Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24 – SAMPAI RUMAH
Setelah menjemput Kayla, Lily dan gadis itu akhirnya kembali menuju Pangkalan B.
Perjalanan pulang berlangsung cukup tenang. Matahari mulai tenggelam di balik reruntuhan gedung, menandakan malam akan segera tiba.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di depan rumah tempat keluarga Lily tinggal.
Begitu membuka pintu...
Lily langsung tersenyum lebar.
"Halo semuanya! Lily yang cantik jelita sudah pulang!"
Suara cerianya langsung membuat seluruh penghuni ruang tamu menoleh.
Semua anggota keluarga ternyata sedang berkumpul di sana.
Belum sempat Lily duduk...
Lea sudah lebih dulu berdiri sambil menunjuk adiknya dengan wajah kesal.
"Yak! Lily! Lo nggak ngajak gue lagi ngambil misi! Padahal kemarin janji kalau pergi bakal ngajak gue!"
Lily hanya tertawa kecil.
"Hehe... maaf deh."
"Sekali lagi lo tinggalin gue, gue ngambek seminggu!"
"Santai kali, Kak."
Melihat kedua putrinya mulai berdebat, Mommy Grace langsung menyela.
"Sudah, sudah. Lily baru pulang."
Wanita itu segera menghampiri Lily sambil memperhatikan tubuh putrinya dari atas sampai bawah.
"Honey, kamu nggak terluka, kan?"
Lily menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak kok, Mom."
"Oh iya..."
Lily menarik Kayla agar maju ke depan.
"Kenalin, ini Kayla. Lily ketemu dia waktu lagi ngerjain misi. Dia hampir diperkosa sama kelompoknya sendiri, makanya Lily bantu. Dia juga anak yatim piatu."
Mendengar penjelasan itu, wajah Mommy Grace langsung berubah iba.
"Astaga..."
Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk Kayla dengan lembut.
"Kasihan sekali kamu, Sayang."
Kayla yang belum pernah dipeluk sehangat itu langsung membeku.
Matanya perlahan memerah.
"Terima kasih..."
Setelah pelukan itu terlepas, seorang gadis berambut hitam maju sambil tersenyum ramah.
"Halo! Kenalin, aku Aurora."
Aurora menunjuk ke arah Evan yang sedang duduk tidak jauh dari sana.
"Adiknya Evan yang mukanya kayak tembok itu."
"Ehem."
Evan hanya melirik datar.
Aurora terkekeh.
"Kamu bisa panggil aku Rora."
Kayla ikut tersenyum kecil.
"Emm... aku Kayla Ananta. Panggil aja Kayla atau Key."
"Nah, mulai sekarang kita teman ya."
"Iya."
Suasana yang tadinya canggung perlahan berubah hangat.
Seluruh keluarga Lily menerima Kayla tanpa sedikit pun memandang rendah dirinya.
Hal itu membuat hati Kayla yang selama ini dipenuhi ketakutan mulai merasa tenang.
Setelah suasana kembali santai, Lily menoleh ke arah ibunya.
"Mom... gimana keadaan Luna?"
Senyum Mommy Grace perlahan menghilang.
Ia menghela napas pelan.
"Masih sama seperti kemarin."
"Belum sadar?"
Mommy Grace menggeleng.
"Belum."
Tatapan wanita itu dipenuhi kekhawatiran.
"Mommy benar-benar khawatir... tapi kita juga nggak bisa berbuat apa-apa."
Lily ikut terdiam.
Meski ingin membantu, ia sendiri belum mengetahui cara membangunkan Luna.
"Yaudah kalau gitu..."
Lily berdiri dari duduknya.
"Lily masuk kamar dulu ya. Permisi semuanya."
"ya udah langsung mandi"
Lily mengangguk sebelum berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, pandangan Lily langsung tertuju kepada Luna yang masih terbaring di atas ranjang.
Wajah gadis itu terlihat damai, seolah hanya sedang tidur.
Namun Lily tahu...
Luna belum juga sadar sejak kejadian beberapa hari yang lalu.
Lily duduk di samping ranjang.
Ia menghela napas pelan.
"Sistem."
DING!
"Buka hadiah dari misi tadi."
Beberapa saat kemudian, layar transparan muncul di hadapan Lily.
DING!
Selamat! Tuan Rumah memperoleh hadiah berikut:
- Area bebas zombie dan niat jahat seluas 3 hektare.
- Sebuah mansion mewah yang berada di pegunungan Kota A.
Silakan diterima.
Lily hanya berkedip beberapa kali.
"...Hah?"
"Itu doang?"
Ia memijat pelipisnya.
"Sistem, serius? Nggak ada senjata? Skill? Atau minimal sesuatu yang bisa dipakai bertarung? Mansion buat apa coba?"
Suara sistem kembali terdengar.
DING!
"Harap Tuan Rumah bersyukur. Area tersebut sepenuhnya bebas dari zombie dan niat jahat. Tuan Rumah bahkan dapat membangun pangkalan sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan penyusup."
Lily mengembuskan napas panjang.
"Huft... yaudah deh."
"Mungkin nanti bakal kepakai."
Setelah mengatakan itu, ia menutup jendela sistem.
Sementara itu...
Di sebuah rumah yang berada tidak jauh di dalam Pangkalan B...
"Groaarr..."
"Grooaarr..."
Raungan zombie terus menggema dari dalam salah satu ruangan.
"Sayang... tolong diam... jangan kayak gini..."
