Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2 - Akademi Bintang Mulia
Koridor Paviliun F4 ternyata lebih panjang dari yang Felicia kira.
Lantainya marmer hitam mengilap, dindingnya dipasang panel kayu gelap, dan lampu gantung kecil berderet rapi seperti hotel bintang lima. Di setiap sudut ada kamera keamanan. Di ujung koridor, seorang staf berseragam abu-abu menunduk begitu melihatnya keluar.
"Selamat pagi, Nona Felicia."
Nada perempuan itu sopan, tetapi matanya bergerak cepat dari tas lusuh Felicia ke sepatu kulit yang masih tampak terlalu baru.
Felicia balas menatapnya.
Staf itu langsung menunduk lebih rendah.
"Pagi," jawab Felicia ringan, lalu berjalan melewatinya.
Di kepalanya, Sis berbisik heboh, "Tuan Rumah, itu staf Paviliun F4. Di sini semua orang tahu Tuan Rumah tinggal karena status khusus, tapi mereka juga tahu Tuan Rumah bukan bagian dari F4. Jadi... perlakuannya agak rumit."
"Rumit berarti mereka ingin merendahkan, tapi belum berani terang-terangan."
"Kurang lebih begitu."
"Membosankan."
Sis terdiam dua detik. "Tuan Rumah benar-benar tidak takut, ya."
Felicia turun melalui tangga lebar. Dari pintu kaca utama, seluruh Akademi Bintang Mulia terbentang seperti kota kecil milik orang kaya.
Gedung kelas berdiri dengan fasad putih dan aksen emas. Lapangan upacara luas berada di tengah, garisnya bersih, rumputnya dipotong terlalu rapi untuk sekolah biasa. Di sisi kanan ada aula besar dengan pilar tinggi, di kiri tampak kantin modern yang lebih mirip food court mal. Beberapa siswa berjalan sambil membawa kopi susu bermerek, sebagian lain duduk di bawah kanopi sambil menggulir layar ponsel.
Di parkiran depan, deretan mobil membuat Felicia sempat berhenti.
Alphard hitam. Porsche Cayenne putih. BMW sport berwarna abu-abu. Bahkan ada satu mobil listrik mahal yang pintunya terbuka ke atas, membuat dua siswi berfoto sambil tertawa kecil.
"Anak SMA?" tanya Felicia.
"Anak konglomerat, pejabat, artis, dan keluarga lama," jawab Sis cepat. "Akademi Bintang Mulia punya sistem kelas berdasarkan prestasi dan kontribusi keluarga. Kelas paling atas adalah Kelas Olimpiade. Lalu Kelas A sampai E. Yang paling bawah..."
"Kelas F."
"Iya. Kelas Tuan Rumah."
Felicia menyesuaikan tali tas di bahunya. "Tempat pembuangan."
"Secara resmi disebut kelas pembinaan."
"Tempat pembuangan dengan nama lebih halus."
Sis tidak membantah.
Felicia mulai berjalan mengikuti arus siswa. Seragam mereka sama, tetapi cara memakainya berbeda. Anak Kelas Olimpiade yang lewat di dekat aula memakai blazer rapi, pin prestasi, dan wajah seolah dunia sudah menunggu mereka jadi pemimpin. Anak Kelas A bergerombol sambil membahas rencana OSIS. Di sisi lain, beberapa siswa Kelas F yang ia lihat dari bordir kecil di lengan lebih banyak menunduk, berjalan cepat, atau sengaja tidak menatap siapa pun.
Yang kuat memilih tempat.
Yang lemah diberi tempat.
Aturan di dunia ini ternyata tidak jauh berbeda dari dunia lamanya. Hanya saja, di sini senjatanya bukan pisau atau peluru, melainkan nama keluarga, uang sekolah, followers, dan gosip.
Saat Felicia melewati lapangan, beberapa bisikan mulai mengikutinya.
"Itu Felicia, kan?"
"Kok dia keluar dari Paviliun F4?"
"Masih hidup ternyata."
"Kemarin bukannya hampir pingsan di gudang olahraga?"
Felicia memperlambat langkah.
Ingatan tubuh ini bereaksi lebih dulu daripada pikirannya. Ujung jarinya dingin, dada kecilnya menegang, seolah terbiasa menerima bahaya dari suara-suara seperti itu.
Felicia menekan reaksi tubuh itu sampai diam.
"Gudang olahraga?" tanyanya dalam hati.
Sis menjawab hati-hati, "Pemilik tubuh lama pernah dikunci di sana oleh beberapa siswa. Bukan sekali. Mereka menganggap Tuan Rumah terlalu lemah untuk melawan."
