NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Raja Naik Tahta

"Yang melukainya bukan zombie."

Kalimat itu masih menempel di ruang kerja sampai pagi berikutnya.

Hendry tidak memberi tahu Melati. Belum. Ramalan Nasi selalu punya bentuk, tetapi tidak selalu punya jalan lurus. Kalau ia terlalu cepat menarik Melati dari semua misi, justru perubahan itu bisa mendorong jalur lain terbuka.

Yang bisa ia lakukan sekarang adalah membuat semua orang lebih kuat.

Termasuk Raja.

Sejak tiga Kristal Level 2 masuk ke gudang kecil Fajar, Raja tidak berhenti mengendus ke arah kotak penyimpanan. Awalnya Hendry mengira itu cuma kerakusan biasa. Raja memang punya bakat membuat urusan evolusi terdengar seperti urusan camilan.

Tapi menjelang siang, bulu di punggung Raja berdiri satu per satu.

Listrik biru keluar dari tubuhnya tanpa perintah. Percikan itu menyambar lantai, meja kayu, lalu membuat satu ember logam terpental.

Dewi berteriak dari dapur, "Raja! Kalau dapur saya rusak, jatah udangmu saya cabut!"

Raja tidak membalas dengan gonggongan sombong.

Ia justru jatuh berlutut.

Hendry langsung muncul di sisinya dengan Void Walk pendek. "Semua mundur."

Raja melolong.

Suara itu bukan suara lucu yang biasa ia pakai saat ingin makanan. Ini suara sakit. Listrik keluar dari bekas pangkal telinga yang hilang, menyala biru pucat seperti luka lama yang tiba-tiba mengingat semua rasa sakitnya.

Mawar berlari, tetapi Hendry menahan tangannya.

"Jangan sentuh. Ini bukan luka."

"Evolusi?" tanya Awan.

"Ya. Terlalu cepat."

Raja sebelumnya stabil di Level 2. Tetapi tubuh mutant tidak selalu mengikuti jalur manusia. Ia sudah menelan banyak energi petir, memakai Thunder Clone, Lightning Flash, Badai Petir awal, dan bertarung hampir setiap hari. Tiga Kristal Level 2 hanya menjadi pemicu terakhir.

Kalau evolusi ini pecah di tengah halaman, listriknya bisa melukai puluhan orang.

Hendry mengangkat tangan.

Penjara Dimensi turun di sekitar Raja.

Kali ini bukan untuk membunuh. Kotak ruang itu dibuat lebih lebar, mengurung Raja dan percikan listrik di dalamnya. Dinding tak terlihat bergetar setiap kali petir menghantam, tetapi tidak pecah.

Raja mengangkat kepala dan menggonggong marah kepada Hendry, seperti menuduhnya mengurung Wakil Komandan kehormatan tanpa sidang.

"Tahan," kata Hendry. "Kalau kau membakar dapur, Dewi benar-benar akan mencabut jatahmu."

Entah karena ancaman itu atau karena suara Hendry, Raja menunduk lagi, menggertakkan gigi.

Evolusi berlangsung berjam-jam.

Tubuh Raja membesar sedikit demi sedikit. Otot di bahunya menebal. Cakarnya memanjang. Listrik yang tadinya liar mulai membentuk alur di bawah bulu, seperti sungai biru kecil yang mencari jalur tetap. Bekas telinga yang hilang menyala lebih terang, bukan tumbuh kembali, tetapi menjadi tanda biru yang keras dan tajam.

Sore menjelang ketika peluit alarm berbunyi.

Fajar berlari masuk halaman. "Komandan! Dua belas zombie Level 2 dari arah timur laut. Mereka mengikuti bau darah sisa pembersihan kemarin."

Bagus mengangkat linggis. "Waktu yang pas sekali."

Hendry menatap Raja di dalam Penjara Dimensi. Listriknya masih belum stabil.

"Raja tidak ikut. Kita tahan di luar perimeter."

Awan, Bagus, Melati, Budi, Sari, dan dua tim patroli bergerak cepat. Hendry meninggalkan Penjara Dimensi tetap aktif di halaman, lalu melompat dengan Void Walk ke gerbang timur laut.

Dua belas zombie Level 2 datang dalam gerombolan kecil. Mereka bukan gelombang besar, tetapi jauh lebih berbahaya dari Level 1. Kulit keras, mata lebih fokus, dan cara mereka menyebar menunjukkan insting berburu.

