Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mom! Hentikan!
Mommy Viona bangkit dengan kilat murka di matanya, ia melangkah mendekati Rachel dan mencengkeram lengan putrinya dengan tenaga yang sangat kuat, kuku-kukunya yang runcing menembus kain sutra biru gelap itu.
"Rachel! Jaga bicaramu! Minta maaf pada Julian dan keluarga Pratama sekarang juga!" perintah Mommy Viona dengan suara yang tertahan di balik gigi yang terkatup.
"Tidak, Mom! Aku sudah melakukan apa pun yang Mommy mau selama dua tahun ini. Aku bekerja seperti robot di London, aku menghasilkan jutaan dolar untuk Mommy, aku mengorbankan setiap jam tidurku demi ambisi Mommy! Tapi hidupku... hidupku bukan untuk Mommy jual lagi," balas Rachel, ia menyentakkan lengannya hingga pegangan Mommy Viona terlepas.
"Kurang ajar!" bentak Mommy Viona dan melayangkan tangannya, berniat memberi pelajaran pada Rachel, namun Rachel menangkap pergelangan tangan Ibunya di udara.
Rachel menatap mata Mommy Viona dengan keberanian yang tidak pernah ia miliki dua tahun lalu, "Dua tahun di London mengajariku satu hal, Mom. Bahwa aku bisa membangun kerajaanku sendiri dan aku tidak butuh Julian, aku tidak butuh restu Mommy untuk menentukan siapa yang akan mendampingiku," ucap Rachel.
"Kau... kau akan menyesali ini, Rachel!" teriak Julian.
"Tidak, aku tidak akan menyesali ini," jawab Rachel.
"Tanpa Pratama Group, saham Trinity akan goyang! Aku bisa menghancurkanmu dalam satu malam!" ancam Julian.
"Silakan, tapi sebelum kau melakukannya, urus dulu wanita-wanita simpananmu yang masih sering kau temui di Paris saat kau bilang sedang kunjungan bisnis. Aku punya foto-fotonya, Julian. Jadi jangan bicara soal kehormatan di depanku," ancam Rachel.
Julian membeku, ia tidak menyangka Rachel diam-diam menyelidikinya selama ia berada di luar negeri.
"Sudah cukup! Viona! Mulai sekarang keluarga Pratama tidak ada hubungan lagi dengan keluargamu, aku akan menarik semua investasiku dan aku tidak mau bekerjasama lagi denganmu dan keluargamu," ucap Tuan Prtama lalu pergi, yang disusul oleh Nyonya Pratama dan Julian.
Setelah pintu depan berdentum keras menandakan kepergian keluarga Pratama, keheningan di ruang makan itu terasa lebih mengerikan daripada suara teriakan. Mommy Viona berdiri mematung, dadanya naik turun dengan napas yang memburu.
Kemarahan yang selama dua tahun ini ia tekan demi citra Ibu yang sempurna, kini meledak seperti gunung berapi.
"Berani sekali kamu...," desis Mommy Viona dan menatap tajam Rachel.
"Mom, aku hanya...," Belum sempat Rachel bersuara, Mommy Viona sudah mendekatinya dan menamparnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Rachel hingga wajahnya terlempar ke samping, sudut bibirnya pecah dan meninggalkan noda merah di kulitnya yang pucat. Belum sempat Rachel menyeimbangkan tubuhnya, Mommy Viona menyambar rambut sanggul Rachel dan menariknya hingga hiasan berlian itu jatuh berhantaman dengan lantai marmer.
"Dua tahun aku bersabar! Aku memberimu kemewahan, aku memberimu takhta di London!" teriak Mommy Viona kalap dan tangan kanannya kembali melayang, menghujamkan pukulan demi pukulan ke bahu dan lengan Rachel.
Rachel mencoba menangkis, namun emosi Mommy Viona sudah melampaui batas kewajaran. Mommy Viona mendorong Rachel hingga gadis itu tersungkur menabrak meja makan, gelas-gelas kristal jatuh berhamburan dan pecahannya menggores lengan Rachel yang terbuka.
