Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Malam Biasa
Mendengar kalimat penolakan itu, langkah kaki Batara seketika terhenti. Sonya bisa melihat dengan sangat jelas melalui cermin bagaimana sepasang mata elang suaminya yang biasanya kejam dan tanpa ampun kini mendadak memancarkan kilatan kekecewaan yang teramat dalam. Bahkan, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, wajah tampan berahang tegas milik Batara menampakkan guratan kesedihan dan kerapuhan yang sangat nyata. Pria itu merasa ditolak oleh satu-satunya wanita yang berhasil menyentuh sisi manusiawinya, tepat di saat jiwanya sedang tertekan oleh beban berat klan.
"Kamu... kamu menolakku, Sonya?!" desis Batara, suaranya bergetar rendah, sarat akan luka batin yang disembunyikan di balik topeng kemarahannya. "Apakah aku begitu menjijikkan di matamu setelah pulang dengan berlumuran darah?!"
Melihat perubahan ekspresi kesedihan di mata suaminya, hati Sonya seketika didera rasa bersalah yang teramat sangat. Dia tidak bermaksud menolak karena benci, dia menolak semata-mata karena takut tubuhnya yang baru kehilangan darah akan ambruk dan membongkar rahasia donor darahnya di depan pria itu.
"Bu-bukan begitu, Tuan... saya mohon jangan salah paham," ucap Sonya tergesa-gesa, membalikkan tubuhnya menghadap Batara dengan mata yang berkaca-kaca. "Anda... Anda masih terluka parah di bagian perut, Tuan. Perban Anda bahkan masih basah. A-aku... aku hanya tak-takut jika gerakan kita nanti akan membuat luka sayatan Anda kembali terbuka dan mengeluarkan darah. Aku mengkhawatirkan keselamatan Anda..."
"Ini hanya luka kecil! Luka seperti ini tidak akan pernah bisa menghentikanku untuk mengambil apa yang menjadi hak milikku, Sonya!" bentak Batara, egonya yang terluka berpadu dengan tekanan batin yang merongrong otaknya sejak tadi membuat rasionya sedikit kabur.
"Ta-tapi Tuan... Aahhh!"
Sonya memekik kecil ketika Batara tanpa membuang waktu lagi langsung melangkah maju, menyusupkan kedua lengannya di bawah tubuh mungil Sonya, dan mengangkatnya ke dalam gendongan ala bridal style secara kasar namun tetap berhati-hati agar tidak menekan dada istrinya. Batara membawa tubuh mungil itu melangkah lebar menuju ke arah ranjang king size, lalu menjatuhkannya dengan perlahan di atas kelembutan kasur berbalut seprai hitam.
Sonya hanya bisa pasrah, memejamkan matanya erat-erat dengan jantung yang berdegup dengan ritme yang tak beraturan di dalam rongga dadanya. Di dalam batinnya, dia berdoa dengan sangat khusyuk, berharap agar ramuan obat penambah darah yang ditelannya tadi cukup kuat untuk menopang kesadaran dan energi tubuhnya yang sudah terkuras habis sepanjang malam ini.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Sonya untuk menghirup oksigen kamar, Batara langsung memosisikan tubuh kekarnya di atas tubuh mungil istrinya. Tangan besarnya mencengkeram rahang Sonya dengan kelembutan yang menuntut, lalu sedetik kemudian dia langsung menurunkan wajahnya, melumat bibir merah merona Sonya secara brutal, intens, dan penuh dengan keputusasaan yang tertahan. Ciuman Batara malam ini terasa sangat berbeda, ini bukan sekadar ciuman nafsu, melainkan sebuah ciuman dari seorang pria yang sedang mengalami perang batin yang hebat, seolah-olah dia sedang mencari perlindungan dan pelarian dari kenyataan pahit dunia hitam di dalam manisnya bibir sang istri.
Lumatan yang begitu dalam dan tanpa jeda itu seketika membuat Sonya cukup kewalahan. Pasokan oksigennya yang memang sudah menipis akibat anemia membuat dadanya terasa sesak berlipat ganda.
"Mmph... Tuan..." Cicit Sonya di sela-sela pautan bibir mereka, wajahnya mulai memerah karena kehabisan napas.
Batara menarik wajahnya kembali sejauh beberapa sentimeter, menatap wajah istrinya yang terengah-engah di bawah kungkungan tubuhnya. "Bernapas, Sonya! Tarik napasmu!" Perintah Batara dengan suara parau yang bergetar.
