"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ke esokan hari nya, mumpung hari Minggu, Kaenan Kaenan segera mempersiapkan segala keperluan untuk membuat surat permohonan kerja, dibantu oleh mas Manto.
Hari Senin, pagi pagi sekali, Kaenan sudah bangun, mandi lalu sholat subuh, setelah itu membuat kopi sambil menunggu hari terang, Kaenan membuka kembali seluruh persyaratan yang dipersiapkan oleh nya. Setelah merasa lengkap semua, barulah Kaenan merasa lega.
Pukul setengah tujuh pagi, mas Manto mengajak Kaenan bersiap siap untuk pergi ke kantor nya.
Karena kantor mas Manto tidak terlalu jauh dari kontrakan mereka, hanya menebus lewat ujung gang sekitar dua ratus meter, lalu berjalan ke selatan sejauh lima ratus meter lagi, kantor PT CKE (Citra konstruksi enjiniring), sebuah anak perusahaan Sangko Jaya Group (SJG).
Karena saat mereka tiba di kantor, hari masih terlalu pagi, akhirnya Kaenan kerja bantu bantu mas Manto mempersiapkan dapur.
Pukul delapan pas, baru lah CEO PT CKE datang, naik lewat lift khusus petinggi perusahaan.
Mengetahui jika bos nya sudah datang, buru buru mas Manto mengajak Kaenan naik ke lantai lima, tempat ruangan CEO berada.
"Tok!, tok!, tok!" mas Manto mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!" terdengar gema suara seorang wanita dari spiker diatas pintu.
"Ayo Kae, kita masuk!" ajak mas Manto menarik tangan Kaenan.
Didalam ruangan itu, terlihat seorang wanita yang sangat cantik, berkulit putih bersih, berambut sebahu dengan usia kira kira empat puluhan tahun, sedang duduk di belakang sebuah meja yang cukup panjang.
Wanita cantik itu menatap kearah mas manto dan Kaenan sebentar, lalu kembali menatap kearah laptop nya.
"Eh! Mas Joko!, ada apa ya?" suara merdu wanita cantik itu menggema, meskipun tidak terlalu nyaring, namun mampu membuat jantung Kaenan berdetak tak stabil.
"Eh ini bu, orang yang tempo hari ibu minta untuk menjadi pramusaji di kafe Clarizon, nama nya Kaenan, dia lulusan SMA bu" mas manto membuka suara.
Wanita cantik itu mengangkat wajah nya menatap kearah Kaenan cukup lama.
Kaenan buru buru menundukkan pandangan nya, agar jantung nya tetap stabil.
Mas manto tidak ingin terlalu lama berada di dalam ruangan sang CEO itu, dia buru buru keluar ruangan, dengan alasan melanjutkan pekerjaan nya.
"Tanya tinggal ya Kae, semoga sukses!" ujar mas Manto menepuk pundak Kaenan.
"Terimakasih ya mas ya!" ucap Kaenan.
"Sip!" sahut mas Manto lagi sambil mengacungkan jempol nya saat keluar dari ruangan itu.
Kaenan tidak berani mengangkat wajah nya, menatap Kecantikan wanita ini sungguh luar biasa, diatas rata rata, mungkin hampir setara dengan Aisyah jika saja gadis itu berdandan seperti wanita ini.
"Kau pernah kerja sebelum ini?" tanya wanita itu menatap Kaenan dalam.
"Pernah bu, tapi kerja bangunan saja, kalau kerja di kafe belum pernah" ....
"Hmmm!" wanita cantik itu membuka photo copy ijazah terakhir Kaenan beberapa saat, lalu membandingkan dengan photo copy akte kelahiran nya.
"Kau lulus SMA tahun tadi?, jadi saat kau lulus SMA, usia mu baru empat belas tahun ya?" tanya wanita cantik itu.
"Benar bu" sahut Kaenan.
Wanita cantik itu kembali mengangkat wajah nya, menatap kearah Kaenan cukup lama, "bagai mana bisa?, SD enam tahun, SMP tiga tahun, dan SMA tiga tahun, sudah dia belas tahun, masa kau masuk sekolah usia dua tahun?" selidik wanita itu dengan pertanyaan yang tajam menusuk.
