Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Keduanya terdiam sejenak. Joshua menarik tangan Dian, menggenggamnya erat namun rasa dinginnya menusuk hingga ke tulang, seolah bukan kehangatan yang ia berikan, melainkan peringatan halus.
“Aku memaklumi perasaanmu. Itu hakmu untuk menaruh kecurigaan pada siapapun, bahkan mungkin padaku sekalipun,” ucapnya dengan nada yang terdengar lembut namun jauh. “Tapi aku hanya ingin bilang, percayalah aku tidak melakukannya dengan sengaja untuk menyakitimu. Baiklah, sekarang kamu tidurlah dulu. Aku harus kembali sebentar ke ruang kerjaku untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum selesai.”
Dian menatapnya dengan tatapan memelas, tangannya mencengkeram lengan suaminya erat seolah takut ia akan menghilang jika dilepaskan. “Apa tidak bisakah kamu menemaniku tidur malam ini saja? Aku… aku masih merasa asing di sini jika sendirian.”
Joshua sempat terdiam cukup lama, matanya menatap wajah Dian yang penuh harap dengan tatapan yang tak terbaca—seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri, bertanya-tanya apakah layak memberikan secercah kehangatan sekecil itu pada wanita yang ia anggap sebagai bagian dari luka masa lalunya. Akhirnya ia menghela napas pelan, napas yang terdengar berat, lalu mengangguk dengan gerakan yang terasa terpaksa. “Baiklah… malam ini aku menemanimu.”
Dian tersenyum lega, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Ia perlahan berbaring, memejamkan mata sambil mendekap erat lengan suaminya. Rasa tenang perlahan menyelimutinya, meski di sudut hatinya masih tersisa satu pertanyaan kecil yang tak terjawab: Mengapa rasanya senyum Joshua tadi terasa begitu lelah, seolah ia sedang memikul beban yang tak sanggup ia ceritakan?
Dan saat mata Dian tertutup rapat dan napasnya mulai teratur, senyum di wajah Joshua perlahan lenyap sepenuhnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan dingin, perlahan melepaskan dekapan tangan Dian seolah kulit istrinya membakarnya. Ia bergumam pelan tanpa suara, hanya gerakan bibir yang bisa dilihat: “Nikmati saja kehangatan palsu ini selagi kau mau memintanya. Tak lama lagi kau takkan lagi sanggup memandangku, apalagi memelukku.”
Saat yakin Dian sudah tertidur pulas, Joshua perlahan melepaskan genggamannya. Ia bangkit berdiri tanpa menimbulkan suara sedikit pun, menatap sesaat sosok istrinya yang tampak damai dalam tidur—tanpa menyadari bahwa orang yang berbaring di sebelahnya sedang merencanakan kehancuran seluruh dunianya, perlahan namun pasti.
Ia berbalik, melangkah keluar kamar dengan wajah yang kembali keras dan dingin. Tidak ada lagi sisa kelembutan pura-pura tadi.
Di ruang kerjanya yang remang dan sepi, sudah menunggu seorang pria berjas rapi yang berdiri tegak di dekat jendela gelap. Itu adalah orang kepercayaannya, tangan kanan yang menjalankan semua rencananya di balik layar tanpa ada yang tahu.
“Bagaimana perkembangannya?” tanya Joshua singkat, tanpa basa-basi saat menutup pintu rapat-rapat. Ia duduk di kursi besarnya, menatap tajam ke arah pria itu seolah ingin menembus kebenaran di balik setiap kata yang akan diucapkan.
“Berjalan persis seperti yang Tuan rencanakan, bahkan berjalan lebih cepat dari perkiraan,” jawab pria itu dengan suara rendah dan terukur. “Saham perusahaan ayah angkat Nyonya Dian terus merosot tajam setiap harinya. Kami telah menyusup ke dalam rantai pasokan utama, memutus jalur kerjasama dengan mitra terpercaya, dan menyebarkan isu ketidakstabilan keuangan yang pelan namun pasti merusak nama baiknya. Beliau belum menyadari siapa pelakunya, dan mengira ini hanyalah gelombang pasar yang buruk yang menimpa banyak perusahaan.”
Sudut bibir Joshua terangkat membentuk senyum miring yang mengerikan dan dingin. Ia menatap foto lama di atas meja—sekilas terlihat wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Dian, namun tatapannya penuh kepahitan dan amarah yang tak terhapuskan.
“Bagus,” ucapnya pelan namun penuh penekanan, seolah setiap kata itu diucapkan dengan dendam yang membara. “Hancurkan perlahan. Jangan biarkan ia bangkit lagi. Biarkan ia merasakan betapa perihnya kehilangan segalanya, sama persis seperti apa yang pernah ia lakukan padaku dan pada orang yang paling berharga dalam hidupku.”
