Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Panji Hasta
"Apa? Wanda sekarang di tempat orang tua Kian?" Mirelin sangat kaget begitu tau tentang ini. Dia datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari suaminya kalo putranya sedang berada di rumah sakit.
Karena mengalami benturan yang cukup keras pada kepalanya, Panji meminta Aditama melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Terutama di bagian kepalanya.
"Tenanglah. Nanti aku akan bicara pada Dewa." Mereka sekarang sedang berada di luar ruangan MRI. Panji berusaha menenangkan istrinya yang panik luar biasa.
"Ngga mungkin aku bisa tenang. Bagaimana kalo rahasiamu terbong---."
"Mereka sudah tau." Panji memotong ucapan penuh kemarahan istrinya.
"AP---." Mirelin menutup mulutnya dengan mata terbelalak. Tubuhnya langsung lemas. Sekarang dia duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi tunggu yang tersedia di sana. Wajahnya langsung pucat pasi. Bayangan akan dipermalukan teman teman sosialitanya membuatnya merasa sangat tertekan.
"Dewa berjanji akan merahasiakannya asalkan kita melepas Wanda," ucap Panji Hasta sambil duduk di sampingnya. Wajahnya tampak frustasi.
Mirelin menatap suaminya yang kini mencondongkan tubuhnya agak ke depan dengan menopang kedua ujung sikunya pada masing masing lututnya.
"Kamu setuju?" sergahnya tak percaya Ini rahasia besar mereka. Selama bertahun tahun baik baik saja mereka menyimpannya. Hanya keluarga inti yang tau. Selain itu dia juga ngga rela Wanda mendapatkan kehidupan yang layak.
Maunya Mirelin, Wanda hidup susah dan menderita. Syukur syukur Wanda menyusul mamanya karena sudah ngga tahan lagi dengan hidupnya.
"Terpaksa." Panji menggusar rambutnya.
Mirelin meradang.
"Kenapa anaknya Dewa tertarik sekali dengan anak tak jelas itu. Apa yang dia lihat darinya?!" Dalam kalutnya Mirelin jadi sangat emosi, walaupun dia masih bisa mengontrol volume suaranya hingga tidak sampai berteriak.
Mirelin memijat kepalanya dengan kuat. Dia benar benar tidak habis pikir dengan selera anak Dewa.
"Masih banyak yang cantik cantik dari kalangan kita. Kenapa anaknya Dewa malah punya selera rendah," umpatnya tiada henti.
Tidak ada istimewanya dari anak h@ram suaminya!
Panji menggusar rambutnya frustasi mendengar umpatan istrinya tentang putri yang tidak ingin diakuinya.
"Aku ngga mau Aditama sampai tau siapa Wanda." Mirelin meracau lagi dalam takut dan marahnya. Dia cemas dan khawatir dengan citra baiknya.
"Diamlah, Mirelin. Sikapmu bisa membuat Tama curiga." Panji memberikan peringatan sambil melihat ke arah pintu yang masih tertutup.
"Semua gara gara kamu," kecam Mirelin dengan suara bergetar. Dia benar benar marah dan benci dengan suaminya. Kalo saja mereka tidak sedang berada di rumah sakit, dia pasti akan mencakar wajah suaminya.
*
*
*
Seseorang mengetuk pintu kamar tempat Wanda dirawat. Kian meletakkan mangkok yang berisi nasi supnya ke atas meja.
"Sebentar, aku lihat dulu."
Wanda menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Kian yang menjauh. Ada rasa tenang dan aman yang menyerap di dalam hatinya. Ketakutan yang selalu menderanya seketika lenyap.
Dia beruntung Kian sangat peduli padanya.
Ngga lama kemudian Kian masuk sambil membawa sebuah koper ukuran sedang.
"Nenekmu yang bawa. Katanya isinya seragam dan buku buku pelajaran kamu."
DEG
Neneknya merestuinya tinggal bersama Kian? Wanda sulit mempercayainya.
"Dia tidak bisa menemuimu, katanya ngga mau kamu melihatnya menangis dan membuatmu sedih."
Wanda membeku mendengarnya. Tidak mau membuatnya sedih, ulangnya getir dalam hati. Padahal selama ini neneknya-satu satunya keluarganya, tidak pernah menghibur apalagi membelanya ketika dia dimarahi Aditama dan Nyonya Mirelin, neneknya membiarkannya.