"Kau menghancurkan investasiku! Kau menghancurkan namaku di depan keluarga Pratama!" bentak Mommy Viona dan meraih sebuah botol wine yang masih terisi penuh, ia tampak seperti orang kesurupan yang ingin menghantamkan botol itu ke arah Rachel yang sudah bersimbah darah dan air mata di lantai.
"Mom! Hentikan!" Rachel berteriak parau dan mencoba merangkak mundur di antara pecahan kaca.
Tepat saat Mommy Viona mengangkat botol itu tinggi-tinggi, sebuah tangan dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
"Cukup, Viona!" teriak Paul.
Paul yang selama ini lebih banyak diam dan berada di balik bayang-bayang bisnis Istrinya, kini berdiri dengan wajah tegang lalu menyentakkan tangan Mommy Viona hingga botol itu terlepas dan jatuh pecah di lantai.
"Lepaskan aku, Paul! Anak ini tidak tahu diuntung! Dia harus diberi pelajaran!" teriak Mommy Viona meronta-ronta, matanya merah padam penuh kegilaan.
"Pelajaran bukan dengan membunuhnya!" bentak Paul.
Paul menarik tubuh Mommy Viona menjauh, ia memeluknya dengan paksa dari belakang untuk menahan amukan Istrinya yang masih berusaha menendang ke arah Rachel.
"Lihat dia! Dia putrimu, bukan musuhmu! Masuk ke kamar sekarang, Viona! Tenangkan dirimu!" ucap Paul.
Mommy Viona menangis histeris dalam dekapan Paul, umpatan demi umpatan masih keluar dari mulutnya hingga suaranya menghilang di balik lorong menuju kamar utama.
Rachel terduduk lemas di tengah kekacauan ruang makan, dress biru gelapnya yang indah kini robek di beberapa bagian, bahunya membiru dan kakinya berdarah terkena serpihan kristal, ia menunduk dan menatap tetesan darahnya sendiri yang jatuh di atas lantai marmer yang dingin.
Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan rasa sesak di dadanya, ia kembali ke rumah ini dengan harapan adanya perubahan, namun yang ia temukan hanyalah monster yang sama dengan topeng yang lebih cantik.
Rachel merangkak bangun dengan sisa tenaga yang ia miliki dan mengabaikan perih di telapak kakinya yang tertancap serpihan kecil kristal, ia melewati Paul yang baru saja keluar kamar dan menatapnya dengan pandangan nanar, campuran antara kasihan dan ketidakberdayaan. Bagi Rachel, Paul tetaplah kaki tangan Mommy Viona.
Begitu sampai di dalam kamarnya, Rachel segera mengunci pintu dengan tangan gemetar. Ia menyandarkan punggungnya di pintu lalu perlahan merosot jatuh ke lantai, isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah dan memenuhi ruangan luas yang mendadak terasa seperti sel isolasi.
"Sakit," bisiknya sambil memeluk lututnya sendiri.
Rachel menatap gaun biru yang kini hancur, Rachel menyeret tubuhnya menuju kamar mandi. Di bawah lampu yang terang, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Pipi kirinya bengkak kemerahan, sudut bibirnya sedikit membiru dan ada goresan panjang di lengannya yang terus mengeluarkan darah segar.
Dengan pelan, Rachel mulai melepaskan perhiasan berlian yang terasa seperti beban ribuan ton. Anting, kalung dan gelang itu ia lempar begitu saja ke dalam wastafel, tidak peduli benda-benda itu bernilai miliaran, kemudian menyalakan shower dengan air dingin.
Dinginnya air menyentuh luka Rachel, membuatnya meringis, namun ia membiarkan air itu membilas d*r*h dan memori mengerikan di ruang makan tadi. Ia ingin menghapus aroma parfum lili, aroma wine dan semua sisa-sisa kemewahan yang terasa seperti racun.
Setelah hampir satu jam di bawah guyuran air, Rachel keluar dengan mengenakan jubah mandi putih yang tebal. Ia duduk di tepi ranjang, mengambil kotak P3K dari laci meja riasnya. Dengan telaten, ia membersihkan luka di lengan dan kakinya. Setiap kali rasa perih menyerang, ia menggigit bibirnya keras-keras dan mencoba menelan rasa sakit itu sendirian.
.
.
.
Bersambung.....
Semoga Mommy Viona segera tersingkir dari kehidupan mereka