Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17: Rencana Ular
System Glitch
Waktu: 20:30 PM
Gedung pencakar langit Rosewood Media telah sepi sejak dua jam yang lalu. Hanya tersisa beberapa lampu koridor yang menyala redup dan suara mesin pendingin ruangan yang mendengung pelan.
Namun, di lantai 40, lampu ruang direktur utama masih menyala terang benderang.
Stella Odette Rosewood duduk tenggelam di balik meja mahoni besarnya. Tumpukan map, laporan keuangan, dan audit aset berserakan di sekelilingnya seperti barikade pertahanan.
Kemeja sutra burgundy-nya kini terlihat sedikit kusut, dan lengan bajunya digulung hingga ke siku.
Sepatu hak tingginya sudah lama ia lepas, membiarkan telapak kakinya yang pegal bertumpu pada karpet tebal di bawah meja.
Wanita itu memijat pelipisnya perlahan. Ia baru saja membaca laporan kuartal ketiga, dan menemukan fakta bahwa Paman Arthur bukan hanya menggelapkan dana, tapi juga menghancurkan hubungan dengan tiga klien terbesar perusahaan demi menutupi jejaknya.
"Sialan. Pria tua berlemak itu benar-benar meninggalkan tumpukan sampah bernilai jutaan Poundsterling untukku bersihkan," gerutu Stella dengan suara serak.
Matanya terasa panas dan berat.
Di atas tumpukan dokumen, Vix sedang berbaring telentang sambil memainkan salah satu ekornya yang berbulu lebat.
Rubah ekor sembilan itu menatap host-nya dengan pandangan menilai.
"Hei, Nona Pekerja Keras," panggil Vix santai. "Coba buka Jendela Statusmu sekarang."
Stella menghela napas panjang. "Kenapa? Apa poin Karmaku tiba-tiba dipotong karena aku mengumpat barusan?"
"Buka saja, Cerewet."
Stella menyapu udara di depannya dengan lemas. Layar holografik biru langsung muncul, memancarkan cahaya redup ke wajahnya yang pucat.
[ JENDELA STATUS HOST ]
Level: 3 (Pemula yang Sangat Tengil)
[ ATRIBUT FISIK & MENTAL ]
Kecerdasan: 85/100
Karisma: 75/100
Stamina: 12/100 (Status: KRITIS. Energi sangat rendah. Peringatan: Host memiliki risiko 85% untuk pingsan dalam dua jam ke depan jika tidak segera mengonsumsi kalori berkualitas tinggi dan beristirahat).
Mata monolid Stella sedikit melebar melihat angka staminanya yang berwarna merah berkedip-kedip.
"Dua belas persen?! Pantas saja kepalaku berputar setiap kali aku mencoba berdiri. Tubuh ini benar-benar tidak punya cadangan tenaga sama sekali."
"Tentu saja," Vix mendengus.
"Stella yang asli menghabiskan waktunya dengan diet ketat, minum alkohol, dan menangisi pria. Otot dan staminamu selevel dengan kerupuk yang dicelupkan ke teh panas. Kau butuh makan, Host. Makanan sungguhan, bukan sekadar kopi Americano yang kau minum sejak siang tadi."
Stella menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemah. "Aku tidak punya tenaga untuk turun ke lobi dan memesan makanan. Lagipula, restoran di sekitar sini pasti sudah tutup."
Di saat Stella sedang meratapi staminanya yang menyedihkan, di sudut lain kota London, sebuah rencana jahat sedang dirajut di dalam kegelapan.
Waktu: 20:45 PM
Kelab Malam Eksklusif 'The Velvet Room', Soho
Dentuman musik bass menggetarkan dinding kedap suara di salah satu ruang VIP kelab tersebut. Di atas sofa kulit melingkar, Chloe Rosewood duduk dengan segelas vodka di tangannya.
Gadis itu sudah tidak lagi memakai gaun putih polosnya. Ia mengenakan dress hitam ketat dengan belahan dada rendah, menampilkan sisi aslinya yang rakus dan jauh dari kesan malaikat tak berdosa.
Aroma parfum floralnya yang menyengat menguar di udara, bercampur dengan bau asap cerutu dari pria paruh baya yang duduk di seberangnya.
Pria itu adalah Harold, salah satu pemegang saham minoritas di Rosewood Media yang berhasil lolos dari pembersihan Stella tadi pagi.
"Arthur sangat bodoh," ucap Harold sambil menghembuskan asap cerutunya. "Dia terlalu ceroboh menyimpan bukti transfer itu di server utama. Stella dengan mudah meretasnya."
Chloe mengertakkan giginya. Tangannya mencengkeram gelas vodka begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian membelalak di matanya.
"Arthur memang tidak berguna. Tapi jangan lupakan tujuanku, Harold. Aku tidak peduli pria tua itu membusuk di penjara. Yang aku pedulikan adalah hak waris keluarga ini, dan bagaimana menyingkirkan kakak tiriku yang tiba-tiba berubah menjadi siluman rubah betina itu!"
Chloe menenggak minumannya dalam satu tegukan. Rasa panas membakar tenggorokannya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa panas di hatinya saat ia mengingat kejadian pagi tadi.
Ia tidak bisa melupakan bagaimana Stella menatapnya dengan senyum merendahkan. Dan yang paling menghancurkan harga dirinya... tatapan dingin Neo Hayes Blake.