"Mami dan daddy menawarkan nenek ikut kamu aja. Tapi nenekmu menolak, karena dia sudah berhutang budi terlalu banyak pada keluarga si lemah itu," jelas Kian lagi.
Wanda hanya ber-ooo. Dia pun tak yakin neneknya akan mau bersamanya. Neneknya terlalu setia dengan keluarga Adiitama.
Tapi yang cukup menyentuh hatinya, neneknya kepikiran mengantarkan seragam dan buku bukunya. Harusnya neneknya biarkan aja, kan?
"Makan lagi, dihabisin, ya. Ini masakan buatan mami."
Sudah lama tidak ada yang perhatian dengannya. Di rumah Aditama, dia membuat bekalnya sendiri. Memang dia bebas menggunakan stok yang ada di dapur, neneknya juga tidak pernah menegur ketika subuh subuh dia sudah berada di dapur. Tapi Wanda tentu saja tau diri, menggunakan secukupnya saja. Dia juga tidak berani menyentuh bahan makanan yang mahal mahal.
Wanda tidak sungkan lagi membuka mulutnya dengan matanya yang tiba tiba memanas.
*
*
*
Panji tidak menunggu hasil pemeriksaan Aditama, dia langsung membuat janji untuk bertemu dengan Dewa di perusahannnya siang ini.
"Anak anak kita selalu ngga sepahaman, ya." Panji membuka percakapan dengan santai.
Dewa tersenyum.
"Ya, namanya masih SMA. Masih mencari jati diri."
Panji mengangguk, menyetujui kata kata Dewa.
"Keadaan Wanda bagaimana?" tanya Panji mencoba mengumpulkan kekuatannya Dia merasa terintimidasi dengan tatapan dan sikap tenang Dewa.
"Sudah membaik."
Hening, hanya terdengar helaan nafas berat Panji.
"Dewa, masalah Wanda masalah keluarga kami. Aku minta kamu jangan ikut campur."
Dewa tersenyum miring.
"Aku tidak bisa membiarkan anak yang diinginkan anakku hidup menderita."
Hampir saja Panhi mendengus.
"Kian menginginkan Wanda sebagai apa? Bukannya sama seperti Aditama, jadi asistennya," tuduh Panji.
Senyum miring Dewa melebar.
"Begitu menurutmu?"
Panji menatap Dewa tajam.
"Yang jelas putraku akan memberikan rasa aman buat Wanda."
Panji terdiam, terbayang Kian yang melindungi Wanda dari tendangan putranya Aditama.
"Tapi kamu ngga bisa mengambil Wanda begitu saja. Walinya masih bekerja di rumahku," tegas Panji.
"Juga papanya," sambar Dewa dingin. Sebenarnya Dewa sudah muak melihat Panji yang lebih merelakan putrinya disiksa anaknya. Mungkin juga istrinya.
"Itu urusanku. Kamu orang luar."
Dewa mengangguk. Dia mengutak atik layar ipadnya dan memperlihatkannya pada Panji.
"Aku berhasil mendapatkan rekaman cctv perlakuan kasar Aditama pada Wanda. Ini kasus pembuliyan. Bisa masuk ranah hukum."
Panji tertegun. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya ketika melihat tatap sedih Wanda.
"Kalo Aditama tau yang diperlakukannya dengan kasar itu adiknya, menurutmu dia akan menyesal atau tidak?"
Panji tertegun. Dia tidak tau jawabannya. Yang dia takutkan Aditama akan membencinya karena sudah mengkhianati mamanya.
"Kalo kamu memaksa membawa Wanda pulang, silahkan. Tapi aku ngga menjamin rahasia Wanda sebagai putrimu terbongkar."
Panji tersenyum kecut. Dia tau, ancaman Dewa sangat serius.
"Apa jaminannya kalo rahasia Wanda aman jika bersama keluargamu."
"Ngga ada jaminan."
Panji mendelikkan matanya mendengar jawaban santa Dewa.
Dewa masih mengekalkan senyum miringnya.
"Tapi yang bisa aku pastikan, Wanda akan mendapatkan kebahagiaan yang harusnya dia dapatkan darimu."
Panji menundukkan kepalanya. Dia memang papa yang pengecut untuk Wanda.