Dengan napas yang terengah-engah pendek dan dada yang naik turun dengan cepat, Sonya menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam milik suaminya. Di bawah jarak yang begitu dekat ini, Sonya bisa melihat dengan sangat jelas adanya gurat beban mental yang sangat besar, rasa bersalah, dan tekanan batin yang luar biasa pekat yang sedang meremukkan jiwa kaku seorang Batara Moretti. Rasa ibanya mengalahkan rasa sakit fisiknya. Secara refleks, tangan mungil Sonya yang dingin bergerak naik, membelai lembut pipi suaminya yang berahang tegas, mencoba memberikan ketenangan melalui sentuhan jemarinya.
Sentuhan lembut tangan dingin Sonya seolah menjadi sumbu yang membakar habis sisa pertahanan diri Batara. Pria itu memejamkan matanya sejenak menikmati belaian tersebut, sebelum akhirnya menurunkan wajahnya kembali, mencium dan menjilati leher jenjang milik Sonya dengan penuh gairah yang menggelora, kulit leher yang mulus, putih bersih, tanpa noda apa pun, yang selalu menjadi candu terbesarnya.
"Tu-Tuan... saya mohon, lakukan dengan perlahan... please..." rintih Sonya dengan suara yang terputus-putus, kedua tangannya mencengkeram bahu tegap Batara yang dipenuhi otot keras.
Batara menghentikan ciumannya di leher Sonya, mendongak menatap sepasang mata sayu istrinya dengan kilatan dominasi yang absolut. "Panggil aku dengan sebutan yang benar, Sonya. Panggil aku... suami!" Perintah Batara, suaranya rendah dan serak, menuntut pengakuan mutlak dari wanita di bawahnya.
"Su-suami... suamiku... ahh! Hentikan... itu... itu sakit!" pekik Sonya ketika Batara mendadak menurunkan bibirnya kembali dan memberikan gigitan yang cukup dalam di kulit leher bagian sampingnya, meninggalkan sebuah bekas gigitan kemerahan yang pekat sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun.
"Kau tidak suka, hemmm...?" Tanya Batara dengan suara baritonnya yang parau, napas panasnya berembus di telinga Sonya.
Sonya menggelengkan kepalanya yang terasa pusing dengan cepat, air mata mulai menetes melewati pelipisnya. "S-sakit, Suamiku..."
"Dengar aku, Istriku," ucap Batara, ibu jarinya mengusap air mata di pipi Sonya dengan kelembutan yang kontras dengan watak kakunya. "Jika sampai telingaku mendengar kau memanggilku dengan sebutan Tuan lagi di atas ranjang ini... aku bersumpah akan membuatmu merintih dan memohon ampun tanpa henti di bawah tubuhku sepanjang malam ini. Mengerti?!"
"Ba-baik... Tu-ssu-suamiku..." jawab Sonya patuh, tubuhnya kian lemas di bawah kungkungan suaminya.
"Bagus."
Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan sangat efisien, Batara menahan kedua pergelangan tangan Sonya yang dingin di atas kepalanya menggunakan satu tangan kirinya yang besar, menguncinya tanpa bisa bergerak. Entah kapan dan bagaimana pria itu melakukannya dengan kecepatan mafianya, saat ini tubuh mungil Sonya sudah terbebas dari balutan gaun tidur satinnya, hanya menyisakan pakaian dalam tipis yang membungkus tubuh putih pucatnya.
Batara sendiri sudah sepenuhnya bertelanjang dada. Ketika dia bergerak mengubah posisi, perban putih tebal yang melingkari perut kanannya tampak mulai mengeluarkan rembesan darah segar yang kembali basah akibat tekanan otot perutnya yang berkontraksi hebat selama proses penyatuan mereka. Namun, pria itu sama sekali tidak peduli pada rasa perih di perutnya, fokus seluruh hidup dan jiwanya malam ini hanyalah tertuju pada wanita di bawahnya.
Saat proses penyatuan yang intens itu dimulai, Sonya seketika merasa seluruh otot tubuhnya didera oleh rasa kesakitan yang teramat sangat, bercampur dengan rasa lemas yang luar biasa hingga tulang-tulangnya seolah lolos dari sendinya. Rasa pusing yang berputar-putar hebat di dalam kepalanya kian memburuk, membuat pandangan matanya terhadap langit-langit kamar sesekali berubah menjadi gelap gulita selama beberapa detik. Hanya suara desahan dan helaan napas Batara yang terdengar jelas.
