Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Harga Sebuah Rahasia
Selene tidak meminta uang setiap hari.
Ia lebih pintar dari itu. Ia meminta dalam jumlah yang masih bisa dijelaskan sebagai biaya pemulihan, hadiah untuk bayi, atau kebutuhan pribadi Sanya. Sekali lima puluh juta. Sekali tujuh puluh juta. Lalu satu permintaan yang tidak berbentuk uang.
Foto jadwal Rayhan minggu depan.
Sanya membaca pesan itu sambil duduk di samping boks Ethan. Bayinya tidur dengan mulut terbuka kecil, tangan mungil mengepal di dekat pipi. Setiap kali Ethan bergerak, Sanya merasa dunia menahannya di tempat.
Ia mengetik:
Jangan libatkan Rayhan.
Balasan Selene datang cepat.
Kamu yang melibatkan dia saat menjadikan anak Kevin sebagai anak Kie.
Sanya memejamkan mata.
Ia tidak punya tenaga untuk menangis lagi.
Ethan terbangun tidak lama kemudian. Tangisnya kecil, serak, membuat Sanya refleks mengangkatnya meski luka jahitan masih nyeri. Perawat masuk membantu posisi menyusui. Sanya menunduk menatap kepala kecil di lengannya, lalu air matanya jatuh ke selimut bayi.
"Baby blues wajar, Bu," kata perawat lembut.
Sanya hampir tertawa. Kalau saja rasa takutnya sesederhana hormon.
Ketika Ethan akhirnya tenang, Rayhan masuk membawa dokumen rumah sakit yang harus ditandatangani. Ia berhenti sebentar melihat wajah Sanya.
"Kamu menangis?"
"Bayi rewel."
Rayhan melihat Ethan yang sudah tidur. Ia tidak membantah, tetapi Sanya tahu ia tidak percaya sepenuhnya.
"Kalau Selene datang terlalu sering, bilang," katanya.
Sanya memegang Ethan lebih erat. "Dia adikmu."
"Bukan berarti dia aman."
Kalimat itu membuat Sanya tidak tahu harus takut pada Selene atau Rayhan. Luka di tubuhnya berdenyut lagi, seolah ikut mengingatkan bahwa ia belum cukup kuat untuk perang apa pun.
Kevin lebih buruk. Ketika Sanya mengirim pesan bahwa Selene punya hasil tes, Kevin menelepon dengan suara panik.
"Kita harus bicara ke orang."
"Ke siapa?"
"Entah. Keira mungkin..."
"Kamu mau menghancurkan Keira juga?"
Kevin terdiam.
Sanya menatap Ethan. "Kamu selalu begitu, Kev. Saat takut, kamu mencari orang yang bisa membereskan."
"Aku ayahnya."
Kalimat itu keluar terlambat dan terlalu pelan.
Sanya tertawa tanpa suara. "Di akta kelahirannya, bukan namamu."
Kevin seperti kehabisan napas. "Aku bisa bertanggung jawab."
"Dengan apa? Uang klien yang kamu dapat karena aku? Nyali yang kamu sembunyikan saat aku melahirkan?"
Telepon itu berakhir tanpa solusi.
Keira bertemu Kevin dua hari kemudian di parkiran Rumah Khiu. Ia datang dengan motor pinjaman teman, wajahnya kusut, rambutnya lebih panjang dari biasa. Keira berdiri di depan pagar, tidak mengajaknya masuk.
"Mama Lina ada?" tanya Kevin.
"Ada. Tapi kamu bicara denganku dulu."
Kevin menatap rumah seperti anak yang ingin pulang tetapi tahu ia membawa lumpur di sepatu.
"Ci, aku salah."
"Itu bukan berita."
"Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Mulai dari berhenti berbohong."
Kevin mengusap wajah. "Kalau aku cerita, semua orang hancur."
"Kalau kamu tidak cerita, orang lain yang akan memilih kapan kalian hancur."
Kevin menatapnya. "Kamu tahu?"
Keira menelan. "Aku tahu cukup untuk marah. Belum cukup untuk bertindak tanpa membunuh orang yang salah."
"Aku sayang dia."
Keira hampir tertawa karena sakit. "Sayang bukan alasan untuk membuat bayi jadi bom."
Kevin menunduk. Bahunya turun seperti anak kecil yang akhirnya sadar tidak ada pintu keluar mudah.
"Jangan datang ke rumah dulu," kata Keira. "Mama belum siap melihat wajahmu dan percaya kamu baik-baik saja."
"Ci..."
"Aku juga belum siap."
Kevin pergi tanpa masuk.
Di Gemilang, Rayhan semakin sering memanggil Keira ke ruang kerja. Bukan untuk menggoda, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk bertanya hal-hal yang membuat Keira merasa dinding di sekelilingnya makin sempit.
"Sanya menerima transfer besar dari rekening keluarga Yong," katanya suatu sore.
Keira berhenti menulis.
"Bapak memantau rekening istri?"
"Aku memantau risiko keluarga."
"Itu jawaban yang menakutkan."
"Dia baru melahirkan. Selene sering datang. Gunawan masih mencari celah. Dan kamu tampak seperti orang yang tahu sumber api tapi menyembunyikan korek."
Keira menutup buku catatan. "Kalau saya tahu api, saya tidak akan membiarkan bayi terbakar."
Rayhan menatapnya lama. "Aku percaya bagian itu."
Keira tidak tahu mengapa kalimat itu membuat dadanya lebih berat.
Di sisi lain, keluarga Yong punya masalah sendiri. Bambang Pradipta, ayah Arya, mulai memeriksa beberapa proyek konstruksi lama yang berhubungan dengan subkontraktor Yong Aluminium. Herman tidak suka. Vincent, putra sulung Yong, lebih tidak suka.
"Pradipta itu mulai terlalu rajin," kata Vincent di ruang kerja Herman.
Herman mengetuk meja. "Bambang punya koneksi. Jangan sentuh langsung."
"Anaknya?"
Sanya yang kebetulan lewat koridor berhenti. Nama Arya membuatnya menoleh.
Vincent tersenyum tipis. "Arya Pradipta. Masih muda, tampan, reputasi bersih. Orang seperti itu biasanya jatuh bukan karena uang, tapi perempuan."
Herman diam beberapa detik. "Siapkan orang yang tidak terhubung ke kita."
Di vila BSD, Selene menerima telepon dari Vincent malam itu. Ia mendengar nama Arya, lalu tersenyum.
"Aku kenal orang yang bisa dipakai," katanya. "Namanya Jessy. Cantik, cukup pintar, dan cukup lapar."
Setelah menutup telepon, Selene membuka map hitam bertulis Ethan dan menaruh satu sticky note baru di halaman depan.
Sanya. Kevin. Ethan. Arya.
Ia menatap nama-nama itu dengan puas.
Rahasia yang baik tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh cabang, mencengkeram siapa pun yang berdiri terlalu dekat.