NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Tawa Di Tengah Luka

Setelah hampir setengah jam meraung di bawah langit kelam, Jena mengangkat wajahnya. Jemarinya yang tadi terasa kehilangan tenaga, kini sudah bisa digerakan lagi. Perlahan, ia mengusap air matanya. Menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Aku harus pulang," gumamnya sambil mengeluarkan ponsel. Ia memesan taksi. "Semoga taksinya cepat datang." Jena berdiri, terus mengusap-usap wajahnya yang basah.

Tak sampai lima menit, sebuah mobil hijau mengilap muncul dari arah depan. Mobil itu melambat, lalu putar balik dan berhenti tepat di samping Jena.

Seorang sopir yang masih muda segera keluar dari balik kemudi. Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan kepada Jena.

"Mbak Jena, ya?" tanyanya memastikan.

Jena mengangkat wajah. "Iya."

Baru beberapa detik menatap wajah penumpangnya, mata sopir itu langsung membelalak lebar. "Astagfirullah!" serunya spontan sambil menepuk dadanya sendiri.

Jena mengernyit bingung. "Mas, kenapa?"

Sopir itu menggeleng pelan sambil masih memandangi wajah Jena. "Lho ... justru saya yang mau nanya, Mbak kenapa? Kok penampilannya kayak gitu? Saya kaget. Saya kira tadi ..." Ia menggantung kalimatnya sejenak. "Mbaknya hantu."

Bukannya tersinggung, Jena malah tertawa keras untuk pertama kalinya setelah hampir setengah jam menangis. "Hahaha ..." Tawanya menggema di pinggir jalan yang sepi itu. "Beneran wajah saya kayak hantu?" tanyanya sambil mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipinya.

Sopir itu menunjuk spion samping mobil. "Coba lihat sendiri, Mbak."

Jena mendekat dan berkaca di spion. Begitu melihat pantulan wajahnya sendiri, kedua matanya langsung melebar. "Astagfirullah ..." Ia sampai menutup mulutnya sendiri. "Iya, Mas ... wajah saya beneran kayak hantu."

Maskaranya luntur membentuk garis hitam di bawah mata. Eyeliner yang tadi rapi kini belepotan ke mana-mana. Rambutnya kusut berantakan karena berkali-kali diacak saat menangis. Wajahnya pucat, sementara hidung dan matanya memerah. "Pantesan Mas kaget."

Sopir itu terkekeh kecil. "Maaf ya, Mbak. Saya tidak bermaksud mengejek."

Jena ikut tersenyum geli. "Nggak apa-apa, Mas. Malah makasih udah jujur. Kalau nggak dikasih tahu, saya bisa bikin orang-orang di jalan ikutan istigfar, atau mungkin lari ketakutan."

Mereka sama-sama tertawa. Suasana yang semula begitu muram perlahan mencair.

"Ya sudah, Mbak. Silakan masuk. Nanti di mobil ada tisu basah dan kering. Siapa tahu bisa sedikit dirapikan sebelum sampai rumah."

Jena mengangguk penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Mas." Ia pun masuk ke dalam mobil sambil kembali mengusap wajahnya, berharap penampilannya tidak lagi semenyeramkan beberapa menit yang lalu.

Jena menutup pintu.

Begitu Jena duduk dengan nyaman, sopir muda itu langsung mengambil sekotak tisu dari dashboard dan satu bungkus tisu basah dari tas kecil miliknya, lalu menyodorkannya. "Ini, Mbak tisunya."

Jena menerimanya sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas."

"Sama-sama."

Mobil pun mulai melaju meninggalkan kompleks perumahan elite yang sunyi itu. Lampu-lampu taman dan deretan rumah mewah perlahan berganti menjadi jalan raya yang masih cukup lengang.

Beberapa saat suasana hening. Jena sibuk menghapus maskara dan eyeliner yang belepotan di bawah matanya.

Tak lama kemudian, sopir itu berdeham pelan. "Maaf ya, Mbak ... kalau saya lancang."

Jena menoleh. "Iya, Mas?"

"Sebenernya Mbak kenapa? Kok penampilannya bisa sampai belepotan begitu? Mbak bukan korban jambret, kan?"

Jena mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Bukan, Mas."

"Lalu?"

Jena tersenyum getir. "Saya korban PHP."

"What?!"

Seruan spontan itu membuat Jena sampai menoleh cepat. "Wih ... gaya," katanya sambil terkekeh. "Saya baru pertama kali dengar sopir kaget terus pakai bahasa Inggris."

"Hehe ..." Sopir itu ikut tertawa malu. "Biasa, Mbak. Niru dari televisi."

"Hahaha ..." Tawa Jena kembali pecah.

Entah kenapa, obrolan sederhana itu terasa begitu menghibur. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menangis, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Selama hampir dua tahun menjadi pelanggan Taksi Green Fast, baru kali ini ia bertemu sopir yang sekocak ini. Usianya pun masih terlihat muda, mungkin tak jauh berbeda dengannya.

Perlahan tawa Jena mereda, menyisakan senyum ramah. "Mas, namanya siapa?"