“Baik, Tuan. Namun izinkan saya bertanya: apakah Tuan benar-benar membiarkan Nyonya Dian tinggal dengan tenang di sini saat keluarganya sedang Tuan jatuhkan ke jurang kehancuran?”
Joshua menatap ke luar jendela menembus kegelapan malam, suaranya sedingin es yang membeku.
“Dia adalah bagian dari pembayaran itu. Biarkan dia tinggal di sini, menikmati kemewahan rumah ini, sampai hari di mana dia tahu bahwa rumah ini, dan bahkan kehadiranku di sisinya, hanyalah hukuman baginya. Aku tidak hanya ingin menghancurkan ayahnya secara materi. Aku ingin menghancurkan dunia Dian sedikit demi sedikit, sampai dia tak punya tempat lain untuk kembali selain keputusasaan dan penyesalan.”
Pria itu mengangguk hormat. “Dimengerti, Tuan. Saya akan mempercepat langkah selanjutnya tanpa menimbulkan kecurigaan.”
Setelah kaki tangannya pergi dan pintu tertutup kembali, Joshua masih duduk diam sendirian di ruangan yang sunyi itu. Di atas meja, berkas-berkas kerugian yang terus menumpuk tersusun rapi—bukti nyata bahwa balas dendamnya bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan kenyataan yang sedang ia bangun dengan hati-hati untuk menghancurkan orang yang tak bersalah sekaligus orang yang ia anggap bersalah.
Malam itu adalah satu-satunya malam di mana kehangatan itu sempat Dian rasakan. Sejak keesokan harinya, hal-hal kecil mulai berubah pelan namun pasti, seolah udara dingin perlahan menyusup masuk ke setiap sudut ruangan di antara mereka.
Setiap kali Dian berusaha mendekat, atau meminta waktu sebentar untuk sekadar mengobrol, Joshua selalu punya alasan yang terdengar masuk akal, namun selalu membuatnya merasa bersalah jika memaksanya:
“Aku harus menyelesaikan laporan penting yang harus dikirim besok pagi, Dian. Kau tidur duluan saja, jangan menungguku sampai larut,” ucapnya lembut sambil menepuk pelan puncak kepalanya, lalu berjalan menuju ruang kerja dengan wajah lelah yang dibuat-buat dengan sangat baik.
Kadang ia berkata punggungnya terasa pegal setelah seharian bekerja, sehingga memilih tidur di ruang tamu yang lebih lapang. Di lain waktu ia beralasan harus pergi ke kantor lebih awal sebelum matahari terbit, dan pulang saat Dian sudah terlelap pulas.
Dian mencoba mengerti sekuat tenaga. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa suaminya memang sangat sibuk, bahwa ia tidak boleh menjadi beban yang menghalangi pekerjaannya. Namun hatinya perlahan terasa dingin kembali, dan ruang kamar yang luas itu terasa semakin sempit dan sepi.
Satu minggu berlalu, kebiasaan itu semakin jelas dan menyakitkan. Ketika Dian memberanikan diri memeluknya erat saat bangun pagi, berharap mendapatkan sedikit kehangatan, Joshua hanya diam kaku sejenak sebelum perlahan melepaskan pelukan itu dengan lembut namun tegas.
“Jangan terlalu bergantung padaku, Dian,” ucapnya pelan sambil merapikan dasi di depan cermin, matanya tak sekalipun menatap pantulan wajah istrinya. “Aku tidak selalu ada di sini untukmu. Kau harus belajar berdiri sendiri, dan tidak terlalu berharap pada orang lain.”
“Kau… kau benci jika aku mendekatimu?” tanya Dian pelan, suaranya bergetar menahan rasa sakit yang mulai menggerogoti dadanya.
Joshua berbalik sejenak, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—tidak marah, tapi juga tidak sayang. Hanya ada kekosongan yang dalam dan jarak yang tak terlihat namun terasa sangat jauh.
“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kau terluka jika suatu saat aku tidak bisa menemanimu lagi,” jawabnya tenang, lalu berjalan pergi meninggalkan Dian yang berdiri terpaku sendirian di tengah kamar yang megah namun dingin.
Kehangatan yang sempat ia rasakan selama satu malam itu seolah hanyalah mimpi yang indah namun singkat, yang kini lenyap tak berbekas. Sekarang ia kembali menjadi orang asing di rumah suaminya sendiri, kembali berjalan sendirian di lorong yang panjang dan sunyi, kembali merasa bahwa tempat ini takkan pernah benar-benar menjadi rumah baginya.