Untung Kaenan sudah mengantisipasinya, orang pasti akan menggiring pertanyaan ke situ, makanya dia sengaja membawa buku raport SD hingga SMA nya.
"Saya masuk sekolah sama seperti yang lain nya bu, usia enam tahun, namun entah kenapa, di SD saya jamping kelas dua kali, lalu di SMP satu kali, dan di SMA satu kali, total saya melewati masa SD hingga tamat SMA hanya delapan tahun saja bu, ibu boleh melihat data nya bu" ujar Kaenan menyerahkan buku raport nya.
Wanita cantik itu menerima tiga buah buku besar, membolak balik lebar demi lembar sambil menganggukkan kepalanya.
"Kau berasal dari kota yang celup jauh, lalu apa rencana mu nanti seandainya nya diterima di kafe?" tanya wanita cantik itu.
"Saya mau kuliah tahun depan bu, jadi seandainya nya bisa Nyambi kuliah sambil kerja, saya akan terus kerja, tetapi jikalau tidak bisa, saat kuliah nanti, saya akan istirahat kerja, yang penting beberapa bulan akan datang, saya bisa kerja" sahut nya.
"Hmm!, sangat pantas kau mendapatkan bonus jamping kelas, karena nilai mu diatas rata rata, memang sayang bila tidak kuliah, rencana mau kuliah jurusan apa?" ....
"Ekonomi bisnis Bu jika memungkinkan, jikapun tidak, tehnik juga tidak apa-apa" ....
"Orang tua mu masih ada?" tanya wanita cantik itu lagi.
Kaenan tidak ingin membuka jati diri nya yang sebenar nya, lagi pula dia tidak terlalu respek terhadap keluarga asli nya yang kacau itu.
"Kedua orang tua saya sudah tiada bu, ayah meninggal sejak saya bayi, oleh karena peristiwa itu, ibu saya mengalami gangguan jiwa, saya diasuh oleh seorang Kiai, pemilik pondok pesantren hingga saya lulus SMA" ujar nya.
Wanita cantik itu menegakan tubuh nya, mendengar cerita dari Kaenan tadi. Ada raut kesedihan tampak sekilas di wajah nya.
"Baiklah eee Ka..... Kae nan, ya Muhammad Kaenan, besok pagi kau bisa mulai kerja, datang pagi pagi, kau bisa minta tolong Go-Jek, Meraka pasti tahu kafe Clarizon, tidak terlalu jauh dari tempat ini, sekarang tulis nomor telepon serta nomor rekening mu jika ada" ....
Kaenan segera menuliskan nomor telepon serta nomor rekening nya di belakang photo copy ijazah terakhir nya.
Setelah selesai, barulah Kaenan mohon diri untuk pulang.
Hari itu, hati Kaenan berbunga bunga, harapan nya mendapat pekerjaan di ibukota tercapai sudah.
Karena terlalu gembira, sampai sampai Kaenan tidak konsentrasi pada arah jalan nya.
"Bruak!" ....
Tiba-tiba seseorang yang sedang berlari kecil menabrak nya hingga dia dan orang itu sama sama terpental karena nya.
"Aduh!, ban*sat to*ol, jalan tidak pakai mata, main tabrak saja, dasar baji*gan kau, ku koyak koyak kulit tubuh mu ya!" teriak wanita itu murka.
Kaenan menatap kearah orang yang telah di tabrak nya tadi, ternyata dia seorang gadis berpakaian SMA, berwajah sangat cantik jelita, berkulit putih bersih bak susu murni, dengan wajah seperti batu pualam, hidung mungil yang mancung, di hiasi sepasang bibir sensual mirip bibir Angelina Jolly, serta sepasang alis yang hitam tegas.
"Ma.... maaf non, saya salah!, saya kurang hati hati!" ujar Kaenan gagap.
Gadis cantik itu bangkit berdiri, lalu menjambak rambut Kaenan sambil menarik nya kuat kuat.
"Nih upah mu ban*sat!, akan ku buat kepala mu tanpa kulit lagi, dasar baji*gan kau!" sumpah serapah gadis itu.
Mas Manto dan mas Diwan hanya melongo melihat kejadian itu, ingin membantu, tapi tidak punya keberanian.