Bertahanlah, Sonya... aku mohon jangan pingsan dulu di depan suamimu, ucap Sonya di dalam batinnya dengan sisa-sisa kesadaran yang dia miliki, giginya menggigit bibir bawahnya sendiri hingga hampir berdarah demi menahan rasa sakit dan pusing yang mendera. Kamu harus kuat... bertahanlah demi menyembunyikan rahasia ini... bertahanlah sedikit lagi...
Tanpa pernah Sonya sadari di dalam kegelapan malam kamar itu, di balik gerakan tubuhnya yang menuntut dan ciuman-ciuman dalamnya yang terasa begitu posesif, setetes air mata bening perlahan-lahan menetes dari sudut mata hitam Batara Moretti. Air mata itu jatuh tepat di atas pipi Sonya, berbaur dengan keringat dingin mereka.
Batara sedang mengalami hancurnya batin yang teramat sangat. Di dalam pikirannya, dia terpaksa melakukan penyatuan yang brutal malam ini semata-mata sebagai bentuk pelarian ego dan pemenuhan kesepakatan maut, tanpa tahu bahwa wanita yang berada di bawah tubuhnya ini justru adalah orang yang telah memberikan separuh cairan kehidupan demi menyelamatkan tangan kanannya.
Maafkan aku, Sonya... maafkan suamimu yang kejam ini jika nanti tindakan dan keputusanku akan membuatmu terluka atau kecewa... maafkan aku, Istriku... ucap Batara di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah penyesalan sunyi yang tidak akan pernah dia ucapkan secara lisan kepada siapa pun di dunia ini.
Berkali-kali suara desahan kecil dan rintihan pasrah lolos dari bibir ranum Sonya. Di bawah bimbingan sentuhan Batara yang kian dalam dan menghanyutkan, anehnya rasa sakit fisik itu perlahan-lahan mulai tergantikan oleh gelombang gairah alami yang memabukkan. Sonya mulai menikmati setiap sentuhan, setiap lumatan, dan setiap ritme penyatuan yang diberikan oleh suaminya, meskipun dia harus memaksakan seluruh fungsi organ tubuhnya yang kian kehabisan pasokan energi vital.
"Sonya... kau... kau sungguh luar biasa, Istriku!" Bisik Batara parau, gairahnya mencapai titik kulminasi tertinggi.
Dengan satu hentakan ritme yang mendalam dan penuh pelepasan, mereka berdua akhirnya mencapai puncak kepuasan bersamaan di bawah keheningan malam kamar utama yang berselimut kabut gairah pekat.
Hah... hah... hah...
Suara embusan napas yang terengah-engah pendek berkejaran di udara kamar. Batara menjatuhkan dan membanting tubuh kekarnya yang dipenuhi keringat di samping tubuh mungil Sonya, membiarkan dadanya naik turun dengan cepat demi menetralisir debaran jantungnya yang menggila setelah pelepasan yang hebat.
Setelah beberapa menit berlalu dan napasnya mulai kembali teratur, Batara memiringkan tubuhnya ke samping. Dia melirik ke arah istrinya, menatap wajah teduh dan cantik Sonya yang tampak begitu damai di bawah temaram lampu tidur. Dengan jemari tangannya yang besar dan kasar, Batara bergerak dengan sangat lembut, merapikan helai-helai rambut panjang Sonya yang sedikit berantakan dan menempel di dahinya yang basah oleh keringat dingin.
"Tidurlah dengan tenang dan bermimpilah yang indah, Istriku... Nyonya Moretti-ku," ucap Batara dengan suara bariton yang sangat lembut, diakhiri dengan sebuah kecupan dalam yang penuh kasih sayang di kening Sonya.
Namun, tanpa pernah Batara ketahui dan sadari malam itu, wanita di sampingnya sama sekali tidak sedang tertidur secara normal karena kelelahan. Sonya Munic telah kehilangan kesadarannya secara total, dia pingsan akibat syok anemia akut dan kelelahan jantung yang ekstrem tepat di detik yang sama saat proses penyatuan suci mereka berakhir di atas ranjang tersebut.
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