Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|03|Kontrak Pertama
Nafas Aruna tercekat, tato naga di punggung tangan lelaki itu seakan hidup, menatap dan berbicara kepadanya.
"A-Aruna.." Ucap Aruna dengan takut, tangannya masih gemetar, jantungnya berdetak kencang seakan tau dirinya akan mati detik itu juga.
Matanya sudah tak bisa menahan bendungan air mata sejak tadi, buliran bening lolos menerobos pipi mulus yang sudah berbalut make-up mahal milik Elula. Pria yang ada didepannya menyeringai, persis seperti seorang pembunuh.
Mata Devara memandang salah satu pengawalnya memberi kode untuk menurunkan pistolnya. Aruna masih menunduk takut, tiba-tiba tangannya yang berdarah itu dipegang oleh pria itu.
" Devara Mahesa" ucapnya sembari membalut tangan Aruna dengan sapu tangan merk mahal yang Ia keluarkan dari saku celananya dan Mengikatkan sapu tangan itu ke telapak tangan Aruna dengan kencang, sampai Aruna meringis kesakitan.
"Tau harga kemeja-ku?" tanya-nya kemudian.
Aruna masih menunduk sambil menggeleng pelan. Ia masih takut untuk melihat iblis tampan yang ada didepannya. Wajahnya tampan, namun sifatnya nyaris tak ada yang membuat dirinya tak ditakuti oleh Aruna.
'Devara, namanya seperti manusia normal. Tapi kenapa lelaki itu tak seperti lelaki pada umumnya, sangat menakutkan'. -batin Aruna.
Devara bangkit dan duduk dikursinya kembali, sambil matanya melirik kearah salah satu pria yang mengenakan jas. Sepertinya juru bicara Devara, lelaki itu nyaris tak bebicara pada rapat tadi yang dilihat Aruna, Devara lebih banyak diam dan duduk sambil menghabiskan rokoknya.
"Rapat selesai, kalian bisa keluar dari ruangan ini" ujar salah seorang pria berpakaian jas rapi.
Setelah semua orang keluar dan hanya menyisakan satu orang berpakaian jas rapi dan tiga orang yang Aruna tebak sebagai pengawal Devara. Devara membisikan sesuatu kepada pria tersebut, lalu pria itu keluar dengan terburu-buru.
Rokok baru disodorkan pengawal, lalu Ia nyalakan menggunakan lighter emas. Ia menyesapnya dengan dalam dan menghembuskan kearah Aruna yang masih terduduk dilantai. "Duduk" ujarnya sambil menunjuk kursi kosong dengan dagu-nya.
Aruna bangkit dan duduk dikursi, Ia sesekali mencuri pandang, melihat Devara sekilas lalu kembali menunduk. Devara terlihat santai, seolah Ia punya kuasa di sana. Tak lama pria tadi datang membawa sebuah map berwarna merah.
"Saya Andre, asisten Pak Devara. Anda bisa tanda tangan dibagian sini Aruna" ucap Andre seraya membuka map merah itu dan menunjukkan tempat dikertas itu yang sudah tertempel materai 10.000 dimana Aruna bisa tanda tangan.
"Maaf Pak, saya gak ngerti tanda tangan apa?" katanya dengan suara gemetar, situasi itu membuat Aruna semakin takut.
Devara menghembuskan asap rokoknya kearah Aruna dan melirik asistennya, menyuruhnya untuk menjelaskan kepada Aruna.
"Harga kemeja Pak Devara 57 juta, hutang anda yang belum lunas 1,5M belum sama bunga, biaya operasi ayah anda 20juta. Kalau anda tanda tangan di kontrak ini, semua dianggap lunas" Tutur Andre.
"Waktu saya gak banyak" Ujar Devara datar sambil melirik kearah jam tangannya.
Aruna menggigit bibir bawahnya. 'Bagaimana dia bisa tahu utang papah dan biaya operasi. Dia ini siapa sih, dan kontrak apa yang dia maksut' -Batin Aruna.
Aruna mendekat, tampak keraguan dan kecemasan diwajahnya. Pulpen yang sudah disediakan tak kunjung Ia ambil, map yang sudah terbuka hanya ditatap oleh Aruna, matanya sudah berkaca-kaca.
