Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Apa yang terjadi dengan Luna.
Kenapa dia sampai memecahkan piring yang dibawa oleh pelayan.
"Maaf" ucapnya pada pelayan yang juga meminta maaf.
"Saya akan mengambil piring yang baru Nona, jangan mengkhawatirkan hal ini. Staff kami akan membersihkannya"
Luna duduk dengan tidak tenang. Merasa malu karena menimbulkan keributan di restoran yang cukup mewah baginya ini.
"Tenanglah. Mereka akan membawakan piring yang baru" kata Andy yang ada di depannya. Luna mencoba untuk tenang tapi apa yang baru saja dia dengar mengusik hati dan pikirannya.
Terakhir kali melihat Arya, Luna melewatinya begitu saja. Dan setelah itu, dia menangis selama beberapa jam kemudian tidur nyenyak. Keesokan paginya dia tetap berangkat kerja seperti biasa. Tak menyangka akan menerima lagi pertanyaan yang pernah dia dengar semalam.
"Apa aku boleh mengajakmu makan malam ini?"
Ajakan itu berasal dari Andy. Tentu saja dia ingin menolak, tapi ... Mengingat apa yang terjadi semalam. Membuatnya berpikir kembali tentang arti move on. Mungkin ini saatnya dia mengenal pria lain. Daripada terpaku pada mantan suami yang bahkan tak mau melihat wajahnya ketika berpapasan.
Dan ternyata, yang Luna temukan malam ini. Arya terlebih dahulu mengambil langkah maju itu. Bertemu dengan wanita lain juga keluarganya. Dan juga membahas tentang pernikahan.
Sungguh, Luna kini merasa sangat pusing. Makanan yang ada di depannya tampak tidak menarik lagi. Namun, dia tak ingin mengecewakan Andy yang sudah mengajaknya makan di tempat mewah ini. Jadi dia memalsukan senyum dan nafsu makan. Berusaha menelan makanan yang terasa pahit itu. Dan ketika semuanya telah usai. Andy berencana untuk mengantarnya pulang.
"Maaf, tapi aku tidak ingin merepotkan mu yang harus mengambil jarak jauh untuk pulang hanya karena mengantarku!" katanya dengan senyum palsu.
"Ehm, baiklah. Apa kau baik-baik saja pulang sendiri?" tanya Andy tampak khawatir.
"Tentu saja. Aku baik, tidak pernah sebaik ini. Dan ... Terima kasih atas makan malamnya. Aku belum pernah makan di tempat seperti ini, ternyata enak sekali"
Lagi-lagi Luna berbohong. Dia benci sekali berbohong tapi semakin mahir melakukannya beberapa bulan terakhir.
"Baiklah. Selamat malam"
Luna pulang dan memuntahkan semua makanan yang dimasukkannya ke dalam perut. Ketika semua telah usai, Luna berbaring ke atas ranjang.
"Kita harus bercerai!"
Itulah kata-kata yang dia ucapkan pada Arya. Tidak sekali namun berulang kali Luna mengucapkannya. Seakan dia bersikeras dengan perpisahan diantara mereka. Dan sekarang, kenapa dia merasa seperti ini ketika mendengar kabar Arya akan menikah kembali?
Dadanya sakit sampai tidak bisa bernapas. Dan semua tulang dalam tubuhnya lemas seakan pergi membuatnya seperti daun gugur yang terombang ambing angin.
Satu dua jam berlalu begitu saja dan Luna masih terjaga. Perutnya yang kosong kini mulai meminta untuk diisi. Tapi tidak ada makanan sama sekali di rumah. Dia telah mengosongkan lemari es akhir Minggu kemarin. Dan belum sempat mengisinya dengan bahan makanan.
Lebih baik dia pergi ke minimarket dan membeli makanan pengganjal perut. Dan besok harus menyempatkan diri untuk berbelanja.
Pulang dari minimarket, hati Luna terasa tenang. Setidaknya dia tak lagi merasa sesak seperti tadi. Hanya saja, rasanya seperti ada yang aneh dalam kamarnya. Matanya beredar ke seluruh apartemen namun tak menemukan apa-apa. Dan ketika masuk ke dalam area kamar.
Kringg Kringg
Ponselnya berbunyi.
Luna mengambil ponselnya di saku celana. Melihat nama ibunya disana dan menyambungkan telepon.
"Halo"
"Bagaimana dengan makan malam dengan Andy? Apa menyenangkan? Bagaimana dengan makanannya? Ceritakan atau ibu tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini!"
Luna memilih duduk di sofa lalu menceritakan semuanya. Mulai dari Andy yang menjemputnya di toko sampai ke restoran. Antusias ibunya begitu besar, mungkin karena sudah lam sekali Luna tidak pernah makan malam dengan seorang pria.
"Ada makanan pembuka, utama dan penutup" katanya lalu berhenti. Mencoba mengingat makanan apa saja yang tadi disajikan di restoran. Sayang sekali Luna tidak mengingat satu pun sajian yang dihidangkan. Karena semua makanan terasa pahit di dalam mulutnya.
"Lalu? Apa saja makanannya?" desak ibunya. Jadilah Luna mengatakan kebohongan demi kebohongan lagi. Dan setelah muak dengan kebohongannya Luna segera mengakhiri panggilan. Kedua orang tuanya tidak boleh tahu kalau Luna sekarang berada dalam kebimbangan yang menyiksa. Mereka hanya perlu tahu dia menjalani kehidupan baru yang menyenangkan.
Malam semakin larut dan Luna memutuskan untuk cepat tidur. Malam itu sangat dingin tapi selimut yang dipakainya membuatnya merasa hangat juga nyaman. Seakan ada orang yang memeluknya dengan erat.
Keesokan paginya, Luna kembali bekerja. Dia membersihkan toko serta mengatur barang display ketika Andy datang.
"Selamat pagi!" sapa Andy.
"Selamat pagi"
"Hanya ingin memeriksa apakah kamu tidur nyenyak semalam"
"Ohhh, iya. Aku tidur nyenyak. Sebenarnya agak kedinginan saat pulang tapi selimutku bisa menghalaunya dengan baik. Jadinya aku tidur dengan nyenyak" jawab Luna.
"Baguslah kalau begitu. Bagaimana kalau malam ini kita ... "
Luna tidak ingin mengecewakan Andy, tapi dia teringat tentang kejadian semalam.
"Malam ini ada yang harus aku lakukan" alasan Luna menolak ajakan Andy.
"Baiklah. Mungkin lusa atau akhir Minggu?"
Sebenarnya Luna tidak ingin pergi, tapi teringat pada janji yang dia buat dengan orang tuanya untuk move on dari hubungan sebelumnya. Membuat Luna akhirnya mengangguk lemah.
"Boleh" jawabnya singkat menghadirkan senyum lebar di wajah Andy.
"Baiklah, aku akan memesan restoran untuk akhir pekan nanti. Aku akan memastikan mereka menyajikan seafood yang kamu suka"
Andy mengingat apa kesukaannya. Padahal dia hanya satu kali menyebutkan makanan kesukaannya ketika berbincang.
"Terima kasih"
Setelah Andy pergi Luna menyelesaikan persiapan buka toko. Segera setelah membuka toko, Marina datang.
"Siapa dia? Kekasih barumu? Akhirnya setelah tiga tahun kau memiliki kekasih juga? Kelihatannya orang baik. Tampan dan tinggi juga. Aku dengar dia dosen di salah satu Universitas dekat sini. Meski tidak kaya seperti Arya, tapi badan dan wajahnya lumayan juga"
Luna melihat Marina penuh antusias pada Andy. Apa mungkin mantan sahabatnya itu mengejar Andy?
"Kenapa bertanya seperti itu tentang Andy? Apa kau tertarik padanya?" tanya Luna memastikan kecurigaannya.
"Memangnya kenapa? Hidupmu begitu nyaman. Kau memiliki orang tua yang sayang padamu, rumah dan uang yang cukup untuk hidup. Bahkan mantan suami yang kaya dan tampan. Juga mudah sekali mendapatkan pria lagi. Sedangkan aku? Selain mobil butut, apa yang aku miliki? Memangnya kenapa kalau aku menginginkan pria yang mengejarmu? Tidakkah ini hanya sedikit kompensasi untukku?"
"Aku tidak pernah memiliki hutang padamu. Tapi kau selalu menganggap aku harus memberikan semua yang kumiliki untukmu. Kau salah Marina. Kau salah. Aku menyesal telah mengenalmu sebagai teman. Sekarang, keluar dari tokoku! Aku tidak mau melihatmu!!" tegasnya lalu melihat Marina menghentakkan kaki beberapa kali sebelum keluar.
tahi