"Mereka benar."
"Tuan Rumah..."
"Pemilik tubuh lama memang tidak melawan. Aku bukan dia."
Koridor menuju gedung Kelas F lebih sempit dan lebih ramai. Cat dindingnya tetap mahal, tetapi suasananya jelas berbeda. Poster kegiatan OSIS sudah mengelupas di salah satu sudut. Dari kantin dekat belakang, aroma mie ayam dan es teh manis terbawa angin.
Felicia baru sampai di depan pintu kelas ketika sebuah tangan menutup jalan.
Pemilik tangan itu siswi berambut bob dengan lip gloss terlalu tebal. Dua temannya berdiri di belakang, satu memegang ponsel dalam posisi siap merekam.
"Wah, Felicia akhirnya masuk," kata siswi itu manis. "Kirain masih trauma. Kemarin di gudang gelap banget, ya?"
Beberapa siswa di dalam kelas langsung menoleh. Ada yang menahan tawa, ada yang pura-pura sibuk membuka buku, ada yang jelas menunggu tontonan.
Felicia menatap tangan yang menghalangi pintu.
"Minggir."
Siswi berambut bob tertawa kecil. "Galak amat. Tinggal di Paviliun F4 sehari langsung ngerasa jadi nona besar?"
Temannya yang memegang ponsel mendekat. "Ulang dong. Biar kelihatan kalau anak pungut juga bisa sombong."
Felicia mengangkat mata.
Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa malu. Tidak ada air mata yang mungkin diharapkan tubuh lama untuk keluar.
Hanya tatapan datar, seperti seseorang sedang menilai benda rusak yang perlu disingkirkan dari jalan.
Siswi berambut bob berhenti tertawa.
Felicia tersenyum sedikit.
Senyum itu kecil, nyaris lembut, tetapi tiga siswa di depannya mundur setengah langkah tanpa sadar.
"Tanganmu," kata Felicia pelan, "atau ponsel temanmu. Pilih satu yang mau rusak duluan."
Koridor mendadak sunyi.
Sis berteriak dalam kepalanya, "Tuan Rumah! Kekuatan masih nol persen!"
"Aku tahu."
"Kalau berkelahi sekarang, tubuh ini bisa cedera!"
"Aku juga tahu."
Felicia masih tersenyum.
Justru karena kekuatannya nol, ia harus membuat mereka percaya sebaliknya.
Siswi itu menelan ludah. Entah apa yang ia lihat di mata Felicia, bahunya mendadak kaku. Tangan yang menghalangi pintu turun perlahan.
Ponsel temannya juga ikut turun.
"Cuma bercanda," gumam salah satu dari mereka.
"Aku belum tertawa," jawab Felicia.
Tidak ada yang menjawab.
Felicia masuk ke kelas.
Bangku paling belakang dekat jendela tampak kosong. Ia berjalan ke sana tanpa bertanya. Beberapa siswa otomatis menarik kaki mereka dari lorong kecil, memberi jalan seolah tubuh mereka punya naluri yang lebih pintar daripada mulut mereka.
Saat ia duduk, bisikan berubah nada.
"Dia beda."
"Serem banget matanya."
"Jangan-jangan benar ada yang backing dia di F4."
Kata itu muncul lagi.
F4.
Felicia meletakkan tas di meja. "Mereka seberisik itu?"
Sis langsung semangat. "F4 adalah empat siswa paling berpengaruh di Akademi Bintang Mulia. Mereka tinggal di paviliun yang sama dengan Tuan Rumah, tapi lantai dan area mereka terpisah. Biasanya mereka jarang masuk bersamaan, kecuali ada rapat OSIS atau urusan keluarga donor."
"Dan hari ini?"
Bel sekolah berbunyi.
Sebelum Sis menjawab, suara dari koridor menghilang satu per satu. Bukan mengecil. Menghilang.
Seolah seseorang menekan tombol mute di seluruh lantai.
Siswa yang tadi berdiri di depan kelas buru-buru menepi. Dua guru yang sedang berbicara di ujung lorong langsung merapikan pakaian. Bahkan siswi berambut bob yang baru mengganggu Felicia menunduk, wajahnya pucat karena gugup.
Dari balik jendela pintu kelas, Felicia melihat koridor panjang yang mendadak kosong di tengah.
Langkah kaki mendekat.
Empat bayangan jatuh di lantai marmer.
Sis berbisik, kali ini tidak heboh sama sekali.
"Tuan Rumah... F4 datang."