Devara menatap tajam kearah Aruna, tato naga di tangan kanannya seolah hendak melahap Aruna hidup-hidup. pria bertato yang sangat ditakuti Aruna mulai sekarang. Tak ada rahasia lagi diantara mereka. Padahal Devara nampak sangat asing dimata Aruna.
Pulpen yang sedari tadi diamati oleh Aruna, diambil oleh Andre dan diletakkan diatas map tersebut. Aruna melihat Andre sekilas, lalu melihat Devara yang tengah santai memainkan ponselnya. Bersandar disofa, pandangannya datar, fokusnya pada ponselnya. Seolah menunggu waktu untuk Aruna segera menandatangani kontrak tersebut.
Aruna mengalihkan pandangannya di kertas yang berada didepannya. Kertas putih bersih seperti baru dicetak sejam yang lalu saat dirinya masih tertidur di trotoar menunggu balasan pesan dari Elula. Dikertas itu hanya tertera nama Devara dan nama perusahaannya 'Mahesa Group' dan tulisan 'kontrak' dengan huruf besar dan tebal tercetak besar diatas kertas itu.
Devara kembali melirik jam nya. " Tiga menit Run, kalau mau selamat, cepat tanda tangan". ujar Devara pelan, dingin dan menusuk.
Aruna tersentak, baru kali ada seseorang memanggilnya dengan sebutan 'Run' , padahal Devara baru mengenal Aruna saat itu juga.
"Bisa jelasin aku, itu kontrak apa Pak?" Aruna masih berusaha untuk mencari tau sebelum dirinya akan terjerumus kedalam lubang yang mereka buat. Aruna waspada, mencoba membentengi dirinya dengan segala kekuatannya. Walau kenyataannya Ia sangat takut dan ingin segera pergi dari tempat ini.
"Anda tanda tangan saja dulu, saya sudah jelaskan tadi" Jawab Andre.
Jelas Aruna bertanya kepada lelaki itu, tapi dia tak menjawab. Aruna menatap Andre yang mengisyaratkannya segera mengambil pulpen tersebut. Aruna menggigit bibir bawahnya, tangannya gemetar, saat pulpen menyentuh kertas itu pulpennya terjatuh. Aruna menggigit bibir bawahnya, takut.
Denting pulpen yang terjatuh di lantai marmer terdengar seperti bom bagi Aruna, saat dirinya menunduk mengambil pulpen itu, tiga pengawal dibelakang maju setengah langkah, seakan moncong pistol itu diarahkan ke lutut Aruna.
Seketika Ia teringat ayahnya yang terbaring dengan selang oksigen. Ujar suster yang menjaga ayahnya. "Jika selang dilepas, beliau hanya akan bertahan 3 menit". Tiga menit adalah waktu singkat yang diberikan Devara untuknya menandatangani kontrak itu.
'Sebenarnya siapa Devara, kenapa dia menginginkan aku, aku harus bagaimana sekarang' -batin Aruna.
Pulpen yang sedari tadi ia pegang hanya mengambang diatas materai, Ia tak sanggup. Namun Ia juga tak bisa menolak, tangannya mengepal pulpen itu dengan kencang tanpa ingat luka yang masih basah di telapak tangannya. darah segar menetes di materai 10.000, materai berwarna merah darah Aruna.
Hangat, darah yang terasa hangat menyesap di serat kertas itu, menyesap tepat dilambang garuda di materai itu, seakan negara-pun mengesahkan penjualan nyawanya malam ini, murah cuma 10.000, lebih murah dari harga kemeja Devara.
"Informasi terbaru dari suster rumah sakit Skyline Abadi, kamar nomor 201, kalau anda telat membayar biaya operasi, alat medis akan dicabut. Batas pembayaran besok pagi, dan sekarang... " Andre melihat jam tangannya.
"pukul 04.00 pagi" ujarnya selanjutnya.
Jantung Aruna berdetak hebat, bahkan informasi sedetail itu sudah didapatkan oleh Andre. Asisten Devara, pulpen tinta hitam itu turun menyentuh materai 10.000, dan saat itu juga dunia Aruna terasa gelap.