Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yang Terkuak
Lorong-lorong area medis di lantai bawah tanah Mansion Moretti tampak sunyi senyap, layaknya labirin beton tanpa nyawa. Jevan terbaring menatap langit-langit kamar perawatannya dengan kejengkelan yang kian memuncak. Sebagai tangan kanan Batara Moretti yang terbiasa mengurus birokrasi klan, mengendalikan arus logistik dunia mafia, dan bergerak di bawah bayang-bayang peluru, terperangkap di atas ranjang pasien dengan bau antiseptik yang menyengat adalah sebuah siksaan batin yang tak tertahankan.
"Ah, menyusahkan sekali!" umpat Jevan dengan suara parau.
Matanya melirik ke arah botol infus yang menggantung di tiang besi. Cairan di dalamnya tinggal tersisa beberapa tetes lagi. Tanpa memedulikan prosedur keselamatan, tangan kirinya yang bebas langsung menyentak kasar jarum infus yang tertanam di punggung tangannya. Setitik darah merah pekat keluar, namun dia mengabaikannya.
Jevan memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Tubuhnya bergoyang sejenak, menstabilkan keseimbangan. Bahu kanannya masih terasa sangat kaku dan nyeri akibat jahitan operasi pengeluaran proyektil kaliber 9mm yang hampir menembus tulang belikatnya dua hari lalu. Dengan langkah yang agak diseret namun penuh tekad untuk mengusir kebosanan, dia berjalan keluar dari kamar perawatan.
Suasana di luar benar-benar sepi. Sebagian besar anggota klan The Inferno yang terluka dalam insiden Pelabuhan Utara sudah dinyatakan sembuh dan kembali ke pos penjagaan masing-masing. Sementara itu, bagi mereka yang tewas, birokrasi klan telah menyelesaikan pengiriman jenazah kepada keluarga mereka, lengkap dengan uang duka dalam jumlah sangat besar, sebuah jaminan mutlak dari Batara Moretti untuk setiap nyawa yang gugur demi klan. Karena tidak ada kepanikan lagi, koridor tersebut kosong. Tak ada lalu lalang perawat maupun dokter yang biasanya sibuk. Jevan terus berjalan lurus menuju ke arah bagian depan kompleks medis, tempat gudang penyimpanan obat dan farmasi berada, berharap ada seseorang yang bisa ditemui.
Di balik sekat kaca buram ruang farmasi, tiga orang perawat pria yang sedang mendapat sif piket siang itu tampak berkumpul di balik meja konter. Mereka berbincang dengan nada suara yang sengaja ditekan rendah, berbisik-bisik penuh kecemasan. Salah seorang di antara mereka, seorang perawat muda bernama David, baru saja kembali dari lantai atas setelah melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital secara rahasia terhadap Sonya Moretti.
"Bisa-bisanya Tuan Besar menyimpan badut seperti itu di mansion samping," ujar David sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan muak.
Perawat kedua yang berdiri di dekat rak obat menoleh dengan kening berkerut. "Siapa yang kau maksud badut, David?"
Perawat ketiga, Kevin, mendengus pelan sebelum menjawab. "Oh, aku tahu siapa yang dia maksud. Dengar-dengar wanita itu adalah adik tiri Nyonya Muda. Namanya Talitha. Tingkah lakunya sejak kemarin sangat sombong dan angkuh. Dia berjalan di koridor sayap barat seolah-olah dia adalah Nyonya baru di mansion ini."
David menengok ke kanan dan ke kiri secara refleks, memastikan kondisi koridor di luar ruangan farmasi benar-benar aman dan tidak ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Setelah merasa aman, dia kembali berbisik dengan nada ketus. "Wanita ular itu... beraninya dia bersikap sombong dan angkuh di depan semua pelayan, seolah-olah dialah pahlawan tunggal yang telah menyelamatkan nyawa Tuan Jevan! Padahal, jika bukan karena Nyonya Muda Sonya yang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk mendonorkan darah di saat-saat paling kritis, Tuan Jevan pasti sudah tewas mengenaskan di atas meja operasi malam itu! Wanita bernama Talitha itu sebenarnya hanya menyumbangkan darah untuk cadangan darah saja!"
"Ssssttt! Hapus suaramu, David! Jangan bicara soal hal sensitif ini sembarangan!" potong Kevin dengan wajah yang mendadak memucat karena panik. Dia mencengkeram lengan baju David. "Tuan Besar Batara tidak tahu-menahu tentang hal ini! Bisa hilang kepala kita semua jika beliau sampai tahu kita menyembunyikan kebenaran sebesar ini darinya! Apalagi... apalagi kondisi kesehatan Nyonya Muda Sonya terus memburuk dan drop sejak beliau mendonorkan darahnya malam itu. Jantungnya mulai melemah akibat syok anemia."
Di balik dinding beton yang tebal, tepat di tikungan koridor luar ruang farmasi, langkah kaki Jevan terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Sepasang matanya membelalak lebar, memancarkan keterkejutan yang teramat sangat. Rahang tegasnya mengencang hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Tangan kanannya mencengkeram permukaan dinding beton dengan begitu kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Sebuah rahasia besar, rahasia yang dia kira hanya melibatkan ketidakberdayaan Batara pada Talitha, ternyata memiliki selapis kebenaran lain yang jauh lebih berdarah.
Di dalam ruangan, percakapan ketiga perawat itu masih berlanjut, sama sekali tidak menyadari keberadaan sang malaikat maut di luar pintu.
