Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya. Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN
"Victoria... Aku mohon jangan seperti ini."
Melihat pria setegar karang itu luruh sepenuhnya di bawah kakinya, dinding pertahanan terakhir di dalam diri Ayu runtuh tanpa sisa. Rasa sungkan, pangkat, ketakutan akan masa lalu, dan segala ego taktisnya menguap ke udara. Ayu tidak bisa membiarkan seorang Victor—pria yang selalu menjaga kehormatannya dengan begitu megah—berada dalam posisi sepasang lutut yang menekuk pasrah di lantai dingin demi dirinya.
Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa haru yang membuncah, Ayu ikut menurunkan tubuhnya. Ia ikut berlutut di atas lantai ruang kerja Mako Atas yang sunyi itu. Kini, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak yang sangat amat dekat, memangkas seluruh batas yang selama beberapa tahun ini sengaja mereka bangun.
Ayu mengulurkan kedua tangannya yang masih bergetar hebat, lalu menangkup kedua belah rahang tegas milik Victor. Begitu telapak tangannya menyentuh kulit wajah pria itu, hati Ayu laksana tersayat. Laki-laki raksasa yang ditakuti oleh ribuan prajurit di lapangan, pria yang memimpin ksatrian Bukit Raya dengan tangan besi dan wibawa mutlak, kini benar-benar menangis di hadapannya dengan ketulusan yang teramat telanjang. Air mata hangat Victor membasahi jemari Ayu, seolah menceritakan betapa berdarah-darahnya ia menahan rindu dan penolakan selama ini.
Tanpa mampu membendung gejolak emosi di dadanya lagi, Ayu langsung menghambur maju dan memeluk tubuh besar Victor. Ia mendekap leher pria itu teramat erat, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata di ceruk leher Victor. Ayu menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa bersalah, beban mental pasca-sidang Ibu Hedy, amarah Shaneen, dan segala trauma pernikahan pertamanya yang kini terasa mencair begitu saja oleh kehangatan tubuh pria itu.
Tentu saja Victor tidak menyia-nyiakan momentum tersebut. Dengan kedua lengan kekarnya yang kekar dan kokoh, ia langsung membalas pelukan Ayu, mendekap tubuh wanita itu seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya sedikit saja, Ayu akan kembali menghilang ke dalam kabut ketidakpastian. Victor menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di pundak Ayu, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang selalu memenuhi ruang mimpinya setiap malam.
Karena perbedaan tinggi badan dan porsi tubuh yang teramat mencolok antara mereka berdua—di mana Victor adalah pria militer berpostur raksasa dengan dada bidang yang tegap, sementara Ayu memiliki perawakan wanita yang mungil—posisi pelukan itu membuat Ayu benar-benar tampak seperti anak kecil yang tenggelam di dalam dekapan pelindungnya.
Saat mendekap tubuh Ayu, insting seorang pria di dalam diri Victor mendadak merasakan sesuatu yang mengiris hatinya. Ayu bertambah kurus. Wanita ibu satu anak itu benar-benar kehilangan banyak berat badannya jika dibandingkan dengan kemarin-kemarin dimana ia sempat memeluk wanita itu. Beban hidup sebagai seorang single mom yang harus berjuang sendirian membesarkan anak di lingkungan asrama pastilah teramat berat dan menyiksa batinnya. Rasa bersalah karena tidak bisa berada di samping Ayu selama tahun-tahun sulit itu mendadak menghantam dada Victor.
Victor menggeser sedikit posisinya, lalu beralih mencium puncak kepala Ayu yang dibungkus rapat oleh hijab kain formal dinasnya. Kecupan itu lama, dalam, dan sarat akan perasaan takzim.
"Maafkan aku..." ucap Victor dengan nada suara yang teramat lembut, berbisik tepat di samping telinga Ayu. Suara baritonnya yang biasa menggelegar di lapangan upacara kini bergetar penuh penyesalan. Maaf karena ia sudah lancang hari ini, maaf karena ia membiarkan Ayu terluka oleh takdir, dan maaf karena ia telah mendesak wanita itu begitu keras hari ini.
Mendengar bisikan tulus itu, Ayu perlahan melepaskan kaitan pelukannya. Ia mundur beberapa senti, menggunakan punggung tangannya untuk menyeka sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Ayu menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali detak jantungnya yang berantakan.
Ia menatap wajah Victor lekat-lekat. Detik itu juga, gurat kerapuhan di wajah Ayu mendadak hilang, digantikan oleh ekspresi wajah dan nada suara yang kembali tegas laksana seorang perwira intelijen yang baru saja mengambil keputusan taktis tertinggi dalam hidupnya.
Ayu menatap lurus ke dalam manik mata Victor, lalu berkata dengan volume suara yang rendah namun sangat menekan, "Kalau begitu... suruh saja Ibu Hedy dan Bapak Reins datang ke rumah orangtua ku sebentar malam. Hari ini juga. Sebelum aku berubah pikiran."
