NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:59.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Holiday

Di sebuah restoran mewah yang tak jauh dari kantor Ardhana Group, suasana makan siang berlangsung hangat.

Di sebuah ruang VIP, empat orang duduk mengelilingi meja bundar.

Bimo Ardhana, Jovian Ardhana, Mario Suroso, dan Michelle Suroso.

Hidangan demi hidangan tersaji di atas meja, tetapi pembicaraan mereka masih berkutat pada rapat kerja yang baru saja selesai.

"Rapat tadi berjalan sangat baik," ujar Mario sambil meletakkan sendoknya. "Kalau semua sesuai rencana, kerja sama Ardhana Group dan Suroso Group akan menjadi salah satu yang terbesar tahun ini."

Bimo mengangguk puas. "Syukurlah. Persiapan tim kita juga sudah sangat matang."

"Jovian memimpin rapat dengan sangat baik," lanjut Mario sambil menatap calon menantunya. "Saya semakin yakin perusahaan ini akan berkembang pesat di tangan Jovian."

"Terima kasih, Om," jawab Jovian singkat.

Michelle yang duduk di samping ayahnya tersenyum bangga. "Aku juga bangga sama kamu, Mas."

Jovian hanya membalas dengan senyum tipis.

Tak lama kemudian, pembicaraan bergeser ke hal lain.

"Nah," ujar Mario sambil tersenyum. "Sekarang tinggal mempersiapkan pertunangan kalian."

Michelle langsung berbinar. "Iya, Papi. Aku juga sudah nggak sabar."

Mario tertawa kecil melihat putrinya yang begitu antusias.

Bimo ikut tersenyum. "Keluarga kita juga sudah mulai mempersiapkan semuanya. Tinggal menentukan tanggal yang paling tepat."

"Kalau bisa jangan akhir bulan depan lah. Tengah-tengah bulan aja ya, Pi," ujar Michelle penuh semangat. "Aku ingin semuanya segera terlaksana."

"Tentu," sahut Mario. "Nanti kita adakan pertemuan keluarga lagi. Kita bahas perubahan jadwal. Dari akhir bulan menjadi pertengahan bulan."

Michelle mengangguk dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Namun, di tengah suasana penuh antusias itu, hanya satu orang yang tampak berbeda.

Jovian sejak tadi lebih banyak diam. Sesekali ia menjawab ketika diajak bicara, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di meja makan itu. Matanya beberapa kali melirik jam tangan. Pukul dua belas lewat empat puluh.

Dalam hati, ia berharap waktu berjalan lebih cepat. Ia ingin segera sore, ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Lalu pergi ke apartemen Jena untuk menemui gadis itu dan meminta maaf serta menjelaskan semuanya. "Sore ... cepatlah datang. Aku tidak mau kehilangan Jena. Semoga dia mengerti dan mau memaafkanku," bisiknya dalam hati.

***

Setelah mengisi perutnya dengan nasi dan telur ceplok, Jena kembali ke kamar. Mengambil kerudung dan tas selempang. "Aku mau ziarah dulu ke makam Ayah dan Bunda." Senyum kecil terukir indah di tengah luka yang masih basah.

Setelah mengunci pintu, Jena juga mengunci gerbang. "Huh! Aku jalan kaki aja ah. Sambil menyapa para tetangga. Udah lama nggak bercengkerama dengan mereka." Langkah Jena pun terayun pelan menjauh dari rumahnya.

Saat ia melewati rumah di sebelahnya, pemilik rumah yang sedang menyapu halaman langsung berseru. "Jena!"

Jena otomatis menghentikan langkah dan melempar senyum sambil menganggukkan kepala. "Apa kabar Bu Juleha?"

"Masya Allah!" Juleha langsung berlari sambil membawa sapu lidi. "Kabar saya baik, Jena. Kamu makin cantik aja. Lagi berkunjung ke rumah ya?"

Jena mengangguk, lalu menyalami Juleha. "Saya tidak sedang berkunjung, Bu. Tapi pindah lagi ke rumah peninggalan Bunda dan Ayah."

"Oohh ... pindah lagi?" ulang Juleha.

"Iya, Bu."

"Kenapa? Bukannya kamu sudah beli apartemen mewah?"

"Bukan beli, Bu. Saya cuma menyewa. Dan saya balik lagi ke sini karena ..."

"Sewanya mahal, ya?" serobot Juleha.

Jena terkekeh. "Nggak kok, Bu. Bukan karena masalah sewanya. Tapi ..."

"Buuu!" Teriakan dari dalam rumah membuat ucapan Jena terhenti dan obrolan itu otomatis terjeda pula.

Juleha menoleh ke dalam rumah. Sang suami melambaikan tangan. "Jena, udah dulu ya. Saya mau nyamperin suami saya dulu. Nanti kita ngobrol lagi."

"Iya, Bu." Jena mengembuskan napas lega.

Juleha berlari meninggalkan Jena.

"Alhamdulillah. Lepas juga dari tetangga kepo." Jena buru-buru melanjutkan langkahnya. "Bu Juleha tetep aja nggak berubah." Ia terkekeh pelan.

Jena membelokan langkahnya ke gang sempit di pinggir masjid, memotong jalan agar lebih dekat ke TPA Tanah Merah, tempat kedua orang tuanya beristirahat dengan tenang.

Beberapa saat kemudian, kakinya berhenti melangkah. "Akhirnya sampai juga." Ia tak langsung masuk, tapi menghampiri pedagang bunga yang ada di dekat gerbang kuburan. Jena membeli dua buket bunga aster dan sekantong bunga tabur. "Makasih, Bu," cakapnya setelah membayar.

