"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Pagi hari di kediaman utama Surya dan istrinya atau lebih tepatnya, di ruang tengah rumah sewaan baru mereka yang jauh lebih sempit terasa sangat mencekam. Di atas meja makan kayu yang mulai lapuk, tidak ada lagi jajaran menu sarapan mewah buatan koki pribadi atau buah-buahan impor segar. Yang ada hanyalah beberapa cangkir kopi hitam yang sudah mendingin dan setumpuk berkas berlogo hukum yang membuat kepala Surya serasa ingin pecah.
Surya duduk memegangi kepalanya yang pening. Di hadapannya, istrinya terus-menerus mengomel sambil meratapi nasib bungkusan perhiasan terakhirnya yang terpaksa digadaikan demi membayar utang operasional butik batiknya yang kolaps.
"Papa harus cari cara! Masa kita mau menyerah begitu saja?" cetus sang istri dengan suara melengking frustrasi. "Gaby itu anak kita, Pa! Darah daging kita sendiri! Tidak mungkin dia tega membiarkan orang tua kandungnya jatuh miskin sampai makan saja harus berhemat seperti ini. Coba Papa kirim proposal bisnis lagi ke Addison Group. Bilang kalau ini proyek kemanusiaan atau apa kek, pakai nama relasi lama Papa!"
Surya mengembuskan napas berat. Semalam, dengan sisa-sisa harga diri yang sudah runtuh, ia memang nekat menyusun sebuah proposal kerja sama restrukturisasi bisnis batiknya. Ia mengirimkannya melalui kurir ke kantor Menara Addison, berharap Gaby atau setidaknya Edgar mau melunak karena melihat nama "Surya" di map tersebut. Surya berpikir, bagaimanapun marahnya seorang anak, ikatan darah tidak akan bisa dihapus begitu saja.
Namun, harapan tinggal harapan.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil hitam mewah berpelat nomor korporat berhenti di depan rumah sewaan mereka. Pintu pagar besi yang berkarat diketuk dengan ketukan yang ritmis dan tegas. Ketika pintu dibuka oleh Surya, bukan dana segar atau surat persetujuan investasi yang ia terima, melainkan sosok Kafi yang berdiri tegak dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang rapi, didampingi oleh dua orang staf hukum Addison Group.
"Selamat pagi, Tuan Surya," sapa Kafi, datar tanpa ekspresi, seolah sedang berbicara dengan orang asing di jalanan.
"Ka-Kafi? Kamu bawa kabar baik dari Gaby, kan? Proposal saya disetujui?" tanya Surya dengan binar harapan yang menyedihkan di matanya.
Kafi tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada staf di belakangnya untuk melangkah maju dan meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam legam berstempel emas resmi dari divisi hukum Addison Group langsung ke atas meja makan.
Plak.
Suara map yang dijatuhkan itu terdengar seperti vonis mati bagi Surya.
"Nyonya Besar Gaby Yamzie Addison tidak menerima proposal dalam bentuk apa pun dari pihak luar yang tidak memiliki kualifikasi," ucap Kafi dengan penekanan kata Nyonya Besar yang sengaja diperjelas, membuat kuping istri Surya yang menguping di balik tirai terasa panas. "Kedatangan saya ke sini adalah untuk mengantarkan surat gugatan resmi dan penarikan seluruh sisa jaminan."
Surya membelalakkan matanya, tangannya gemetar saat membuka map tersebut. "Gugatan?! Gugatan apa lagi, Kafi?! Rumah Menteng sudah diambil! Bisnis saya sudah mati! Apa lagi yang mau kalian ambil dari kami?!"
Kafi memperbaiki letak jam tangan mewahnya perlahan sebelum menjelaskan dengan nada suara yang teramat dingin.
"Berdasarkan hasil audit forensik internal yang dipimpin langsung oleh Nyonya Besar Gaby kemarin, ditemukan bukti bahwa selama lima tahun terakhir, perusahaan batik milik Anda telah memanipulasi laporan pajak dan menggunakan dana talangan dari anak perusahaan Addison Group secara ilegal melalui mantan direktur operasional, Gavin Geraldi. Total kerugian korporasi mencapai empat puluh lima miliar rupiah."
Surya lemas, lututnya terasa lolos hingga ia terpaksa bertumpu pada pinggiran meja makan agar tidak ambruk ke lantai.
"Oleh karena itu," lanjut Kafi tanpa belas kasihan sedikit pun, "Addison Group secara resmi menarik seluruh hak guna bangunan sisa aset Anda, membekukan izin ekspor batik Anda secara permanen, dan menuntut ganti rugi penuh. Jika dalam waktu tujuh kali dua puluh empat jam dana tersebut tidak dikembalikan, tim hukum kami akan menaikkan status ini menjadi laporan pidana pencucian uang ke markas besar kepolisian."
"Kafi!! Sampaikan pada Gaby! Ini keterlaluan!" Istri Surya akhirnya keluar dari balik tirai dengan histeris, menunjuk-nunjuk Kafi dengan air mata yang bercucuran. "Dia itu anak yang tidak tahu diuntung! Kami yang membesarkannya! Kami yang memberinya makan sampai dia bisa sarjana! Kenapa sekarang setelah dia jadi istri konglomerat, dia malah mau memenjarakan ayahnya sendiri?! Di mana hatinya?!"
Kafi menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan mata yang sangat tajam dan merendahkan. Aura proteksi Edgar seolah mengalir melalui diri Kafi saat itu.
"Nyonya," sapa Kafi, suaranya merendah namun sarat akan intimidasi. "Saat Anda dan suami Anda mengusir Nyonya Besar Gaby di tengah malam, mencabut seluruh haknya, dan membiarkannya menangis di jalanan hanya demi membela pelakor seperti Luna dan penipu seperti Gavin... di mana hati Anda saat itu? Anda tidak pernah membesarkan Nyonya Besar dengan kasih sayang, Anda hanya melihat beliau sebagai alat komoditas bisnis. Dan sekarang, saat komoditas itu telah berubah menjadi pemilik takhta tertinggi, Anda meminta belas kasihan?"
Kafi mundur satu langkah, merapikan kancing jasnya dengan gestur yang sangat formal.
"Sebelum saya berangkat kemari, Tuan Besar Edgar Emiliano Addison menitipkan satu pesan untuk Anda berdua," ucap Kafi, memberikan pukulan mental terakhir yang paling telak. "Beliau mengatakan Memaafkan adalah urusan Tuhan. Tugas saya sebagai suami Gaby adalah memastikan orang-orang yang pernah membuat istri saya menangis, menerima konsekuensi neraka dunia secara instan dan mutlak."
Surya jatuh terduduk di kursi dengan pandangan kosong. Surat gugatan di atas meja makan itu bukan lagi sekadar kertas, melainkan rantai besi yang mengunci mati seluruh sisa hidup mereka dalam kemiskinan dan kehinaan.
Kafi dan tim hukumnya berbalik, meninggalkan rumah sewaan itu dengan langkah tegap, membiarkan jerit tangis histeris istri Surya dan keheningan penyesalan Surya yang terlambat bergema memenuhi ruangan yang pengap dan dingin tersebut. Kesombongan mereka di masa lalu kini telah dibayar tunai dengan kehancuran yang tidak akan pernah bisa mereka perbaiki seumur hidup.