Setelah melontarkan kalimat sakral yang setara dengan penyerahan benteng pertahanan itu, Ayu langsung berdiri tegak dengan cepat, bersiap untuk berlalu begitu saja dari hadapan Victor untuk menyembunyikan rona merah yang kini mulai menjalar di leher dan pipinya.
Namun, baru saja ia melangkah satu tapak, pergelangan tangan kanannya langsung ditahan oleh cengkeraman jemari kekar Victor yang tidak ingin melepaskan buruannya begitu saja.
Ayu menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan sepenuhnya. Ia menoleh sedikit, menatap tajam ke arah tangan Victor yang menahan pergelangan tangannya. "Apa lagi, Komandan? Kamu mau aku berubah pikiran sekarang juga?" ucap Ayu dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat, padahal di dalam dadanya, jantungnya sedang bertalu-talu hebat antara rasa marah pada kedegilan pria itu atau rasa malu-malu yang teramat sangat karena baru saja menyerahkan hatinya secara sukarela.
Mendengar ancaman taktis dari Ayu, Victor seketika melonggarkan cengkeraman jarinya dengan senyuman tipis yang akhirnya kembali terukir di bibirnya. Ayu dengan cepat menarik tangannya, memutar kenop pintu, dan akhirnya berhasil keluar dari ruang kerja Danpusdikmil yang beberapa menit lalu ia rasa sangat pengap dan kekurangan oksigen itu.
Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat di belakang punggungnya, Ayu langsung berhadapan dengan Sersan Satu Johan yang masih berdiri dalam sikap sempurna di samping meja piket. Ayu menghentikan langkahnya sejenak, melemparkan tatapan mata yang teramat tajam dan mengintimidasi ke arah sang ajudan, seolah sedang menginterogasi apakah prajurit itu mendengar rentetan drama emosional di dalam sana atau tidak.
Namun, Sertu Johan benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai ajudan kelas satu. Pria itu hanya diam mematung, pandangan matanya lurus terfokus ke arah dinding depan tanpa berkedip, wajahnya kaku laksana patung semen. Padahal, jika ada alat pengukur tekanan darah di sana, Johan sebenarnya sedang menahan napasnya setengah mati demi menjaga keselamatan karier militernya di hadapan sang Kapten. Ayu mendengus pelan melihat loyalitas "kebudegan" Johan, lalu melangkah cepat meninggalkan koridor Mako Atas.
Apapun yang terjadi hari ini, Ayu benar-back terasa teramat lelah secara mental dan fisik. Rentetan peristiwa mulai dari kepergian Ibu Hedy dengan wajah kecewa, pertengkaran hebat hingga membanting pintu dengan Shaneen, hingga aksi nekat berlutut dan ciuman sepihak dari Kolonel Victor di ruang kerja benar-benar menguras habis seluruh energi di tubuhnya.
Tidak terasa waktu berputar dengan cepat di bawah langit Bukit Raya. Semburat senja berwarna jingga mulai merambat turun menandakan waktu dinas bagi para personel perwira staf telah usai. Saatnya pulang.
Ayu berjalan membelah jalanan asrama yang rindang. Sore ini, untuk pertama kalinya, Ayu memilih untuk tidak memasak di dapur rumah dinasnya. Mood-nya sedang berantakan, dan pikirannya terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya ia harus menjawab panggilan telepon dari ibunya nanti.
Sebagai gantinya, Ayu menghentikan langkahnya di depan sebuah gerai warung waralaba ayam goreng tepung yang terletak di dekat gerbang luar ksatrian. Keputusan membeli makanan jadi ini diambil karena ia teringat akan request dari putra kesayangannya, Arkan. Bocah berusia enam tahun itu belakangan ini mulai bertambah cerewet dan banyak meminta.
Pagi tadi sebelum Ayu berangkat kerja, Arkan sempat merengek kecil meminta dibelikan ayam krispi yang renyah. Maklum saja, racun dari karakter kartun kembar botak asal negeri tetangga yang selalu melahap ayam goreng dengan lahap di layar televisi telah menjadi tontonan kesukaan nomor satu Arkan setiap hari setelah pulang dari sekolah. Anak itu tiba-tiba saja jadi sangat ingin makan ayam goreng tepung yang hangat.
"Ayam paha atas dua, dengan dada satu ya, Mbak. Dibungkus," ucap Ayu pada pelayan toko, mencoba mengalihkan sejenak gemuruh di dalam dadanya yang kian bertalu kencang seiring berjalannya waktu menuju pukul tujuh malam nanti. Skenario baru dalam hidupnya sebagai calon menantu keluarga besar Kolonel Victoria kini resmi dimulai.