Ih, gemesnya!!!" tanpa sadar Levi mencubit pipi Emma di depan Ibu Kantin yang sedang menghantarkan semangkok soto. Beliau tampak terkejut dengan pemandangan itu, sampai-sampai beliau hampir menumpahkan sotonya.
Sedangkan Emma malah membeku, terdiam seperti patung selamat jalan yang berdiri di tengah Taman Sekolah. Bahkan air es yang disedotnya ikut terkejut sampai bergerak naik turun tak menentu.