Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden di toilet
"Jen." panggil Dai yang kesusahan bergerak.
Sajen masih menggerakkan jemarinya di ponsel yang dia miringkan, dia sibuk ngepush rank. Telinganya seperti tak berfungsi dengan baik jika sudah dalam mode serius kayak gitu.
"Jen. Budek lo ya!" kali ini dengan sedikit menaikkan satu oktaf nada suara, Dai gemas karena Sajen masih tak menggubris panggilannya.
"Beneran anak Dajjal lo ya. Telinga lo isinya sampah semua apa gimana?" kalau bisa, Dai akan dengan senang hati memakai kakinya untuk menendang Sajen yang sekarang ini makin mendekatkan ponselnya ke arah mata.
"Kenapa sih, Dai? Gue lagi diserang ini. Lo ganggu konsentrasi gue aja tau nggak!" beneran minta disleding si Sajen ini.
"Ada apa?" Kilau mendekati Dai. Tadinya dia ada di sofa sambil mengerjakan entah apa di laptopnya.
"Nggak kok." Dai menatap kesal pada Sajen yang cekikikan.
"Lo butuh sesuatu? Jangan jawab butuh gue, gue tabok beneran!" ancam Kilau yang sekarang ini mencepol rambutnya asal ke atas.
"Kalau urusan satu ini, gue nggak butuh bantuan lo sama sekali, Ki." sambil mesem Dai berkata begitu. Kilau jadi mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Ya apa? Lo mau apa?"
"Gue pengen pipis, Ki elah. Muka lo udah kayak mau gebukin gue aja sumpah." Dai mendesis menahan sesuatu yang ada di ujung bawah sana.
Kilau geleng kepala. Perkara mau buang air kecil aja berisik banget, begitu kira-kira yang ada di pikiran Kilau sekarang ini.
"Jen. Sini lo, atau gue pecat sebelum dapet SK." waduh.. Ancaman Kilau langsung membuat Sajen menaruh hp nya cepat.
"Astaga. Jangan gitu dong Ki, baru seminggu kerja di tempat lo udah mau main pecat-pecat aja sih lo." Sajen sigap berdiri di samping Kilau.
"Lha lo sih budek bener jadi orang. Pecat aja Ki, pecat!" udah sakit aja masih bisa jadi provokator.
"Monyet lo ya! Mulut lo tuh nggak sekalian diperban gitu, biar nggak bikin polusi di telinga gue. Tiap ngomong nyelekit banget."
"Bisa diem nggak kalian. Lo juga! lagi sakit masih aja cerewet mulutnya. Mau diapain biar diem hah?" Kilau mencoba menengahi perseteruan para bekantan di sisi kanan dan kirinya.
"Dicipok aja dicipok. Yakin deh gue bakal langsung diem." gragas banget abang satu ini, sakit pun tak mau melewatkan kesempatan untuk dapat jatah vakum bibir.
Sajen mau mengumpat tapi sebisa mungkin dia tahan karena ada Kilau di sampingnya. Tapi dari raut wajahnya sudah menunjukkan jika lelaki itu ingin sekali menghadiahi Dai dengan kata-kata mutiara terbaik yang dia punya.
"Bantuin Dai ke kamar mandi, Jen." Perintah Kilau seketika membuat keduanya menatap horor satu sama lain.
"Kenapa mau protes? Atau gue panggil perawat aja supaya masangin kateter buat lo biar nggak banyak gerak? Anteng aja di situ." kata-kata itu membuat Dai melotot membesarkan bola matanya.
"Ogah amat. Gue masih mampu gerak sendiri ke kamar mandi, Ki. Apa'an dah, masa burung gue mau dikasih selang."
"Jen, bantuin setan!" Dai mau bangun dari ranjang aja kesulitan dan minta bantuan orang kok ya masih bisa ngumpat lho.
"Iya blis iblis! Napa nggak pake pampers sih lo, nanti gue yang pasangin." Sajen membantu Dai mengambil kursi roda.
"Emang bangsat lo ya!"
"Mulut lo ya Dai, astagaaa." Kilau sampai pusing mendengar perdebatan mereka.