Seorang pria berusaha menenangkan wanita yang sedang diikat di atas ranjang.
Wanita itu bukan manusia lagi.
Ia telah berubah menjadi zombie.
Pria itulah orang yang beberapa hari lalu menyuap petugas gerbang demi membawa kekasihnya masuk ke dalam pangkalan tanpa melalui karantina.
Namun usahanya perlahan mulai sia-sia.
"Groaaarr!!"
Wanita zombie itu terus meronta.
Kedua tangannya berusaha mencakar, sementara mulutnya berusaha menggigit pria tersebut.
"Sayang! Tolong tenang!"
Namun...
Krek!
"AARRGGHHH!!"
Pria itu menjerit kesakitan.
Lengan kirinya berhasil digigit oleh wanita zombie tersebut.
Dengan susah payah ia mendorong kepala kekasihnya hingga gigitan itu terlepas.
"Hosh... hosh..."
Napasnya memburu.
"Bagaimana ini...? Aku... aku nggak mau mati..."
Tangannya gemetar hebat.
Dengan panik ia merobek bajunya sendiri, lalu mengikat erat luka gigitan di lengannya.
Ia berharap virus itu tidak menyebar.
Sayangnya...
Semua sudah terlambat.
Urat-urat hitam mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"K-kenapa..."
Tubuh pria itu mendadak kejang hebat.
Matanya membelalak.
"T... to...long..."
Suara lirih keluar dari mulutnya.
Namun...
Tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Beberapa detik kemudian...
Kejang itu berhenti.
Perlahan, warna matanya berubah menjadi merah pekat.
Giginya memanjang menjadi taring tajam.
"Groaaarr..."
Kini...
Ia telah berubah menjadi zombie.
Tanpa tujuan, zombie yang dulunya seorang manusia itu berjalan keluar melalui pintu rumah yang masih terbuka, meninggalkan kekasihnya yang terus menggeram di dalam.
Kembali ke sisi Lily.
Lily merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar.
"Haa... enaknya ngapain lagi, ya? Coba aja dunia nggak kiamat. Pasti sekarang gue lagi keliling mal, belanja baju sama sepatu."
Ia menghela napas panjang.
"Ya sudahlah... namanya juga udah kejadian."
Brak!
Tiba-tiba pintu kamarnya dibanting hingga terbuka lebar.
Lily bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya.
Ia hanya melirik sekilas ke arah pintu.
Di sana, Lea berdiri sambil tersenyum lebar.
Melihat senyum itu, Lily langsung menghela napas pasrah.
"Haa... gue tahu banget. Kalau lihat senyum jelek lo kayak gitu, pasti ada maunya."
Lea langsung memasang wajah pura-pura tersinggung.
"Ih, jahat banget sih."
Lalu ia menghampiri Lily sambil menyeringai.
"Hehehe... Ly, keluar yuk. Cari angin bentar."
Lily langsung menggeleng.
"Nggak ah. Males. Gue capek."
"Ayolah."
"Nggak."
"Sebentar doang."
"Tetep nggak."
Lea masih belum menyerah.
"Ayolah, Ly. Bosen nih di rumah terus."
Lily memeluk bantalnya erat-erat.
"Kalau bosen, sana ajak Bang Alex. Gue lagi mager."
"Ihh... Alex mah orangnya ngebosenin."
"Ya terus?"
"Aku maunya sama kamu."
Lily tetap bergeming.
"Nggak mau."
Lea langsung mengguncang bahu adiknya.
"Ayolah..."
"Nggakkk mauuu..."
Keduanya terus berdebat seperti anak kecil.
Namun...
Tiba-tiba...
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan terdengar dari luar rumah.
Disusul oleh teriakan orang-orang.
"AAAHHH! Zombie! Minggir! Minggir!!"
"Aw-awas...! Lari...!"
Suara lain terdengar terbata-bata, seolah pemiliknya sudah kehabisan tenaga.
Lily dan Lea langsung menghentikan pertengkaran mereka.
Keduanya saling berpandangan.
Ekspresi santai di wajah mereka langsung menghilang.
"Di luar ada apa?"
Tanpa membuang waktu, mereka segera berlari keluar kamar.
Sesampainya di ruang tamu, seluruh anggota keluarga ternyata sudah berkumpul di sana.
Daddy Mike berdiri menghadap pintu depan.
Mommy Grace memeluk Kenzo dengan erat
Aurora dan Evan juga sudah bersiap dengan senjata masing-masing.
Sementara Kayla tampak kebingungan karena tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Teriakan dari luar terdengar semakin ramai.
"Jangan buka gerbang!"
"Zombie masuk!!"
"Selamatkan yang terluka!"
Suara tembakan terus bersahutan, membuat suasana menjadi kacau.
Lily langsung menyadari situasinya tidak normal.
"Bang Alex!"
"Iya!"
"Tutup pintunya! Cepat!"
Alex tidak membuang waktu sedetik pun.
Ia segera berlari menuju pintu depan untuk menguncinya rapat sebelum sesuatu dari luar berhasil masuk.
Di saat yang sama...
Seluruh anggota keluarga mulai bersiaga.
Mereka tahu...
Malam yang tenang itu baru saja berubah menjadi awal dari sebuah bencana baru.
oke guys aku kayaknya ganti jadwal update deh jadi Senin sama Minggu soalnya aku sudah mau masuk sekolah lagi jadi yaaa takut draff habis kalo update terus
Oke see Next chapter guysss ☺️☺️☺️