"Awan, lantai."

Es menyebar rendah di aspal. Tiga zombie pertama kehilangan pijakan.

"Bagus, jangan adu dada terlalu lama."

"Siap, Komandan!"

Bagus menghantam lutut, bukan dada. Budi mengikuti dari samping, menahan dorongan untuk memukul kepala lebih dulu. Sari membuat bidang gelap kecil di antara dua mobil, memaksa zombie salah belok. Melati menembakkan api pendek ke wajah target, menciptakan celah bagi tombak patroli.

Hendry memakai Spatial Orb hanya saat garis hampir jebol.

Satu kepala pecah.

Dua.

Tiga.

Tetapi jumlah masih menekan. Salah satu zombie Level 2 menerobos es dan hampir mencapai barisan belakang. Hendry baru mengangkat tangan untuk Penjara Dimensi ketika suara ledakan petir datang dari dalam base.

Langit halaman menyala biru.

Raja menghancurkan Penjara Dimensi dari dalam.

Hendry merasakan getaran ruang di telapak tangannya. Bukan karena kandangnya lemah. Karena target di dalamnya berubah.

Seekor anjing hitam sebesar anak sapi melompat melewati gerbang dalam satu lompatan.

Bulu Raja berdiri seperti mahkota petir. Tubuhnya lebih besar, lebih cepat, dan matanya menyala dengan kesadaran yang jauh lebih tajam. Petir tidak lagi meledak liar. Ia mengalir mengikuti kehendaknya.

Level 4.

Raja mendarat di depan zombie yang menerobos.

Satu sambaran petir terarah keluar dari mulutnya.

Kepala zombie itu hangus dan pecah.

Raja tidak berhenti. Ia berubah menjadi garis hitam-biru, menabrak zombie kedua, lalu ketiga. Thunder Tail menyapu kaki, cakar menghantam leher, sambaran petir pendek menembus kepala. Dalam hitungan detik, lima zombie Level 2 roboh.

Anggota patroli yang melihat hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka.

Bagus tertawa keras. "Wakil Komandan kehormatan naik pangkat!"

Raja menggonggong, lalu menatap Hendry dengan bangga yang nyaris tidak muat di tubuh barunya.

"Jangan sombong," kata Hendry.

Raja berjalan mendekat, lalu menggosokkan kepala besarnya ke kaki Hendry.

Hendry hampir terdorong mundur.

Beberapa orang tertawa. Bahkan Awan menoleh sedikit, seperti menahan senyum.

Pertempuran selesai tidak lama setelah itu. Dua belas Kristal Level 2 dikumpulkan. Tidak ada korban. Hanya beberapa luka ringan dan satu pagar bengkok karena Raja mendarat terlalu semangat.

Malamnya, Hendry mengumpulkan tim tempur di depan peta.

"Mulai besok, kita berburu dalam formasi tetap."

Ia menggambar tiga lingkaran.

"Tim Alpha: aku dan Raja. Tugas: target berbahaya, respon cepat, pembunuhan titik."

Raja duduk di samping, kepala tinggi, seolah lingkaran Alpha adalah lukisan dirinya.

"Tim Beta: Bagus dan Awan. Tugas: garis depan dan kontrol jalur."

Bagus menepuk dadanya. Awan mengangguk tenang.

"Tim Gamma: Melati dengan support patroli. Tugas: area sempit, pembakaran terukur, evakuasi anggota biasa. Mawar tetap medis pusat, tapi bisa ikut jika operasi besar."

Melati menatap Hendry. "Kamu menaruh aku di belakang?"

"Aku menaruhmu di posisi yang membuat apimu paling banyak menyelamatkan orang."

Mawar melihat wajah Hendry. Ia tahu ada alasan lain, tetapi kali ini ia tidak membongkarnya di depan semua orang.

Hendry menunjuk peta Jakarta timur.

"Kita butuh Kristal, makanan tambahan, dan medan latihan yang cukup besar. Herman memberi info Pasar Kramat Jati masih penuh supplies, tapi zombie-nya juga banyak."

Fajar menandai lokasi.

Hendry menatap lingkaran pasar itu.

"Besok subuh, kita bersihkan Pasar Kramat Jati."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan suara datar.

"Sepenuhnya."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!