NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 07

Malam itu, Jolina duduk di kursi meja belajarnya. Laptop menyala, tapi buku-buku tetap tertutup rapi. Ia sama sekali tidak berniat belajar.

Pikirannya penuh—dan semuanya mengarah ke satu hal yang membuat kepalanya nyut-nyutan.

"Mama hamil"

Dengan wajah serius, Jolina mulai mengetik di kolom pencarian.

“Apakah wanita usia 40-an masih bisa hamil?”

“Usia 40 masih bisa melahirkan?”

“Wanita umur 40 masih punya nafsu?”

Matanya bergerak cepat membaca hasil pencarian dan komentar-komentar netizen yang bermunculan.

“Masih bisa banget selama belum menopause.”

“Banyak kok yang hamil di usia 40-an, asal sehat.”

“40 itu masih muda sekarang, bro.”

Jolina menelan ludah.

Ia scroll ke bawah, membaca komentar lain yang membuat dadanya makin sesak.

“Laki-laki mah beda, umur 40 ke atas juga masih aktif.”

“Kalau sehat dan nggak stres, ya masih normal.”

“Usia bukan halangan, yang penting kondisi tubuh.”

“HAH?!” Jolina refleks berseru pelan.

Tangannya langsung mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Astaga… gimana ini??”

“Nggak boleh, nggak boleh…”

“Gimana kalau mama sampai hamil??”

Ia menepuk jidatnya sendiri, panik.

“Memang kenapa kalau mama hamil?”

“Gila aja, nggak mau gue!"

Jolina membeku.

Jantungnya hampir copot saat ia menoleh cepat ke belakang.

Jeremy sudah berdiri tepat di belakang kursinya, tubuhnya sedikit menunduk, ikut menatap layar laptop. Jarak mereka terlalu dekat—terlalu dekat sampai bibir Jolina hampir saja menyentuh pipi Jeremy saat ia berbalik.

Berbeda dengan Jolina yang nyaris kena serangan jantung, Jeremy terlihat santai. Matanya malah fokus membaca komentar-komentar netizen di layar.

“Ihhhh!” Jolina langsung berdiri. “Lo ngapain sih di sini?!”

Jeremy menoleh ke arahnya. “Kenapa?”

“Gila ya lo!” Jolina mencak-mencak. “Masuk kamar cewek tanpa izin itu nggak sopan tau! Nggak punya etika lo?!”

“Gue panggilin lo dari tadi,” jawab Jeremy datar. “Tapi kayaknya telinga lo budek. Jadi gue masuk aja. Takutnya lo mati di dalam.”

“Keterlaluan banget sih lo!” Jolina semakin emosi.

Ia mulai memukul-mukul lengan dan dada Jeremy bertubi-tubi.

“Keluar nggak lo? Keluaaaar!”

“Eh, eh!” Jeremy mengangkat tangan melindungi diri. “Jangan pukul-pukul bisa nggak sih?!”

“Nggak bisa!” Jolina makin beringas. “Lo emang harus dipukul!”

“Ehh…” Jeremy mundur selangkah. “Gue cuma disuruh Mama buat manggil lo makan malam.”

Jolina langsung berhenti.

Tangannya menggantung di udara.

“…Hah?”

Jeremy menghela napas. “Makanya, kalau mau paranoid, pintu nya di kunci dulu Kak.”

“BERHENTI PANGGIL GUE KAKAK!” teriak Jolina, wajahnya merah padam.

Jeremy cuma tersenyum tipis—senyum yang sukses bikin Jolina ingin melempar bantal ke kepalanya.

“Kenapa nggak Mama yang manggil gue?” Jolina memicingkan mata.

Jeremy mengangkat bahu. “Kenapa bukan Mama sendiri yang manggil lo? Karena Mama lagi asik berduaan sama Papa. Romantis banget.”

“Apa lo bilang?” suara Jolina meninggi.

“Lo budek, ya?”

Kesal, Jolina mendorong dada Jeremy lalu melengos keluar kamar. Jeremy terkekeh kecil dan mengikutinya dari belakang.

Dan ternyata… Jeremy tidak bohong.

Di ruang makan, Mama dan Om Mulya—Papa, ralatnya—duduk berhadapan. Mereka saling menyuapi. Papa menyeka sudut bibir Mama dengan tisu, Mama tertawa kecil. Adegan itu membuat langkah Jolina melambat—antara malu, kesal, dan bingung harus bereaksi bagaimana.

Jolina menghampiri mereka. Jeremy menyusul dan berdiri santai di sampingnya.

“Kamu ngapain aja sih di kamar?” tanya Mama.

“Belajar,” jawab Jolina singkat.

“Iya, tapi biasanya kalau jam makan kamu langsung turun.”

“Aku nggak selera makan, Ma…” Jolina meraih alasan. “Kayaknya aku demam deh.”

Ia mendekatkan wajah ke Mama, berharap drama kecilnya berhasil.

“Masa?” Jeremy tiba-tiba menadahkan tangan ke dahi Jolina—agak kasar.

“Lo ngapain sih!” Jolina menepis.

“Meriksa keadaan Kakak,” kata Jeremy santai. “Tapi kening Kakak nggak panas.”

“Ah, so sweet banget sih kalian,” ujar Mama sambil tersenyum lebar.