Sopir itu tersenyum lebar. "Nama saya Tob-Toto, Mbak."

"Oh, Mas Toto."

"Iya, Mbak."

"Salam kenal, ya. Terima kasih sudah membuat saya tertawa."

Toto mengangguk sambil tetap fokus mengemudikan mobil. "Salam kenal juga, Mbak. Sama-sama." Sesaat kemudian ia menambahkan sambil tersenyum. "Kalau Mbak bisa ketawa lagi, berarti saya berhasil mengantar penumpang bukan cuma sampai tujuan, tapi juga sampai suasana hatinya sedikit membaik."

Jena tersenyum hangat. Sudah lama ia tidak merasakan percakapan seringan dan setulus ini dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan, di tengah hatinya yang sedang remuk, Mas Toto justru berhasil membuatnya tertawa berkali-kali.

Jena menoleh ke arah kursi pengemudi. "Mas Toto sopir baru, ya?"

Toto melirik sekilas melalui kaca spion tengah, lalu mengangguk. "Iya, Mbak. Kok Mbak Jena bisa tahu?"

Jena mengangkat bahu sambil tersenyum. "Feeling aja, Mas."

Toto mengangguk-angguk pelan, lalu tiba-tiba berkata dengan wajah polos, "Kirain karena wajah saya ganteng." Sesaat kemudian ia sendiri yang tertawa. "Hehehe ..."

Jena langsung menepuk dahinya pelan.

"Aduh, ya ampun ..." Tawanya kembali pecah hingga bahunya berguncang. "Mas Toto ini ada-ada aja. Tapi saya akui, wajah Mas emang tampan."

"Hehe ... Aduh jadi malu." Toto mesem. "Padahal saya tadi cuma bercanda, Mbak."

Jena menggeleng sambil masih tersenyum lebar. "Mas Toto bener-bener berhasil bikin saya lupa sama kejadian menyakitkan tadi." Ia mengembuskan napas lega. "Sekarang saya happy."

Wajah Toto ikut berbinar. "Alhamdulillah." Lalu, dengan nada penuh harap namun tetap bercanda, ia bertanya, "Berarti saya dapat rating lima, ya, Mbak?"

Jena tertawa lagi. "Kalau bisa, saya kasih sepuluh, Mas."

"Ahay!" Toto mengepalkan tangan kecil penuh semangat. "Makasih, Mbak!"

Mobil terus melaju membelah jalan malam. Untuk pertama kalinya hari itu, Jena tidak lagi memandangi jendela dengan mata yang dipenuhi kesedihan. Senyumnya kembali muncul, berkat percakapan ringan dengan seorang sopir muda yang tanpa sengaja berhasil mengangkat beban di hatinya, meski hanya untuk sementara.

Tak lama kemudian, mobil Taksi Green Fast memasuki area parkir apartemen Jena dan berhenti tepat di depan lobi.

"Sudah sampai, Mbak," ucap Toto.

Jena mengangguk pelan. "Iya. Terima kasih, Mas." Ia segera menyelesaikan pembayaran melalui aplikasi. Sebelum turun, Jena juga menambahkan sejumlah tip untuk Toto.

Ponsel Toto berbunyi pelan menandakan ada uang masuk. Matanya langsung membulat. "Lho, Mbak ... dikasih tip juga?"

"Iya. Anggap aja ucapan terima kasih karena Mas sudah bikin malam saya yang tadinya berantakan jadi lebih baik."

Wajah Toto langsung dipenuhi senyum. "Masya Allah ... makasih banyak, Mbak."

Jena membuka pintu mobil, lalu berdiri di sampingnya. "Mas, nanti saya kasih rating sempurna. Makasih buat malam ini."

Toto mengangguk senang. "Sama-sama, Mbak. Semangat ya. Jangan nangisin orang yang udah PHP-in Mbak. Lupakan ... dan tinggalkan. Buruan cari yang baru." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan wajah usil. "Saya juga masih jomblo, lho."

Jena spontan tertawa terbahak-bahak. "Mas Toto!"

"Hehehe ..."

Melihat Jena masih tertawa, Toto segera mengangkat kedua tangannya. "Bercanda, Mbak ... bercanda."

Jena menggeleng sambil mengusap sudut matanya yang kembali berair, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena terlalu banyak tertawa. "Iya, Mas."

"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mbak."

"Hati-hati di jalan, Mas."

"Siap." Toto melambaikan tangan kecil sebelum kembali menjalankan mobilnya meninggalkan area apartemen.

Jena berdiri beberapa saat memandangi mobil hijau itu hingga menghilang di tikungan keluar. Senyum masih menghiasi bibirnya. Luka di hatinya memang belum sembuh. Namun, setidaknya, ia pulang bukan hanya membawa kesedihan, melainkan juga sebuah kenangan hangat tentang seorang sopir muda bernama Toto yang tanpa disengaja, berhasil membuatnya tertawa di saat dunianya terasa runtuh.