Neo menolak menyentuhnya. Pria itu membiarkan Chloe jatuh ke lantai seperti sampah.
Padahal selama ini Chloe selalu membanggakan wajahnya yang jauh lebih polos dan cantik dibandingkan Stella.
Neo adalah milikku, batin Chloe berteriak obsesif. Pria dengan kekuasaan sebesar itu hanya pantas bersanding denganku, bukan dengan wanita murahan yang baru saja merampas posisi direktur!
"Jadi, apa rencanamu, Nona Chloe?" tanya Harold, menatap gadis itu dengan senyum licik.
"Kudengar proyek kerja sama penyiaran dengan Blake Group bulan depan adalah satu-satunya pelampung yang bisa menyelamatkan saham Rosewood dari kebangkrutan total. Stella pasti akan memimpin proyek itu."
Sudut bibir Chloe perlahan tertarik ke atas, membentuk seringai yang sangat mengerikan.
"Tepat sekali. Dia akan memimpinnya, dan dia akan gagal total," bisik Chloe berbisa.
Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kita akan menyabotase proyek itu dari dalam. Aku masih punya akses ke server desain dan anggaran melalui akun manajer proyek yang menjadi sekutuku. Kita bocorkan rencana proyek itu ke perusahaan saingan. Saat Stella kehilangan kontrak dengan Blake Group, dewan direksi akan memiliki alasan mutlak untuk menendangnya keluar secara tidak hormat."
"Dan saat dia jatuh..." Harold menyeringai.
"Saat dia jatuh, aku yang akan maju sebagai penyelamat keluarga Rosewood," desis Chloe, matanya berkilat gila. "Aku akan merebut perusahaannya, dan aku akan memastikan Neo menyadari bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang pantas untuknya."
Waktu: 21:00 PM
Di Bawah Gedung Rosewood Media
Di pinggir jalan raya yang lengang, sebuah SUV hitam besar berhenti dalam diam.
Mesinnya menyala dengan halus nyaris tanpa suara. Di dalam kabin mobil yang remang-remang, aura maskulin yang gelap dan mengintimidasi mendominasi udara.
Neo Hayes Blake duduk di kursi belakang. Ia melonggarkan dasi hitamnya dengan satu tarikan pelan.
Matanya yang tajam dan pekat menatap ke atas, langsung menuju jendela kaca di lantai 40 gedung Rosewood Media yang masih menyala.
Ia sudah berada di sana selama setengah jam.
Neo sendiri tidak mengerti mengapa ia menyuruh supirnya memutar arah sepulang dari acara makan malam bisnis yang membosankan, hanya untuk memarkirkan mobilnya di depan gedung musuhnya.
Ini sama sekali tidak efisien. Ini bukan gaya seorang Neo Hayes Blake.
Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.
Ingatan tentang wanita tengil yang menyodorkan permen jeli beruang kepadanya pagi tadi terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.
Ditambah lagi, laporan yang baru saja ia terima dari intelijennya benar-benar menyentil insting predatornya.
Liam yang duduk di kursi depan menoleh sedikit ke belakang. "Tuan Blake, tim pengintai kita melaporkan bahwa Nona Rosewood belum keluar dari ruangannya sejak pukul tujuh pagi tadi. Dia juga membatalkan pesanan makan siangnya karena terlalu sibuk memeriksa dokumen audit."
Rahang Neo mengeras samar. Alisnya bertaut tajam.
Wanita bodoh, batin Neo berdesis. Kau pikir kau pahlawan yang bisa menyelamatkan perusahaan bangkrut itu hanya dengan duduk menatap kertas selama empat belas jam tanpa makan?
"Dia akan mati konyol sebelum aku sempat menghancurkannya," gumam Neo dengan suara serak yang mematikan.
Pria itu menyandarkan kepalanya, matanya masih terpaku pada jendela lantai 40.
Di mata orang lain, Neo mungkin terlihat seperti musuh yang sedang mengawasi kelemahan lawannya.
Namun, jauh di sudut hatinya yang paling gelap, ada dorongan irasional untuk memastikan bahwa Nona Tengil itu tetap hidup dan sehat, murni karena Neo merasa hanya ia yang berhak menyiksa dan menghancurkan wanita tersebut.
Sebuah bentuk obsesi posesif yang mulai tumbuh tak terkendali.
"Liam."
"Ya, Tuan?"
"Turunlah ke restoran steak di seberang blok sana. Pesan satu porsi Tenderloin Wagyu A5, tingkat kematangan well-done, tambahan puree kentang, dan salad sayur tanpa saus asam." Neo memberikan instruksi dengan nada datar yang absolut.
"Pastikan tidak ada makanan laut, minyak ikan, atau hal menjijikkan semacam itu di dapur mereka saat menyiapkannya. Jika ada, beli seluruh restoran itu dan suruh mereka membersihkan dapurnya dari awal."
Liam menelan ludahnya, sedikit terkejut, namun sudah sangat terlatih untuk tidak mempertanyakan perintah atasannya.
"Baik, Tuan. Makanan itu... akan dikirimkan ke mana?"
Mata obsidian Neo berkilat tertimpa cahaya lampu jalanan. "Antarkan langsung ke lantai 40. Katakan padanya itu adalah bentuk 'simpati' dari Blake Group untuk direktur baru yang terlihat menyedihkan karena kelaparan."
"B-baik, Tuan Blake."
To be Continued