“Apa sih, Ma…” Jolina memalingkan wajah.

“Kayaknya nggak apa-apa kan ya kalau kita tinggalin kalian beberapa hari?” Mama menatap Jolina penuh harap.

“Hah?” Jolina menegang. “Ninggalin kita? Maksudnya… aku sama dia?”

“Iya, sayang,” jawab Mama. “Tadinya Mama khawatir kamu belum bisa akrab sama adik kamu. Tapi ternyata Jeremy perhatian banget sama kamu.”

“Iya, Jolin,” Papa ikut menimpali. “Jadi kami lega ninggalin kalian selama kami pergi honeymoon.”

“Apa?!” Jolina terkejut. “Honeymoon? Kalian? Honeymoon?”

“Iya,” Mama mengangguk ceria. “Sejak Mama sama Papa menikah, kita belum punya waktu berduaan.”

“Papa mau ajak Mama ke Bali,” Papa tersenyum ke Mama. “Terus ke mana lagi, sayang?”

“Aku pengen banget ke Swiss,” jawab Mama antusias.

“Boleh, boleh,” Papa tertawa kecil. “Ke mana pun yang kamu mau, kita pergi.”

“Terus aku gimana?” Jolina menyela, nadanya mulai panik.

“Kan ada Jeremy,” kata Mama menenangkan. “Meskipun dia adik, tapi dia cowok. Pasti bisa ngelindungin kamu.”

“Kalian nggak boleh pergi—” Jolina hendak memprotes.

“Aku senang Mama sama Papa pergi honeymoon,” potong Jeremy cepat, suaranya manis. “Semoga lancar ya.”

Mama langsung berbinar. “Ya ampun, Jeremy. Kamu manis banget sih. Mama makin sayang deh sama kamu.”

Jolina menatap Jeremy dengan rahang mengeras.

Di balik senyum manisnya, ia tahu malam-malam berdua dengan adik tiri ini… tidak akan berjalan tenang.

***

Setelah makan malam, Jolina kembali ke kamarnya.

Awalnya ia berniat mengerjakan tugas sekolah, tapi pikirannya benar-benar berantakan. Layar buku terbuka, pena sudah di tangan—namun satu pun kata tak masuk ke kepalanya.

Yang ada justru amarah dan kegelisahan.

"Honeymoon"

"Pergi berdua"

"Lama"

"Dan setelah pulang… bagaimana kalau Mama hamil?"

Jolina menepuk meja pelan. “Nggak bisa… nggak bisa…” gumamnya.

Ia menarik napas panjang. Aku harus ngomong, Malam ini juga.

Ia berdiri, meninggalkan meja belajar. Pintu kamarnya dibuka pelan-pelan. Sebelum melangkah lebih jauh, Jolina menempelkan telinga ke pintu kamar Jeremy. Suara televisi terdengar—berarti ia masih di dalam, aman.

Jolina melangkah pelan menyusuri lorong menuju kamar orang tuanya. Jaraknya cukup jauh, membuat langkahnya terasa panjang dan penuh degup jantung.

Ia mengangkat tangan, bersiap mengetuk.

Namun… dari balik pintu terdengar suara tawa tertahan, suara yang dibuat-buat agar tidak terlalu keras.

Oh… Papa ada di dalam, batin Jolina.

Tangannya membeku di udara.

Ngapain mereka?

Masih jam segini…

Jangan-jangan mereka lagi gituan?

Rasa penasaran—dan kepanikan—mengalahkan akal sehat. Jolina mendekatkan telinganya ke pintu. Dari dalam terdengar bisikan-bisikan dan suara tertawa kecil, seperti orang yang sedang bercanda terlalu dekat.

“Tuh kan… geli,” suara Mama terdengar samar.

“Ih, pelan…” balas Papa.

“ASTAGA,” Jolina menutup mulutnya sendiri.

Saat itu juga, langkah kaki terdengar dari tangga.

Jolina menoleh—Jeremy.

Panik, tanpa sempat berpikir, Jolina langsung menutup mulut Jeremy dan menarik lengannya. Keduanya terjatuh ke lantai dekat pintu kamar orang tua mereka, bunyinya tertahan oleh karpet tebal.

Mata Jeremy membelalak. Jolina memberi isyarat keras agar diam.

Dari balik pintu, suara tawa kecil dan gumaman masih terdengar—cukup jelas untuk membuat wajah Jolina memerah dan telinganya panas.

“Ya ampun…” Jolina berbisik nyaris tak bersuara.

Jeremy menyingkirkan tangan Jolina dari mulutnya dengan kesal. “Lo apaan sih?”

“Lo bisa diem nggak?” bisik Jolina panik.

"Aaaaaaaaaaaaa" Jeritan Mama terdengar jelas dari balik pintu.

“ASTAGA!” Papa ikut berseru.

Jolina refleks menutup telinga. Jeremy juga terlonjak.

“Itu… itu suara—” Jolina menelan ludah. “Gue nggak mau tau. Gue nggak mau tau.”

***

Mama memegang mangkuk besar berisi popcorn, Papa masih menggenggam remote TV. Layar televisi menampilkan adegan film horor—sosok menyeramkan muncul tiba-tiba di layar.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!