1
Amy
Orang Tua Egois,, Ibunya wanita tapi tidak memikirkan perasaan sesama wanita,masih ada anak perempuanmu yg akan mrsakann penderitaan Jena,,,
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
Ama Apr: iya, mereka jahat
total 1 replies
Dartihuti
Kl dilihat blg mobilnya mengkilat dan beda gk seperti biasa jg wkt tny nama?nyebutnya kok meragukan pasti bkn sembarang sopir...menjauh sejauh mungkin buktikan Jena km bisa lebih terhormat mampu bahagia tampa mereka
Ama Apr: hahaha hayooo
total 3 replies
nunik rahyuni
alhamdulillah ada sedikit hiburan...sdh jena mantabkan hati ayo melangkah tinggalkan mereka ..mulailah dg hidul mu yg baru..semangat 💪💪💪
Ama Apr: siap semangat🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
uhuuyyy kaya nya si Toto cio yg nyamar wkwkwk🤣,,,semgat jena
Inarrr Ulfah: iya wkwkw,,Ayo lah KA,,baut kejutan untuk keluarga si jovian itu,,smga lebih tajir pengganti nya si jovian 😄
total 2 replies
Dartihuti
Orang gk hati ...harta dan duduk yg di otaknya gk mikir suatu saat semua yg di lakukan akan kembali balik kediri c4 atau lambat...gak sadar lubang besar menati keluarga Jo ...mecili tawamu sekarang tanpa kamu sadari jd bumerang hubungamu kedepannya😡
Ama Apr: Hukum tabur tuai berlaku🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
kan ..seperti dugaan q ..jo adalah anak yg dituntut untuk patuh..dia akan terikat dg keputusan ortu...
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪
Ama Apr: iya kk, pasti ada kejutan buat mereka
total 3 replies
Inarrr Ulfah
semoga aja hal buruk menimpa anak perempuan kamu ,,lebih kejam dari yang jena terima....
Ama Apr: 🥹🥹🥹 ikut sakit ya buat Jena
total 1 replies
Inarrr Ulfah
langsung resign dari kantor nya jena,,pergi dari apartemen itu,,pergi yang jauh,...💪
Ama Apr: pastiii, udah diskaitin ms diem bae
total 1 replies
nunik rahyuni
up lg thor...kesini jena q pelik erat erat jgn menangis kuatkan hatimu...lupakan mreka melangkh menjauh dan buatlh dirimu bahagia
Ama Apr: iya kk, makasih🥹
total 1 replies
Amy
langsung menjauh aja Jena,, karena menikmati kebahagiaannya jovian bahkan tidak sadar kamu udah nggak ada di sekitarnya, itu krna kamu bukan prioritasnya
Asphia fia: nyesek bagt bacanya Thor
laki- laki pengecut spt jovian GK perlu ditangisi jen
total 2 replies
Dartihuti
Tunggu hukum sebab akibat keluargamu dan km Jo..c4 atau lambat kepedian akan balik ke dirimu sklrg
Ama Apr: pasti itu kk🥹
total 1 replies
nunik rahyuni
jangan berkecil hati jena ..bangun lah dr mimpi mimpi yg di berikan jovian...sadarlah mereka bukan yg terbaik ..pergi dan hidup lah dg bahagia tanpa mereka yg menyakitimu
Ama Apr: iya 🥹🥹🥹
total 1 replies
Dartihuti
Bangkit Jena tegakkan kepalamu ....buat klrg mereka menyesal krn meredahkanmu,membuangmu setelah apa yg km lalui menjauhlah dulu buktikan bahwa Jena gk selemah yg mereka pikirkan dan mampu mendapatkan yg lebih dr Jo laki gk berprinsif lemah...
Ama Apr: peluk jauh Jena🥹
total 1 replies
Inarrr Ulfah
mana up nya cuma seuprit lagi😭
Ama Apr: hehe, maaf nanti ditambah deh. mau nulis dulu aku nya
total 1 replies
Inarrr Ulfah
nah kan,,sudah ku bilang akan yang nemenin dari nol akan KLH sama yg baru,,dah pergi aja Jen yang jauh,,,pergi dari apartemen dan kehilangan jovian 💪💪...cari CEO yg lebih kaya dan ganteng,,buat jovian di dan keluarga nya menyesal
Ama Apr: begitulah hidup🥹
kadang perjuangan kita tdk dihargai
total 1 replies
Dhm Pratiwi
benar kan saya bilang,tetap tegar Jena,klw perlu kamu kluar dari apartemen da perusahaan Ardana,Jovian MUNfIK
Ama Apr: 🥹🥹 huhu
total 1 replies
nunik rahyuni
duh thor hati sdh dag dig dug kok malah di gantung lg..tambah up thor penasaran ni lah thor ✌️✌️✌️✌️
Ama Apr: hehe maaf kk
total 3 replies
nunik rahyuni
semoga kamu g kecewa dan sakit hati
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Titien Prawiro
Sudah tamatkah?
Ama Apr: belum kk, atuh mash jauh
total 1 replies
Titien Prawiro
Jangan2 ke Jepangnya gk jadi karena papa Bimo.
Ama Apr: huhu🥹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!