"Sama-sama, Neng."

Jena melangkah pelan menyusuri jalan setapak hingga berhenti di depan dua makam yang berdampingan. Di atas batu nisan itu terukir dua nama yang tak pernah hilang dari hatinya.

Jena berjongkok perlahan. Ia meletakkan bunga di atas kedua pusara, lalu membersihkan beberapa helai daun kering yang berserakan di sekitar nisan. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia tak lupa menaburkan bunga. "Assalamu'alaikum, Ayah ... Bunda." Angin siang berembus lembut, membuat pepohonan di sekitar makam bergoyang pelan. "Maaf ya ... aku baru sempat datang lagi." Ia menarik napas panjang. "Hari ini, aku pulang ke rumah kita." Tatapannya tertuju pada kedua nisan. "Aku juga ingin cerita ... hubunganku dan Jovian sudah berakhir." Kalimat itu diucapkannya dengan tenang. "Setelah sembilan tahun bersama, ternyata kami memang tidak berjodoh." Jena tersenyum tipis, meski ada luka yang masih tersisa. "Awalnya memang sakit sekali. Rasanya seperti kehilangan arah. Tapi sekarang aku memilih untuk mengikhlaskan semuanya." Ia menjeda ucapannya. Memejamkan mata sesaat. "Mulai hari ini aku akan tinggal lagi di rumah peninggalan Ayah dan Bunda. Doakan aku ya ... supaya bisa benar-benar bangkit. Doakan juga semoga aku dipertemukan dengan seseorang yang mencintaiku dengan tulus, apa adanya."

Sesaat kemudian, Jena mengangkat kedua tangannya. Dengan khusyuk ia memanjatkan doa untuk Ayah dan Bundanya, memohon agar Allah mengampuni segala dosa mereka, melapangkan alam kubur mereka, serta menempatkan keduanya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Beberapa menit berlalu. Jena mengusap wajahnya pelan setelah selesai berdoa. Ia berdiri, memandang kedua pusara itu dengan senyum yang lebih tenang. "Ayah ... Bunda ... aku pulang dulu, ya. Aku janji bakal sering datang ke sini. Soalnya sekarang kita udah deket lagi."

Setelah mengusap pelan kedua batu nisan itu untuk terakhir kalinya, Jena berbalik dan melangkah meninggalkan kompleks pemakaman.

Di bawah hangatnya matahari, langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan saat ia datang. Seolah sebagian beban yang selama ini memenuhi dadanya telah ia titipkan kepada doa-doa yang baru saja dipanjatkannya.

Tepat pukul dua lewat lima belasan menit, Jena tiba kembali di rumah. Ia membuka pintu, lalu langsung masuk ke kamarnya. Tak butuh waktu lama, Jena berganti pakaian dengan outfit yang lebih santai dan nyaman untuk bepergian. Setelah itu, ia mengambil koper berukuran sedang yang telah disiapkannya sejak tadi.

Jena menatap pantulan dirinya di cermin. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Sedih-sedihnya udahan dulu, Jena," gumamnya menyemangati diri sendiri. "Sekarang waktunya holiday." Ia tertawa pelan mendengar ucapannya sendiri. "Yuk ... mulai lembaran baru."

Jena meraih gagang koper, lalu melangkah keluar dari kamar. Setelah memastikan seluruh lampu dan peralatan listrik telah dimatikan, ia mengunci pintu rumah.

Di depan pagar, seorang pengemudi ojek online sudah menunggunya. "Mbak Jena, ya?"

"Iya, Mas."

Pengemudi itu segera membantu meletakkan koper kecil Jena di bagian depan motor. "Silakan, Mbak."

"Terima kasih." Jena mengenakan helm yang diberikan, lalu naik ke jok belakang.

"Tujuannya ke mana, Mbak?" tanya sang pengemudi sambil menyalakan mesin motor.

"Ke Stasiun, Mas."

"Siap." Motor pun melaju meninggalkan kawasan rumah Jena.

Angin siang menerpa wajah Jena dengan lembut.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Jena tiba di Stasiun. Setelah membayar ongkos ojek online, ia turun sambil menarik kopernya. "Terima kasih, Mas."

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati di jalan."

Jena mengangguk sambil tersenyum, lalu melangkah memasuki area stasiun yang tampak ramai oleh para calon penumpang.

Karena tiketnya sudah dipesan secara online sejak tadi, Jena hanya perlu melakukan proses check-in. Tak sampai lima menit, semuanya selesai.

Ia kemudian berjalan menuju ruang tunggu keberangkatan. Duduk di salah satu kursi, Jena mengeluarkan ponselnya dan melihat kembali e-ticket yang tersimpan di layar. Senyum kecil terukir di bibirnya. "Bandung ... aku datang," bisiknya.

Sudah lama ia ingin mengunjungi kota itu lagi. Kali ini, bukan untuk urusan pekerjaan atau menemani siapa pun. Melainkan untuk dirinya sendiri. Untuk menenangkan hati, menikmati waktu tanpa memikirkan pekerjaan, tanpa memikirkan Jovian, dan tanpa memikirkan luka yang baru saja ditinggalkannya.

Beberapa menit kemudian, pengumuman keberangkatan terdengar melalui pengeras suara. Kereta tujuan Bandung segera melakukan proses boarding.

Jena berdiri, meraih gagang koper, lalu berjalan bersama para penumpang lainnya menuju peron. Di wajahnya masih tersisa sedikit sendu. Namun di balik itu, perlahan mulai tumbuh secercah semangat untuk menyambut perjalanan dan kehidupan barunya.

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!