"Tia!, hentikan!, mau kau bunuh anak itu?" disaat Kaenan kesakitan karena rambutnya ditarik oleh gadis itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara bentakan nyaring seorang wanita.
Ternyata wanita cantik tadi yang datang menyelamatkan Kaenan dari siksaan sadis gadis cantik ini.
"Mom!, manusia kera ini berjalan main tabrak saja, tidak lihat lihat!" teriak gadis itu masih memegang rambut Kaenan.
"Lalu kau yang melihat kenapa juga tidak menghindar sih, atau jangan jangan kau sengaja menabrak dia, anak itu ganteng kok, mommy maklum jika kau melakukan itu!" ujar wanita cantik itu lagi menggoda putri nya sambil tersenyum.
" A.... a.... aku, aku" gadis bernama Violetia itu kesulitan mencari alasan lagi.
Benar sih kalau di pikir, jika dia berjalan tidak Meleng juga, dia bisa menghindar dari tabrakan dengan anak ini.
Namun tangan Violetia masih memegang rambut Kaenan.
"Ayo lepaskan dia, atau kalau kau tetap memegang rambut nya, mommy akan menikahkan kau dengan nya, karena mommy lihat, kau menyukai nya!" goda wanita cantik itu lagi.
Buru buru gadis bernama Violetia itu melepaskan pegangan tangan nya ke rambut Kaenan.
"Cuih!, cuih!, cuih!, najis mommy, amit amit, amit amit, mommy kalau bicara asal nyeplak saja" ujar gadis itu menggosok kedua belah tangan nya di baju Kaenan sambil bersungut sungut menatap wajah Kaenan dengan mata melotot.
"Apa lihat lihat, mau ku congkel mata mu itu ya?, awas aja Lo ya" ancam nya marah.
"Heh Tia!, apa lagi sih!, emang emang kau ya, tidak mau dengar kata kata mommy, mommy sumpahin kau jadi bini nya di Kaenan!" kata wanita cantik itu sambil membalikan tubuh nya, dan berjalan meninggalkan sang putri, kembali ke ruangan nya.
"Mommy!" teriak gadis itu sambil berlari mengejar mommy nya, melupakan keberadaan Kaenan.
"Sial!, sial!, kenapa juga harus mendapat masalah dengan hantu ngesot itu!" runtuk hati Kaenan sambil melangkah ke luar dari halaman kantor itu.
"Aku harus kemana sekarang?, pulang, ngapain juga, tak ada siapa siapa di kontrakan, mau jalan jalan juga kemana?, atau lebih baik aku iseng iseng ke kafe Clarizon itu saja ya, hitung hitung survey tempat" pikir Kaenan.
Dia melihat di satu persimpangan jalan, ada empat opang (ojek pangkalan) yang sedang duduk santai di sebuah pos ronda yang dijadikan pangkalan mereka.
"Bang!, tau kafe Clarizon tidak?" tanya Kaenan.
"Tau dik!, lumayan jauh sih!" sahut salah seorang opang itu.
"Berapaan?" tanya Kaenan.
"Dua puluh aje dah!" sahut opang itu lagi.
"Iya deh bang, antarkan ke kafe Clarizon ya bang" ....
"Ya dah!, siap!" sahut Kaenan.
Lewat jalan raya memang jauh ke kafe Clarizon itu, tetapi dengan memotong lewat sebuah gang, perjalanan tidak terlalu jauh.
Kafe Clarizon adalah sebuah kafe yang besar dengan dua tingkat serta memiliki halaman depan yang luas sebagai lahan parkir.
Di lantai dasar, tempat pengunjung umum, sementara diatas tempat pengunjung high class, atau clas VIP, dengan ruangan ruangan privat yang diberi nomor.
Di halaman kafe, nampak dua orang petugas parkir sedang sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk.
Kaenan tidak mampir ke kafe, dia hanya melihat lihat dari kejauhan saja, setelah merasa cukup, dia segera pulang dengan jalan kaki santai, sambil mengingat ingat jalan nya.
Untung tadi Kaenan sempat menyimpan alamat kontrakan nya di Google map, sehingga saat pulang, dia tidak mendapatkan kesulitan.
...****************...