Orang mau pipis aja drama banget ya si Dai ini. Mau pindah duduk di kursi roda aja butuh effort banget. Mau dipasang kateter juga orangnya nggak mau, apalagi saran Sajen tadi.. Apa disuruh pakai pampers? Harga diri lah bro!
Sampai juga Dai ke toilet, karena dia nggak bisa berdiri dengan baik tersebab kakinya yang satu patah dipasang gips kayak gitu, jadilah dia mau nggak mau harus pipis di corong yang tersedia di sana. Drama terjadi lagi. Dai menolak keras saat Sajen mau memeganginya.
"Ya lo kira gue sepengen itu megangin konti lo, Dai? Gue juga ogah!"
"Ya udah sana minggir. Gue bisa sendiri!" Dai benar-benar merasa harga dirinya dibabat rata oleh cidera yang dia alami saat ini.
Sajen nggak sesetia itu rupanya mau nungguin Dai selesai pipis, dia memilih mengambil hp nya aja, mending ngepush rank lagi, pikirnya. Dai nggak mengizinkan temannya itu ikut masuk ke dalam sana dan melihat keriweuhan yang Dai alami hanya sekedar pengen nuntasin hajatnya aja.
"Dai lo tinggal sendiri di dalem toilet?" Kilau menatap ke arah Sajen yang sudah kembali dan mengambil ponselnya.
"Iya lah. Ya kali Ki, gue lo suruh megangin burung dia terus gue pantengin pas tu burung ngeluarin air mancur?" bicara sambil login ke aplikasi game online favorit nya.
Kilau mendengus kesal. "Nanti kalau dia jatuh di kamar mandi gimana, Jen? Lo mah kadang-kadang!"
"Ya terus gue harus ngapain Ki, laki lo juga nyuruh gue keluar kok. Masa iya gue maksain diri buat tetep di sana liat dia kencing sih."
"Ngeles aja lo bisanya!" Kilau meninggalkan Sajen yang tak peduli mau diomelin juga. Telinga sama hatinya udah dia setting bakoh biar nggak mudah baper sama omelan jenis apapun."
Kilau mengetuk pintu toilet ruang rawat inap VIP di mana Dai terdengar ada di dalamnya. "Dai.. Udah belum? Mau gue bantu keluar?" tawar Kilau.
"Eemhh.. Udah Ki, udah.. Nggak usah lo bantu apa-apa. Gue bisa sendiri."
Tapi Kilau mana percaya, kan Dai belum bisa berdiri dengan baik, tangan kiri dipasang infus, tangan kanan diperban. Terus gimana caranya lelaki itu membereskan semuanya sendiri di dalam?
Ceklek. Pintu terbuka, Dai terkejut. Kilau apalagi. Di depan sana dengan posisi duduk, Kilau bisa melihat bagaimana susahnya Dai menaikkan kembali resleting celananya. Karena kengeyelannya tadi siang yang nggak mau celananya ditukar dengan celana koloran khusus buat pasien, sekarang Dai jadi kesusahan sendiri.
"Aduuuh.." Keluh Dai yang kaget dan terlalu keras menarik resleting celananya ke atas. Dia mendesis kesakitan akibat senapan laras panjang terjepit ujung resleting. "Anjir!" misuh lagi kan dia.
Bukannya mundur karena insiden tak terduga di depan mata yang baru saja terjadi, Kilau justru maju mendekat lalu jongkok di depan Dai. Tangannya terulur maju. Dai udah nggak karuan rasanya, antara sakit di sekujur badan, ditambah rasa nyelekit di selangkangan dan jantungnya yang berdetak kencang merasakan ketegangan saat ini.
Baru saja tangan Kilau mau meraih apa yang ada di depannya, Sajen tiba-tiba datang seperti Ultraman yang mau bertarung melawan musuhnya. "Daiii.. Lo kenapa? Jatuh lo? Sorry gue--- Asyuu!"
Dari khawatir karena meninggalkan temannya yang mau pipis seorang diri di kamar mandi, Sajen berubah gemas karena melihat pemandangan di depan matanya yang sangat membagongkan. Kilau seketika berdiri dengan wajah merah padam. Dai hanya bisa memalingkan wajahnya, belum sempat menetralkan detak jantungnya. Misuhnya ditunda dulu ya Dai ya..
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