"Wanita jalang dari klan Munic itu benar-benar besar kepala saat ini karena menganggap dirinya adalah pahlawan bagi Tuan Jevan," lanjut David dengan nada gusar. "Rahasia ini hanya kita bertiga, tim operasi malam itu, dan Kepala Dokter yang tahu. Lalu... bagaimanakah kondisi Nyonya Sonya yang sebenarnya sekarang, Kevin? Kau yang memegang grafik rekam medisnya."
Kevin menghela napas panjang, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. "Secara fisik luarnya sudah sedikit lebih baik setelah disuntikkan vitamin oleh Ibu Yooka secara sembunyi-sembunyi, tetapi aku benar-benar tidak yakin dengan kondisi fungsi jantungnya. Beberapa kali aku mengecek denyut nadinya secara berkala, detaknya cukup lemah dan tidak stabil. Tekanan darah Nyonya Muda selalu berada di angka yang sangat rendah, meskipun kondisinya dilaporkan sudah sedikit lebih baik dari kemarin pagi. Dia sangat lemah saat ini..."
BRAKKKK!!!
Sebuah suara dentuman yang sangat keras memecah kesunyian ruang farmasi. Jevan menendang pintu pembatas dan melangkah masuk dengan brutal, tangannya menyentak sebuah meja besi tempat botol-botol antiseptik hingga benda itu terbalik dan menghantam lantai dengan suara berisik.
Ketiga perawat pria itu seketika melompat mundur dengan wajah yang memucat pasi, seolah-olah mereka baru saja melihat hantu bangkit dari kubur. Tubuh mereka gemetar hebat, dan lutut mereka mendadak lemas.
"Tu-Tuan... Tuan Je-Jevan...?" bisik Kevin dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Matanya bergerak liar menatap punggung tangan Jevan yang masih meneteskan darah akibat bekas jarum infus. "Se-sejak kapan Anda berada di sini, Tuan...?"
Jevan tidak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Dengan gerakan yang sangat cepat meskipun bahunya masih dibalut perban pasca-operasi, dia melangkah maju. Tangan kirinya yang besar dan kokoh bergerak secepat kilat, mencengkeram kerah baju Kevin dengan cengkeraman maut, lalu mengangkat tubuh perawat pria itu hingga kedua kakinya terangkat dari lantai dan menyudutkannya ke tembok beton dengan keras.
"Jelaskan semuanya padaku sekarang juga..." desis Jevan, suaranya terdengar sangat rendah, parau, namun sarat akan ancaman pembunuhan yang nyata. Sepasang matanya yang memerah menatap tajam ke dalam manik mata Kevin. "Jelaskan setiap detail yang baru saja keluar dari mulut kotor kalian, atau kalian bertiga akan aku patahkan lehernya detik ini juga di atas lantai ini!"
"Ba-baik... Tuan... Tuan Jevan! Saya akan jelaskan! Tapi tolong... tolong ampuni nyawa kami! Kami mohon!" teriak David dan perawat lainnya sambil berlutut di atas lantai dengan tangan terangkat, ketakutan setengah mati melihat aura membunuh yang menguar dari tubuh tangan kanan Batara Moretti tersebut. "Kami semua... kami semua terpaksa melakukannya karena demi keselamatan bersama!"
"JELASKAN SEKARANG!!!" bentak Jevan, memperkuat cengkeraman tangannya pada leher Kevin hingga perawat itu mulai kesulitan bernapas.
"Sa-saya... saya akan bicara, Tuan!" cicit Kevin dengan mata berkaca-kaca karena ketakutan. "Malam itu... malam saat Anda dibawa masuk ke ruang operasi dalam kondisi sekarat... Anda kehilangan terlalu banyak darah dan membutuhkan donor B negatif segera. Nyonya Muda Sonya yang berada di sana langsung bersedia mendonorkan darahnya tanpa ragu. Tetapi... tetapi Tuan Besar Batara melarangnya dengan keras. Tuan Besar tidak mengizinkan Nyonya Sonya karena beliau tahu kondisi fisik Nyonya sangat lemah dan memiliki riwayat masalah jantung bawaan yang parah."
Jevan mendengarkan dengan napas yang memburu, mendesak Kevin. "Lalu kenapa Tuan Besar meminta wanita jalang itu?!"
"Tuan Besar... Tuan Besar terpaksa meminta Nona Talitha yang mendonorkan darahnya karena golongan darah mereka sama," lanjut Kevin dengan suara bergetar. "Tetapi... tetapi beberapa menit setelah Tuan Besar pergi meninggalkan ruang medis untuk membawa nona Talitha, kondisi organ vital Anda mendadak kolaps, Tuan! Detak jantung Anda sempat berhenti. Dalam kondisi darurat itu, Kepala Dokter terpaksa memohon dengan sangat kepada Nyonya Muda Sonya untuk mengambil tindakan nekat. Karena jika kita harus menunggu kedatangan darah dari Nona Talitha yang berada di mansion samping, kemungkinan besar nyawa Anda tidak akan pernah bisa tertolong lagi di atas meja operasi!"
Air mata penyesalan mulai mengalir di sudut mata Jevan yang memerah. Tangannya yang mencengkeram kerah baju Kevin perlahan-lahan mulai kehilangan kekuatannya.
"Nyonya Muda Sonya... beliau sama sekali tidak berpikir dua kali, Tuan," bisik Kevin lagi.
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini